
3 bulan kemudian..
Menemukan Areta seperti menemukan jarum dalam tumpukan jerami, sangat sulit. Wanita itu bak hilang ditelan bumi, upaya pencarian Areta bukan hanya dilakukan oleh Rivandra dan Fabian, tapi Julian juga. Julian menghubungi teman - teman dan relasinya, mencari informasi jika ada kemungkinan Areta berangkat ke luar negeri, setelah memastikan kalau tidak ada passport dan Visa atas nama Areta maka fokus pencarian mereka hanya di dalam negeri, namun hingga saat ini usaha mereka tak membuahkan hasil.
Untuk mengurangi kegundahannya karena tak juga menemukan Areta, Rivandra lebih banyak menyibukkan diri di kantor, berkutat dengan setumpuk pekerjaannya, atau melakukan bakti sosial di luar daerah.
...“Hei, sekali - kali menolaklah kalau Rivandra meminta Mas untuk ikut dia bakti sosial di luar kota, apa dia ga mengerti gimana perasaan Kakaknya harus jauh dari calon suaminya terus?” Protes Rossy lewat ponselnya pada dokter Pandu, calon suaminya. ...
Rossy dan dokter Pandu memang sudah menjalin asmara selama dua bulan terakhir, dan memutuskan untuk segera menikah, keluarga merestui dengan pertimbangan bahwa dokter Pandu adalah orang kepercayaan Rivandra, ditambah Rivandra berani menjamin kalau dokter Pandu adalah pria yang baik dan bertanggung jawab.
...Dokter Pandu tertawa “Aku belum bisa berbuat apa - apa sampai nanti dia menjadi adik iparku sayang, untuk sementara dia masih atasanku yang akan dengan gampangnya menanda tangani surat pemecatanku kalau aku mangkir dari perintahnya, apa kamu ga tau kalau adikmu itu mengerikan kalau udah marah?” tutur dokter Pandu sambil tergelak lagi, bahagia karena dia bisa mendapatkan sang pujaan hati, ia memang sudah menaruh hati selama bertahun - tahun semenjak ia melihat Rossy ketika berkunjung ke rumah sakit Rivandra dulu...
Rossy mendengus
...”heemmm.. baiklah, apa agenda bakti sosial di Jogja sana hari ini? Apa banyak warga yang datang?” ...
Dokter Pandu mulai bangkit dari duduknya di kursi pengawas kegiatan bakti sosial pengobatan masal, wajah dokter Pandu tampak sumringah, dengan ponsel yang tetap menempel di telinganya, ia mulai berjalan menyusuri deretan kursi yang mengular tempat warga menunggu giliran pemeriksaan.
...“Warga yang datang membludak Rose, mungkin karena yang di datangkan sekarang adalah dokter - dokter terbaik dari beberapa rumah sakit besar, tapi sayang dokter Rivandra ga ikut datang pagi ini, dia sama beberapa dokter senior ada acara di tempat lain” tutur dokter Pandu lagi...
Rossy di seberang sana berguling - guling di tempat tidurnya, senyum tak lepas dari wajah cantiknya, senang mendengar cerita tentang kegiatan pria pemilik hatinya itu sekarang
...”Heemm.. Aku yakin banyak warga yang datang bukan hanya sekedar untuk berobat, tapi juga untuk ngeliat dokter - dokter muda yang ganteng, mungkin saat ini malah ada beberapa gadis yang lagi curi - curi pandang sama kamu” goda Rossy sambil memanyunkan manja bibirnya...
Dokter Pandu refleks mengedarkan matanya, dan benar saja diantara deretan antrian ada beberapa wanita muda yang tengah memandangnya malu - malu, lalu saling berbisik cengengesan.
...“Ahahaha…. Salahku, aku membuka masker medisku tadi, tapi sayang yang ngeliatin aku perutnya membuncit semua, soalnya hari ini jadwal bakti sosial pemeriksaan kehamilan Rose” sahut pria tampan berwajah teduh itu, ia lalu mengganti mode panggilan suara dengan panggilan video ingin memperlihatkan antusiasme warga pada calon istrinya...
Dokter muda itu lalu berjalan pelan sambil mengarahkan ponselnya ke jejeran Ibu hamil yang sedang antri,
...“Pasiennya banyak kan?” Ucap dokter Pandu pada Rossy, Pandu terus saja mengarahkan kamera ponselnya pada para pengantri, sementara Rossy mengamati satu per satu Ibu - Ibu hamil yang menunggu, wanita itu begitu sennangnya melihat Ibu hamil yang kebanyakan datang dengan pasangannya, ada beberapa juga yang kelihatanya diantar oleh keluarga atau mungkin sahabatnya, netra cantik Rossy terus saja mengikuti fokus kamera ponsel Pandu, hingga mata Rossy seketika terbelalak...
...“Mas, bentar - bentar, kamu mundur Mas, arahin lagi ke Ibu hamil yang pake baju biru tadi” titah Rossy...
Pandu mengerutkan keningnya, entah untuk apa, tapi dia menuruti saja keinginan Rossy
...“Biru? Biru yang itu bukan?” Tanya dokter Pandu sambil memfokuskan kamera ponselnya pada sesosok Ibu hamil yang tengah fokus membaca majalah, “cantik sih, tapi sendirian, ga tau suaminya kemana” tutur Pandu...
Deg…
Mata Rossy membulat sempurna, jantungnya berdebar kencang, seketika badannya menegang, tapi senyum lega terbit di wajahnya cantiknya
...“Areta” gumamnya dengan mata berkaca - kaca...
...“Kamu kenal?” Pandu kini mengarahkan kamera ponselnya padanya, ia tak mengerti apa yang terjadi, apalagi ketika melihat wajah Rossy yang berbinar bahagia...
...“Mas, kamu ngedata nama pasien yang datang dan alamatnya kan?” Tanya Rossy...
...“Iya, nanti ada petugas yang mendata mereka sebelum pemeriksaan, kenapa Rose?” Jawab Pandu...
...“Kamu pastiin buat nyatet alamat Ibu hamil yang pake baju biru itu ya, dan nanti kamu kasih ke Rivandra, Mas! Pastiin Rivandra nerima alamatnya hari ini juga! Astaga, aku seneng banget, akhirnya yang kami cari - cari ketemu juga, Mas” Tutur Rossy sumringah, setitik air mata jatuh di pelupuk matanya. Pandu bingung, tapi pasti ia akan melaksanakan apa pun titah Rossy sambil menunggu tambatan hatinya itu menjelaskan apa yang terjadi...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rivandra terduduk lemas begitu menerima secarik kertas berisi nama dan alamat yang diberikan oleh Pandu padanya
...“Rossy tadi nyuruh saya untuk memberikan nama dan alamat ini pada dokter, saya ga tau untuk apa, tapi katanya dokter akan mengerti” ucap Pandu pada sore harinya ketika acara kegiatan bakti sosial mereka telah selesai...
__ADS_1
Rivandra mengusap kasar air mata yang merembes di ujung matanya, jantungnya yang berdebar tak karuan ia tenang - tenangkan. Ia lalu bangkit dari duduknya dan mendekati Pandu, wajahnya begitu serius dengan tatapan tajam
...“Dok, saya butuh bantuan dokter” ucap Rivandra sambil menarik tangan Pandu tanpa mempedulikan raut kebingungan di wajah calon kakak iparnya itu...
...“Eh eh dok, ini saya mau dibawa kemana? Bentar dok, saya ganti baju dulu!” Ujar Pandu, sadar kalau ia hanya memakai celana pendek dan kaus oblong, tapi Rivandra tak mau mendengar, baginya tak ada waktu sedikit pun yang harus ia tunda lagi untuk menemui belahan jiwanya...
Matahari masih menyisakan sedikit sinarnya ketika Rivandra dan Pandu sampai di kios fotocopy sederhana bernama ‘Harapan’ itu, tak banyak orang yang datang ke tempat itu, hanya satu atau dua, mungkin karena waktu yang sudah sore nyaris menjelang Maghrib
Rivandra turun perlahan dari mobilnya yang ia parkir tak jauh dari sana, ia mengenakan atribut lengkap dari mulai jaket dengan tutup kepala yang ia pinjam dari Pandu, kacamata hitam, dan masker medisnya, sedang Pandu yang bingung hanya bisa menggaruk tak gatal kepalanya ketika Rivandra memintanya untuk memfotocopy KTP milik Pandu sebanyak seratus lembar, entah untuk apa tapi lagi - lagi Pandu manut saja
Langkah Rivandra memelan lalu berhenti ketika hampir sampai depan kios yang terhubung dengan rumah sederhana bercat biru muda itu, dalam hati Rivandra khawatir jika sejuta harapan yang ia bawa kini nantinya akan berubah kecewa, tapi tak mencari tahu pun jelas keliru, Rivandra lalu melangkahkan kakinya dengan mantap lagi, menyusul Pandu di depannya.
Tuhan selalu punya cara untuk membuat skenario indah, kadang jauh diatas logika hamba-NYA, diluar nalar manusia. Rivandra kini yakin itu betul alamat Areta, ada April disana yang kini tengah melayani pesanan Pandu dengan ramah, Tuhan jelas berbaik hati pada Rivandra dengan mengabulkan semua do’a dan permohonannya tanpa henti.
Rivandra mendudukkan dirinya di kursi plastik warna hijau tepat di depan kios tempat pelanggan menunggu, hati Rivandra tak karuan, badannya gemetaran sudah. April menoleh pada Rivandra yang sedang dalam mode penyamaran itu, ia curiga sebentar lalu kembali fokus pada permintaan Pandu untuk mengcopy KTPnya sebanyak seratus lembar, April tak peduli lagi pada pria yang tampilannya aneh itu, yang penting baginya ada rezeki nomplok di depan mata saat kiosnya dan Areta tengah sepi pengunjung
Rivandra memindai kios yang tak seberapa besar itu, ada dua mesin fotocopy disana yang dibentengi oleh satu etalase besar berisi perlengkapan alat tulis, beberapa barang tampaknya sudah habis atau mungkin tak pernah ada di etalase, karena etalase itu melongpong di beberapa bagian, membuat Rivandra bisa melihat ke dalam bagian kios
Hati Rivandra mencelos tatkala memikirkan di tempat inilah Areta berjuang untuk menyambung hidupnya, belum apa - apa air matanya sudah merembes keluar, air mata itu ia biarkan saja mengering dengan sendirinya, ia tak mungkin membuka kacamata hitamnya dengan resiko April akan mengenalinya
Tak lama seorang pemuda tanggung datang, seumuran anak SMA, pemuda itu tampak ramah menyapa Pandu, lalu kaget ketika menatap Rivandra, Rivandra yakin pria muda itu mungkin kini sedang berpikir kalau dia intel yang sedang menyamar atau justru seorang penjahat yang sedang melarikan diri
...“Bagas, kamu darimana aja sih? Kok baru nongol lagi? banyak pesenan yang belum dianter tuh Gas, udah numpuk!” Cerocos April sambil menunjuk tumpukan kertas yang sudah terjilid rapi dan masing - masing dibungkus dengan kantong plastik...
Pemuda itu cengengesan
...”Maaf Mba, tadi mampit dulu ke rumah temen ampe lupa waktu gara - gara main game” sahut pemuda itu, pemuda itu lalu menyodorkan amplop putih pada April...
...”Ini ada titipan uang les dari Bu Dewi untuk Mba Areta, Mba… terus Bu Dewi nanya mulai les lagi kapan?” ...
Mendengar nama Areta disebut membuat Rivandra tak sabaran untuk melihat istrinya yang sampai sekarang belum terlihat batang hidungnya itu, entah sedang dimana ia, apakah ia di dalam rumah? Apa Rivandra menerobos masuk saja? Ya Tuhan ia harus apa sekarang? Batinnya..
Rivandra mengerutkan keningnya? Areta kenapa, apa dia sakit? Batinnya lagi, ah dimana Areta, kenapa ia belum muncul juga? Rivandra terus saja memandangi tirai dengan motif bunga yang jadi penghubung antara kios itu dengan rumah, entah kenapa ia merasa Areta akan muncul dari sana, muncul dengan senyum manis yang terukir di wajah cantiknya, Rivandra menunggu dengan sabar, matanya tak beralih sedikit pun dari kain gorden itu, hingga netra Rivandra membulat tatkala gorden itu tersingkap
Deg…
...“Mba masih bisa ngajarin les kok Bagas, bilangin Bu Dewi besok Mba ke rumahnya” ...
Areta yang barus saja keluar dari balik gorden membuat Rivandra shock, bagaimana tidak, wanita itu muncul dengan perut yang membuncit dan Rivandra yakini karena kehamilan tua, kalau dihitung dari lama waktu Areta pergi darinya artinya itu adalah anaknya, Pandu memang belum menceritakan pada Rivandra kalau ia menemukan wanita yang bernama Areta itu diantara antrian pasien yang ingin memeriksa kehamilan tadi.
Rivandra masih saja mencerna, otaknya sudah yakin tapi hatinya tak menerima karena berarti baik dokter Kartini maupun Areta berbohong tentang keguguran Areta, tapi kenapa? Ya Tuhan..
Rivandra kembali meneteskan air matanya, membasahi masker medis yang ia gunakan, Pandu yang kemudian duduk di sebelahnya hanya memandang calon adik iparnya itu dengan penuh tanda tanya, ia belum mendapatkan penjelasan apa pun baik dari Rossy maupun Rivandra
Dari balik celah etalase yang kosong, Rivandra bisa melihat istrinya itu kini duduk melantai dengan susah payah, sebuah kipas angin kecil yang sudah usang meniup pelan sisa rambut yang tak terikat, di sampingnya tampak tumpukan kertas, tangannya lalu terampil menyusun kertas itu satu per satu
...“Kehamilan kamu itu udah hampir sembilan bulan Areta, harusnya kamu banyak - banyak istirahat di rumah, bukannya keliling ngajarin anak - anak buat les, kalau kamu terlalu capek gimana? Udah pokoknya mulai hari ini nyampe tiga bulan ke depan kamu ga boleh ngajar les dulu!” Sewot April...
Areta mendengus
...“Kan lumayan Pril uangnya bisa nambah - nambah buat keperluan lahiran nanti” rajuk Areta...
...“Astaga, apa aku ga ada? Apa kamu cuma sendiri? Ada aku Ta, aku yang akan memenuhi semua kebutuhan lahiran kamu, kamu tenang aja!” Cerocos April...
Areta memajukan bibirnya, membuat pipinya yang gembil tambah menggembung, kalau April sudah bicara tegas seperti itu, Areta tak bisa berbuat apa - apa
...”kamu lagi ngerjain apa Pril? Kalau banyak dibagi dua sama Bagas tuh, biar cepet kelar, kan kasian kalau pelanggannya nungguin lama” ...
__ADS_1
April masih saja fokus dengan KTP Pandu
...”mesin fotocopy yang satunya rusak lagi Ta” sahutnya...
...“Minta dibenerin Pak Rahmat lah, kalau cuma satu nanti ganggu operasional kita Pril, pesenan lagi banyak, anak - anak kan udah masuk musim ujian” sahut Areta, senada dengan April ia pun fokus pada kertas - kertasnya tanpa menyadari bahwa Rivandra kini tengah menatapnya dengan sendu, rindu berbalut pilu menyaksikan istrinya berjuang untuk menyambung hidupnya dengan anaknya...
...“Kata Pak Rahmat onderdilnya udah ga bisa diganti, Ta.. udah keseringan diganti. Pak Rahmat nyaranin buat beli yang baru” sahut April...
...“Ya udah sih tinggal beli kan Pril, kita kan masih ada tabungan” jawab Areta ...
April menoleh pada sahabatnya itu
...”Enak aja nih emak - emak kalau ngomong, itu uang tabungan untuk lahiran kamu Ta, ga boleh diganggu gugat buat apa pun” sewot April...
Di kursi hijau itu Rivandra semakin mencelos sedih, tak terbayang bagaimana kehidupan sehari - hari yang Areta jalani selama ini, disaat ia tidur dengan nyamannya di kamar berAC sementara istri dan anaknya bahkan harus menyamankan diri mereka di rumah sempit, bahkan untuk biaya lahiran pun ia harus memperjuangkannya sendiri. Rivandra mengepalkan tangannya, janji terucap di hatinya bahwa mulai saat itu Areta dan anaknya tak akan kekurangan apa pun
...“Tapi kan mesin fotocopy juga penting Pril, hasilnya kan bisa kita tabung lagi nanti buat biaya lahiran, kalau mesin fotocopynya cuma satu entar kita malah keteteran, yang ada pelanggan jadi pada kecewa” sanggah Areta...
April mendelik tajam pada sahabatnya itu
...”Ya ampun… lahiran kamu itu udah di depan mata, Areta! Udah ga ada waktu buat nabung, ini kamu malah sibuk mikirin kepuasan pelanggan dibanding lahiran kamu, jelas sudah aku yang lebih sayang sama anakmu dibanding Ibunya sendiri” tandas April...
Areta terkekeh
...”antara sayang sama manjain itu beda Pril, kamu sih jatuhnya manjain, kayak kemarin tuh ngapain kamu beliin dorongan bayi nyampe jutaan gitu, kan sayang duitnya! Padahal Bu RT udah nawarin dorongan bayi bekas cucunya, masih bagus kok, ga perlu beli yang baru apalagi mahal - mahal gitu” ...
April menghembuskan kasar napasnya
...”masih bagus apanya Ta? Aku udah liat langsung, tempat duduknya udah bulukan gitu, ga tega aku kalau nanti keponakanku pake dorongan bayi yang udah rusak gitu!”...
...“Heemm, tapi kan bisa penghematan Pril, uangnya bisa dipake buat yang lain, masih ada akikah yang harus dipikirin, mana kambing sekarang harganya pada mahal lagi” ...
April tersenyum jahil
...”kalau pusing - pusing banget kenapa ga hubungin Kak Fabian aja Ta? Minta bantuannya, aku yakin jangankan buat lahiran dan akikah, kamu minta apa pun dia pasti kasih”...
Hati Rivandra bak diremas mendengar omongan April, kalau saja ia tak ingat kalau sekarang ia tengah menyamar sudah pasti ia akan memarahi sahabat istrinya itu, inginnya ia membongkar saja jati dirinya tapi ia belum yakin kalau Areta tak akan melarikan diri lagi setelah melihatnya
Pluk..
Sebuah kertas yang sudah diremas - remas oleh Areta mendarat sempurna di kepala April, sahabatnya itu tergelak melihat wajah Areta yang berubah kesal, sedang Bagas yang kini sibuk membantu Areta ikut terkekeh mendengar pertengkaran dua sahabat itu
...“Kamu pikir aku mau nerima apa pun yang ada hubungannya dengan Om danTante apa?” Sewot Areta...
April semakin senang saja menggoda Areta
...”Heemmm, bilang aja kalau kamu ga bisa nerima pria lain di hati kamu selain Kak Rivandra, pake alesan macem - macem segala” ...
Deg..
Bukan hanya Rivandra yang terkejut, tapi Pandu juga. Kini ia mengerti siapa wanita hamil bernama Areta itu, dan kenapa baik Rivandra maupun Rossy begitu senangnya ketika menemukan Areta
...“Tuh kamu tau Pril, aku emang belum bisa ngelupain Kak Rivandra, tiap malem aku masih kepikiran dia, kadang nyampe kebawa mimpi, puas?!” Tandas Areta...
Blush..
Pipi Rivandra dibalik masker medisnya memerah sudah, senyumnya sumringah, hatinya senang bukan kepalang mendengar pengakuan Areta, artinya ia tak bertepuk sebelah tangan, tak ada satu pun alasan yang akan memisahkan ia dan Areta lagi.
__ADS_1
Rivandra harus bersabar sampai esok hari ketika ia akan mengungkapkan jati dirinya pada Areta, untuk hari ini ia akan menahan kerinduannya dulu, seratus fotocopy KTP Pandu yang sudah selesai digarap April menandakan perpisahan mereka untuk sementara, hanya untuk beberapa jam saja.