Satu Suami Dua Istri

Satu Suami Dua Istri
Lembayung Senja


__ADS_3

...Rivandra membalas pelukan Areta dengan wajah berseri, “happy honeymoon sayang” ucapnya...


Areta mengurai pelukannya, wajahnya mendongak menatap Rivandra


...“Hah?” Tanyanya tak mengerti, sisa air mata di pipinya ia usap dengan tangannya...


...“oh, aku tau… ini rencana Kakak kan? Ya Tuhan, aku ga tau kalau Kakak ternyata punya bakat mengatur siasat!” Tuduh Areta sesaat setelah ia paham situasi yang terjadi...


...Pria itu malah tertawa, matanya sampai menyipit, “astaga Areta, kenapa berpikir begitu?” ...


...Areta berdecak kesal, “Kak Rivan kenapa nyari penyakit sih?” Sewot Areta...


...“Saya ga nyari penyakit, nyari bahagia justru” sahut Rivandra ringan...


...“Sudah lah, aku mau pulang aja” tandas Areta sambil beranjak meninggalkan Rivandra, pria itu sabar mengikuti Areta dari belakang...


...“Yakin mau pulang?” Tanya Rivandra...


...“Iya, mau pulang, dibanding nanti aku jadi mangsa macan betina lagi” sahut Areta yang membuat Rivandra terkekeh geli...


Areta mantap menuju konter salah satu airline, bertanya tentang tiket kepulangan, matanya membulat tatkala mendengar harga tiket kepulangannya, wajahnya lesu mengingat ia hanya memiliki uang dua lembar seratus ribuan, sialnya ia tak membawa kartu ATM yang Rivandra berikan padanya, kalau minta Rivandra menambah uang untuk tiket kepulangannya jelas tak mungkin, pria itu memang menginginkan mereka bulan madu di kota itu.


...“Ga jadi pulang?” Goda Rivandra yang masih setia mengekorinya...


...“Jadi! nunggu tiket pesawat harganya jadi dua ratus ribuan!” tandas Areta kesal...


Rivandra tertawa keras, wanita ini selalu saja bisa membuatnya terhibur meskipun dia sedang marah, menggemaskan memang


...“Ikut saya yuk” ucap Rivandra sambil menggandeng tangan Areta, kaki mereka kini berjalan beriringan, mantap keluar dari bandara...


...“Itu jemputannya!” tunjuk Rivandra pada sebuah mobil Range Rover Velar, diluar mobil seorang Bapak mengacungkan papan bertuliskan Mr. & Mrs. Rivandra...


...Areta membaca berulang - ulang titel namanya di papan itu “Nyonya Rivandra” gumamnya dengan pipi bersemu malu, bangga rasanya menyandang status itu, biarlah tak sadar diri sebentar, mungkin di kota itu tak ada yang mengetahui statusnya yang hanya Nyonya gelap...


...“Mau bengong berapa lama lagi kira - kira? Saya sih kuat nungguin, tapi kayaknya Pak sopirnya udah capek, tuh udah nguap - nguap terus dari tadi” tohok Rivandra pada Areta yang tak bergeming...


...“Kita mau kemana Kak?” Tanya Areta...


...“Mau ke villa di daerah Uluwatu, kamu pasti suka sama villanya, pemandangannya bagus banget” sahut Rivandra, Areta manut ketika Rivandra memintanya masuk ke dalam mobil, di mobil mereka berdua duduk di kursi belakang, tangan Rivandra tak lepas menggenggam tangan Areta, Areta bahkan sulit melepas tangannya yang sudah pegal...


...“Kakak bukannya ke Singapore? Kenapa tiba - tiba ada disini?” Tanya Areta, masih belum bersahabat, kekhawatirannya jika Mauren sampai mengetahui mereka ternyata mereka bersama di Bali menghantuinya...


...“Tadi pagi saya memang berangkat, habis itu ngisi seminar satu jam disana, terus langsung kesini deh nyusulin kamu” sahut Rivandra...


Areta menghela kasar napasnya


...“Kakak memposisikan aku jadi serba sulit” lirihnya, wajahnya menyamping, lebih memilih menikmati pemandangan sepanjang jalan...


Rivandra menoleh pada Areta,

__ADS_1


...“Areta” panggilnya, tangannya membawa wajah Areta untuk memandangnya...


...“Sekarang pikirkan diri kamu sendiri dan anak kita, ga perlu mikirin siapa pun, kamu terlalu lama mikirin perasaan orang lain, apa kamu ga capek? Sekarang nikmati hidupmu, hak kamu dan anakmu!” Tutur Rivandra meyakinkan...


Omongan Rivandra memang ada benarnya, sedikit mengurangi kekhawatiran Areta, tapi bukannya itu hanya untuk sementara? Selama mereka beberapa hari saja disana, setelah itu ia kembali harus menghadapi kebengisan Mauren, apalagi kalau Mauren sampai tahu Rivandra menyusulnya ke Bali, entah akan seberapa murkanya Mauren


Areta tak berhenti - hentinya ber’wow’ ria melihat pemandangan sepanjang jalan menuju villa yang Rivandra telah pesan, khawatirnya menguap sebentar, berganti perasaan senang, apalagi sepanjang jalan Rivandra terus saja merangkulnya, kadang menciumi pucuk rambut Areta, dan sesekali menggigit gemas jari istrinya itu


Kekaguman Areta bertambah tatkala mereka sampai di villa yang di tuju, villa dengan pemandangan laut lepas, lengkap dengan kolam renang di depan kamar, dan jacuzzi di dalam kamarnya. Rivandra benar - benar ingin memanjakan Areta


...Areta masih saja melongo sambil memindai sekeliling kamar, “Ini kamar buat aku, Kak?” Tanya Areta tak percaya...


...“Bukan, buat Pak sopir tadi!” Sahut Rivandra asal...


...“Hah?” Tanya Areta, kesadarannya masih mengawang, terbawa kekaguman pemandangan dan kamar yang akan ia tempati, baru pertama kalinya ia dibawa ke tempat seindah itu, saat di Lombok bersama keluarga besar Rivandra, kamarnya bahkan tak sebagus kamarnya sekarang...


...“Ini kamar buat kamu dan saya Areta, tolong garis bawahi.. kamar buat kita!” tandas Rivandra pada Areta yang sepertinya bahkan tak mendengarkan omongan Rivandra, ia sibuk memanjakan matanya menatap lembayung senja di atas hamparan air laut...


...Rivandra tersenyum begitu menyadari jika Areta dalam mode terpesona, di depannya wanita cantik itu berdiri dengan tangan bertopang pada besi pembatas pagar balkon yang terbuat dari kaca, entah mana yang lebih cantik, Areta atau sunset yang menjadi primadona di pulau itu...


Ingin mendapat perhatian juga, Rivandra maju mendekati Areta dan berdiri bersisi - sian dengan wanitanya itu


...“Saya udah lama pengen ngajak kamu kesini, semenjak temen - temen bilang kalau ini tempat honeymoon terbaik di Bali, lokasinya juga cocok buat refreshing soalnya agak jauh dari pusat wisata utama, bisa dibilang ini private villa lah” tutur Rivandra...


Areta tak puasnya mengedarkan pandangan ke sekeliling yang bisa dijangkau matanya


...“Bagus banget” gumamnya dengan wajah berseri saat menatap laut lepas yang warnanya kini bersemu jingga, refleksi dari matahari yang nyaris tenggelam, dari balkonnya semuanya seolah tanpa batas, seperti yang saat ini ia lakukan, menerobos batas yang sudah berhari - hari ia ciptakan sendiri, wanita itu mulai membiarkan saja saat Rivandra memeluknya dari belakang...


Areta mengangguk, tangannya menumpu tangan Rivandra yang melingkar di perutnya


...“Meskipun menggunakan politik kotor, harus aku akui kalau Kakak punya selera yang bagus” tohok Areta...


...“Politik kotor? Astaga Areta, itu namanya memanfaatkan kesempatan” sahut Rivandra...


...“Apa bukan politik kotor namanya kalau Kakak membuat seorang Ibu hamil yang ga punya uang ditinggalkan oleh mertua dan Kakak iparnya sendirian di bandara?” Tandas Areta lagi, masih mendendam kejadian tadi saat di bandara ketika ia seperti seekor anak ayam yang terpisah dari induknya...


Rivandra tergelak, ia makin gemas, bibirnya refleks menciumi leher jenjang Areta, setelah itu pelan membalik badan istrinya, membuat mereka kini berhadapan


...“Hampir saja tadi aku diculik bule, dia nawarin buat nginep di villanya, ganteng sih tapi ngeliat tatonya aku takut, gimana kalau aku malah di apa - apain, dijual, atau dijadiin kurir narkoba coba” ...


...“Bule yang pake kaus warna putih yang ada tulisan Bali’nya kan?” Tanya Rivandra...


...“Kakak tau?” Tanya Areta terperangah...


...“Saya cegat bulenya pas dia mau beliin minum buat kamu, saya bilang dia udah ganggu istri saya, saya suruh dia pergi sebelum saya laporin ke polisi” sahut Rivandra sambil tergelak...


Kening Areta mengkerut bingung


...“Berarti Kak Rivan juga tadi liat pas aku disamperin Om - Om botak?” Tanya Areta...

__ADS_1


...“Parah sih kalau Bapak itu, padahal istrinya lagi nungguin di restoran sama anaknya yang seumuran kamu loh, eh masih aja usaha deketin kamu” ucap Rivandra ...


Areta mendelik, “Berarti Kakak udah lama liatin aku di bandara?” Sewot Areta


...“Saya udah disitu dari saat teleponan sama Mama” sahut Rivandra sambil cengengesan...


...Wanita hamil itu berkacak pinggang, “Tega ya bikin aku kelimpungan kayak anak ayam nyasar tadi!” Ucapnya sambil memburu Rivandra dengan tangannya, menggelitik di titik geli, laki - laki itu bergeming, terlihat mengkerutkan diri sambil tergelak ...


...“Ampun sayang, ahahahaha.. ampun” ucapnya tak berdaya pada serangan Areta...


Adegan gelitikan - gelitikan itu tak berlangsung lama, karena Rivandra menarik tangan Areta dan membawa ke pelukannya, jantungnya berdebar tatkala wanita itu dalam rengkuhannya, kini keduanya sama - sama menikmati senja, semilir angin membuat sejoli yang senyumnya merekah itu makin terbawa suasana, syahdu.


...****************...


Di tempat lain, Adrian masih berusaha sabar ketika Mauren tak juga mengangkat panggilannya, sudah berhari - hari artis besutannya itu tak juga bisa dihubungi, padahal sang sutradara film tak lagi hanya memarahi Adrian, ancaman mengganti kerugian dalam jumlah besar pun ia terima karena Mauren absen dalam proses shooting yang sudah di tanda tanganinya di kontrak


...“Rian” sapa Mauren sambil mendudukkan dirinya di samping managernya itu...


Adrian yang tengah menyesap kopinya nyaris tersedak melihat Mauren yang entah muncul darimana, laki - laki kekar itu menatap malas Mauren sebentar, sebelum kemudian ia menyalakan rokok dan menghisapnya


...“Kau harusnya datang lebih cepat Maurren, beberapa hari yang lalu! bukan sekarang saat aku udah nerima semua cacian dan makian dari kru film! Kau pikir hanya kau satu - satunya artis di negara ini Mauren? Kalau kelakuan kau seperti ini, aku jamin dalam hitungan bulan karir kau hancur!” Semprot Adrian bertubi - tubi, wajahnya terlihat sangat kesal...


...“Aku lagi banyak masalah, Rian” sahut Mauren lesu...


...“Hah, kau pikir hanya kau yang punya masalah Mauren? Lagian masalah apa yang kau hadapi, kalau cuma masalah suami kau yang pulang tengah malam atau nolak untuk bercinta, itu ga seberapa dibanding dengan aku yang harus berhadapan dengan amukan sutradara, belum lagi bos Dave yang ngamuk, bukan hanya karirmu yang terancam raib Mauren, kredibilitasku juga!” Pria itu bukan lagi kesal, ia mengeluarkan semua unek - uneknya bersamaan dengan asap rokok yang membumbung tinggi, bisa dikatakan ia frustasi...


...“Rivandra udah tau semua, Rian” tutur Mauren lirih...


...Adrian terpancing, ia menjejalkan rokok yang masih setengah batang itu di asbak “Apa maksud kamu Mauren?” Tanya Adrian...


...“Kalau aku pernah punya anak tapi diaborsi” sahut Mauren dengan mata menerawang...


...Adrian mendadak panik, wajahnya berubah pucat, “Bagaimana bisa Mauren? Dan apa kamu bilang juga siapa Ayah bayi yang pernah kamu kandung?” ...


...“Kamu pikir aku bodoh apa, Rian?! Kalau Rivandra sampai tau siapa pelakunya, bisa selesai semuanya!” Sahut Mauren lemas, Adrian menarik kursinya lebih dekat pada Mauren, mimik wajahnya berubah serius...


...“Lantas apa yang kamu ceritain sama suami kamu Mauren?” Tanya Adrian penasaran...


Mauren menghela napasnya, “untungnya dia dan keluarganya percaya saat aku bilang kalau aku diperkosa dua tahun yang lalu” ucap Mauren membuat Adrian menghembuskan lega napasnya


...“Bagus Mauren, jangan nyampe ada yang tau apa yang sebenarnya terjadi, tutup rapat - rapat! bukan hanya kamu yang akan hancur, aku juga! Kamu bisa bayangin kan gimana kira - kira reaksi keluarga mertua kamu kalau nyampe mereka tau, bisa ancur semuanya Mauren, ancur!!” Cerocos Adrian kembali panik...


...Mauren mendelik tajam, “Cuma itu yang kamu pikirin Adrian? Bangsat kamu! gara - gara kamu maksa aku untuk mempertahankan hubungan dengan laki - laki itu, aku terpaksa aborsi, rahimku rusak! Kamu tau Adrian, aku ga bisa punya anak!” Sengit Mauren berapi - api...


...Adrian tergagap, “K-kamu ga bisa punya anak, Mauren?” ...


...“Iya, aku ga bisa punya anak! Dan kamu tau si Areta sepupu sialanku itu? Dia yang sekarang lagi hamil anak Rivandra, Rian!” Tutur Mauren dengan mata berkaca - kaca, nyaris terisak...


...“Areta? Sepupu yang numpang tinggal di rumah kamu itu? Kok bisa?” Tanya Adrian tak mengerti...

__ADS_1


Mauren menarik napas sebelum menceritakan semuanya pada Adrian, pria itu hanya bisa terperangah, semua cerita Mauren seolah tak masuk nalar, tapi nyatanya itulah yang sedang dihadapi perempuan cantik itu.


__ADS_2