
...“Papa yakin itu Adrian?” Tanya Susan pada suaminya ...
Dani mengangguk
...“Papa inget banget kejadiannya Ma” sahut Dani...
...“Astaga” ucap Susan sambil memijit pelipisnya...
...“Sudah lah kita ga usah membahas hal ini lagi, yang penting sekarang gimana caranya mempertahankan rumah tangga Mauren dan Rivandra, Ma. Jujur, Papa khawatir sama nasib rumah tangga Mauren gara - gara dia ga bisa punya anak” ucap Dani, wajahnya sarat akan beban dan kekhawatiran, kantung matanya bergelayut dihiasi lingkaran hitam di sekitar matanya akibat semalaman ia tak bisa terlelap sekejap pun...
Susan menghela berat napasnya
...“Itu si Areta ngapain pake hamil anak Rivandra sih Pa, bikin tambah runyam masalah aja” sewot Susan ...
Dani mengeraskan rahangnya
...“Sudah lah Rivandra di gaet, anak kita juga kayaknya dipelet sama si Areta, Mama inget kan kemarin gimana Fabian ngototnya belain si Areta kampret itu!” Sengit Dani dengan dada kembang kempis...
Susan tambah pusing saja, ia sampai menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, kedua tangannya ia pakai untuk memijit pelipisnya
...“Mama inget banget Pa, kemarin dengan angkuhnya si Areta bilang kalau dia mau mengembalikan Rivandra sebagai bentuk balas budi terakhir sama kita, pengen Mama gampar muka songongnya itu” tutur Susan dengan gigi gemeretak...
Dani menoleh pada istrinya, sebelum kemudian senyumnya leganya terbit
...“Ma, si Areta kan bilang kalau dia mau cerai setelah anaknya lahir, Papa rasa kita perlu pake perjanjian hitam di atas putih deh Ma, biar dia ga inkar janji” tutur Dani, Susan menegakkan duduknya begitu mendengar omongan Dani...
...“Ah iya, Papa bener juga, panggil notaris sekalian Pa, biar legal secara hukum, terus di perjanjiannya ditulis juga kalau nanti setelah lahir anaknya bakalan diasuh sama Mauren dan Rivandra, Pa!” Tambah Susan antusias...
...“Iya Ma, Papa yakin anak tolol itu ga bakalan berani ngebantah untuk tanda tangan” ucap Dani yakin...
...“Bagus lah Pa, selesai sudah masalah kita, tinggal kita mikirin Fabian, jangan nyampe juga nanti si Areta cerai malah jadinya sama Fabian, Mama ga rela Pa!” Sewot Susan lagi...
...“Iya Ma, Mama tenang aja, si Areta bodoh ini, gampang buat ngatur - ngatur dia Ma!” Tandas Dani...
Susan tersenyum lega mendengar penuturan suaminya, dadanya yang terasa sesak tadi sedikit melonggar.
...****************...
Niat Dani memang tak main - main, esoknya ia dan Susan membawa serta seorang notaris untuk meminta tanda tangan surat perjanjian pada Areta, Areta yang telah dihubungi oleh Anna sebelumnya untuk datang ke rumah atas permintaan Om dan Tantenya, tanpa ragu sedikit pun datang, ia sedikitnya bisa menebak apa tujuan pertemuan yang diminta Susan dan Dani, terlebih mereka memilih pertemuan dimana Rivandra sedang tak berada di rumah, dan tanpa mengajak Mauren pula
Dani dan Susan duduk berhadapan dengan Julian dan Anna, sementara Areta duduk di sofa sebelah Anna berhadapan dengan notaris, Oma dan Rossy pun turut ikut dalam pertemuan itu
...“Sekali lagi kami minta maaf karena harus menempuh jalur ini besan, kami cuma memikirkan yang terbaik buat putri kami” tutur Dani sesopan mungkin, tak nyaman dengan tatapan Oma Mieke yang menelisik dan impultif...
...“Boleh saya baca suratnya dulu?” Tanya Julian, Dani mengangguk lalu memberi isyarat pada notarisnya untuk memberikan surat yang dimaksud pada Julian...
Julian menerima uluran surat yang diberikan, napasnya ia hela sebelum ia membacanya dengan sangat teliti baris per baris, Anna mencondongkan badannya untuk ikut membaca surat tersebut, baru sebentar Anna membacanya tapi ekspresi tak senang jelas terlihat di wajah Anna
Anna menghela napasnya, setelah itu ia menoleh pada Areta yang duduk dengan tenang, membaca butir per butir surat perjanjian barusan membuatnya semakin tak tega pada menantunya itu
...“Apa harus sampai seperti ini Pak Dani?” Tanya Julian sambil melatakkan suratnya di atas meja, kilat di matanya juga memperlihatkan ketidak sukaan...
...“Ini yang terbaik demi rumah tangga Mauren dan Rivandra, besan” tutur Dani bersikukuh...
...“Yang terbaik apanya? Sudah diberi belas kasih oleh Areta, kalian masih saja tak tau diri minta lebih!” Sengit Oma, ia sekilas bisa mengetahui apa yang tertuang dalam perjanjian itu hingga Julian dan Anna bereaksi tak suka...
Susan dan Dani salah tingkah, tak nyaman mendapat serangan dari Oma
...“Maaf Oma, sebaiknya biar Areta langsung menanda tangani surat perjanjiannya saja, biar semuanya cepat selesai” ucap Susan tak ingin berlama - lama, Dani lalu meraih surat yang terlampir di meja dan memberikannya pada notarisnya, sang notaris menerima lalu menyodorkannya pada Areta...
...“Silakan dibaca dulu Bu Areta” titah sang notaris, Areta mengembangkan senyum ketika menerima surat tersebut...
...“Pasti saya akan membacanya terlebih dahulu, poin demi poin, mengantisipasi jika ada yang memberatkan saya nantinya” tutur Areta tenang. Dani menggeram, reaksi Areta tak sesuai dengan yang ia harapkan, dalam bayangannya Areta akan menanda tangani surat tersebut tanpa membacanya terlebih dahulu, karena ia tahu betul bagaimana mudahnya wanita itu dimanipulasi dan dijajah....
Areta mengangguk - angguk sambil memindai surat perjanjiannya dengan sangat awas. Wajahnya tak berubah, tetap tenang dan penuh senyum
...“Maaf saya tidak mau menanda tangani surat ini” ucap Areta sambil meletakkan kembali surat itu diatas meja...
Semuanya terkesiap dengan sikap yang Areta ambil, terutama Dani dan Susan, Susan sampai mendelik tajam padanya, sejak kapan Areta berani bilang tidak pada apa pun perintah mereka? Batin Susan, buatnya kekurang ajaran Areta sudah diluar batas
...“Apa maksud kamu Areta? Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu mau cerai dari Rivandra begitu anak kalian lahir?” Sewot Dani tak terima...
...“Memang betul Om, saya akan konsisten dengan omongan saya, tapi perceraian terjadi antara dua pihak bukan? Kalau saya mau cerai tapi Kak Rivandranya tidak, bagaimana? Harusnya Om membuat surat perjanjian untuk Kak Rivan juga” Tohok Areta...
__ADS_1
Mata Dani melotot penuh amarah pada Areta, sedang Susan bahkan sudah berdiri, jarinya menunjuk - nunjuk Areta dengan rahang yang mengeras, mulutnya sudah membuka hendak menghardik, tapi kemudian menutup kembali, bingung hendak berucap apa, hingga Dani menarik tangannya untuk duduk kembali
Julian mengangguk setuju dengan omongan Areta, senyum lega terbit di wajah Anna, sementara Oma dan Rossy menatap Areta dengan bangga, wanita yang dulu lemah dan tak berdaya dibawah kungkungan keluarga Mauren kini menjelma kuat.
Rossy yang penasaran akan isi surat perjanjiannya sigap meraih surat itu, ia membacanya perlahan hingga matanya membelalak, mulutnya yang terbuka saking kagetnya ia tutup dengan tangannya
...“Astaga! Oma, coba Oma baca” ucap Rossy sambil menyodorkan suratnya pada Oma, Oma sigap menerimanya, sebelah tangannya meraih kacamata yang menggantung di lehernya lalu memakainya dengan tak sabaran, Oma membaca seteliti mungkin...
...“Gila kalian berdua!” Sentak Oma pada Dani dan Susan begitu ia selesai membaca seluruh suratnya, Dani dan Susan menciut melihat kemarahan Oma ...
...“Apa - apaan ini? Apa kalian ga salah? Pasal pertama, dengan ini menyatakan jika pihak pertama akan bercerai segera setelah pihak pertama melahirkan anaknya, pasal kedua, bahwa pihak pertama dengan sukarela akan memberikan hak asuh penuh pada pihak kedua dan istrinya” Oma membacakan kembali sebagian isi suratnya dengan lantang, “sinting kalian!” Sentaknya pada Susan dan Dani sambil melempar surat itu sembarangan, Dani dan Susan hening tak mampu berkata apa - apa...
...“Oma, udah Oma, inget kesehatan Oma” tutur Rossy menenangkan Omanya...
...Areta menegakkan duduknya, lalu ia menjatuhkan pandangannya pada Dani dan Susan...
...“Om, Tante, dan Bu notaris, saya bersedia menanda tangani surat perjanjian ini jika Kak Rivandra bersedia menanda tanganinya juga, jadi silakan tanya langsung pada Kak Rivandra dulu, tapi jangan khawatir tanpa surat itu saya akan tetap meminta cerai dari Kak Rivandra nanti” tandas Areta dengan sopan...
Dani mendengus kesal, tangannya terkepal, tak ia duga Areta yang dulu semua alur hidupnya atas dasar perintah Dani, kini berubah menjadi pembangkang, senada dengan suaminya, amarah Susan sudah sampai di ubun - ubunnya, darahnya mendidih karena murka.
Wajah Dani dan Susan yang tadi datang dengan pongahnya kini berubah kebingungan, jalan yang mereka tempuh untuk mencapai kemenangan ternyata buntu
...“Sial” batin Dani pada Areta yang masih duduk dengan tenangnya...
...“Ahahaha.. aduh kenapa jadi tegang begini ya besan, maaf maaf, saya dan suami cuma iseng saja membuat surat itu, ya maklum lah, anak kami Mauren kan sedang terpuruk, sudah lah dia ga bisa punya anak, eh ternyata suaminya punya istri lain yang lagi hamil pula” tohok Susan memecah kekakuan, merasa sudah kalah, ia kini mencoba menyerang dengan cara lain...
...“Iseng kok sampai bawa notaris” sinis Oma...
...“Aduh maaf ya Oma, maklum lah Papanya Mauren itu apa - apa selalu dibawa serius.. hehehe” sanggah Susan sambil cengengesan...
Susan menjatuhkan pandangannya pada Anna
...“Jeng, saya minta maaf ya, situasinya jadi ga enak seperti ini, padahal saya dan suami semata - mata hanya memikirkan nasib rumah tangga anak - anak kita saja” tutur Susan sambil menggenggam tangan Anna...
Anna mengangguk dengan kikuk, di satu sisi ia kesal, tapi menumpahkan kekesalannya sekarang hanya akan memperburuk suasana, bagaimana pun Susan dan Dani adalah besannya
...“I-iya Jeng, saya mengerti” ucap Anna terbata...
...“Pak Dani, kami bukan keluarga yang tidak berperikemanusiaan yang membuang menantu hanya karena dia punya kekurangan” tandas Julian...
Dani mengangguk - angguk
...“Kalau begitu terima kasih banyak besan, dan masalah surat perjanjian ini nanti kami bicarakan dengan Nak Rivandra terlebih dahulu” ucap Dani...
Berbasa basi sebentar dalam suasana yang sangat canggung, orang tua Mauren beserta dengan notaris yang mereka bawa kemudian pamit, meninggalkan kekesalan di hati keluarga Julian
Jika Dani dan Susan pulang dengan kekalahan, maka Areta pulang ke rumahnya dengan memulas senyum kemenangan, bukan hanya karena untuk pertama kalinya ia bisa bilang tidak pada keinginan Dani dan Susan, juga karena ia tahu Rivandra pun tak akan menanda tangani surat perjanjian itu, pengakuan Rivandra tentang perasaannya pada Areta sudah cukup untuk membuatnya yakin.
...****************...
...“Sayang, kamu jadi datang kan hari ini?” Rengek Mauren pada Rivandra di ponselnya...
...“Iya nanti saya kesana, sekarang saya masih di rumah sakit, ada pasien yang harus ditangani” sahut Rivandra...
...“Ya udah aku tunggu ya sayang, aku udah masak buat kamu, please jangan nyampe ga datang ya” rayu Mauren penuh goda, malam ini ia berniat membakar asmara diantara mereka lagi, semua sudah ia persiapkan dengan baik, bahkan ia sudah menghias kamarnya layaknya kamar pengantin baru, Mauren bertekad untuk melayani Rivandra dengan sebaik mungkin, mengingat Rivandra kini juga punya istri yang lain, Areta memang tak ia perhitungkan sebagai saingan, karena Areta jelas tak sebanding dengannya, yang ia khawatirkan adalah anak yang dikandung oleh Areta, yang mungkin menjadi magnet untuk Rivandra...
**** Areta memainkan ponsel di tangannya, baru saja Rivandra mengabarinya bahwa malam ini ia akan mengunjungi Mauren. Areta menimang sebentar, sebelum kemudian ia menghubungi Rivandra dengan ponselnya, kali pertama setelah sekian lama ia tak pernah menghubungi Rivandra di ponselnya, hanya menunggu sebentar sampai Rivandra menjawab panggilannya, sangat cepat, sepertinya pria itu terkejut mendapat panggilan dari Areta
...“Halo Areta kamu baik - baik saja?” Tanya Rivandra khawatir, sangat jarang terjadi Areta menghubunginya...
Areta tersenyum puas, senang karena Rivandra mengkhawatirkannya, bagus.. sekarang beralih ke rencana selanjutnya, batin Areta
...“Kak, perutku kok kram ya? Badanku juga sakit - sakit” ucap Areta dengan sedikit merintih...
...“Perut kamu sakit Areta? Ok, saya segera kesana” tutur Rivandra panik...
...“Tapi Kak, bukannya Kakak mau ke rumah Kak Mauren? Udah ga apa - apa, ntar aku naik taxi aja ke klinik dokter Kartini, aku ga mau ganggu kalian” ucap Areta ...
...“Saya kesana sekarang Areta” tandas Rivandra lalu mengakhiri sambungan ponselnya...
Areta jelas tersenyum puas, lagi - lagi hari ini ia memenangkan pertandingannya.
Entah dalam kecepatan berapa Rivandra melajukan mobilnya, hingga tak butuh waktu lama untuknya sampai di rumah mereka, Rivandra bahkan bukan mengetuk melainkan menggedor pintu rumah, lalu menerobos masuk begitu Bi Parni membukakan pintu, napasnya terengah ketika sampai di kamar Areta
__ADS_1
...“Perutnya masih sakit, Areta?” Ucap Rivandra sambil memburu ke tempat tidur, mendudukkan dirinya di samping Areta, raut wajah Rivandra penuh kekhawatiran...
Areta tersenyum dengan manisnya, tangannya meraih tangan Rivandra lalu membimbing tangan Rivandra menuju perut Areta, meletakkannya disana
...“Udah baikan Kak, kayaknya dia cuma pengen dielus sama Papanya” ucap Papanya, tangannya menumpu di atas tangan Rivandra yang tengah mengelus perutnya...
...“Fiuuuuuhhhh…. syukurlah, saya khawatir banget” ucap Rivandra lega...
...“Ya udah aku kan udah ga apa - apa, Kakak bukannya ada janji sama Kak Mauren?” Tanya Areta, sebelah tangannya membelai wajah Rivandra...
Rivandra memejam merasakan lembutnya tangan Areta di pipinya
...“Kalau saya disini aja, boleh?” Tanya Rivandra ...
...“Jujur, aku juga pengennya Kakak disini, aku kangen banget Kak, tapi rasanya aku egois kalau mempertahankan Kakak disini sementara Kak Mauren nungguin Kakak” rengek Areta, pundaknya ia sandarkan di bahu kekar Rivandra...
...“Kamu istri saya Areta, kamu juga berhak atas saya” sahut Rivandra ...
...“Entahlah, rasanya aku bahagia diatas penderitaan orang lain” tutur Areta...
...“Apa kamu ga memikirkan perasaan saya, Areta?” Tanya Rivandra...
...“Emangnya apa perasaan Kakak?” Tanya Areta, pura - pura tak tahu, atau ia memang ingin mendengar lagi pengakuan Rivandra tentang perasaannya yang selalu sukses membuatnya berdebar...
...“Saya udah bilang kan” tandas Rivandra...
...“Bilang apa?” Tanya Areta, senang betul ia mempermainkan perasaan Rivandra...
...“Kalau saya cinta sama kamu” tandas Rivandra...
Deg..
Benar saja, lagi lagi jantung Areta berdebar dibuatnya, Areta mengangkat kepalanya dari bahu Rivandra, ia lalu menatap dalam laki - laki itu. Areta lalu beringsut mendudukkan dirinya di pangkuan Rivandra, senyum Rivandra merekah, senang ketika Areta bermanja padanya
...“Tapi Kakak menempatkanku seolah aku seorang pelakor Kak, yang merebut Kakak dari Kak Mauren” ucap Areta, tangannya memeluk perut sixpack pria itu...
...“Saya ga memungkiri saya juga merasa bersalah pada Mauren, saya juga ga tau sejak kapan perasaan ini tumbuh” tutur Rivandra lirih...
...”Apa semenjak Kakak bilang kalau aku harus menyembunyikan status kita?” Goda Areta...
Rivandra berdecak
...“Selalu saja diungkit, padahal saya sudah minta maaf berulang kali” tandas Rivandra...
...“Kakak juga menyakiti aku berulang kali” tukas Areta...
...“Areta ayolah.. “protes Rivandra, Areta mengeratkan pelukannya, menghirup dalam - dalam wangi parfum yang selalu ia sukai...
...“Aku takut Kak” tutur Areta...
...“Apa yang kamu takutkan?” Tanya Rivandra...
...“Aku takut pada kemarahan Kak Mauren, Om, dan Tante” lirih Areta...
...“Ga perlu mikirin orang lain Areta, pikirkan dirimu, kebahagiaan kamu!”Tandas Rivandra, tangannya membelai surai Areta penuh kelembutan...
...“Baiklah, untuk lima bulan ini aku hanya akan memikirkan kebahagiaanku, setelah itu aku akan pergi dari Kakak” ucapnya...
Rivandra menghentikan belaiannya pada rambut Areta, badannya membeku
...“Saya bukan barang yang bisa kamu tinggalkan begitu saja Areta!” Sengit Rivandra emosional, ini sangat menyiksa baginya, ia sudah mencurahkan perasaannya, tapi kenapa Areta tetap ingin bercerai dengannya...
...“Kak, bukannya aku hanya istri gelap? Kakak jangan marah begitu kalau aku pergi, kan Kakak sendiri yang bilang kalau ada hati yang harus Kakak jaga” tutur Areta...
Rivandra menghela kasar napasnya
...“Sampai kapan kamu harus mendendam begitu Areta? Apa yang harus saya lalukan agar kamu memaafkan kesalahan saya?” Lirih Rivandra, dadanya bergemuruh, matanya memerah, sungguh ia tak ingin kehilangan Areta, dan tak akan ia biarkan itu terjadi. ...
...“Entahlah” sahut Areta, Areta mendaratkan bibirnya di bibir Rivandra, memanjakan bibir suaminya dengan kecupan hangat, kecupan yang berubah menjadi ciuman panas saling menginginkan, berlanjut ke saling sentuh dan saling tuntut untuk memuaskan, malam itu ranjang mereka panas kembali. Peluh, lenguhan, jeritan tertahan menghiasi malam Areta dan Rivandra. ...
Jika Areta dan Rivandra sedang memadu asmaranya, maka Mauren sedang merusak hiasan kamarnya yang ia persiapkan dari pagi hari, kamar itu sudah seperti kapal pecah sekarang. Mauren menumpahkan semua kemarahan dan kekesalannya pada Rivandra terutama Areta, pria itu tak ada di rumah sakit, juga tak ada di rumah orang tuanya, maka sudah dipastikan ia sedang bersama Areta sekarang.
...“Sialan kamu Areta, sialan!” Pekik Mauren sambil membanting ponselnya, hati Mauren hancur berkeping - keping persis seperti nasib ponselnya sekarang. ...
__ADS_1