Satu Suami Dua Istri

Satu Suami Dua Istri
Kemana Rivandra?


__ADS_3

...“Rivandra tadi malam ga pulang ya Mauren?” Tanya Anna pada menantunya...


...“Iya Ma, katanya ada jadwal operasi tengah malam tadi, jadinya nginep di rumah sakit” jawab Mauren...


...“Oh ya sudah” ucap Anna, ia lalu memindai penampilan Mauren dari atas sampai bawah, menantunya itu sudah cantik, sepertinya sudah siap untuk berangkat...


...“Kamu mau kemana Nak?” Tanya Anna...


...“Mauren mau mulai syuting lagi Ma, jatah offnya udah habis, Adrian udah neleponin melulu dari kemarin, soalnya Mauren dikontrak buat bintangin beberapa iklan, Ma” tutur Mauren bangga, wajahnya berseri bahagia...


Anna menghela napasnya, sejujurnya ia tak ingin menantunya itu kembali syuting, ia pun sudah minta tolong pada Areta tempo hari agar membujuk Mauren untuk berhenti syuting, tapi sepertinya Areta tak berhasil membujuknya, Ah Areta.. mengingat Areta membuat hatinya menjadi sedih, wanita itu seperti punya magnet agar siapa pun yang ditinggalkannya tetap mengingatnya


...“Ya sudah, kamu hati - hati ya, dan Mama harap kamu sudah pulang sebelum Rivandra pulang” ucap Anna sambil mengelus rambut Mauren penuh kasih sayang...


...“Iya Ma, jangan khawatir.. Mauren ngambil job yang syutingnya sebentar - sebentar aja kok Ma, jadi sebelum malam nanti Mauren udah pulang” ucap Mauren...


...“Mama cuma ga mau baik kamu atau Rivandra terlalu sibuk sama kerjaan kalian masing - masing nyampe lupa sama usaha kalian untuk punya momongan, Mama udah ga sabar pengen punya cucu Mauren, mumpung Oma masih ada juga, jadi dia bisa liat cicitnya. Tolong pertimbangkan omongan Mama ini ya Mauren” tutur Anna selembut mungkin...


Mauren menunduk lesu, ini bukan pertama kalinya mertuanya itu memintanya secara halus untuk berhenti jadi artis dan fokus untuk memiliki anak bersama Rivandra, tapi meninggalkan dunia keartisan jelas tak mungkin buatnya, terlalu banyak pengorbanan yang ia lakukan untuk sampai di titik ini.


...“Baik Ma, nanti Mauren coba bicarakan juga dengan Rivandra ya Ma, tapi untuk sementara ini Mauren masih harus memenuhi beberapa kontrak yang sudah terlanjur ditanda tangani, Mauren mohon pengertian Mama” pinta Mauren, tangannya meraih tangan Anna dan menggenggamnya, mencoba meyakinkan mertuanya itu...


Anna cuma bisa mengangguk mengiyakan meskipun hatinya tak setuju, ia berniat menghubungi Areta untuk meminta pertolongannya lagi membujuk Mauren.


...****************...


Areta mengelus - elus perutnya yang tiba - tiba kram, rasa sakit yang luar biasa tiba - tiba saja mendera perutnya, untuk sekedar berdiri saja ia tak sanggup, ia kini berpegangan pada pinggiran kitchen set, memaksakan dirinya berjalan meskipun tertatih


...“Bi Parni” panggil Areta setengah berteriak dengan sisa tenaga yang ada, tapi yang dipanggil entah kemana...


...“Bi” panggil Areta lagi, sudah tak kuat melangkah ia akhirnya berjongkok, merasakan sakit yang teramat di bagian perut, peluh membasahi pelipisnya, yakin ada yang tak beres dengan kandungannya Areta memaksakan dirinya untuk bangun, hendak meminta pertolongan pada siapa saja, tangannya terulur ke atas untuk ia jadikan tumpuan...


“Prang” suara piring yang pecah persis di depan Areta mampu menarik perhatian Bi Parni yang baru saja masuk ke rumah, Bi Parni tergupuh masuk memburu ke arah suara


...“Ya Allah Bu, Ibu kenapa?” Tanya Bi Parni panik melihat Areta yang kini duduk melantai dengan wajah pucat, sementara tangannya memeluk perutnya sendiri, di sebelah Areta pecahan piring berceceran...


...“Bi, tolong saya, perut saya sakit banget” tutur Areta dengan wajah meringis, Bi Parni memburu berjongkok di depan Areta, tangannya terulur untuk membopong badan Areta, sayang badan Bi Parni yang kurus dan kecil jelas tak mampu mengangkat badan Areta yang lebih besar...


...“Bi, tolong Bi” rintih Areta lagi...


...“Iya.. Iya Bu, sebentar ya Bu, Bibi cari bantuan dulu” sahut Bi Parni panik, ia lalu bangkit berdiri dan berlari hendak menuju keluar, meminta tolong pada siapa saja yang kebetulan lewat, beruntung Bi Parni melihat sosok Rivandra yang baru saja pulang jogging berlari pelan mendekat le arahnya...


...“Pak, tolong Pak” pekik Bi Parni panik, Rivandra yang melihat wajah panik Bi Parni mempercepat larinya mendekati Bi Parni...


...“Ada apa Bi?” Tanya Rivandra khawatir ...


...“Tolongin Ibu di dapur Pak, katanya perutnya sakit banget” tutur Bi Parni sambil menunjuk ke dalam rumah, Rivandra bergegas lari masuk ke dalam rumah menuju dapur, Bi Parni mengekor dengan langkah yang tergesa...


...“Astaga Areta, kamu kenapa?” Tanya Rivandra panik melihat wajah pucat Areta yang berpeluh dan meringis menahan sakit...


...“Perutnya sakit banget Kak, tolong” ucap Areta dengan napas yang tersengal, Rivandra segera membopong tubuh Areta, membawanya menuju kamar...


...“Sabar ya, kalau sakit banget kamu boleh gigit tangan saya, atau mukul - mukul saya, atau maki - maki saya supaya sakitnya kamu berkurang” ucap Rivandra dengan suara gemetaran, pikirannya kalut, khawatir jika anak yang Areta kandung kenapa - kenapa, Areta tak menjawab hanya rintihannya yang terdengar...


Rivandra membaringkan pelan Areta, tangannya mengusap sebentar wajah Areta yang berpeluh


...“Sabar ya sayang” ucapnya lirih, tak tega melihat Areta yang kesakitan...


...“Bi, tolong telepon dokter Kartini, minta supaya dokter Kartini datang sekarang juga” titah Rivandra pada Bi Parni yang berdiri panik di samping Areta...


...“I-iya Pak” sahut Bi Parni lalu memacu langkahnya menuju meja telepon, Rivandra memang sengaja memasang telepon rumah, lalu menuliskan nomer - nomer penting untuk Bi Parni hubungi jika Areta membutuhkan sesuatu atau jika Areta kenapa - kenapa, ia sadar betul tidak bisa terus bersama Areta, ada kalanya ia harus pulang untuk bersama Mauren....


...“Areta, saya periksa kamu sebentar ya” ucap Rivandra, Areta mengangguk pasrah, ia sibuk menahan rasa sakitnya yang teramat...


Tangan Rivandra gemetaran menyingkap rok yang Areta pakai, lalu perlahan tangannya menurunkan ****** ***** Areta


...“Kak, mau ngapain?” Tanya Areta lemah, kepalanya ia angkat sedikit untuk melihat Rivandra yang kini menarik ****** ***** Areta hingga melorot ke bawah, ...


...“Kak, astaga! aku lagi kesakitan gini kamu bisa - bisanya nyari kesempatan?!” Sengit Areta sambil meringis menahan sakit, wajahnya berubah - ubah dari penuh amarah kemudian merintih menahan sakit...


...Rivandra tak hirau dengan ucapan Areta, fokusnya hanya untuk memastikan kekhawatirannya, Rivandra memejamkan matanya tatkala melihat darah di celana Areta yang mulai merembes membasahi roknya, ia seketika lemas, jantungnya memompa cepat, hati Rivandra merapal do’a - do’a berharap agar ia tak kehilangan anaknya...

__ADS_1


...“Kak, kenapa?” Tanya Areta penasaran melihat wajah Rivandra yang berubah sendu...


...“Kamu pendarahan Areta” sahut Rivandra lesu...


...“Maksudnya gimana Kak?” Tanya Areta semakin penasaran...


...“Areta, kita tunggu dokter Kartini ya untuk memastikannya” tutur Rivandra...


...“Aku keguguran ya Kak?” Tanya Areta lagi, bola matanya mengikuti setiap gerakan Rivandra mencari jawaban...


...“Semoga tidak Areta, saya ga mau kehilangan anak saya” tutur Rivandra lirih, tapi membuat tangis Areta pecah...


...“Enggak! Jangan tinggalin Mama Nak, jangan tinggalin Mama!” Rintih Areta sambil terisak, Rivandra memburu istrinya, memeluk untuk menenangkan...


...“Kita tunggu dokter Kartini ya, kita berdo’a saja semoga anak kita bisa bertahan disana” ucap Rivandra mencoba menenangkan Areta dalam pelukannya...


...“Aku ga mau kehilangan anakku Kak, aku ga mau” rintih Areta masih terisak, tangannya erat memeluk punggung Rivandra, lupa sudah ia akan kebencian dan kemarahannya pada laki - laki itu...


Rivandra menciumi dahi Areta


...“Iya saya tau, saya juga ga mau kehilangan anak saya, kita berdo’a semoga anak kita kuat ya” tutur Rivandra...


Tak lama Bi Parni merangsek masuk bersama dokter Kartini dan seorang perawatnya, dokter Kartini terhenyak kaget melihat Rivandra, ia kenal betul dengan dokter bedah terkenal itu, tapi yang ia tahu bukan Areta istrinya, sudah lah itu bukan urusannya, fokusnya hanya pada Areta dan bayinya sekarang


...“Ada keluhan apa dok?” Tanya dokter Kartini pada Rivandra...


...“Istri saya mengeluhkan sakit di bagian perutnya dok, dan tadi saya sudah cek, ada pendarahan” tutur Rivandra, ia seolah tak peduli jati dirinya sudah terbongkar, yang ia pikirkan sekarang hanya Areta dan anaknya...


...“Saya periksa dulu ya dok” ucap dokter Kartini, ia dan perawatnya lalu sigap memeriksa Areta dengan berbagai macam peralatan yang mereka bawa, sementara Rivandra setiap duduk disamping Areta, sambil menggenggam erat tangannya...


...“Sakit banget!” Rintih Areta, wajahnya sampai mendongak ke atas sementara tangannya meremas tangan Rivandra merasakan sakitnya saat dokter Kartini memeriksanya secara menyeluruh...


...“Sabar ya sayang, sabar” ucap Rivandra menenangkan istrinya...


Cukup lama dokter Kartini berkutat dengan alat pemeriksaannya, ia tampak sangat serius, sesekali ia menggeleng kemudian menyeka keringatnya, lalu kembali serius. Rivandra menunggu dengan hati yang berdebar, sesekali ia menciumi istrinya yang sedang merintih kesakitan.


...“Gimana dok, bukannya kemarin dokter bilang kandungan istri saya baik - baik saja ya dok?” Tanya Rivandra tak sabar...


...“Bu Areta terlalu stress dan terlalu banyak melakukan aktivitas, janinnya sih tidak apa - apa, tapi kandungannya yang lemah, sepertinya pada saat trimester pertama kurang istirahat dan terlalu banyak aktivitas dok” tutur dokter Kartini...


Diagnosanya memang betul semua, Areta jelas stress, kehamilan yang tak diinginkan, ketakutan jika status pernikahannya terbongkar, kekecewaannya pada Rivandra belum lagi penghinaan dari keluarga Mauren padanya. Soal aktivitas berlebihan pun itu betul semua, di awal kehamilan ia sering sekali membantu Mauren untuk membawakan barang belanjaannya yang tak sedikit jumlahnya, bahkan koper - koper besarnya untuk keperluan syuting.


...“Jadi janinnya bertahan dok?” Tanya Rivandra...


...“Alhamdulillah bertahan” sahut dokter Kartini, Rivandra mengucap syukur berulang - bulang, senyumnya kembali terbit...


...“tapi Bu Areta perlu istirahat total ya dok, nanti saya berikan vitamin penguat kandungan, dan tolong temani Bu Areta, kalau perlu cuti dulu dari semua kegiatan dokter untuk menemani Bu Areta, Bu Areta stress berat dok” jelas dokter Kartini, Rivandra mengangguk menyanggupi ...


... ...


Sepeninggal dokter Kartini, Rivandra tak sebentar pun meninggalkan Areta, ia memindahkan semua barangnya ke kamar Areta agar bisa melakukan semua aktivitasnya tanpa meninggalkan Areta


...“Makan dulu yuk” ucap Rivandra sambil menyendok makanan hendak menyuapi Areta...


...“Aku makan sendiri aja Kak, ga usah repot - repot” ucap Areta, sinis kembali...


...“Areta ayolah, bisa ga kita berdamai dulu? Saya hanya ingin merawat kamu dan anak kita, apa kamu ga denger apa kata dokter Kartini tadi? Kamu ga boleh stress, jadi please kita gencatan senjata dulu ya” bujuk Rivandra...


...“Gencatan senjata? Aku ga lagi ngajakin perang kok! terus ngapain harus berdamai?” Sengit Areta lagi, Rivandra memijit pelipisnya, di balik sifat penurutnya Areta ternyata ada jiwa pemberontak yang gigih ...


...“Astaga Areta, gimana kamu ga darah tinggi kalau marah - marah terus kayak gitu?” Keluh Rivandra, tak menyerah ia kembali menyendok makanannya lalu mengarahkan ke depan mulut Areta yang masih mengunci mulutnya...


...“Buka mulutnya Areta, bukan buat kamu aja, tapi buat anak kita, kamu mau anak kita kenapa - kenapa?” Mendengar itu Areta berpikir sebentar, lalu perlahan membuka mulutnya lebar - lebar, Rivandra seperti tahu persis cara membuat Areta berubah patuh...


...“Nah gitu dong, makan yang banyak ya” ucap Rivandra lega, ingin tertawa sebenarnya melihat wajah Areta yang seperti anak kucing kelaparan sekarang, menggemaskan ...


...“Iya tapi nyuapinnya pelan - pelan dong, niat nyuapin apa gelonggongin sih?” Omel Areta pada Rivandra yang tak berhenti menyuapinya tanpa jeda...


...“Ahahaha.. maaf maaf, saya terlalu bersemangat, aduh jadi belepotan gini ya?” Ujar Rivandra sambil mengusap dagu Areta yang belepotan...


...“Jangan nyari - nyari kesempatan Kak, kok senengnya dikit - dikit nyentuh sih?” Sewot Areta dengan mata mendelik tajam...

__ADS_1


...“Oke.. maaf maaf” Rivandra cengengesan, tapi kini tangannya mendarat di perut Areta...


...”Tuh bener nyari kesempatan lagi kan? Apaan sih?” Sengit Areta sambil menghalau tangan Rivandra...


...“Saya cuma mau megang anak saya Areta, apa kamu tega anak kamu kurang belaian Ayahnya? Bayi juga bisa stress Areta, makanya harus sering dielus dan diajak ngobrol sama Ayah dan Ibunya” tutur Rivandra sambil mendaratkan tangannya lagi di perut Areta...


...“Emang gitu Kak?” Tanya Areta, kemarahannya tadi mereda...


...“Saya kan dokter Areta, meskipun saya dokter bedah, tapi saya sedikit tahu tentang kandungan, kalau kamu ga percaya saya liatin artikelnya” ucap Rivandra lalu bangkit dari tempat tidur mengambil tablet tipisnya...


...“Baca ini, bener kan janin tiga bulan sudah mulai bisa mendengar, jadi harus sering - sering diajak ngobrol, di perdengarkan musik klasik, ngaji” tutur Rivandra sambil menunjukkan tabletnya pada Areta...


...“Oh iya ya” sahut Areta, matanya memindai baris per baris kalimat di artikel tersebut...


...“Mulai sekarang kita harus banyak baca artikel - artikel tentang kehamilan gini, nanti saya tinggalin tablet ini buat kamu, jadi kita bisa belajar bareng” ucap Rivandra...


Areta mengangguk - angguk, hampir kehilangan anaknya membuatnya ketakutan setengah mati, apa pun yang terjadi ia akan berbuat yang terbaik untuk mempertahankan anaknya


...****************...


Jika Rivandra dan Areta tengah sibuk belajar tentang kehamilan, maka Mauren tengah sibuk marah - marah, sudah dua malam ini Rivandra tak pulang ke rumah dengan alasan ada jadwal operasi malam, padahal menurut asisten Rivandra di rumah sakit tadi, semua tindakan operasi diserahkan Rivandra pada dokter bedah lain di rumah sakit itu, dan sekarang ponsel Rivandra tak bisa dihubungi, lantas kemana Rivandra pergi?


...“Mama beneran ga dapet info dari Kak Rivandra?” Tanya Mauren frustasi, tak biasanya Rivandra begini...


...“Ya ampun Mauren, untuk apa Mama bohong sama kamu? Mama juga bingung kenapa Rivandra tiba - tiba pergi tanpa alasan yang jelas gini” tutur Anna bingung...


Rossy yang sedang pulang ke rumahnya, hanya diam menyimak, ia bukannya tega pada Mauren, tapi Areta lebih membutuhkan Rivandra sekarang, tadi sore Rivandra menghubunginya dan mengabarkan kondisi Areta


Mauren berjalan mondar - mandir, ponselnya masih setia menempel di telinganya, setelah mendapati ponsel Rivandra tak juga aktif, ia duduk dengan frustasi


...“Apa mungkin Rivan selingkuh ya Ma?” Seloroh Mauren...


Anna terhenyak mendengar dugaan Mauren


...“Astaga Mauren, sebaiknya kamu jangan menyimpulkan dulu sebelum ada bukti yang kuat, lagian Mama yakin Rivandra tak akan melakukan hal serendah itu” tutur Anna...


Rossy hanya menghela napasnya


...“Lantas apa alasan seorang laki - laki berbohong pada istrinya terus supaya dia ga pulang - pulang Ma?” Cecar Mauren ...


...“Tunggu penjelasan Rivandra sampai dia pulang dulu Mauren!” Tandas Anna...


...“Sama siapa dia selingkuh Ma? Apa kurangnya aku?” Tanya Mauren mulai panik, air matanya berderai...


...“Mauren tenang dulu!” Tutur Anna sambil mengelus - elus punggung Mauren menenangkannya, tapi Mauren enggan mendengar, dia sibuk dengan pemikirannya sendiri...


...“Siapa perempuan pelakor itu Ma, siapa?!” Pekik Mauren lagi, paniknya semakin menjadi, ia memang paranoid, takut kehilangan Rivandra...


...“Haduh Mauren, sabar dulu, biar nanti Mama yang bicara sama Rivan, kamu tenang dulu, dia belum tentu selingkuh Mauren” tutur Anna histeris melihat menantunya yang jatuh melorot sambil terisak...


...“Wajar saja kalau Rivandra sampai selingkuh, punya istri kayak Mauren pasti melelahkan” sinis Oma yang baru saja datang bersama Julian...


...“Mama” gumam Julian mengingatkan, omongan Oma tentu semakin memperkeruh suasana...


...“Ma sudah lah, kasian Mauren” sewot Anna sambil mengipas - ngipas Mauren yang tangisnya semakin kencang...


...“Kalau mau akting di tivi aja, ga usah disini, aktingmu itu ga laku, jelek banget!” Sinis Oma semakin menjadi...


...“Ma, tolong lah” ucap Anna sambil mendelik tak senang pada Oma, sedang Oma cuma terkekeh bahagia melihat Mauren menderita...


...“Oma udah lah, kita ke kamar aja yuk” tutur Rossy, sambil mendorong kursi roda Oma menuju kamar, bukannya berhenti Oma malah bersenandung...


...“Maafkanlah.. karena aku cinta kau dan dia… “ senandung Oma, seiring dengan tangis Mauren yang semakin pecah, Anna menghela napasnya tak tahan pada kelakuan Oma, sedang Julian menggeleng - geleng, pusing dengan keributan yang tengah terjadi di rumahnya...


...“Maafkanlah.. ku tak bisa.. tinggalkan dirinya.. ahahaha” senandung Oma masih samar terdengar...


...“Udah, ga usah dengerin Oma, kamu kayak ga tau Oma aja, Mauren!” Ucap Anna lagi berusaha untuk meredakan tangisan menantunya...


...“Rivandra kemana Ma? Kemana dia?” Lirih Mauren di pelukan mertuanya...


...“Iya.. iya sabar dulu ya”...

__ADS_1


Anna menenangkan menantunya meskipun hatinya sendiri tak tenang, dimana anaknya sekarang? Kalau dipikir - pikir semenjak Areta pindah, Rivandra seolah tak betah di rumah, mungkinkah? Tidak - tidak, itu tak mungkin terjadi, batin Anna.


__ADS_2