
[[Apa udah nyampe rumah?]]Tanya Rivandra dalam pesan yang masuk ke ponsel Areta, wanita itu tersenyum lalu menoleh sedikit pada Rossy dan Anna yang duduk mengapitnya, malu kalau sampai mereka tahu saat ini ia tengah berbunga mendapat pesan dari Rivandra , beruntung Rossy dan Anna pun sibuk dengan ponsel mereka masing - masing, Areta lalu menggerakan jarinya membalas pesan Rivandra
[[Masih di jalan Kak, macet banget. Kak Rivan belum boarding ke Batam?]] balas Areta, Areta tak menunggu lama balasan pesan Rivandra, beberapa detik kemudian balasan dari pria itu Areta terima
[[Delay, tau gitu saya nahan kamu aja disini, baru sebentar pisah aja saya udah kangen, menyiksa]] tulisnya
Areta senyum - senyum sendiri, pria itu ternyata sangat manis ketika tengah jatuh cinta
[[Lagi - lagi jurus gombal yang sudah kadaluarsa]] tulis Areta
[[Bersiaplah untuk menerima kegombalan yang sudah kadaluarsa itu tiap detik, menit, dan jam. Saya ga akan bosen - bosen untuk bilang kalau saya cinta dan kangen sama kamu]] balas Rivandra
Blush..
Pipi Areta memerah, meski lewat pesan saja pria itu berhasil membuat jantungnya berdebar kencang
[[Mungkin kita bisa beralih ke topik penting]] tulis Areta dalam pesannya, tak ingin terlena, masih sadar kalau di sampingnya ada Rossy dan Anna
[[Apa topik tentang perasaan kita kurang penting?]] balas Rivandra, Areta menoleh ke arah Rossy memastikan wanita cantik itu masih sibuk dengan ponselnya
[[Kak, sepanjang perjalanan tadi aku kepikiran tentang mantan suami Kak Rossy soalnya aku beneran kayak pernah liat, dan sekarang aku udah inget]] tulis Areta, ia memang tergelitik untuk mengingat pria yang Rivandra sebut sebagai mantan suami Rossy, Areta ingat betul ia pernah melihatnya langsung
[[Dimana Areta?]] balas Rivandra
[[Di rumah Kak Mauren Kak, pantas saja aku lupa karena kejadiannya itu sekitar dua tahun yang lalu]] balas Areta
Rivandra di seberang sana menegakkan duduknya yang tadinya santai, ia membaca berulang - ulang pesan dari Areta, memastikan kalau ia tak salah baca. Bagaimana cara Mauren mengenal mantan kakak iparnya itu? dan kenapa Mauren tak pernah cerita?
[[kamu yakin Areta?]] balasnya pada Areta, ia lalu menunggu tak sabaran balasan pesan dari Areta, kepalanya kini dipenuhi berbagai macam pertanyaan
[[Yakin Kak, seingatku datang sama managernya Kak Mauren. Tapi ga aneh kan kalau mereka saling kenal? bukannya mereka sama - sama ipar? Mungkin Kak Rossy yang mengenalkannya, entahlah]] balas Areta
Rivandra tak segera membalas pesan Areta seperti tadi, otaknya bekerja keras. Ia memang pernah mengenalkan Mauren pada pria bajingan itu, tapi seingatnya itu setahun yang lalu, tepat beberapa bulan sebelum pernikahan pria itu dan Rossy yang cuma seumur jagung.
[[Kak, aku udah sampai di rumah. Hati - hati di jalan ya]] tulis Areta dalam pesannya
[[Iya sayang, sampai ketemu. I love you]] balas Rivandra, ia lalu menunggu tak sabar balasan dari Areta
__ADS_1
[[ I love you ]] balas Areta yang sukses membuat wajah pria itu bersemu merah
Anna, Areta, dan Rossy baru saja sampai di kediaman mereka saat mereka melihat sebuah mobil ambulance terparkir di depan rumah, ketiganya seketika panik, dalam bayangan mereka hanya satu, yaitu sesuatu terjadi pada Oma Mieke. Ketiganya lalu tergesa masuk ke rumah lalu menuju kamar Oma Mieke, di depan kamar Oma Mieke para pembantu tampak mengerubungi dengan wajah cemas, ada Mauren juga tapi ia hanya duduk di kursi dengan tangan bersedekap meskipun wajahnya juga tampak khawatir
...“Ini ada apa?” Tanya Anna panik pada para pembantu yang lalu menyibak, memberikan jalan pada Anna, Rossy, dan Areta...
...“Anu Nyonya, tadi jantungnya Oma kambuh lagi” sahut salah seorang pembantu...
Anna, Rossy, apalagi Areta terhenyak kaget, ketiganya dengan tergesa masuk ke dalam kamar Oma, disana sudah ada dokter Adi yang tengah memeriksa, perawat Oma dan Bi Jum berdiri patuh di samping tempat tidur
...“Bi Jum, Oma kenapa? Kenapa ga ada yang ngasih tau saya?” Tanya Anna panik ...
...“Nyonya, maaf. Oma yang berpesan sama saya untuk ga ngasih tau siapa pun, jantungnya Oma kambuh lagi Nyonya, tadi suster Rina udah panggilin ambulance, tapi Oma ga mau dibawa ke rumah sakit, makanya saya langsung panggil dokter Adi” tutur Bi Jum panjang lebar...
Anna memburu mendekati Oma dan mendudukkan diri disamping Oma yang sedang terbaring lemas
...“Bi Jum, emang tadi Oma habis ngapain? Kenapa penyakit jantungnya tiba - tiba bisa kambuh” tanya Rossy...
...“Itu Non, habis ribut sama Nyonya Mauren” sahut Bi Jum...
...“Astaga, ribut kenapa lagi mereka?” tanya Rossy lagi sambil menghela napas...
...“Aku?” Tanya Areta terkesiap, ya Tuhan apalagi ini.. batinnya...
Rossy mengepalkan tanganya,
...“Si Mauren ini, lama - lama kelewatan” ujarnya, tinjunya terkepal lalu beranjak keluar kamar, Areta sigap mengekori, ia tahu betul apa yang akan Rossy lakukan...
...“Kak jangan Kak, jangan ribut - ribut dulu, kasian Oma” ujar Areta sambil berusaha meraih tangan Rossy...
...“Biarin aja Areta, dia selalu bikin kisruh” sahut Rossy tak mau menghentikan langkahnya...
Begitu sampai di depan Mauren, Rossy berkacak pinggang dengan mata yang menyalang, merasa mendapat serangan Mauren bangkit dari duduknya
...“Kamu ngomong apa sama Oma nyampe penyakit jantung Oma kambuh lagi, Mauren?” Cecar Rossy...
...Mauren mendelik tajam pada Areta lalu menoleh pada Rossy, “Loh Kak, kenapa aku yang disalahkan? Kakak harusnya nanya dulu apa yang Oma omongin sama aku tadi, kalau Kakak jadi aku apa Kak Rossy akan diam saja saat Oma mendo’akan perceraianku dan mendo’akan agar Rivandra bahagia dengan pelakor ini?” Mauren tak segan menunjuk wajah Areta, wajahnya terlihat sangat kesal. Areta mendengus, sudah ia duga pasti akan ada masalah buntut kepergiannya dengan Rivandra...
__ADS_1
...“Oma berhak untuk mendo’akan apa pun atau siapa pun, apa kamu ga tau kondisi jantungnya Oma seperti apa? Apa kamu ga bisa ngalah sedikit sama Oma? Menjengkelkan!” Sengit Rossy sambil beranjak dari situ dan masuk kembali ke dalam kamar Oma...
...“Areta!” Panggil Mauren, langkah Areta yang hendak mengekori Rossy terhenti, wanita cantik itu lalu menjatuhkan pandangannya pada Mauren...
...“Kamu puas Areta? Sudah berapa kali musibah di rumah ini terjadi gara - gara kamu?” Sengit Mauren...
Areta menghela napasnya
...“Gara - gara aku? Bukannya gara - gara sikap temperamental Kak Mauren sendiri? Kenapa aku yang disalahkan?” Sahut Areta tak mau kalah...
...Mendapat perlawanan dari Areta jelas Muaren terkesiap, “wah wah, sudah makin berani ya kamu sekarang? Apa karena selama ini mendapat dukungan dari keluarganya Rivan jadi kamu ngerasa di atas angin?” Sinis Mauren...
...“Bukannya Kak Mauren harusnya berkaca, kenapa mereka malah mendukungku dibanding Kak Mauren?” Sahut Areta tak mau kalah, entah keberanian darimana hingga ia mampu beradu argumen dengan Mauren, mungkin karena ia tahu Rivandra telah memilihnya...
Mauren berdecih, “kamu pikir karena apa selain karena anak Rivandra dalam kandunganmu Areta? Begitu kamu melahirkan dan anak itu menjadi bagian dari keluarga ini, perceraian kalian akan membuat kamu kehilangan semua kasih sayang dan dukungan dari mereka, sadar diri Areta, ngaca kamu pelakor!” Sengit Mauren
Areta menyeringai, “Kak Mauren pikir aku akan membiarkan anakku dalam pengasuhan Kakak gitu? Jangan mimpi Kak!” Tandas Areta,
...Mata Mauren membulat, “Apa maksud kamu Areta?” ...
Areta tak menjawab, hanya tatapan sinisnya saja yang menghujam, ia lalu beranjak hendak meninggalkan Mauren, tapi wanita itu sigap menarik tangannya, nyaris saja Areta terjungkal
...“Apa maksud kamu tadi Areta, hah?” Sentak Mauren...
...“Areta, Mauren, sudah!” Pekik Anna saat melihat kedua menantunya sengit beradu pandang...
...“Apa yang kalian ributkan? Bukan saatnya kalian berdebat dalam kondisi Oma yang masih drop!” Anna jelas kesal, bahkan Oma saja masih terbaring di tempat tidur sementara Mauren dan Areta sibuk bertengkar...
...“Mama tanyain aja sendiri sama pelakor ini, semua orang di rumah terlalu membelanya akhirnya membuat dia besar kepala, dia bahkan berani bilang kalau dia ga akan memberikan anak itu untuk kita asuh Ma!” Cerocos Mauren...
Anna memijit pelipisnya, “Udah - udah, Mauren sebaiknya kamu masuk ke kamarmu, jernihkan pikiran kamu, Mama udah ga mau denger ribut - ribut lagi!” Titah Anna, Mauren patuh ia mendelik tajam pada Areta sebelum kemudian beranjak menuju kamarnya
Merasa jadi pusat perhatian para pembantu disitu, Anna memilih untuk menggandeng Areta dan menggiringnya menuju ruangan lain
...“Areta, Mama tau bagaimana perasaan kamu dan Rivandra, Mama juga serba salah karena kamu dan Mauren sama - sama menantu Mama, tapi demi ketentraman rumah ini juga cucu dalam kandungan Mama terutama mental kamu, Mama mohon jadilah Areta yang seperti kemarin - kemarin, yang membatasi diri dari Rivandra. Lihatlah Oma sekarang Areta, Mama bukannya mau nyalahin kamu, tapi kejadian ini menyangkut kamu juga” cerocos Anna...
Areta menunduk dan membisu, benar kata Mauren dan Anna, dia jadi penyebab dasar kekacauan yang sering terjadi di rumah itu
__ADS_1
...“Sekali lagi, Mama ga nyalahin kamu atau belain Mauren, bersyukur kondisi Oma sudah stabil sekarang, entah apa yang akan terjadi pada Oma kalau dokter Adi tidak segera datang tadi” ...
Areta mendongak, “saya mengerti Ma” ucap Areta yang hatinya kini mencelos. Ternyata semuanya tak semudah di angan.