Satu Suami Dua Istri

Satu Suami Dua Istri
Krisis Percaya Diri


__ADS_3

...Areta terhenyak, “maksud anda, suami saya belakangan ini rapat sampai tengah malam bersama anda begitu?” ...


Laura mengangguk penuh kepuasan mendapati Areta yang mulai seperti kebakaran jenggot, sedang Areta kini sibuk dalam pemikirannya sendiri, apa selama ini itu alasan Rivandra lembur?


...“Hal yang biasa jika seorang pemimpin perusahaan rapat bersama karyawannya hingga tengah malam bukan? Itu artinya banyak yang harus anda pelajari agar anda bisa dianggap layak untuk bekerja di rumah sakit ini, apa anda ga tau kalau semua dokter di rumah sakit ini kredibel?” Tohok Areta, tak mau kalah pada cemoohan Laura...


...Setali tiga uang dengan Areta, Laura pun tak mau kalah, “Atau mungkin dokter Rivandra memang nyaman berlama - lama dengan saya sampai rela rapat hingga larut malam dan membiarkan istrinya tidur sendirian?”...


...Areta tersenyum miris, tangannya ia bawa bersedekap di depan dadanya, matanya menatap tajam seolah ingin menelanjangi Laura, “harus saya akui anda memang cantik, sepertinya cerdas, dan saya juga yakin anda berasal dari orang kaya, sayang sekali sikap anda negatif; pemikiran anda picik, dan ada benih - benih pelakor dalam diri anda” sinis Areta...


...Laura bukan wanita yang gampang tersulut emosinya, ia dengan berani menatap istri dari bos besarnya itu, “bukan kah anda yang pelakor? Merebut suami sepupu anda sendiri? Menghalalkan segala cara agar dokter Rivandra jatuh ke pelukan anda?!”...


...Mendengar itu Areta tertawa terbahak, tangannya refleks bertepuk tangan, “haduh Bu dokter, selama ini Bu dokter ga punya pasien ya nyampe sempet - sempetnya nonton acara gosip yang memberitakan info bohong tanpa anda pastikan dulu kebenarannya?!”...


...Laura menyeringai, “anda boleh menyangkal Nyonya Areta, tapi sudahlah itu tak penting lagi, yang penting sekarang adalah kenyataan bahwa ternyata anda ga sebanding dengan dokter Rivandra, apa anda ga sadar setiap orang yang melihat kalian pasti akan berkomentar hal yang sama, mau - maunya seorang dokter Rivandra mempunyai istri yang standar aja seperti anda” Sengit Laura semakin menjadi - jadi...


Areta sebenarnya sudah mulai terpancing emosi, tapi membuat keributan justru akan mempermalukan dirinya dan Rivandra, dan sudah bisa dipastikan Laura akan merasa menang, Areta hanya bisa menahan - nahan perasaannya agar tak meledak, kredibitasnya tentu akan hancur jika ia sampai terlibat adu mulut di hari pertama kedatangannya ke kantor Rivandra


...“Jadi menurut anda, siapa yang cocok mendampingi suami saya Bu dokter? Apa Bu dokter sendiri?” Tantang Areta, senyumnya penuh cibiran...


...“Bukan kah akan lebih baik jika begitu? Lebih serasi, tidak timpang! Karir kami sama - sama cemerlang, kami sama - sama berasal dari keluarga kaya, pendidikan kami pun setara, apalagi yang kami tidak miliki?”...


...Areta menatap kasian pada wanita gila di depannya itu, “anda lupa kalau harus ada perasaan yang dilibatkan? Sesempurna apa pun anda, saya bisa pastikan kalau suami saya ga akan pernah berpaling dari saya, apa anda ga liat tadi gimana bucinnya suami saya itu sama saya?”...


...Laura hendak menjawab, tapi terhenti ketika Rivandra merangsek masuk kembali ke ruangannya dan memburu Areta, “maaf lama ya sayang, tadi banyak kerjaan yang harus saya selesaikan di bawah” ucap Rivandra pada istrinya, kecupan manis pun ia sematkan di kening istrinya itu...


...“Heemm.. sayang, jangan nyium - nyium gitu sih, malu tuh sama dokter Laura” ujar Areta sengaja memperlihatkan afeksi mereka pada Laura yang masih setia duduk menanti Rivandra ...


...Rivandra tak peduli pun, malah kini mencium pipi istrinya, “maafin dulu, baru saya berhenti nyiumin” ...


...“Iya iya, aku maafin.. tapi kita pulang sekarang ya, kasian Lily udah nungguin kita di rumah dari tadi” ucap Areta, sambil bermanja - manja melabuhkan kepalanya di dada Rivandra, sementara matanya mendelik pada Laura, bibirnya mengukir senyuman sinis...


...“Oke, kita pulang ya, kamu juga pasti udah capek nemenin saya kerja dari tadi” sahut Rivandra, mengingat masih ada Laura disitu, Rivandra lalu menoleh pada dokter bawahannya itu...


...“Kita bicarakan besok saja ya dok tentang pasiennya, masih banyak waktu sebelum jadwal operasinya besok” ucap Rivandra pada Laura...


...Laura bangkit dari duduknya, mengangguk dengan hormat, wajah congkaknya tadi cepat berganti dengan wajah ramah, senyumnya anggun, “saya mengerti dok, ga apa - apa, memang sebaiknya dokter dan Nyonya segera pulang, kasian Nyonya Areta, sepertinya sudah capek sekali” tutur Laura lembut...


Areta memutar malas bola matanya, Laura ternyata artis yang hebat, ia bisa bersikap berbeda di depannya dan Rivandra, Laura bahkan tak segan mengangguk hormat pada Areta sebelum ia beranjak keluar, beda sekali sikapnya dengan saat mereka berdua tadi


...“Dasar ular” gumam Areta...


...****************...

__ADS_1


Sepanjang malam Areta sulit sekali memejamkan matanya, bukan sosok Laura yang mengganggu pikirannya, ia sangat percaya kalau Rivandra tak akan dengan gampangnya berpaling pada wanita lain hanya karena kelebihan yang Areta tak miliki, kalau memang Rivandra menginginkan wanita yang punya banyak kelebihan dibanding Areta sudah pasti Rivandra akan melakukannya dari dulu, toh banyak sekali wanita di sekelilingnya yang pasti mengincar Rivandra, tapi pria itu tak bergeming, hati dan hidupnya sudah terpaku pada Areta, apalagi setelah ada Lily diantara mereka.


Satu hal yang mengganggu pikiran Areta, pantaskah ia bersanding dengan Rivandra, pria yang nyaris sempurna itu? percaya dirinya jatuh merosot setelah ia berbincang dengan Laura tadi, mungkin wanita itu ada benarnya, sampai kapan Rivandra tak akan terusik dengan komentar - komentar ketimpangan kualitas antara Rivandra dengan dirinya, lihatlah siapa Rivandra, selain tampan dan mapan, pria itu punya karir cemerlang yang semakin menanjak, keluarganya adalah keluarga terhormat tanpa cela. Sedang Areta hanya Ibu rumah tangga biasa, harta sudah tak punya karena semuanya sudah digasak oleh keluarganya sendiri, ia pun yatim piatu meskipun sekarang ia sudah memiliki keluarga angkat, tapi tetap saja tak sedarah tak sedaging.


...“Harusnya aku nerima tawaran Kak Rivan buat kuliah lagi dulu, setelah itu aku kerja di kantornya Papa Julian, paling enggak aku punya karir bukan hanya jadi seorang Ibu rumah tangga gini” gumamnya bermonolog, sedang pandangannya menatap penuh kasih Rivandra yang sudah terlelap di sampingnya, ah semakin tak percaya diri saja Areta, lihat lah betapa tampannya suaminya itu, pantas saja jika Laura pun mengincarnya...


...“Astaga, aku harus gimana?” Desis Areta frustasi, otaknya ia paksa untuk berputar bagaimana cara agar ia bisa memantaskan diri untuk bersanding dengan Rivandra...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi sekali Areta sudah bersiap, meski matanya terasa berat karena nyaris tak tidur semalaman, tapi otak dan hatinya kompak memberikan semangat agar ia ikut ke kantor Rivandra lagi hari ini, ia benar - benar penasaran, seperti apa kualitas perempuan - perempuan di sekitar Rivandra, dengan begitu ia akan tahu apa yang harus ia tingkatkan agar dikatakan pantas bersanding dengan suaminya itu


...“Kamu kenapa sih Areta? Tumben kamu mau ninggalin Lily lagi, Mama sih ga keberatan jagain Lily, tapi kamu ga kayak biasanya, apa ada masalah di rumah sakit?” Tanya Anna penasaran ketika menantunya itu pamit untuk berangkat ke rumah sakit lagi bersama Rivandra ...


...“Maaf Areta jadi ngerepotin Mama, Areta cuma lagi pengen nemenin Kak Rivan aja Ma, belakangan dia sibuk banget, siapa tau dengan Areta temenin, Kak Rivan jadi makin semangat kerjanya” sahut Areta, terpaksa ia menyembunyikan alasan sebenarnya ia ikut ke kantor suaminya, Areta jelas malu untuk menceritakan kalau dirinya sedang krisis kepercayaan diri sekarang ...


...“Nah gitu dong, meskipun kamu udah punya anak, tapi tetap saja kamu juga harus memperhatikan dan mendampingi suami kamu itu, Areta” ujar Anna antusias, “dan satu lagi Areta, jangan memberikan kesempatan pada wanita lain untuk berpikir kalau mereka bisa mendekati suami kamu, mengerti? Tandas Anna...


Areta mengangguk mantap, memang itu yang ingin ia lakukan sekarang, berupaya memantaskan diri agar tak ada satu pun wanita yang berpikir punya celah untuk mendekati Rivandra.


Rivandra sih sangat senang ditemani Areta ke kantornya hari ini, sesampainya di rumah sakit, makin semangatlah ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantornya itu dengan Areta yang sangat cantik dan rapi dalam gandengannya, sepanjang perjalanan mereka, anggukan dan sapaan hormat mereka terima dari semua pegawai rumah sakit, tatapan suka atau mungkin tak suka pun membanjiri keduanya saat melewati beberapa titik ketika menuju ruangan Rivandra, satu hal yang Areta yakini tatapan tak suka itu jelas dialamatkan padanya, mungkin orang - orang memang antipati pada Areta karena dianggap tak serasi bersanding dengan Rivandra, batin Areta.


...“Kamu mau nunggu di ruangan aja, atau mau ikut saya rapat orientasi dokter - dokter baru?” Tanya Rivandra pada Areta saat mereka tiba di ruang kerja Rivandra, mendengar tentang dokter baru jiwa penasaran Areta terkulik, ia ingin tahu seperti apa dokter - dokter baru itu, apa diantaranya ada dokter wanita yang cantik seperti Laura...


...“Emangnya aku boleh ikut rapat, Kak?”...


Saat di ruang rapat, Areta benar - benanar mati kutu, setelah Rivandra memperkenalkannya pada semua yang hadir di ruangan itu, Areta diam seribu bahasa, hanya bisa mendengarkan para dokter itu bicara dengan bahasa medis yang Areta tak mengerti pun apa artinya, Areta malah semakin rendah diri tatkala beberapa dokter baru yang diantaranya adalah perempuan dengan wajah cantik dan penpilan yang menarik, termasuk Laura tampak fasih dan terlihat sekali kecerdasannya saat diajak diskusi oleh Rivandra, jadi seperti itulah kualitas wanita - wanita di sekeliling Rivandra, Areta jelas tak ada apa - apanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari ini Rivandra dan Areta pulang lebih awal dari rumah sakit, mereka sampai di rumah mereka saat hari masih sore, bukannya Rivandra sudah tak ada pekerjaan, tapi ia tak ingin Areta lama - lama berjauhan dengan Lily.


Areta dan Rivandra sedang melepas rasa rindu mereka pada Lily, ada Oma juga disana ketika Anna mendatangi mereka


...“Rivan, kamu masih inget sama Tante Laras ga? Itu loh sahabat SMA Mama dulu”...


...“Masih Ma, kenapa emang?” Sahut Rivandra ...


...“Kata Tante Laras anaknya kerja di rumah sakit kamu, dokter bedah juga namanya Laura, emang bener?” ...


Areta sedikit terkejut, tapi lalu berusaha menetralkan dirinya sendiri, mungkin hanya kebetulan saja, tak terlalu ia pedulikan, toh sosok Laura tak berpengaruh untuknya


...“Oh Laura? Iya Ma, dia baru gabung beberapa hari ini di rumah sakit” sahut Rivandra, ia lalu kembali fokus bermain dengan Lily, mengekori anaknya yang sedang aktif - aktifnya berjalan kesana - kesini...

__ADS_1


...“Ah Oma inget, itu Laura yang cantik itu bukan? Anaknya juga pinter kan ya? Pantes saja dia bisa jadi dokter bedah, hebat juga dia ya?” tambah Oma...


...“Iya Oma, anaknya cantik banget, karirnya juga bagus, dia pernah kerja di rumah sakit Australia, dapet tawaran buat jadi dokter bedah di Inggris, tapi anaknya nolak, lebih milih kerja di rumah sakitnya Rivandra” ...


...“Ah syukurlah kalau gitu, ada dokter hebat yang bergabung di rumah sakit Rivandra, semoga dia bisa membantu Rivandra untuk semakin membuat rumah sakit maju” tutur Oma...


Tanpa Anna, Oma, maupun Rivandra sadari, segala pujian Oma dan Anna untuk Laura mengecilkan hati Areta, ia merasa semakin tak percaya diri bahkan rendah diri menjadi pendamping Rivandra.


Merasa sedang tak nyaman berada di rumah, esok paginya ketika Rivandra telah berangkat ke rumah sakit, Areta lebih memilih untuk membawa Lily mengunjungi orang tua angkatnya, sekaligus untuk bertemu dengan Rossy, tempat Areta mencurahkan isi hatinya setelah Rivandra


Dikunjungi putri angkat dan cucunya tercinya membuat Amel sangat bahagia, wanita yang masih cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi itu memeluk erat Areta lalu menciumi Lily seolah mereka sudah tak bertemu lama sekali, padahal baru tiga hari ini Areta absen mengunjunginya


...“Kamu kemana aja sayang? Apa kamu lupa kalau punya orang tua disini?” Sewot Amel sambil mengambil Lily ke dalam embanannya, Lily yang sudah terbiasa digendong oleh Amel pun tak rewel, manut saja ketika neneknya itu mengajaknya bermain...


...Areta tersenyum hangat, senang rasanya ada orang tua yang menunggu kedatangannya, “maaf Ma, beberapa hari ini Areta ikut Kak Rivan ke kantor” ...


...“Kamu ikut ke kantor Rivan? Tumben! Tapi bagus sih, sekali - kali kamu harus dampingin Rivandra, perempuan yang deketin dia itu pasti banyak, sayang! Kamu harus pinter - pinter jagain suami kamu!” tutur Amel sambil sibuk melayani celoteh kecil dari Lily...


Areta menghela napasnya, mengingat Rivandra ia mengingat lagi omongan Laura, lantas merembet ke omongan Oma dan mertuanya, salahkah jika saat ini ia benar - benar merasa tak berguna? Areta lalu mengalihkan perhatiannya pada sekeliling rumah yang terlihat sepi, ia mencari sosok Rossy, ia sudah tak tahan ingin segera mencurahkan segala rasanya pada Rossy


...“Kak Rossy masih di kamar, Ma?” Tanya Areta...


...“Loh Rossy belum cerita? Udah seminggu ini dia aktif lagi di perusahaannya Ta, dia bilang suntuk di rumah terus, Mama sih dukung, kasian juga dia kalau di rumah, keseringan ngelamun semenjak dia keguguran dulu” ...


Areta mendengus, pikirannya semakin kacau, tampaknya diantara semua orang yang dekat dengannya, hanya dia yang diam di rumah menjadi Ibu rumah tangga, dari mulai April sahabatnya dan Rossy sedang membangun karir mereka, bahkan Anna pun masih aktif bekerja bersama Julian


...“Ma, Areta boleh minta tolong ga?” Tanya Areta, untuk pertama kalinya ia memberanikan diri meminta bantuan Ibu angkatnya...


...“Pake minta tolong segala, Mama ini Ibunya kamu Areta, kalau kamu perlu apa - apa kamu tinggal bilang sayang, ga perlu sungkan” ...


...“Gini Ma, kira - kira ada lowongan ga di kantornya Papa untuk Areta?” Tanya Areta ragu...


...Amel mengerutkan keningnya, “kamu mau kerja, Areta?” Tanya Amel penasaran, Amel lalu memberi kode pada pengasuh Lily untuk membawa Lily bermain, ada hal serius yang harus ia bicarakan dengan anaknya itu...


“Iya Ma, Areta pengen kerja, siapa tau di kantor Papa ada lowongan” sahut Areta


...“Tapi buat apa, Areta? Apa nafkah dari Rivandra kurang? Atau kalian lagi berantem ya?” Selidik Amel...


...“Bukan gitu Ma, Areta pengen berkarir aja, sayang kan gelar Areta kalau ga dipake, lagian Lily juga udah besar Ma, udah bisa ditinggal” jawab Areta...


...“Kamu udah minta izin sama Rivandra, Areta?” ...


...Areta menggeleng pelan, “Tapi pasti Kak Rivan ngizinin kok Ma, Areta yakin” tandas Areta meyakinkan Amel...

__ADS_1


...Amel menimang sebentar, sebenarnya ia curiga sih atas permintaan dadakan Areta, tapi ia tak kuasa menolak permintaan perdana anaknya itu, “ya udah nanti Mama bicarakan sama Papa ya sayang” jawab Amel...


Areta tersenyum lega, senang mendapati Amel bersedia membantunya, kini tugasnya adalah meyakinkan Rivandra agar mau melepasnya untuk membangun karir, bagaimana pun apa yang akan ia lakukan ini adalah untuk Rivandra juga, agar suaminya itu mempunyai istri yang setara dengannya.


__ADS_2