
Areta seolah tersedot masuk ke dalam sebuah video klip lagu barat dimana seorang model pria rupawan dengan badan kekar dan perut kotak - kotak tak ubahnya roti sobek masuk ke dalam ruangan tempat dimana wanitanya menunggu, persis sama dengan yang terjadi padanya sekarang, Rivandra seolah slow motion berjalan ke arahnya dengan bertelanjang dada, hanya memakai celana pendek yang membungkus bagian pusar hingga lutut, dadanya tegap dan mengkilat karena peluh akibat hawa pantai yang masih terasa panas meskipun hari sudah malam. Belum lagi jika menilik bagian tubuh diatas lehernya yang kokoh, melihat wajah tampannya yang mengundang decak, kilau matanya gemerlapan seperti telaga yang tertimpa cahaya matahari, pria itu lebih cocok jika berprofesi sebagai model atau aktor dengan sejuta penggemar
Areta mencoba menetralisir diri sebelum ia lebih jauh lagi terperosok ke dalam perasaannya yang nantinya akan membuat ia semakin sulit melepas Rivandra, wanita itu mencoba mengalihkan fokusnya pada segelas susu dalam pegangan pria itu, namun sialnya kali ini otot tangan Rivandra yang berontak karena genggamannya pada gelas ikut menggoda Areta, apa yang tak menggoda dalam diri pria itu, batinnya.
...“Minum dulu susunya” ujar Rivandra sambil menyodorkan gelas susu yang ia bawa, ia tak sadar bahwa Areta tengah kembang kempis menahan segala rasa, dari rasa cinta hingga keinginan untuk dibelai...
Areta menenggak susunya hingga habis, dibawah pengawasan Rivandra yang duduk disampingnya
...“Belepotan tuh, sini duduk biar saya bersihin” titah Rivandra sambil menepuk - nepuk pahanya...
...Areta mendengus, “Bibirku yang belepotan kenapa aku disuruh duduk dipangkuan Kak Rivan? Apa hubungannya coba?” Meski protes tapi Areta tetap manut duduk di pangkuan Rivandra, pria itu memang suka ketika Areta duduk di pangkuannya, seolah ia bisa merengkuh Areta dan melindunginya dari apa pun...
...Sebelah tangan pria itu menangkup wajah Areta, “Belepotan gini bibirnya” ucap Rivandra sambil mengusap pinggiran bibir Areta dengan tisu...
Seperti sudah tahu apa yang akan terjadi berikutnya, sebelum Rivandra yang memulai, Areta gerak cepat mengecup bibir suaminya itu
Cup..
...“Hei, nakal!” Ucap Rivandra dengan pipi bersemu malu, tak menyangka Areta yang akan memulai lebih dulu...
...Areta mendengus, “Aku tau kemana ujung - ujungnya adegan pangku - pangkuan ini Kak” tutur Areta...
...Rivandra tertawa sambil mendusel wajahnya di lengan Areta, “maaf, saya ga bisa membiarkan makhluk semenggemaskan kamu tanpa di apa - apain” sahut Rivandra...
...“Udah berapa cewek yang Kak Rivan pangku kayak gini?” Goda Areta ingin tahu...
...“Ya ampun! Asal kamu tau ya, kamu cewek pertama yang berhasil menduduki paha saya, Areta! Selamat ya Nyonya Rivandra, karena kamu cewek yang pertama dan saya pastikan akan jadi yang terakhir duduk di kedua paha saya ini” tutur Rivandra dengan senyum bangga...
...Areta tersenyum senang mendengarnya, “emang Kak Mauren ga pernah?” ...
Dering ponsel Rivandra tanda pesan masuk menjadi penyelamat pria itu dari pertanyaan yang tak ingin ia jawab, tentu tak nyaman rasanya membahas Mauren saat ia dalam pusaran kebahagiaan bersama Areta
Rivandra meraih ponselnya yang tersampir di atas meja, tanpa melepas Areta ia membuka pesan di ponselnya, membuat Areta bisa membaca isi pesan dari orang yang dinamai ‘Dion asisten 1” itu, Areta memalingkan mukanya, tak ingin dikatakan tak sopan karena membaca pesan orang lain
...“Ga apa - apa, liat aja Areta. Saya ga akan menyembunyikan apa pun dari kamu termasuk isi ponsel saya” tutur Rivandra sambil fokus mengetik pesan balasan untuk asistennya ...
...“Bukannya ponsel itu privasi ya Kak? Bahkan kalau pun suami istri, tetap harus ada batasan privasi kan?” Tanya Areta ...
...“Saya ga mau punya batasan apa pun sama kamu, sebut apa pun yang ingin kamu tau tentang saya, saya dengan senang hati akan cerita sama kamu” sahut Rivandra, masih tanpa menoleh karena asistennya itu mengirimkannya pesan bertubi - tubi, sepertinya membahas pekerjaan penting...
Jari Rivandra beralih ke galeri foto di ponselnya, mencari - cari disana
...“Bentar ya, saya harus ngirimin foto dokumen penting” ucapnya kemudian, Areta bergumam mengiyakan. Namanya juga manusia, jiwanya tergelitik untuk ikut memindai satu per satu foto yang sedang dibuka Rivandra, Areta tersenyum ketika melihat ada beberapa fotonya yang tersimpan disana, meski bukan foto dalam pose cantik karena Rivandra memotretnya diam - diam, ada foto keluarga besar Rivandra juga, namun tak ada foto Mauren sama sekali, entah kenapa Areta pun tak ingin tahu...
...“Itu foto Kak Rose sama siapa Kak?” Tanya Areta pada satu foto yang menampilkan Rossy dengan seorang pria, posenya terlihat sangat mesra, Rivandra membuka foto itu...
__ADS_1
...“Saya lupa hapus” ucapnya, “ini foto Kak Rossy sama mantan suaminya” tutur Rivandra...
...“Aku kayak pernah liat mantan suami Kak Rossy deh, tapi dimana ya?” Ujar Areta, dahinya berkerut mengingat - ingat, Rivandra ikut mengerutkan keningnya ...
...“Lupa.. hehehe” ucap Areta, kening Rivandra masih mengernyit, dimana Areta pernah melihat pria bajingan yang telah menyakiti Kakaknya itu, seingat Rivandra tak satu pun foto dengan wajah pria itu yang terpajang di rumahnya, dan pria itu juga bukan orang yang mau tampil di depan umum meskipun ia seorang produser besar, ia lebih seperti pemain di belakang layar, bersembunyi namun menentukan semua sesuai keinginannya...
Rivandra kesampingkan rasa penasarannya untuk ia cari tahu nanti, saat ini ia hanya ingin memanfaatkan waktunya dengan Areta, ponsel di tangannya ia matikan setelah urusan dengan asistennya itu selesai, lalu ia letakkan benda pipih itu di atas meja.
...“Mau makan apa?” Tanya Rivandra sambil menciumi tangan Areta...
...Areta berpikir sejenak, “kita makan seafood yuk Kak” ajak Areta...
...“Kita ke Jimbaran kalau gitu, kamu siap - siap ya, saya hubungi Pak Made dulu” titahnya. Mendengar Rivandra menyebutkan Jimbaran, Areta sumringah dan refleks memeluk Rivandra saking senangnya, sudah dari dulu ia memimpikan ke tempat yang hanya ia bisa bayangkan lewat cerita Mauren atau lewat Google itu, ia ingin sekali merasakan duduk malam - malam di tepi pantai sambil memakan seporsi besar seafood, yummy! ...
Rivandra tersenyum senang mendapat pelukan Areta, senang juga karena merasa bisa membahagiakan wanitanya itu, ternyata membuat Areta bahagia sangat mudah, ia tak banyak meminta hal - hal besar, mewah atau mahal, meskipun Rivandra siap memberikan apa pun keinginan Areta, wanita itu benar - benar berbeda.
...“Kamu yang mulai” bisik Rivandra sensual masih dengan posisi berpelukan...
...“Hah? Maksudnya?” Tanya Areta polos, masih bingung hingga suaminya itu mulai menyerang bibirnya dengan ciuman hangat...
...“Katanya mau pergi” jeda Areta sebentar masih dengan dahi saling menempel dan bibir saling mengecup...
...“Lima belas menit” sahut Rivandra serak, sudah mulai masuk ke pusara hasratnya, pria itu merengkuh tubuh Areta sambil bangkit berdiri, lalu pelan membaringkan Areta di sofa, Areta pasrah.. memberikan semuanya untuk dijelajahi suaminya, memang ia pun merindukan sentuhan Rivandra setelah beberapa hari Areta menjauhinya mati - matian, demi mempermainkan perasaan suaminya untuk memenuhi misinya. ...
...“U-udah lebih dari lima belas menit, Kak! Hah!” Ucap Areta tak kuat lagi pada serangan Rivandra...
...“Sebentar lagi ya sayang, saya kangen banget Areta” Rivandra tak akan mungkin berhenti dalam posisi ini, Areta kembali pasrah sambil merasakan pipinya yang kian memanas dan jantung yang berdebar tak karuan saat melihat Rivandra yang mulai memposisikan dirinya untuk memasuki...
...“Kak!” Areta memekik saat Rivandra mulai memasuki, tak ia tahan - tahan karena tak ada orang lain selain mereka berdua, ia totalitas mengeluarkan sisi erotisnya...
Rivandra banjir peluh, melepaskan yang tertahan selama berhari - hari yang terasa seolah bertahun - tahun, ia mengeluarkan semua yang ia bisa untuk membuat Areta melayang, space yang terbatas karena mereka melakukannya di sofa tak membuat Rivandra hilang akal untuk membuat wanitanya mencapai kata puas, pinggulnya menubruk cepat, lalu memelan sesuai sinyal yang diberikan Areta.
Areta bukan lagi melayang, rasanya ingin pingsan saja merasakan sensasi yang diberikan suaminya, ia tak segan memekik saat serangan Rivandra semakin dalam, atau memeluk erat punggung pria itu yang licin berkeringat, benar - benar tak ia tahan apa pun yang ingin ia keluarkan, lenguhan, teriakan, perintah untuk mempercepat atau memperlambat gerakan pinggul Rivandra, semuanya ia nyatakan dengan lantang
...“I love you, Areta” ucap Rivandra dengan dahi saling menempel saat ia tahu wanitanya mencapai pelepasannya, remasan pada rambut Rivandra membuktikan kalau Areta takluk pada serangannya, pria itu membiarkan sebentar lalu menyelesaikan tanpa pelepasannya...
...“Loh, Kakak belum kan?” Tanya Areta terengah, dengan setengah terduduk ia menatap prianya bingung...
...Senyum nakal Rivandra terbit, “lanjut ronde kedua nanti, masih banyak tempat yang harus dicoba. Kasur, jacuzzi, dapur, ruang tengah” bebernya, menceritakan fantasi yang selama ini ia simpan untuk Areta...
...“Jacuzzi duluan Kak, aku penasaran!” Areta tak kalah mesumnya, pasangan mesum memang...
...Rivandra tertawa bahagia, “siap tuan putri” ujarnya puas, ia lalu membantu istrinya itu untuk bangkit, saling berpelukan sebentar sebelum mereka berdua membersihkan diri dan beranjak untuk makan malam romantis, sesuai impian Areta...
...****************...
__ADS_1
Ombak kecil menghampiri, sisa dari gulungan ombak yang terpecah di tengah laut, bulan malam ini berbaik hati menemani dua sejoli yang tengah duduk saling berhadapan di meja makan dengan ornamen romantis, ada lilin dan bunga segar di vas, meskipun semuanya indah tapi bagi Rivandra wanita di depannya lah puncak dari semua keindahan, iris mata Areta yang berwarna coklat selalu membuat Rivandra jatuh cinta, seperti sekarang.. ia tak berkedip melihat Areta yang sibuk melahap ikan bakarnya
...“Apa Kakak berharap kepitingnya hidup lagi makanya Kakak ga makan - makan?” Tanya Areta sesaat setelah menyadari suaminya itu belum juga menyentuh makanannya...
...Pria itu tertawa terbahak untuk kesekian kalinya, entah bagaimana caranya tapi Areta selalu bisa membuatnya bahagia “gimana mau makan kalau di depan saya ada bidadari?” Goda Rivandra, dagunya ia topang sementara matanya tak beralih dari Areta...
...Wanita itu tersenyum geli “Heemmm, gombalan yang kadaluarsa!” ...
...“Sejak kapan pujian punya masa expired Areta?” ...
...“Ya terserah lah, tapi kalau mau ronde kedua berlanjut ke ronde tiga nanti, ya mau ga mau harus ngisi energi kan ya?” Pancing Areta, mendengar itu Rivandra tak menunda lagi melahap makanannya, mulai memakan apa saja hidangan yang memenuhi mejanya...
Tawa Areta lepas melihat Rivandra yang kalap menyantap makanannya, hiburan tersendiri untuknya saat pria keras kepala itu mengalah
...“Kamu harusnya tertawa seperti itu setiap hari Areta” Rivandra tersenyum senang mendengar tawa renyah Areta meskipun ia tahu istrinya itu tengah menertawakannya...
...“Gimana ga ketawa terus kalau Kakak bikin aku seneng. Kalau di inget - inget aku kayaknya ga pernah sebahagia ini Kak seumur hidup” ...
...“Lihat lah Nak, Ibumu sangat cantik ketika tertawa lepas tanpa beban, Papa janji akan membuat Ibumu terus tertawa, terus bahagia, bahkan jika Papa harus berbuat konyol atau berkubang darah sekali pun” bisik Rivandra dalam hatinya untuk sang anak...
...“Kak Rivan percaya ga apa yang Kakak lakukan hari ini untukku sama persis dengan apa yang aku inginkan semenjak aku SMA dulu, kecuali villanya, terlalu mewah bahkan buat jadi impianku.. hehehe” ucap Areta...
Rivandra meletakkan alat makannya demi fokus mendengarkan Areta
...“Dulu Om dan Tante pernah janji mau bawa aku jalan - jalan ke Bali kalau liburan semester, dengan syarat aku harus gantiin pembantu temennya Tante yang mendadak pulang kampung selama seminggu, aku seneng banget Kak waktu itu, dalam bayanganku cuma Jimbaran Kak, nyampe kebawa - bawa mimpi coba.. ahahaha” tutur Areta sambil tergelak ...
...“Aku nyampe baca - baca brosur tentang Bali, nyari info rute ke Jimbaran, ngumpulin uang bulanan supaya bisa ke toko Krisna buat beli kaus yang ada tulisan Balinya, tapi pas hari H keberangkatan liburan ke Bali, Tante nyuruh aku beliin dulu sunblock buat dipake disana katanya, eh pas pulang - pulang mereka semua udah berangkat ke airport, aku ditinggal… ternyata Tante sama Om emang ga pernah beliin aku tiket ke Bali, aku nangis semalaman nyampe mataku bengkak Kak… ahahaha” tutur Areta, tawanya lepas seolah apa yang diceritakannya hal yang menyenangkan...
Hati suami mana yang tak mencelos mendengarnya, Rivandra sigap mengusap air matanya yang kali pertama jatuh, tak ingin merusak suasana bahagia Areta
...“Kayaknya masih banyak objek wisata yang harus kita kunjungi Areta, Bali itu luas banget loh, banyak spot - spot bagus yang belum kamu liat, gimana kalau honeymoonnya kita perpanjang jadi empat hari?” Tawar Rivandra, ia tak lagi peduli dengan segala konsekuensi yang akan ia terima nanti, prioritasnya saat ini hanya kebahagiaan Areta, ia tak peduli apa pun lagi selain itu...
...Areta hening, menimang sebentar, “Entah lah Kak, gimana dengan Kak Mauren nanti?”...
Rivandra mengulurkan tangannya, meraih tangan Areta dan menggenggamnya
...“Ga perlu memikirkan siapa pun dan apa pun selain kita bertiga, saya, kamu, dan anak kita, fokus pada kebahagiaan kita Areta. Jangankan hanya untuk memperpanjang liburan kita disini, bahkan jika kamu ngajak kita untuk tinggal disini, menetap disini untuk membangun keluarga kita, saya siap Areta” tandas Rivandra...
Deg…
Areta melihat keseriusan di mata Rivandra, jelas tak ada keraguan di dalamnya. Apakah maksud pria itu ia ingin melepas Mauren dan memilihnya? Tidak, mana mungkin Rivandra akan memilihnya dibanding Mauren, batin Areta.
...“Oke Kak, kita perpanjang honeymoonnya” sahut Areta mantap, sejenak ia pun ingin terbebas dari belenggu ketakutan, ia ingin tertawa bebas dan lepas, menikmati hari - hari indahnya bersama Rivandra, hari yang mungkin tidak akan ia dapati lagi hingga mereka berpisah nanti...
Malam itu mereka berdua memuaskan diri di sekitar Jimbaran, jalan bergandengan di tepi pantai, atau kembali duduk dan bersantap ketika lapar sudah melanda kembali, gelak tawa sesekali terdengar dari mereka, pria dingin itu bahkan beberapa kali bertingkah konyol hanya agar Areta melepaskan tawanya, malam itu mereka berdua sama - sama bahagia.
__ADS_1