Satu Suami Dua Istri

Satu Suami Dua Istri
Membuka Tabir Satu Per Satu


__ADS_3

Rivandra melangkah gontai memasuki kamarnya, hari ini ia mencoba menyibukkan dirinya dengan segudang pekerjaan untuk mengalihkan perhatiannya pada Areta, pikirannya nyaris buntu memikirkan kemana wanita yang sangat dicintainya itu pergi, sampai hari ini beberapa orang yang ia suruh untuk mencari Areta belum juga berhasil menemukan wanita yang masih bergelar istrinya itu.


Lampu kamar yang sudah temaram dan Mauren yang sudah terlelap dibalik bedcover membuat Rivandra lega, artinya ia tak perlu bicara atau bertatap muka dengan Mauren, ia khawatir tak bisa menahan diri untuk segera menyudahi pernikahannya tanpa membawa bukti yang kuat untuk orang tuanya yang mungkin akan mempertanyakan apa motif Rivandra menceraikan Mauren, ia harus tahan - tahan menghadapi Mauren sebentar sampai Mauren membuka sendiri topeng yang selama ini menutupi kebusukannya


...“Rivan, kamu baru pulang?” Suara Mauren serak khas bangun tidur, ia mungkin terjaga karena sedikit suara yang Rivandra buat...


...“Tidurlah lagi” sahut Rivandra tanpa menoleh, ia sibuk membuka jas dan dasinya...


Mauren tersenyum penuh goda, ia lalu beringsut bangkit dari tempat tidur, langkahnya ia anggun - anggunkan mendekati Rivandra, ia memang telah mempersiapkan segalanya termasuk baju super tipis yang ia pakai, nyaris tak menutup apa pun


Tangannya menyentuh punggung Rivandra, membuat pria itu berbalik lalu menatap Mauren dari ujung kaki sampai ujung kepala, rasa sakit kembali menyelimuti hati pria itu, bagaimana selama ini ia hidup dalam skenario yang diciptakan oleh Mauren, padahal ia sangat mencintai, mendamba, dan menjaga wanita itu, tak pernah sekali pun dalam hubungan mereka selama bertahun - tahun Rivandra mengkhianati Mauren.


...“Aku kangen Rivan” ucap Mauren sambil mengelus dada pria itu, “percayalah Rivan aku sama sedihnya dengan kamu dan semua orang di rumah ini ketika Areta keguguran, bagaimana pun aku seorang wanita, aku ga mungkin setega itu untuk menyakiti perempuan lain yang sedang hamil, apalagi yang dikandung adalah calon anak kita” Mauren mencoba mendaratkan kepalanya di dada bidang Rivandra tapi pria itu mundur sambil menepis tangan Mauren yang semakin menjelajah...


...Mauren terkesiap tapi ia tak menyerah, dengan nekad ia memeluk Rivandra...


...”Rivan aku kangen saat - saat seperti dulu, saat kamu selalu meluk aku, kamu yang selalu ngasih aku kejutan manis, kamu yang selalu nenangin aku, tolong Rivan kembalilah seperti dulu” ...


Hati Rivandra bak dicabik, lihat lah bagaimana ia sangat mencintai dan memperlakukan Mauren bak seorang ratu, tapi apa balasan Mauren selain pengkhianatan dan kebohongan?


Dan bukan hanya Rivandra, semua anggota keluarganya pun menerima dan menyayangi Mauren sepenuh hati, bahkan mereka tak mempermasalahkan kekurangan Mauren, tetap memperlakukannya dengan baik meskipun Mauren mengaku pernah diperkosa dan di vonis tidak bisa memiliki anak yang mana itu semua adalah kebohongan, kebusukan yang Mauren tutupi untuk perbuatan kotornya, menjijikan.


...“Lepas Mauren!” Sentak Rivandra sambil mendorong kasar tubuh Mauren, membuat tubuh Mauren terjungkal ke tempat tidur...


Mauren terhenyak kaget


...”Kamu kenapa Rivan? Jangan seperti ini Rivan, jadilah Rivandra yang dulu begitu mencintaiku” ...


...Rivandra tersenyum sinis, “Menjadi Rivandra dungu maksud kamu?” Tatapan Rivandra begitu tajam menusuk...


Mauren semakin takut saja, kebenaran apa yang sebenarnya sudah Rivandra ketahui, dan bukti apa yang sudah dia kantongi sehingga Rivandra terlihat sekali membencinya, atau bukan itu penyebabnya? Apa Rivandra masih marah pada Mauren terkait keguguran Areta dan kepergiannya?


...“Ha, kamu emosi seperti ini gara - gara si Areta pergi iya Rivan?” Sengit Mauren, “kamu punya hati buat si ****** itu kan? Kamu main perasaan sama dia, kamu ga rela kalau dia pergi iya kan?” Sentak Mauren bengis...


Rivandra menghela kasar napasnya, melayani omongan Mauren tak akan ada habisnya, dan ujung - ujungnya hanya akan ada keributan, pria itu memilih untuk melangkah hendak keluar dari kamar itu


...“Berhenti, Rivan! Jawab pertanyaannku, kamu jatuh cinta pada si berengsek Areta kan? Kamu marah karena dia pergi kan, hah? Itu yang membuat kamu menjauhiku, hah?” Teriak Mauren histeris...


Napas Rivandra memburu, tangannya terkepal, wajahnya sengit berkubang amarah, pria itu berbalik dan menatap nyalang pada Mauren


...“Jangan menutupi kebusukanmu dengan menyalahkan orang lain Mauren!” Sentak Rivandra membahana...


...“Apa yang ku lakukan Rivandra hah? Kamu mencari - cari kesalahanku agar punya alasan untuk meninggalkanku kan? Agar kamu bisa bersama dengan pelacur itu kan?” Teriak Mauren berapi - api...


...“Cukup Mauren!” Sentak Rivandra membahana, “memangnya apa yang bisa kita pertahankan dalam rumah tangga kita, apa?!” Pekik Rivandra penuh kemarahan...


Mauren mematung, badannya gemetaran, rasanya ia ingin pingsan saja mendengar omongan Rivandra, tidak ia tidak ingin diceraikan oleh Rivandra


...“Jadi begini Rivan? Kamu dengan gampangnya mengganti posisiku dalam hatimu karena aku ga bisa memberikan kamu anak sementara wanita murahan itu bisa, gitu?” Mauren mulai terisak...


Rivandra menyeringai, jangankan iba melihat tangisan Mauren, yang ada kemarahannya semakin membara mendengar bagaimana Mauren merendahkan Areta, wanita yang jauh lebih mulia dibanding Mauren


...”Hati kecilmu tau apa yang saya maksud Mauren, tapi teruslah berkilah, teruslah berakting seperti yang telah bertahun - tahun ini kamu lakukan” ...


Omongan Rivandra bak tamparan telak untuk Mauren, ketakutannya semakin menjelma, pria itu sepertinya sudah mutlak ingin menceraikannya, Mauren memutar otaknya untuk membalik keadaan, ia mengingat lagi titik lemah Rivandra

__ADS_1


Dengan tergesa Mauren melempar apa saja di dekatnya, menghempas semua produk perawatan wajah mahalnya di atas meja rias, botol parfum mewah, lampu tidur tak luput dari amukannya


Rivandra tak bergeming dari tempatnya, ia puas melihat reaksi Mauren, semakin Mauren histeris seperti sekarang semakin akan mudah untuk Rivandra membuka kedok kepalsuannya, siapa tahu justru Mauren yang tanpa sengaja melepaskan topengnya sendiri


Praaaaakkk..


Wanita itu terus saja mengamuk, bahkan ia tak segan melempar kaca lemari walk in closet dengan hiasan meja kristal di dekatnya


...“Kamu mencintai wanita lain karena aku mandul, tega kamu Rivan!” Sentak Mauren dengan wajah yang memerah dan basah, tangannya masih sibuk melempar apa saja yang terjangkau oleh tangannya, “katakan Rivan berapa kali kamu meniduri pelacur itu, berapa kali kamu menyentuhnya, hah?” Pekik Mauren histeris...


Rivandra terkekeh, kemudian ia bertepuk tangan


...“akting kamu bagus Mauren, ga heran kamu jadi artis papan atas, terus tutupi saja semua kebohongan kamu dengan akting kamu yang mumpuni, tapi satu yang harus kamu sadari Mauren, bangkai yang ditutup oleh apa pun baunya akan tercium juga Mauren” ucap Rivandra penuh olokan...


Mauren semakin kalap, ia tak mengerti kenapa Rivandra tak juga menyerah bahkan ketika ia sudah mengamuk, tak seperti biasanya


Senyum sinis Rivandra terbit


...“Lanjutkan Mauren, kalau belum puas kamu bisa menghancurkan seluruh rumah ini sampai kamu puas!” tandas Rivandra lalu beranjak santai keluar dari kamarnya, ia tak mempedulikan suara Mauren yang memekik memanggil namanya, pria itu melangkah dengan santainya menuruni tangga...


Ternyata keributan yang dilakukan Mauren telah membuat seisi rumah terjaga, kini mereka menatap Rivandra penuh tanya


...“Rivan, ada apa lagi ini? Kenapa Mauren ngamuk lagi?” Tanya Anna panik, ia pikir ketika Areta telah pergi maka keributan tak akan terjadi lagi di rumahnya, tapi ternyata dia salah, Mauren tetap membuat keributan bahkan kedengarannya sekarang lebih parah...


...“Entahlah Ma, tanyakan saja langsung padanya, jangankan menyambut suami yang baru pulang kerja dengan segelas air minum atau senyuman hangat, dia lebih senang menyambut saya dengan melemparkan semua barang di kamar” ...


Anna terbakar amarah, ia mulai jengah dengan kelakuan Mauren, peringai Mauren semakin tak karuan, benar - benar berbeda dengan Areta yang lemah lembut dan santun.


Julian mendekati anaknya itu, lalu menepuk bahunya seolah ingin memberi kekuatan


...“Saya pergi dulu” ucap Rivandra, sambil beranjak pergi...


...“Loh kamu mau kemana Rivan?” Pekik Anna pada anaknya yang semakin menjauh...


...“Saya mau mencari ketenangan Ma” sahut Rivandra...


...“Tapi Rivan.. “...


...“Ma, sudah lah, biarkan saja Rivan pergi biar dia bisa istirahat, apa yang istrinya lakukan sudah keterlaluan” tandas Julian dengan kilat mata yang menyiratkan kemarahan, Anna dan Rossy terkesiap melihat ekspresi kesal Julian, tak biasanya pria yang tenang itu tersulut amarahnya ...


Sementara Mauren masih saja histeris di kamarnya yang sudah seperti kapal pecah, beberapa kali ia memekik memanggil - manggil nama Rivandra, tak terima karena suaminya itu meninggalkannya begitu saja.


...****************...


Anna menatap semangkuk mi instan yang sudah mengembang di depannya, Bi Jum menyajikan mi itu setengah jam yang lalu tapi sampai sekarang Anna tak menyentuhnya, ia sibuk dengan kenangannya dengan Areta, Areta pernah memasak mi instan untuknya pada malam hari dulu, malam ketika ia meminta Areta untuk membujuk Mauren agar berhenti shooting supaya fokus pada program kehamilannya, saat itu Anna tak tahu jika Areta tengah mengandung cucunya, bisa Anna bayangkan betapa sakitnya hati Areta saat itu.


Benar apa kata orang, kalau sudah tak ada kita baru merasakan arti kehadiran seseorang, sama seperti yang Anna rasakan sekarang. Amukan Mauren yang baru saja berhenti menyadarkan Anna bahwa selama ini ia menspesialkan orang yang salah dan justru mengenyampingkan orang yang harusnya ia lindungi, tak heran kalau Rivandra beralih hati pada Areta, siapa yang tahan punya istri temperamental seperti Mauren, berbanding terbalik dengan Areta yang sangat menghormati dan menghargai Rivandra, tapi masalahnya Areta kini telah pergi


Entah dimana ia sekarang, kemana ia pergi, karena ia tak menggunakan tiket yang Julian belikan untuknya, padahal setahu Anna Areta tak memiliki seorang pun keluarga atau kerabat selain Dani dan Susan, setelah dicampakkan oleh kedua orang itu, secara otomatis Areta tak memiliki siapa pun di dunia ini, bahkan meskipun ia bersuami dan memiliki mertua, Areta tetap sendiri, ia tak bisa mengakuinya pada siapa pun, hati Anna mencelos pilu mengingatnya.


...“Nya, ini saya bikinin teh jahe buat Nyonya, saya perhatiin kok sepertinya Nyonya lagi ga sehat” ucap Bi Jum sambil menyodorkan secangkir teh jahe yang masih mengepul...


Makin sedih saja hati Anna, teh jahe itu kian menguatkan ingatannya pada Areta,


...”Teh jahe resep dari Areta ya Bi?” Tanya Anna sendu...

__ADS_1


...“Iya Nya, maaf Nyonya, Nyonya keingetan soal Non Areta ya?” Tanya Bi Jum prihatin...


Anna mengangguk pelan


...”Dimana dia sekarang Bi dia ga punya siapa - siapa diluar sana, mungkin uangnya untuk bertahan hidup juga ga seberapa, saya ga bisa tidur Bi keingetan dia terus”...


Bi Jum sama sedihnya dengan Anna, mengenang Areta membuatnya mengingat bagaimana di awal kedatangannya ke rumah itu Areta bersusah payah agar diterima bukan hanya oleh keluarga Julian, tapi juga oleh semua pekerja di rumah itu, Areta seperti menitipkan dirinya yang menumpang disana.


...“Saya pernah nawarin Non Areta untuk ke kampung saya di Jogja lebaran nanti Nya, saya nanya sama Non Areta dia mau kemana kalau nanti lebaran, karena biasanya keluarga Nyonya kan lebaran di Inggris sama keluarga besar Oma, semua pekerja juga pada pulang kampung kecuali satpam yang jaga rumah, Non Areta katanya ga tau mau kemana, terus saya ajak aja untuk ke kampung saya, Non Areta seneng banget Nya, katanya mau ikut” tutur Bi Jum panjang lebar sambil menyeka air matanya...


...“Dia kemana Bi? Saya nyesel banget Bi kenapa saya nyalahin dia atas semua keributan yang terjadi, padahal dia ga salah Bi, semua yang terjadi bukan atas keinginan Areta” tutur Anna dengan berurai air mata...


...“Maaf kalau saya lancang Nya, kalau saya lihat bukan Nyonya saja yang sedih, Tuan Rivandra jauh lebih sedih, berpuluh - puluh tahun saya kerja disini semenjak Tuan Rivan kecil, saya ga pernah melihat Tuan Rivandra seputus asa ketika Non Areta pergi Nya, kasian sekali” ...


Anna bukannya tak tahu soal itu, ia bahkan melihat sendiri bagaimana anaknya yang tangguh menghadapi apa pun menangis sesenggukan ketika Areta memutuskan untuk pergi


...“Kalau yang saya liat, Tuan Rivandra bahagia Nya sama Non Areta, wajahnya selalu berseri - seri, Non Areta bahkan bisa bikin Tuan Rivandra tertawa lepas Nya” tambah Bi Jum...


Anna terperangah


...”Tertawa lepas Bi? Rivandra?” Sekaget itu Anna mengingat Rivandra yang untuk senyum saja ia seolah enggan, anaknya itu memang sedingin es, akulturasi dari Ayahnya...


...“Iya Nya, dan Non Areta itu sangat telaten ngelayanin Tuan Rivandra, Non Areta tau semua makanan dan minuman kesukaan Tuan Rivandra, kalau Nyonya Mauren ga di rumah, Non Areta yang menyiapkan semua keperluan Tuan Rivandra, Nya… Non Areta emang istri idaman” tambah Bi Jum berapi - api...


Hati Anna semakin mencelos saja, ternyata ia telah melepaskan berlian sumber kebahagiaan anaknya dari rumahnya, kenapa ia begitu telat menyadarinya?


...****************...


Areta menatap kosong langit - langit kamar tempat penginapan yang akan ia huni bersama April untuk dua hari ini, sebelum lusa nanti mereka akan pindah ke rumah kontrakan mereka untuk memulai hidup baru


...“Mikirin apa Ta?” Tanya April pada Areta yang terbengong dengan tatapan kosong...


Areta bergeming, ia lalu memiringkan badannya menatap April, “Ga mikirin apa - apa Pril” sahut Areta sendu


...“Bohong, ga mungkin nyampe ngelamun panjang gitu kalo ga mikirin apa - apa, kamu mikirin Kak Rivandra ya?” Goda April...


Areta berdecak


...”Ngapain aku mikirin dia Pril? Dia bahkan mungkin lagi bahagia sama Kak Mauren, lagi merencanakan program kehamilan, atau mungkin malah lagi bulan madu” sahut Areta acuh, tapi air matanya menetes tak bisa diajak kompromi...


...“Tuh kan, bilangnya ga mikirin tapi buktinya nyampe nangis gitu, jujur deh Ta kamu punya perasaan ya sama Kak Rivan?” Telisik April sambil beranjak dan mendudukkan dirinya disamping Areta yang juga beringsut duduk...


Wanita cantik itu menyeka air matanya


...”Kalau pun aku punya perasaan, hanya akan menyiksaku Pril, ibarat kisah dongeng nyaris mustahil aku sama Kak Rivan bersatu. Aku ga punya apa - apa Pril berbanding terbalik dengan Kak Rivan yang punya segalanya termasuk punya Kak Mauren” tutur Areta pilu, air matanya kembali merembes...


April sigap memeluk sahabatnya itu, kini ia tahu pada siapa hati Areta telah berlabuh


...”Ga ada yang mustahil di dunia ini Ta, inget kamu sama Kak Rivan masih punya ikatan yaitu anak yang kamu kandung, kalian juga masih suami istri kan? Berdo’alah Ta, kalau emang Kak Rivan itu jodoh kamu, suatu hari dengan cara apa pun kalian pasti akan ketemu lagi” ucap April sambil mengelus lembut surai Areta...


“Untuk berharap aja aku ga berani Pril, dulu aku sempat memberanikan diriku jatuh hati pada Kak Fabian, orang yang kastanya jauh di atasku, dan kamu tau sendiri kan Pril bagaimana terhinanya aku karena kelancanganku itu? Apalagi kalau aku berani berharap bersatu dengan Kak Rivan, selain kasta yang jelas jauh berbeda, dia juga suami orang Pril! Entah akan berapa banyak orang yang meludah padaku nanti” tutur Areta lirih, pelukan April semakin mengerat


...“Percaya sama aku Ta, ga ada yang mustahil dengan berdo’a, berdo’a lah Ta semoga akan ada jalan untuk kamu dan Kak Rivan dan anak kalian” ucap April...


Tanpa Areta ketahui, senada dengannya seorang pria kini sedang menangisi dirinya, Rivandra yang membaringkan dirinya di tempat tidur kamar rumahnya bersama Areta dulu, menangis tersedu mengingat wanita yang dicintainya itu, sekeliling rumah itu penuh dengan bayangan Areta, sangat menyiksa jiwa

__ADS_1


Bibir Rivandra merapal do’a, meminta dan memohon agar Tuhan mempertemukan dan mempersatukan mereka lagi.


__ADS_2