
...Fabian menyodorkan selembar cek pada Areta, pemuda itu secepatnya mendatangi Areta setelah ia mendapat kabar mengenai perbuatan orang tuanya yang menyebabkan mereka dipenjara dari Oma Mieke, “ini mungkin tidak seberapa dibanding kerugian yang kamu tanggung akibat perbuatan orang tua saya, tapi saya janji secepatnya saya akan mengganti semua harta Tante Liliana yang dipakai oleh orang tua saya” ...
...Areta tersenyum ramah, pada Fabian ia tak marah atau menyimpan dendam apa pun, justru Areta prihatin pada pria mantan dambaannya dulu itu, Fabian adalah pria baik yang hidup dengan keluarga tak baik, “ga perlu mengganti apa pun Kak, aku udah ikhlas, yang penting bagiku aku tau kalau Papa dan Mama sayang dan peduli padaku, mereka menyiapkan semuanya agar aku ga hidup susah, lagian kan Om dan Tante udah mempertanggung jawabkan perbuatan mereka, itu udah lebih dari cukup, Kak”...
Seandainya Areta belum dimiliki Rivandra sudah pasti Fabian akan memeluknya erat, kecantikan hatinya menyempurnakan kecantikan wajahnya, tapi semuanya hanya di angan Fabian, toh kalau pun Areta belum dimiliki siapa pun ia tak akan berani lagi mendekati Areta, jelas dia rendah diri karena kelakuan orang tuanya sendiri
...Melihat Fabian yang kini menunduk termenung, Areta semakin prihatin, ia mengerti bagaimana perasaan pria itu, meskipun bukan kesalahannya tapi ia harus menanggung akibat perbuatan orang tuanya, “gimana kabar Kak Mauren, Kak?” ...
...Fabian mendongak, matanya berkaca - kaca, wajahnya terlihat sayu, “dia sedang menjalani perawatan dengan psikolog” sahutnya singkat, tak ingin membahas lebih lanjut tentang kondisi kesehatan mental adiknya yang semakin drop, bisa dikatakan Mauren nyaris gila sekarang...
...Areta menghela napasnya, kalau boleh memilih jelas ia tak ingin semua berakhir seperti ini, “apa rencana Kak Fabian selanjutnya?”...
Fabian tersenyum, Areta seolah tahu apa tujuannya datang menemui Areta, selain untuk memberikan ganti rugi Fabian sekalian pamit, tak ada alasan untuknya tinggal di Indonesia lagi
...“Saya berencana membawa Mauren pindah ke luar negeri, Areta. Disana jauh lebih baik dibanding dia harus hidup disini dengan segala cemoohan dan cacian”...
...“Ke luar negeri?” Tanya Areta, ia kaget dengan keputusan Fabian...
...“Iya, ke Swiss. Saya udah lama beli rumah di Swiss, tadinya buat kamu, buat kita. Saya ingat kamu pernah ngomong dulu kalau kamu pengen banget tinggal di Swiss” sahut Fabian, matanya yang teduh menatap Areta, senyum terbit di wajahnya tatkala mengenang Areta yang dulu pernah mengungkapkan keinginannya untuk tinggal bersama pria impiannya di Swiss, dan saat itu pria impian Areta adalah Fabian, ah seandainya saja.. batin Fabian...
...“Maaf Kak, jujur aku ga mau semuanya jadi seperti ini” ucap Areta penuh penyesalan...
...“Kamu ga salah apa - apa, ga perlu minta maaf. Saya ikut bahagia melihat kebahagiaan kamu, melihat kamu bisa tersenyum dan tertawa lepas udah lebih cukup untuk saya, sekarang saya merasa tenang meninggalkan kamu”...
Areta menunduk ketika merasakan kubangan air matanya yang sudah mulai jatuh, ia merasa inilah kali terakhir ia bertemu dengan Fabian, Areta bukan sedih karena ia masih menyimpan hati, tapi sedih karena entah kapan ia akan bertemu dengan pria baik itu lagi, bagaimana pun jasa Fabian padanya sangat banyak.
Fabian pun bukannya tak sedih, kalau saja ia tak ingat tengah berada di rumah Rivandra sudah pasti ia akan menangis sesenggukan, dadanya sesak ia tahan - tahan agar tak meledak, tenggorokannya pun tercekat sakit, yang bisa Fabian lakukan sementara hanya mengusap air mata di ujung netranya, sedu sedannya akan ia simpan sampai di mobil nanti.
Fabian tak ingin berlama - lama bicara dengan Areta, hatinya tak kuat. Setelah meminta maaf atas perbuatan Mauren dan orang tuanya pada seluruh keluarga Rivandra, Fabian mengucap pamit untuk pergi dan tak kembali lagi, meskipun tak terlalu dekat dengan Fabian nyatanya keluarga Rivandra pun sedih melepas kepergian Fabian, terutama Oma Mieke, Oma sampai menangis sesenggukan dalam pelukan Fabian, orang yang sudah dianggap cucunya sendiri yang entah kapan ia akan temui lagi.
Fabian tetap tahan - tahan tangisnya, tak ingin meninggalkan orang - orang baik itu dengan tangisan, namun pertahanannya jebol begitu Fabian masuk ke dalam mobilnya, tangis Fabian pecah meraung - raung, hatinya hancur berkeping - keping mengingat Areta yang tak mungkin ia temui lagi, hapus sudah harapnya selama bertahun - tahun untuk bersanding dengan Areta.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi menjelang, matahari cerah disiplin terbit pada waktunya, Rivandra dan Areta yang pertama hadir di ruang makan, tempat semua anggota keluarga akan berkumpul untuk sarapan pagi. Terlalu cepat memang mereka berada disana, semua itu karena Lily yang sedang flu, bayi mungil itu agak rewel semalaman tadi, membuat Rivandra dan Areta nyaris tak tidur, alhasil mereka memilih untuk menyesap teh dan menikmati kudapan di ruang makan setelah sholat shubuh tadi, sambil memboyong Lily yang terus saja diemban oleh Rivandra
Areta menatapi lelaki tampan yang nyaris tanpa cacat di depannya, wajah berkulit putih bersih dengan rahang yang bersiku tegas, lekukan lesung pipi di pipi sebelah kanannya terlihat jelas saat ia menerbitkan senyum untuk Lily yang sudah terlelap di dalam buaian lengan berototnya, Lily terlihat nyaman dan aman di dekapan tubuh kekar Rivandra
__ADS_1
Melihat mereka berdua, Areta merasa tak memerlukan apa - apa lagi, dunianya sudah sempurna karena hadirnya suami dan anaknya
...“Kak, gimana kalau rumahnya aku jual aja, terus hasil penjualannya aku sumbangin?” Tanya Areta pada suaminya...
...Rivandra yang sedang menatap sayang buah hatinya menoleh pada Areta, “Kamu yakin? Itu satu - satunya kenangan yang tersisa dari Papa sama Mama kamu loh, sayang” ...
...“Bukannya ga menghargai kenangan Mama dan Papa Kak, tapi kenangan burukku di rumah itu jauh lebih banyak, aku lebih nyaman untuk ga menginjakkan kaki lagi di rumah itu” ...
Rivandra memberikan Lily yang sudah terlelap pada pengasuhnya, lalu mendudukkan diri di sebelah istrinya, “kalau itu membuat kamu nyaman, saya dukung” ucapnya sambil membelai sayang rambut istrinya
...“Aku ga pengen mengingat apa pun lagi yang berkaitan dengan Tante Susan dan Om Dani, meskipun itu rumahku, tapi rumah itu penuh sama kenangan tentang mereka”...
...“Heemm, oke.. nanti saya minta orang saya untuk mengurus penjualan rumah itu, rencananya mau kamu sumbangin kemana uangnya?” ...
...“Kak Rivan inget sama Bagas yang bantuin aku di kios fotocopy dulu kan? Nah dia itu kan mau kuliah Kak, tapi orang tuanya ga punya biaya, makanya Bagas kerja sambilan, ngumpul - ngumpul buat biaya kuliah, rencananya aku mau biayain dia kuliah, terus aku juga mau beliin April rumah, dulu pas aku pergi ke Jogja dia rela jualin semua barangnya untuk modal usaha kami, gimana menurut Kak Rivan?” ...
...Senyum Rivandra mengembang, “saya setuju, dengan hasil penjualan rumah itu kamu bisa nguliahin Bagas bahkan nyampe S3, April juga bisa punya rumah yang bagus” sahut Rivandra, makin mendamba saja ia pada istrinya yang ternyata sangat baik hati itu, “eh bentar.. ngomong - ngomong soal kuliah apa kamu ga ingin melanjutkan kuliah kamu? Bukannya kamu pengen lanjut S2? Lily kan udah besar, udah bisa ditinggal sebentar” ...
...Areta melabuhkan kepalanya di pundak Rivandra, “heemm.. untuk apa aku kuliah lagi? tujuanku mau kuliah S2 dulu kan supaya aku lebih mudah nyari uang, sekarang kan udah ada Kak Rivan yang nafkahin aku, aku ingin seperti istri - istri orang kaya yang lain aja, diem di rumah buat ngurusin suami sama anaknya”...
...Wajah Rivandra berseri bahagia, memang itu keinginannya, istrinya ada di rumah menyambutnya ketika pulang bekerja, menyiapkan semua kebutuhannya saat ia akan berangkat kerja, fokus menghabiskan waktu hanya untuknya dan Lily, “kalau kamu tetep mau lanjut kuliah ga apa - apa kok sayang, kuliah kan bukan hanya untuk nyari uang, tapi juga untuk aktualisasi diri, untuk bersosialisasi juga” ...
Tak lama Rossy bergabung di meja makan, tak seperti biasanya yang selalu sumringah, datang - datang wajah Rossy ditekuk, dagunya ia topang dengan kedua tangannya begitu ia duduk, dibelakang Rossy, Pandu tergupuh datang menghampiri sambil membawa semangkuk bubur ayam
...“Rose, ayo dong makan dulu, dikit aja ga apa - apa deh, udah dua hari loh kamu ga mau makan apa - apa” bujuk Pandu, wajah Rossy memang pucat, badannya pun terlihat lemah...
Rossy menggeleng ketika sesendok penuh bubur menunggu di depan mulutnya
...”lagi ga pengen makan apa - apa Mas, entar aja ya” tolaknya...
Pandu menghela napasnya, lalu meletakkan buburnya ayamnya begitu saja, sudah menyerah ia membujuk Rossy untuk makan dari kemarin
...“Kak Rossy sakit?” Tanya Areta ikut khawatir...
...Rossy menggeleng lemah, “lagi ga selera makan aja, udah dua hari ini”...
...“Kenapa ga test kehamilan aja Mas? Kak Rossy hamil kali” ujar Rivandra, Rossy dan Pandu saling pandang, tak berpikir sampai kesana sih mereka, Pandu malah berpikir kalau Rossy hanya sedang tak mood makan saja, Rossy memang tak mengeluhkan rasa mual atau gejala kehamilan lainnya, itu makanya meskipun seorang dokter Pandu tak lantas cepat menyimpulkan, mengingat pernikahan mereka yang belum lama...
__ADS_1
...“Iya Mas, tes aja! Kayaknya tanda - tanda awal kehamilan tuh, kayak aku dulu” tambah Areta...
Pandu dan Rossy tak menunggu lama, mereka langsung bangkit dan tergesa menuju kamar mereka, meninggalkan Rivandra dan Areta yang kini menunggu dalam harap hasil test pack Rossy
Hampir satu jam Rossy dan Pandu dalam kamar mereka, entah berapa testpack yang Rossy coba
...“Mama! Papa! Oma!” Pekik Rossy membahana memanggil para sesepuh rumah itu, wajah Rossy yang tadinya ditekuk sekarang berganti sumringah, sedang Pandu dibelakangnya masih sibuk fokus memindai alat test pack yang sudah ia lihat berkali - kali, senyumnya lebar melihat hasil positif kehamilan Rossy, artinya ia akan menjadi seorang Ayah...
...“Pa! Ma! Oma!” Teriak Rossy lagi, ia lalu mendekati Areta dan Rivandra yang tak sabaran menanti kabar dari Rossy, meskipun jika melihat dari raut bahagia Rossy dan Pandu mereka sudah bisa menebak hasilnya...
...“Gimana Kak?” Tanya Areta penasaran, Rossy mengangguk mantap sedang bibirnya tak berhenti melengkungkan senyum...
...“Positif” Tanya Areta lagi sambil memburu Rossy, begitu antusiasnya...
...“Iya, Kakak hamil” sahut Rossy, ia refleks melompat kegirangan, Areta pun tertular melompat - lompat bahagia, sedang Pandu malah menangis terisak saking bahagianya...
...“Hei hei, ga boleh loncat - loncat! Inget Kak Rossy lagi hamil!” Pekik Rivandra sambil menenang - nenangkan Pandu yang tangisnya semakin kencang, Pandu memang begitu, ia mudah sekali menangis karena sedih atau karena bahagia ...
Mendengar keriuhan di ruang makan, Oma, Julian dan Anna yang baru datangpun mengerutkan keningnya, apalagi ketika melihat wajah bahagia Rossy dan Areta, sementara Pandu malah duduk menangis terisak
...“Ada apa ini?” Tanya Oma sambil mengabsen satu persatu wajah cucu - cucu dengan tatapannya...
...“Iya, ada apa ini? Itu kenapa Pandu sampai nangis gitu? Kamu apain Pandu, Rose?” Tanya Anna panik...
...Melihat kepanikan Mamanya, senyum jahil Rossy terbit, “Ya aku marahin lah Mas Pandu, dia udah bikin hidupku berubah total” sahut Rossy usil, Areta hanya menahan tawanya ketika Mamanya mendelik tajam pada Rossy...
...“Apa maksud kamu Rose?” Sengit Anna...
...“Hei Rose! Pandu salah apa? Apa yang dia lakukan pada hidup kamu? Yang Oma perhatikan Pandu itu suami yang baik!” Tambah Oma sama sengitnya dengan Anna...
Julian hanya bisa menggeleng- gelengkan kepalanya sambil menepuk - nepuk bahu Pandu, entah ada masalah apalagi diantara putri dan menantunya
...Rossy tergelak melihat wajah - wajah panik orang tua dan neneknya, “Pandu salah Ma, dia udah bikin aku hamil!” Tutur Rossy...
Mata Oma membulat sempurna, Anna pun sama terkejutnya, sedang Julian mengkonfirmasi pada Rivandra, mendapat anggukan dari Rivandra, Julian berubah sumringah, wajah Julian pun kini berseri sangat bahagia
...”Kamu hamil Rose?” Cecar Anna, Rossy yang terus saja tersenyum mengangguk mantap...
__ADS_1
Anna bahagianya luar biasa, ia langsung memeluk putri cantiknya, mengucap selamat, menghaturkan syukur berulang - ulang pada Tuhan atas karunianya, Oma pun tak kalah bahagianya, sampai menangis juga seperti Pandu saking bahagianya.
Sore harinya seluruh keluarga berangkat menemui dokter Kartini untuk memeriksakan kehamilan Rossy, hanya Areta dan Rivandra yang tak ikut serta, mereka sibuk mengasuh Lily yang masih rewel akibat flunya. Hari itu kebahagiaan mampir kembali di rumah Julian yang sebelumnya berkali - kali diterpa berbagai macam cobaan, lengkap sudah sekarang formasi keluarga Julian.