Satu Suami Dua Istri

Satu Suami Dua Istri
Semua Rahasia Terbongkar


__ADS_3

...“Bi, Pak Rivan nginep disini tadi malam?” Tanya Anna begitu sampai di rumah Areta, tangannya menyodorkan kantong berisi makanan, Bi Parni menerimanya dengan sigap...


...“Iya Nyonya, tengah malem nyampenya, tapi tadi shubuh sudah pergi lagi” sahut Bi Parni...


Anna menghela napasnya, bandel dan keras kepalanya Rivandra itu memang tak ada yang mengalahkan, akulturasi dari Julian


...“Ya sudah, tolong panasin sup dagingnya ya Bi, buat sarapan Bu Areta, Bu Aretanya dimana sekarang?” Tanya Anna lagi...


...“Ada di kamar Nyonya, tadi setelah bikinin sarapan buat Bapak, Bapak nyuruh Ibu buat istirahat” jawab Bi Parni...


...“Oh ya sudah, saya langsung ke kamarnya Areta aja kalau gitu” ucap Anna sambil beranjak menuju kamar Areta...


Anna pelan mengetuk kamar Areta, khawatir si empunya kamar terganggu istirahatnya, tapi tak lama Areta membuka pintu kamarnya, menyambut Anna dengan ramah dan sopan


...“Tante, Tante kapan nyampenya?” Tanya Areta ...


Anna berdecak, lalu beranjak masuk ke kamar Areta


...“Panggil Mama Areta, apa sesusah itu manggil Mama?” Sewot Anna sambil memindai sekeliling kamar Areta yang ia yakini juga dihuni oleh anaknya, mengingat wangi parfum Rivandra menguar disana...


Areta menepuk jidatnya sendiri, ia selalu lupa untuk menyebutkan gelar mulia itu pada mertuanya


...“Maaf Ma, Areta belum terbiasa.. soalnya baru pertama kali ini dalam seumur hidup Areta bisa manggil seseorang dengan sebutan Mama.. hehehe” ujar Areta cengengesan, tapi sukses membuat hati mertuanya itu mencelos sedih...


Anna membelai sayang wajah cantik menantunya itu, wajah teduh dan tenang yang sarat akan beban


...“Biasain ya sayang, sekarang Mama ini kan Mamanya kamu, Nenek dari anak yang kamu kandung, masa dipanggil Tante” ucap Anna...


...“Iya Ma” sahut Areta sambil menampilkan senyum terbaiknya...


...“Kamu katanya lagi istirahat, ayo tiduran lagi aja, jangan capek - capek, mumpung masih ada waktu sebelum ke dokter kandungan nanti” tutur Anna sambil menggandeng Areta menuju tempat tidurnya...


...“Harusnya si Rivandra itu ga usah diurusin, kan ada Bi Parni, kamu itu lagi hamil, istirahat aja, manjain diri sendiri!” Cerocos Anna lagi sambil membenar - benarkan bantal untuk Areta tiduri, “Ayo bobo sayang” ucapnya...


...“Tapi Ma, masa Areta tidur padahal Mama lagi ada disini” tutur Areta tak enak...


...“Tenang aja, Mama ikut tiduran juga, kebetulan Mama masih ngantuk, tadi bangunnya kecepatan” ucap Anna ...


Areta membulatkan matanya tak percaya


...“Mama mau tidur disini? Sama Areta?” Tanya Areta memastikan...


...“Iya, ga boleh ya?” Tanya Anna...


...“B-Boleh Ma, boleh banget, silakan Ma” ucap Areta tergagap sambil beringsut kikuk pindah ke sisi sebelahnya...


Anna mendudukkan dirinya di tempat tidur, lalu membuka sepatu heelsnya, rambut sebahunya yang selalu tertata rapi itu ia benar - benarkan sebentar sebelum ia mendaratkan kepalanya dengan anggun di bantal, menyusul Areta yang juga meletakkan pelan kepalanya di bantal, kini keduanya berbaring bersebelahan, sama - sama menatap langit - langit kamar


...“Aduh aroma parfumnya si Rivandra nempel banget nih di tempat tidur” tutur Anna, Areta hanya tersipu malu mendengarnya, mau bilang bukan tapi memang pada kenyataannya pria itu tidur bersamanya tadi malam...


...“M-maaf Ma, udah dua hari berturut - turut nginep disini Ma, tapi nanti Areta suruh pulang aja Ma kalau Kak Rivan mau nginep disini lagi” ucap Areta tak nyaman...


...“Aih itu terserah kalian aja, Mama ga mau ikut campur, yang paling penting buat Mama cuma kesehatan kamu dan cucu Mama, soal yang lain - lain kalian aja lah yang atur sendiri” tutur Mama Anna lagi, “udah ah bobo yuk” ucapnya lagi sambil mulai memejamkan mata...


Belum semenit Anna memejamkan matanya, ponsel yang ia letakkan di sampingnya berbunyi nyaring, Areta yang memang tak bisa tidur karena gugup ikut membuka matanya


...“Haduh ini pasti si Papa deh nyariin Mama” ucap Anna sambil meraih ponsel dan memindainya...


...“Bener kan, gangguin aja deh si Papa” sungutnya sambil beringsut duduk, Areta seketika ikut duduk...


...“Areta, Mama kayaknya ga bisa nganterin kamu ke dokter kandungan hari ini, nanti Rivandra aja ya yang nganterin, soalnya Papa minta ditemenin ketemu relasinya” tutur Anna...


...“Ga apa - apa Ma, dan kalau boleh Areta dianterin sama temen Areta aja, namanya April, dia udah lama banget pengen nemenin Areta kontrol ke dokter” ...


Anna mengangguk - angguk


...“Tapi nanti dianter jemput sama sopir Mama ya, biar Mama tenang” ucap Anna...


...“Iya Ma, terima kasih” sahut Areta...


...“Ga perlu terima kasih kalau sama Mama sendiri” ucap Anna sambil mengelus surai Areta yang hatinya kian meleleh, entah kebaikan apa yang pernah ia perbuat sehingga bisa mendapat mertua sebaik Anna, meskipun hanya mertua gelap...


Sepeninggal Anna yang dijemput oleh sopir Julian, Areta bergegas menghubungi temannya April, tak sampai satu jam temannya itu sudah sampai di rumah Areta, memang tak sulit mencari alamat rumah Areta yang berada di kawasan strategis. April tak berdaya saat Areta meminta mereka untuk berangkat dengan diantar sopirnya Anna, melihat perut Areta yang mulai membuncit sudah pasti April tak akan tega memaksa Areta untuk dibonceng dengan motor sportnya


...“Ngantri banget Ta, dokternya terkenal ya?” Tanya April yang celingukan melihat sekelilingnya sambil duduk di sebelah Areta...


...“Iya, dokter Kartini emang terkenal Pril, pasiennya banyak banget, makanya ngantri kayak gini, tadi sebenarnya Kak Rivandra minta aku bikin janji sama dokter Kartini biar ga ngantri, tapi aku ga mau, biar bisa punya waktu ngegosip sama kamu.. hehehe” cerocos Areta...


...“Gosipin apaan? Emang aku emak - emak biang gosip?” Sewot April...

__ADS_1


...“Ya kali kamu punya berita terbaru soal artis kesukaan kamu, siapa itu? Si Rivan, Rivan apa Pril? Rivan Hady ya? Atau Rivan apa?” Tanya Areta sambil mengerutkan keningnya...


...“Rivandra? Ahahaha.. itu mah idola kamu kali!” Tutur April sambil tergelak, suara tawanya yang membahana mengundang protes sebagian Ibu - Ibu, ada yang bisik - bisik, ada yang mendelik, tak sedikit pula yang pura - pura tak mendengar...


...“Dih nih anak, kenapa jadi ke dia sih? Malesin!” Protes Areta...


...“Ya udah ga dia deh, kalau Kak Fabian gimana?” Goda April ...


...“Heuuumm dia lagi, ga ada yang lain apa?!” Sewot Areta...


...“Tapi masih suka kan sama Kak Fabian?” Goda April tak mau menyerah...


...“Ngapain kamu bawa - bawa nama anak saya?” Suara yang Areta kenal betul itu tiba - tiba saja terdengar, bak petir yang menyambar di siang hari tanpa ada mendung yang menggelayut, begitu menakutkan dan mengagetkan...


Areta dan April saling pandang sebelum mereka berdua bangkit dari duduknya dan berbalik menoleh ke belakang


Deg..


Jantung Areta serasa berhenti seketika saat melihat Susan dan Dani yang kini tengah menatapnya tajam


...“T-tante” ucap Areta lirih, badannya lemas dan gemetaran...


...“Ngapain kamu disini, hah?” Sengit Susan sebelum kemudian pandangannya jatuh pada perut Areta yang sedikit membuncit, “astaga, kamu hamil Areta?” Tanya Susan dengan mata yang melotot nyaris keluar, jarinya menunjuk perut Areta...


Sementara Dani menghela kasar napasnya, lalu menggeleng - gelengkan kepalanya sambil berkacak pinggang, raut kecewa tampak sekali di wajahnya


Areta tertunduk, bingung hendak menjawab apa, April sigap menggandeng Areta, khawatir Areta limbung


...“Siapa yang hamilin kamu, hah?” Sentak Susan, suaranya yang nyaring jelas membuat semua orang yang sedang sabar menunggu giliran untuk periksa tertarik pada drama yang sedang terjadi, kini semua mata menatap mereka ingin tahu...


...“Bukannya kamu kerja sama Rossy? Terus gimana kamu tiba - tiba bisa hamil gini? Dihamilin sama siapa kamu, hah? Sama tukang kebon? Sama cleaning service? Atau sama tukang sampah yang kebetulan lewat?” Sengit Susan lagi, matanya memandang Areta dengan jijik, April murka sudah, ia hendak angkat bicara tapi Areta menggenggam tangannya, mengkode agar April bungkam...


...“Mama sudah, kita diliatin orang tuh” gumam Dani mengingatkan...


Tapi Susan urung berhenti, ia kini berjalan mendekati Areta yang berdiri terpatri di tempatnya


...“Dasar murahan, lepas sebentar dari pengawasan keluarga Rivandra kamu langsung menjajakan diri, gitu?” Sentak Susan lagi...


Bisik - bisik sumir beberapa orang mulai terdengar, penghakiman tanpa bukti yang lagi - lagi terjadi


...“Tante, jaga bicaranya!” Sengit April tak tahan...


April hendak menjawab, membongkar semuanya, tapi urung karena lagi - lagi Areta menyuruh bungkam, membongkar siapa Ayah bayi yang ia kandung sekarang sudah pasti hanya akan membuatnya tambah dipermalukan, pikir Areta.


Susan berdecih


...“Gimana nanti pendapat keluarga Rivandra ya saat tau orang yang selalu mereka anggap baik ternyata hamil diluar nikah? Kelakuannya sama persis kayak Ibunya dulu” sinis Susan...


Areta memejamkan matanya, kakinya lemas sudah, pandangan merendahkan ia dapatkan bukan hanya dari Susan dan Dani, tapi juga dari semua orang yang ada disitu


...“Murahan Bu, jambak aja jambak!” Ucap seorang Ibu disitu tanpa belas kasih...


...“Heh kalau ngomong hati - hati ya, kalau ga tau ceritanya, ga usah ikut campur!” Sentak April pada Ibu itu yang berbuah sorakan dari Ibu - Ibu yang lain, merasa dapat dukungan Susan semakin bersemangat menguliti Areta ...


...“Ga tau diri, udah ga punya orang tua, seumur hidup nyusahin orang, sekarang malah bikin malu dengan hamil diluar nikah?! Jadi orang kok menjijikan banget sih kamu Areta!” Sengit Susan lagi...


...“Tampar Bu, tampar” tambah seorang Ibu lagi, memprovokasi...


...Dani tampak tak nyaman, ia tahu jika dibiarkan Susan akan makin menjadi - jadi...


...“Kita bawa aja ke rumah besan Ma, kita kasih tau kelakuan si Areta” tutur Dani, Areta tak bergeming, hari ini lah semua rahasianya akan terbuka, tak apa, toh hanya tinggal lima bulan lagi ia ada dalam lingkaran setan itu....


...“Ikut sama saya kamu Areta” sengit Susan sambil menarik kasar tangan Areta, Areta meringis sakit saat merasakan kuku Susan yang panjang menggores lengannya, kakinya yang lemas terseok mengikuti langkah Susan yang tergesa...


...“Huuuuuuuuuu” sorakan nyaris semua orang yang ada disitu membahana, makin menyulut kemarahan di dada Susan...


Mendengar kericuhan diluar ruang prakteknya, dokter Kartini dan perawatnya keluar sebentar mencari tahu apa yang terjadi, mata dokter Kartini memicing memastikan apa yang ia lihat agak jauh di depannya


...“Itu bukannya Bu Areta ya? Aduh lagi hamil kenapa ditarik tarik gitu?” Protesnya. Penasaran, dokter Kartini mencari tahu apa yang terjadi pada perawat yang bertugas di pendaftaran, setelah mengerti apa yang terjadi, merasa bertanggung jawab karena insiden terjadi di tempat prakteknya, dokter Kartini sigap menghubungi Rivandra dan menceritakan semua yang terjadi. ...


...“Tante, jangan main bawa gitu aja dong Tante, lepasin Aretanya Tante” ucap April sambil berusaha melerai cengkrama tangan Susan di lengan Areta, Susan tak berhenti, bahkan ketika mereka menjadi pusat perhatian orang sepanjang jalan menuju tempat parkir, Susan berjalan cepat dengan menggeret Areta, mengikuti Dani di depannya...


Areta menggeleng pada April


...“April, kamu pulang aja, ini udah waktunya Pril” ucap Areta lirih ...


...“Ga bisa gitu dong Areta, mereka ga berhak ngehina dan ngatur hidup kamu!” Sengit April, tangannya kembali berusaha hendak meraih tangan Areta, tapi Susan menepisnya...


...“April, pulang April!” Tandas Areta, matanya tajam meyakinkan temannya itu, April berhenti mengekori, melepas tak rela Areta yang berjalan terseok ditarik oleh Susan di depannya, hati April hancur, sungguh hancur....

__ADS_1


Merasa tak bisa membantu temannya, April segera menghubungi Fabian, berharap agar pria itu bisa membantu Areta, April menunggu tak sabar Fabian menjawab panggilan ponselnya


...“Halo Kak, Kak Fabian gawat Kak!” Ucap April histeris...


...“Gawat kenapa April? Ada apa?” Tanya Fabian panik...


...“Itu Kak, Areta dibawa sama orang tua Kak Fabian ke rumah Kak Rivandra, mereka udah tau kalau Areta hamil” ucap April makin panik...


...“Tunggu - tunggu, mereka bisa ketemu sama Areta dimana April?” Tanya Fabian, masih mencoba mencerna...


^^^“Nanti aja aku ceritain Kak, sekarang yang penting Kak Fabian tolong segera susulin Areta ke rumah Kak Rivandra Kak, tolong Kak, kasian Areta” ucap April memohon^^^


...“Iya, saya berangkat sekarang juga kesana” tutur Fabian panik, ia lalu mengakhiri pembicaraannya dengan April...


...****************...


Sudah bisa dibayangkan apa yang terjadi di dalam mobil Susan selama perjalanan mereka menuju rumah Rivandra, cacian dan makian dilontarkan pada Areta oleh Susan, terkadang Dani menimpali. Areta yang duduk di kursi depan samping sopir hanya bisa tergugu.


...“Dasar murahan, malu - maluin saya depan besan saya aja kamu” sengit Susan sambil menoyor kepala Areta dari belakang, Areta terhuyung sedikit ke depan, air matanya jatuh seketika, sopir yang berada di sampingnya menatap prihatin, tapi tak mampu membantu....


...“Tau gitu saya buang aja dulu kamu ke tempat sampah, toh ujung - ujungnya kamu juga cuma jadi sampah!” Sinis Susan lagi, satu toyoran lagi dihadiahkan pada Areta...


Perjalanan itu terasa sangat panjang dan menyiksa untuk Areta, Areta sudah terbiasa direndahkan, dihina, dan dipermalukan, tapi hari ini harga dirinya sebagai perempuan benar - benar raib tak bersisa dikubur oleh kemarahan Susan.


Areta menatap nanar gerbang besar dan menjulang tinggi rumah Rivandra yang kini ada di depannya, jantungnya berdebar kencang, apalagi ketika satpam rumah membukakan gerbang itu dan mempersilakan mobil Dani untuk masuk, dirinya semakin mengkerut tatkala melihat jejeran mobil yang hampir lengkap di tempatnya, artinya semua anggota keluarga sedang ada di rumah kecuali Rivandra


Ketika turun dari mobil, Areta berjalan digelandang bak tahanan oleh Susan dan Dani, tak ada sedikit pun belas kasih mereka pada Areta yang kini pucat pasi. Mbok Jum yang membukakan pintu tampak kaget melihat kedatangan Areta dan orang tua Mauren, tak sanggup berbasa - basi melihat ketegangan di wajah ketiganya, Mbok Jum hanya mempersilakan masuk, setelah itu gegas memanggil Nyonya besarnya


Dani dan Susan mendudukkan diri di sofa besar ruang tamu


...“Duduk di bawah kamu! jangan bikin saya tambah malu sama besan karena ngizinin wanita kotor seperti kamu duduk di sofa mahal mereka!” Sengit Dani berapi - api...


Areta manut, ia mendudukkan dirinya di bawah, melantai


Tak lama atas informasi dari Mbok Jum yang menyebut nama Areta, semua anggota keluarga kecuali Mauren dan Rivandra hadir di ruang tamu, wajah semuanya dalam mode tegang, mereka tahu persis apa maksud kedatangan Susan dan Dani, hari ini semuanya akan terungkap, ketegangan mereka bercampur kaget sekarang, mereka terhenyak melihat wanita yang tengah hamil cucu mereka itu duduk di lantai


...“Areta, duduk di sofa Nak” titah Julian, tak terima menantunya diperlakukan seperti itu, Areta mengangguk manut lalu mendudukkan dirinya dengan takut - takut di sofa...


Dani dan Susan saling pandang, tak mengerti sikap Julian


...“Maaf besan, ada alasan kenapa kami minta Areta untuk duduk di lantai” ucap Dani membela diri...


...“Ga ada alasan untuk memperlakukan orang dengan rendah seperti itu Dani!” Sengit Oma, benar - benar tak terima...


Dani menghela napasnya, sementara Susan mendelik pada Areta, tak senang karena Areta banyak dibela


Anna dan Julian segera mendudukkan diri mereka di depan Susan dan Dani, tak lama Mauren turun dari kamarnya, ia terkejut melihat kedatangan orang tuanya yang tiba - tiba dengan membawa Areta pula, padahal sebelumnya mereka janjian untuk bertemu di klinik dokter Kartini


Sementara Areta, hatinya tak karuan melihat Mauren, ia merasa sangat bersalah, ia pun tak sanggup membayangkan betapa akan hancur leburnya perasaan Mauren saat rahasia itu terungkap.


Kini semua hening, sampai Dani membuka suaranya


...“Kedatangan kami kesini untuk memberi tahukan sesuatu yang akan membuat keluarga besan kaget, tapi sebelumnya kami minta maaf, karena kami sudah membawa perempuan hina seperti Areta masuk ke dalam keluarga besan dan akhirnya membuat malu” tutur Dani...


Rossy mendelik tak terima mendengar omongan Dani


...“Perempuan hina? Apa tidak ada kata - kata yang lebih manusiawi, Om?” Protes Rossy tak terima Areta dihina...


Mauren yang menyadari sorot kemarahan di mata Rossy mengelus lengan Ayahnya, memberi kode agar Dani tak berucap seenaknya


...“Tolong bicarakan dengan baik - baik dan dengan kepala dingin” tambah Anna...


Susan menoleh pada Anna, napasnya ia atur sebentar


...“Jeng tau saya ketemu dimana sama Areta tadi? Di klinik kandungan! tadi saya janjian sama Mauren di klinik dokter Kartini, tapi ga jadi gara - gara ketemu Areta yang sedang ngantri disana, dan Jeng tau untuk apa dia disana? Dia hamil Jeng, dia mau periksa kandungan!” Cerocos Susan histeris...


Deg..


Mauren terbelalak, mulutnya menganga lebar, sementara yang lain yang sudah mengetahui kehamilan Areta kini hanya terdiam seribu bahasa


...“Tapi sampai sekarang saya ga tau itu anak siapa Jeng, dari tadi si Areta ga mau ngomong siapa Ayahnya, ga tau tukang sampah, tukang nasi goreng keliling, atau cleaning service di kantor Rossy kali, bener kan Areta, hah?” Sengit Susan...


...“Itu anak saya Ma!” Ujar Rivandra yang baru saja datang dan masuk ke rumah, napasnya terengah, terlihat sekali ia tergesa datang, bahkan ia masih memakai seragam bedahnya...


Deg..


Sekarang bukan Mauren saja yang terkejut, Dani dan Susan pun terhenyak kaget mendengar pengakuan Rivandra, begitu pun dengan Fabian yang baru saja sampai di rumah itu


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2