Satu Suami Dua Istri

Satu Suami Dua Istri
Hancur Lebur


__ADS_3

Rivandra kembali ke kediamannya nyaris tengah malam, ia bersama Pak Sam tetap berada di stasiun memastikan semua kereta telah berangkat, hingga memang sudah tak ada harapan lagi untuk menemukan Areta di stasiun yang sudah sepi, ia baru beranjak dari situ diantar oleh Pak Sam, Pak Sam tak mengizinkannya untuk menyetir karena kondisi hati Rivandra yang ia tahu sedang tak baik - baik saja membuat Pak Sam khawatir.


Rivandra melangkah gontai masuk ke kediamannya yang sudah sepi, sepertinya semua orang sudah beristirahat di peraduannya masing - masing, entah kenapa atmosfer rumah tak lagi sama, rumah itu tak lagi terasa nyaman untuknya, mungkin karena rumah sebenarnya untuknya kini telah tak ada disitu.


Alih - alih masuk ke dalam kamarnya, Rivandra lebih memilih untuk masuk ke dalam kamar yang biasa Areta tempati, mata lelah Rivandra mengitari sekeliling kamar saat ia masuk, kamar itu tertata rapi seolah tak pernah ada penghuni di dalamnya, apakah ini salah satu cara Areta menyiksanya? Membuat seolah ia tak pernah ada disana


...“Sesak Areta, saya ga bisa tanpa kamu” ucap Rivandra sambil memukul - mukul dadanya diiringi manik mata yang kembali merembes saat ia mendudukkan diri di kursi kecil depan meja rias...


Rivandra mengusap kasar air matanya, belum puas ia mencari sisa - sisa jejak Areta disana, ia kini masuk ke kamar mandi yang lantainya sudah mengering, hanya menyisakan bau sabun yang sudah samar, mata Rivandra menilik satu per satu barang yang ada di kamar mandi, ada sikat gigi berwarna merah muda yang ia yakini milik Areta mungkin Areta lupa membawanya, ada sebotol kecil sabun cair, sebotol kecil sampo yang posisinya berdiri terbalik entah kenapa Areta menyimpannya seperti itu, dan ada setabung kecil pencuci muka yang kemasannya sudah terbelah di tengah, sepertinya Areta menggunting kemasan pencuci muka itu, tapi entah untuk apa Rivandra tak tahu.


Pria itu lalu melangkah masuk lagi ke dalam kamar, beringsut membaringkan diri di tempat tidur yang biasa Areta tiduri berharap ia masih bisa merasakan jejak tubuh Areta yang mungkin masih ada disana, mata lelah karena kurang istirahat dan entah berapa kali menangis itu perlahan memejam, namun baru sesaat ia terlelap pria itu terbangun, otaknya seolah mengingatkannya bahwa Areta sudah pergi dan ia tak boleh berleha - leha, ia harus mencarinya.


Mata Rivandra memerah ketika ia beringsut duduk


...“Kamu sudah bangun?” Tanya Oma yang sudah berada disana entah sejak kapan, senada dengan dirinya, wajah Oma tampak sendu...


...“Oma kenapa belum tidur?” ...


...“Sama seperti kamu, Oma juga sulit tidur” sahut Oma, ia lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, “bukan hanya kamu yang datang ke kamar ini, tadi sore Oma mergokin Rossy lagi nangis disini, habis Maghrib tadi giliran Ibumu, Areta yang malang itu ternyata punya tempat di hati kita semua, seandainya saja kita menyadarinya lebih awal” tutur Oma lirih...


Cucunya itu tak berucap, mungkin omongan Oma membuatnya semakin tenggelam dalam luka


Wanita lanjut usia itu mengusap manik mata yang menetes di pipinya, Oma lalu menunjuk sekilas lemari yang biasa dipakai untuk menyimpan baju Areta


... “Setelah Areta berangkat tadi Oma buka lemarinya dia, berharap dia ga membawa semua bajunya karena dia pergi untuk sementara saja, tapi Oma salah, semua baju lusuhnya ia bawa, ia hanya meninggalkan baju - baju dan barang yang pernah Rossy dan Anna belikan untuknya, ia tata rapi disana, Rivan”...


Hati Rivandra mencelos pedih, mata merah Rivandra yang sudah mengering tadi kini basah lagi karena kubangan bening di pelupuk matanya


Oma hening sebentar, lalu menunduk, merasakan aliran air mata yang mulai membasahi pipinya lagi


...”Ia seolah ingin memberi tahu kita kalau ia datang sebagai seorang asing, gadis lusuh yang dipekerjakan untuk merawat Omamu ini, dan ia pun pergi dengan kondisi yang sama, tanpa membawa apa pun yang kita berikan padanya, bedanya sekarang ia tak lagi berstatus budak yang berhutang balas budi pada Susan dan Dani, ia pergi sebagai orang bebas”...


Pria itu mengusap rembesan air matanya, tenggorokannya tercekat sakit, dadanya terasa sempit. Sedang Oma mengendalikan dirinya yang inginnya menangis sekencang - kencangnya mengenang Areta si wanita malang itu, Oma tegakkan duduknya di kursi roda setelah menyeka air matanya

__ADS_1


...“Oma ingin mengatakan sesuatu yang harusnya udah lama Oma omongin sama kamu, Oma tunda karena Oma belum punya bukti, Oma tau pasti sulit membuat kalian percaya tanpa adanya bukti, terutama untuk Ibumu” ...


Rivandra membuka jas dan dasinya, menggulung lengan kemejanya, lalu ia bangkit, dan duduk di tepi ranjang depan Oma


...“Oma tau kalau saya selalu percaya sama Oma kan?” Ucap Rivandra dengan tangan yang terulur menggenggam tangan Omanya...


...Oma menghela napasnya, “Mungkin tidak jika menyangkut Mauren” ...


...“Jadi ini tentang Mauren Oma? Ada apa lagi dengan dia? Apa ada kata - kata Mauren yang menyinggung Oma?” ...


...“Bukan kata - katanya, tapi perbuatannya” tandas Oma...


Rivandra mulai bertanya - tanya, apa yang telah istrinya itu lakukan lagi


...“Rivan, kamu ingat saat serangan jantung Oma yang pertama kali kan? Saat itu Oma syok mendengar kabar dari teman Oma yang sesama artis dulu, kami memang sudah ga aktif di dunia keartisan karena tergerus usia, kalau Oma memang udah lama ga dibolehin buat aktif di panggung hiburan sama Almarhum Opa kamu, tapi semua kabar selalu kami terima, mau itu tentang artis lawas maupun artis baru” ...


Rivandra menyimak dengan hati yang was - was, Oma menarik napasnya, lalu menghembuskannya pelan, tampaknya apa yang ingin Oma sampaikan sangat berat untuk diucapkan


...“Rivan, Oma harap kamu bisa kuat denger ini, dan Oma minta kamu janji untuk ga heboh dulu, cari tau fakta yang sebenarnya, meskipun Oma yakin kebenarannya seratus persen” ...


...“Janji dulu Rivan!” Titah Oma...


...Rivandra benar - benar tak tenang, “Oke oke Oma, saya janji” sahutnya...


...Oma kembali menghela napasnya, “Oma denger dari temen Oma kalau Mauren sempat menjalin asmara dengan seorang produser dua tahun yang lalu, mereka bahkan sampai punya anak tapi Mauren menggugurkan anak mereka, jujur Rivan awalnya Oma ga percaya, sempat memaki teman Oma karena Oma pikir dia menyebarkan kabar bohong bagaimana pun ini menyangkut nama baik keluarga kita, tapi setelah Oma mendengar penjelasannya, Oma percaya” ...


Deg..


...Mata Rivandra membola, Jantungnya serasa berhenti seketika, tenggorokannya tercekat, “Oma yakin cerita itu tentang Mauren? Mauren istri saya Oma?” Suara Rivandra gemetaran...


...“Ini yang Oma takutin kalau cerita sama kamu atau yang lain, harus selalu ada bukti, bagaimana seorang nenek - nenek lumpuh bisa mencari bukti? Tapi yang jelas Oma yakin seyakin - yakinnya kalau itu adalah fakta, mencari bukti itu tugasmu Rivan!”...


Rivandra lemas sudah, dadanya turun naik mengatur napasnya yang memburu, kegilaan apa yang baru saja ia dengar, Mauren pernah berhubungan dengan seorang produser dua tahun yang lalu? Ia hamil dan lalu di aborsi? Jadi dia bukan diperkosa melainkan selingkuh dari Rivandra saat mereka masih pacaran dulu? Rivandra seperti mendapat pukulan telak tepat di ulu hatinya

__ADS_1


...Oma menatap prihatin cucunya yang sedang syok, “Kuatkan hatimu Nak, karena apa yang kamu akan kamu denger ini mungkin akan terasa gila untuk dipercaya, kamu tau siapa produser yang Oma maksud Rivan? Dia Dave Sahid, mantan suami kakak kamu” ...


Ngiiiiiiiiitttt..


Telinga Rivandra seketika berdenging, jantungnya memompa cepat, kepalanya berdenyut sakit


...“Dave? Mauren selingkuh dengan Dave? Bagaimana bisa? Jadi selama ini dia membohongi saya? Membohongi kita semua?” Bibir Rivandra mengucap dengan gemetaran, bahkan dalam mimpi buruk pun ia tak pernah menemui skenario semenjijikan ini, Oma benar, ini sinting!...


...“Kak Rossy tau?”...


Oma menggeleng, lalu mengelus rambut cucu kebanggannya itu, berharap sentuhannya dapat mengurangi sedikit rasa perih di hati Rivandra


...“Istirahatlah Nak, paksakan dirimu untuk memejamkan mata, Oma tau ini berat, kamu harus kehilangan anak lalu Areta, dan sekarang kamu harus menerima kenyataan pahit, tapi kamu harus punya tenaga untuk memperbaiki semuanya, kuatlah!” Ucap Oma, Oma lalu menjalankan kursi rodanya, meninggalkan Rivandra yang masih terduduk lemas di tepi tempat tidur...


Rivandra masih saja mencerna, menyusun potongan - potongan teka - teki yang berantakan, hari ini sangat melelahkan baginya bahkan kepalanya serasa ingin meledak, namun ia kuat - kuatkan, ada yang harus ia cari tahu dulu.


Pria itu lalu beringsut bangkit dari duduknya, melangkah tergesa menuju ruang kerja, tak ia pedulikan waktu yang nyaris shubuh dan matanya yang sudah lelah dan merah


Sesampainya di ruang kerja, Rivandra meraih iPadnya, tergesa membuka aplikasi media sosial yang Rossy miliki, ia pernah meminjamnya dulu untuk mencari tahu sesuatu, beruntung kode sandi Rossy belum berubah, Kakaknya itu juga bukan penggiat sosial media, ia hanya memakainya untuk belanja online


Rivandra segera mengetik nama Mauren, sebagai seorang artis dengan banyak penggemar, media sosial Mauren memang tak dikunci, dari media sosial Mauren ia mulai mengetik nama Adrian Patria, pencarian tentang kebenaran akan ia mulai dari manager Mauren itu.


Rivandra dengan sabar dan teliti melihat satu per satu foto yang Adrian tampilkan di media sosialnya, ada ratusan memang, jari Rivandra terus saja menari hingga ia menemukan foto - foto dari dua tahun yang lalu, ada satu foto yang menarik perhatian Rivandra disitu dengan judul “party bos DS”, “DS, Dave Sahid?” Gumam Rivandra


Dalam foto itu ada beberapa orang yang berpose gembira, dua orang diantaranya laki - laki dan perempuan sedang berpelukan mesra, meski wajah mereka di blur tapi Rivandra yakin bahwa sang wanita di foto itu adalah Mauren, ia kenal betul kalung berlian yang dipakai sang wanita, kalung berlian yang modelnya ia pesan khusus, jadi tak mungkin akan ada yang sama.


Rivandra lalu fokus pada tampilan si pria yang berpelukan dengan Mauren yang ia yakini adalah Dave, ia men-zoom fotonya, lalu mengamati dengan teliti, netra pria itu lalu fokus pada cincin berlian yang tersemat di jari tengah pria itu, ia ingat betul cincin yang pernah jadi perdebatan antara Rossy dengan Dave itu, Rossy yang memang tak suka Dave memakai aksesoris meminta Dave untuk membukanya, tapi Dave enggan.


Untuk lebih meyakinkan dirinya, Rivandra meraih ponsel dalam saku celananya, jarinya cepat mencari galeri foto, lalu membuka foto Dave dan Rossy yang belum sempat ia hapus, dan benar.. di foto itu Dave masih memakai cincin yang sama persis, astaga..


Rivandra memijit pelipisnya, lalu mengusap kasar wajahnya, punggungnya ia daratkan kasar ke sandaran kursi. Matanya lalu jatuh lagi pada foto Dave dan Rossy, foto yang juga Areta lihat, dan kemudian Areta ingat bahwa Dave pernah berada di rumah Mauren sekitar dua tahun yang lalu, artinya semuanya sudah jelas, Mauren memang pernah selingkuh dengan Dave hingga Mauren hamil dan memutuskan untuk membunuh anaknya sendiri.


Sekejam itu ternyata Mauren, semua kesetiannya selama lima tahun menjalin asmara ternyata sia - sia, ia bahkan pernah mengorbankan perasaan Areta hanya karena Mauren, bodoh sekali dirinya!

__ADS_1


Sakit kepalanya sudah tak tertahan lagi, matanya semakin berat, masih dengan bersandar di kursi kerjanya, Rivandra terpejam dengan hati yang hancur lebur.


__ADS_2