
...“Sayang, sini balikin kunci mobilnya!” titah Rivandra pada istrinya...
...“Kak, please sekali ini aja aku nyetir sendiri ya, aku kan udah lancar nyetirnya, udah punya SIM juga!” Rengek Areta pada suaminya...
...Rivandra menggeleng mantap, untuk kesekian kalinya ia menolak keinginan istrinya itu, “balikin kunci mobilnya, sayang!” Tandas Rivandra ...
Kali ini Areta nekad menentang suaminya, ia lari keluar kamar dengan membawa kunci mobil yang Rivandra belikan untuknya, Rivandra terkekeh melihat kelakuan Areta, pria itu kemudian berjalan santai mengekori istrinya
Areta merangsek duduk di tengah - tengah antara Rossy dan Anna di sofa ruang tamu sengaja untuk meminta perlindungan, tak lama Rivandra datang, senyumnya terbit melihat Areta yang panik memasukkan kunci mobil ke dalam saku bajunya
...“Sayang, ayo balikin kunci mobilnya!” Titah Rivandra sambil menjulurkan tangannya...
...“Pagi - pagi gini sibuk berebut apaan sih Rivan?” Tanya Anna penasaran sambil me nyesap tehnya, hari ini keluarganya dan keluarga Amel sarapan bersama sekaligus membicarakan persiapan acara pernikahan April dan Raja...
...“Kunci mobil Ma, Areta pengen nyetir sendiri, please Ma bilangin sama Kak Rivan, nyetirnya ga jauh - jauh kok cuma ke supermarket doang” rayu Areta pada mertuanya...
Anna menoleh pada Rivandra yang berdiri di depan Areta, tangannya masih terulur kukuh meminta kunci mobilnya
...“Loh, apa salahnya kalau Areta nyetir sendiri sih Rivan? Toh nyetirnya udah lancar banget, dia juga udah punya SIM kan?!” bela Anna...
...“Ma, apa Mama ga khawatir kalau Areta nyetir sendiri? Kalau ada orang jahat yang tau di nyetir sendiri terus dia diikutin terus diculik gimana? Kalau dia kenapa - kenapa dijalan gimana?” Sanggah Rivandra, Pandu, Amel, dan Radit menahan tawa mendengar omongan Rivandra, mereka sih paham kenapa Rivandra tak mengizinkan Areta menyetir sendiri apalagi kalau bukan karena sikap posesifnya ...
...“Astaga Rivan! Pikiran kamu terlalu jauh! Apa Areta anak kecil yang ga bisa jaga dirinya sendiri?” Kali ini Rossy yang angkat bicara...
...“Tuh dengerin Kak Rivan! Kak Rossy aja dibolehin kok nyetir sendiri sama Mas Pandu” sahut Areta mencoba meyakinkan Rivandra kembali...
...“Areta, jangan nyama - nyamain diri kamu sama Kak Rossy! jangankan nyetir sendiri, kalau diizinin sama Papa dia mungkin udah bangun rumah sendiri kali, ngaduk semen sendiri, pasang genteng sendiri, apa kamu ga liat jiwanya yang sangat perkasa itu?” Sindir Rivandra pada kakaknya...
Buuuggg..
Satu bantal sofa melayang ke arah Rivandra, Rossy sang pelaku pelemparan tergelak saat melihat wajah Rivandra yang tampan meringis kesakitan
...“Kalau Rivandra ga ngizinin, kasih aja kuncinya Areta, kamu kan bisa pake mobil Mama” ucap Anna semakin mendukung menantunya, Rivandra mendengus kesal mendengar keberpihakan Anna pada Areta...
...“Pake mobil Papa juga boleh kok!” Tambah Julian yang semakin membuat Rivandra kesal...
...“Posesifnya kamu itu loh Rivan, udah akut parah!” Ucap Oma...
...“Semakin ga jelas saja status saya di rumah ini, ini siapa yang anak dan siapa yang menantu sih? Kenapa ga ada yang dukung saya?” gumam Rivandra ...
...“Berikan kebebasan pada istrimu itu Rivan, Areta juga butuh aktualisasi! tenang aja dia ga akan kabur ninggalin kamu kok!” Tambah Oma...
...“Tuh dengerin Kak!” Ucap Areta senang karena merasa semua orang mendukungnya...
...“Tetep ga boleh Areta, apa kamu ga kasian sama Pak Anwar? Kalau kamu nyetir sendiri terus tugasnya sebagai sopir pribadi kamu apa?” Tutur Rivandra bersikukuh, Areta menghela napasnya mendapati suaminya yang masih saja keras kepala...
__ADS_1
...“Areta, Nak.. ayo kasih kuncinya sama suami kamu! Nak Rivandra niatnya baik, pengen jagain kamu supaya kamu ga kenapa - kenapa di jalan!” Titah Amel lembut...
...Rivandra tersenyum penuh kemenangan, “Tuh dengerin apa kata Ibunya, kamu harus nurut sayang!” Tandas Rivandra, Areta tak bisa berkutik sih kalau Mama Amel sudah angkat suara, Areta memang sangat menghormati dan menyayangi Ibu angkatnya itu, menempatkannya menjadi Ibu yang selama hidupnya belum pernah ia temui...
Perlahan Areta mengeluarkan kunci mobil dari saku bajunya, meski dengan bibir manyun ia lalu menyerahkan kunci mobil itu pada Rivandra, seolah baru saja mendapat kemenangan besar, senyum Rivandra begitu lebar diiringi protes Rossy dan Oma
...Baru saja Areta hendak merajuk, Bi Jum gupuh mendekati Areta, “Maaf Nyonya, ada telepon” ucap Bi Jum ...
...Areta mengerutkan keningnya, “siapa Bi?” Tanya Areta...
...“Anu Nya, Tuan Fabian” sahut Bi Jum tak nyaman sambil melirik pada Rivandra ...
Suasana seketika hening, semuanya menatap pada Areta, penasaran ada apa tiba - tiba Fabian menghubunginya setelah bertahun - tahun hilang tanpa kabar, mereka lalu kompak menoleh pada Rivandra ingin tahu apa reaksinya, raut wajah Rivandra yang tadinya bahagia perlahan berubah penuh tanya
...“Kak Fabian, Bi?” Tanya Areta meyakinkan jika dirinya tak salah dengar...
...“Iya Nya” sahut Bi Jum dengan anggukan...
...“Kak” ucap Areta pada Rivandra meminta izin untuk menjawab panggilan dari sepupunya itu, Rivandra mengangguk cepat, ia pun penasaran apa yang ingin disampaikan Fabian...
Areta melangkah tergesa menuju ruang tengah tempat dimana telepon rumah berada, Areta antusias mengangkat gagang telepon, ada rasa rindu pada sepupunya itu yang telah lama tak menghubunginya
...“Halo Kak, Kak Fabian?” Sapa Areta sumringah, namun beberapa saat kemudian wajah Areta berubah kaget, matanya membola, air mata berlomba merembes di pelupuk matanya, Areta limbung lalu terduduk di kursi sebelah meja telepon, gagang telepon terlepas begitu saja dari tangannya yang kini sibuk mengelus - elus dadanya yang terasa sakit dan sesak...
Melihat gagang telepon yang masih tergantung, Rivandra sigap meraihnya dan meletakkan di telinganya, bersyukur ternyata Fabian belum memutus teleponnya
...Wajah Rivandra berubah sendu, ia menghela napasnya untuk menguat - nguatkan dirinya, “Saya akan mengurus segala sesuatunya disini, saya juga akan menghubungi kenalan saya disana agar mempermudah semua proses administrasinya, kamu harus kuat Fabian, segera hubungi saya jika ada kendala apa pun” tutur Rivandra, ia lalu mengakhiri pembicaraan dengan Fabian lalu memburu memeluk istrinya yang sedang terisak...
Mendung menggelayut menjadi penghantar berita duka yang disampaikan oleh Fabian pagi itu, rintik hujan turun bersamaan dengan air mata yang jatuh karena kepergian orang yang begitu mereka kenal
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hanya selang beberapa jam saja, siang ini rombongan keluarga Julian telah berada di bandara untuk menunggu kedatangan jet pribadi milik mereka yang mengangkut julian dan jenazah Mauren, hati mereka luluh lantak tatkala melihat Fabian yang turun dengan wajah sendu penuh duka, kemeja hitam tampak kontras dengan wajahnya yang putih pucat dan mata yang merah sembab
Bibirnya bergetar dan tangisnya pecah tatkala Rivandra memeluk dan menenangkannya, suaranya lirih meminta maaf atas nama almarhumah Mauren, lalu matanya pilu menatap Areta yang berdiri dengan tangis sedu sedan, ingin ia memeluk wanita yang masih dicintainya itu untuk menghilangkan sesak di dada yang menghantam dada dengan hebatnya, ingin ia berkata bahwa ia sedang hancur sehancur hancurnya sekarang
Tak ada kata yang terucap lagi dari semuanya setelah itu, meski sejuta pertanyaan muncul mengenai penyebab kepergian Mauren yang begitu tiba - tiba tapi semuanya menahan rasa, menghormati lara yang sedang di emban Fabian. Suara gema ambulance membahana memecah jalan sepanjang bandara menuju kediaman Julian, tempat almarhumah akan disemayamkan lalu di sholatkan sebelum kemudian akan diantarkan menuju tempat istirahat terakhirnya.
Hati mana yang tak sakit melihat seorang kakak yang memandangi nanar jenazah adik kandungnya sendiri, dunia saat ini sedang runtuh untuknya, tak ia hiraukan siapa pun yang menguatkan dan menyabar - nyabarkannya saat jenazah perlahan diturunkan ke liang lahat, inginnya ia menangis sekencang - kencangnya sekarang, apalagi tatkala melihat kedatangan kedua orang tuanya dengan borgol di tangan mereka, sembilu seolah sedang menyayat hatinya perlahan namun perih menyakitkan ketika sang Ibu menjerit histeris
...“Istirahatlah Mauren, kamu ga akan ngerasa sakit lagi sekarang, kamu juga ga akan mendengar cemoohan atau caci maki tentang masa lalu kamu lagi, Kakak akan berjuang disini melawan semua sakit karena kamu tinggalkan, maafkan Kakak yang gagal menjaga kamu” ucap Fabian lirih ...
...“Ikhlaskan Fabian” ucap Rivandra dengan suara gemetaran sambil menepuk - nepuk bahu ringkih Fabian saat Fabian mulai menangis lagi sambil mengelus - elus nisan adiknya...
...“Saya gagal, saya gagal menjaganya, saya gagal mengobatinya, saya gagal membuatnya bahagia” tutur Fabian terbata dan lirih membuat semua yang hadir tertunduk pilu, Areta apalagi tak sebentar pun air mata kering di pipinya, dari mulai ia melihat peti jenazah Mauren di bandara, hingga Mauren selesai dikubur tadi air matanya jatuh berderai tanpa di komando...
__ADS_1
...“Tolong maafkan adik saya, di saat - saat terakhir ia berjuang melawan kanker rahimnya hanya nama kamu dan Areta yang selalu ia sebut, besar keinginannya untuk menemui kamu dan Areta, tapi ia tak punya cukup keberanian dan waktu” tutur Fabian, mendengar itu Rivandra tak mampu menyahut, seluruh kata - katanya seolah tercekat di tenggorokannya tak mampu ia keluarkan...
Areta luruh dalam pelukan Rossy, mendengar omongan Fabian membuatnya mengingat kembali semua tentang Mauren, terlepas dari apa pun yang pernah terjadi antara mereka, Mauren pernah menjadi orang yang menyayangi Areta dengan tulus, kepergiannya yang tiba - tiba membuat perasaan bersalah mencuat di hati Areta, seharusnya ia berdamai saja dengan Mauren, seharusnya ia mencari tahu keberadaan Mauren dan Fabian saat bertahun - tahun mereka hilang ditelan bumi, penyesalan dan penyesalan muncul menyiksa dan menyakitkan.
Satu per satu handai taulan yang menghadiri pemakaman Mauren undur diri, orang tua Fabian yang masih dalam masa penahanan pun harus kuat meninggalkan kuburan anaknya dan Fabian yang tak sepatah kata pun berucap pada mereka, tak pernah ia melihat duka sebesar itu di wajah putra mereka itu.
Hujan kembali turun perlahan, meskipun telah menolak dan memilih untuk tinggal di hotel tapi keluarga Julian tak mengizinkan Fabian untuk sendirian dalam kondisi seperti ini, kasih sayang dan rasa prihatin pada pria itu membuat mereka meyakinkan agar Fabian sementara waktu tinggal bersama mereka, kebersamaan keluarga siapa tahu bisa sedikit mengurai duka yang sedang dirasakan Fabian
...****************...
Malam menjelma ketika Fabian duduk termenung di halaman belakang rumah Julian, masih dengan ekspresi yang sama, kesedihan dan kepedihan sarat di wajahnya
...Oma Mieke yang menyusul Fabian menatap prihatin pria ringkih itu, “Kamu belum makan, Fabian” ...
...Fabian menoleh sebentar lalu sibuk menghapus air matanya yang lolos entah sejak kapan, “saya ga laper Oma, terima kasih” ucapnya ...
...“Jangan membuat diri kamu sendiri sakit Nak, percayalah Mauren ga akan mau melihat kamu seperti ini” tutur Oma ...
...Fabian menatap kosong langit malam yang menghitam, “maaf saya dan Mauren sudah merepotkan keluarga Oma, saat Mauren meninggal di Singapore tadi pagi saya bingung harus membawanya kemana, hanya nama Areta yang terbayang di benak saya” ...
...“Kenapa kamu bicara seolah kami bukan keluarga kamu Nak? Kamu cucu Oma juga” tutur Oma lembut...
Fabian mengusap lagi air matanya, rasa hangat menyelimuti hatinya yang dingin dan perih
...“Kenapa kamu ga cerita kalau Mauren sakit, Nak?” Selidik Oma...
...Fabian menghela berat napasnya, “saya juga terlambat tau, Oma. Selama ini dia tidak pernah mengeluh akan sakitnya, hingga 3 bulan lalu dia mengalami pendarahan hebat dan dokter mendiagnosa kankernya yang sudah stadium akhir” tutur Fabian pilu mengenang masa - masa Mauren berjuang melawan sakitnya...
...Air mata Oma menetes, sakit menyerang hatinya sekarang, sisi baik Mauren berlomba muncul di ingatan Oma, “Oma belum sempat mengucap kata maaf untuknya” ucap Oma lirih...
...“Percayalah dia sudah memaafkan apa pun yang terjadi pada dirinya Oma, semoga semua keluarga Oma terutama Rivandra dan Areta pun mau memaafkannya” sahut Fabian...
...Oma mengusap lengan Fabian, “Sudah ga ada ada lagi rasa dendam, marah, atau apa pun itu di hati kami semua untuk Mauren, masa lalu cukup dijadikan pelajaran, dendam hanya akan membunuh hati nurani kita pelan - pelan”...
Tak lama Areta datang, tangannya penuh membawa nampan berisi sepiring nasi goreng masakannya sendiri, kesukaan Fabian dulu, dan segelas jus
...“Makan dulu Kak, dari pagi Kak Fabian belum makan kan?” Tutur Areta...
Fabian menatap rindu wanita yang kini menata makanan di depannya, keinginan untuk memeluk dan mencurahkan semua sakitnya semakin membuncah, tapi ia sadar diri, Areta telah sepenuhnya dimiliki Rivandra, tak mungkin ia jangkau lagi, kini ia hanya bisa tertunduk meresapi sakit yang menggelayut di hatinya
...“Fabian, kamu harus makan Nak! Lihat ada nasi goreng yang Areta masak khusus buat kamu, kata Areta tadi itu masakan Areta kesukaan kamu dulu kan?” Titah Oma ...
Fabian menatap sepiring nasi goreng yang masih mengepul itu, perlahan tangan pria tampan itu meraih piringnya, menyendok nasi goreng dan memaksa mulutnya untuk membuka, satu suapan nasi goreng ia santap sekarang, rasa yang sama yang pernah ia rasakan beberapa tahun yang lalu saat Areta pernah membuatkannya nasi goreng berbumbu cinta, perasaan sakit itu menelusup kembali ke dalam relung hatinya, kehilangan cinta sejatinya dan kehilangan adik tercintanya, tak sanggup ia teruskan untuk menyantap nasi goreng itu, air mata kembali tumpah, bahkan Fabian kini menangis sesenggukan di pelukan Oma, Areta paham, ia diam dalam dukanya, namun tak lama Rivandra datang memeluknya dari belakang, membuat dirinya menjadi sandaran untuk kesedihan yang sedang melanda Areta
...“Selamat jalan, Mauren” ucap Rivandra sendu dalam hatinya...
__ADS_1