
...“Bisa kamu ceritain siapa yang merkosa kamu?” Tanya Rivandra pada Mauren, saking penasarannya Rivandra sampai menyusul ke rumah orang tua Mauren...
Tangis Mauren yang tadi sudah mereda meledak kembali, ia memeluk Rivandra, menumpahkan semua air matanya di dada bidang Rivandra, membasahi kaos polo yang melekat di badan kekar suaminya
...“Maafin aku sayang, maaf karena aku ga ceritain dari dulu sama kamu soal pemerkosaan yang menimpa aku” tutur Mauren sambil terisak ...
Tangan Rivandra masih tergantung, ia ragu membalas pelukan Mauren, entah kenapa
...“Ceritain sama saya sejujur - jujurnya Mauren, siapa pelakunya? Dan kenapa kamu ga melaporkannya pada polisi?” Tanya Rivandra ...
...“Tolong jangan tanyain siapa pelakunya Rivan, aku trauma! Dan pada saat itu aku ga mungkin ngelaporin ke polisi Rivan, karirku baru menanjak, kasus itu akan jadi aib yang menenggelamkan karirku” Tutur Mauren...
...“Lantas kenapa kamu ga cerita sama saya Mauren?” Tanya Rivandra lagi...
...“Karena aku ga mau kehilangan kamu Rivan, aku malu karena aku udah ternoda, apalagi setelah itu aku hamil! ucap Mauren lagi dengan tangis sedu sedan...
...“Apa kamu pikir saya akan meninggalkan orang yang saya cintai karena musibah yang menimpanya Mauren? Apa kamu pikir saya sepicik itu?” Tanya Rivandra ...
Mauren mendongak, matanya yang sedikit blur karena air mata yang tak kunjung berhenti ia usap sebentar, kini tatapannya memelas mengharap rasa kasih Rivandra
...“Jadi kamu masih mau nerima aku Rivan? Bahkan setelah kamu tau aku pernah aborsi dan ga bisa punya anak?” Tanya Mauren lirih...
Meskipun hatinya hancur karena fakta yang disembunyikan oleh Mauren padanya, tapi Rivandra tak tega melihat ketidak berdayaan Mauren sekarang
...“Kamu istirahat ya, untuk beberapa hari ini kamu istirahat aja dulu disini, saya tau pasti kamu masih ngerasa ga nyaman dan canggung untuk bertemu dengan keluarga saya setelah kejadian tadi, besok saya datang lagi kesini nemuin kamu” tutur Rivandra, tangannya mengusap sisa air mata di pipi Mauren...
Mauren merengut
...“Apa kamu mau nemuin Areta, Rivan?” Tanyanya lirih...
Rivandra menimbang sebentar sebelum mengangguk pelan
...“Dia sedang mengandung anak saya Mauren, dia pasti stress karena kejadian tadi” tutur Rivandra...
Wajah Mauren menggelap
...“Iya Rivan, kasian dia, tadi Mama sama Papa mojokin dia banget, sampaikan juga permintaan maafku untuk Areta, aku tau dia ga salah Rivan, dia dan kamu hanya terjebak situasi, tolong temenin dia ya Rivan” bibir Mauren bergetar, setiap kata yang ia ucapkan ibarat pecahan kaca yang menyayat hatinya, ...
Rivandra menggangguk, tangannya membelai rambut Mauren, tapi sekarang belaian karena rasa iba, bukan karena sayang
...“Rivan, setelah kalian bercerai nanti, aku pengen kita yang ngerawat anak kalian, aku janji Rivan meskipun dia ga lahir dari rahim aku, tapi aku akan menyayangi dia seperti anakku sendiri, dengan begitu Areta juga bisa punya kehidupan baru tanpa masa lalunya, Rivan” tutur Mauren penuh harap...
...“Saya pergi dulu ya, kamu istirahat” ucap Rivandra enggan membahas perceraiannya dengan Areta, tangan Mauren di genggamnya sebentar sebelum kemudian ia beranjak keluar dari kamar Mauren ...
...****************...
Areta menatap kosong segelas susu hamil yang baru saja dibuatkan oleh Bi Parni, susu yang ia belum sempat minum hari ini setelah insiden sidang panjang dan alot yang menimpanya tadi, ia bahkan baru saja sampai di rumahnya setelah bersikukuh untuk pulang meskipun Anna, Julian, Rossy, dan Oma memintanya untuk menginap, rasa canggung dan sakit hati yang teramat dahsyat membuatnya merasa lebih nyaman jika sendiri.
Hati siapa yang tak ngilu mendapat penghinaan bertubi - tubi seperti yang dilakukan oleh Susan dan Dani padanya tadi, setiap kata - kata makian yang terlontar dari bibir keduanya lengkap dengan toyoran - toyoran di kepala Areta serta bonus nyaris di tampar oleh Susan dan Mauren tadi tak bisa Areta lupakan sedikit pun.
Seandainya ia punya Ayah yang bisa diakui dan mengakuinya, mungkin keadaannya akan lain, ia dengan gampangnya diinjak dan dilecehkan seperti itu karena ia tak punya sosok Ayah yang melindunginya, seperti Julian yang melindungi Rossy dan Rivandra, atau seperti Dani yang membela Mauren mati - matian tadi, mungkin kalau sosok Ayahnya ada, bukan Rivandra atau Fabian yang akan menjadi tameng ketika ia hendak di tampar tadi, melainkan Ayahnya.
Areta meneguk salivanya ketika pikirannya berlayar pada nasib anaknya kelak, apa jadinya jika anak itu tumbuh tanpa seorang Ayah sepertinya? Apakah anaknya akan dengan gampang dihina, dipermalukan, dimaki, hingga nyaris disakiti secara fisik juga?
Areta menggelengkan kepalanya
...“Enggak, ga boleh, ga boleh ada satu pun yang ngehina kamu, maki - maki kamu, atau mempermalukan kamu, Nak” gumam Areta sambil mengelus - elus perutnya...
...“Mama janji, Mama akan melakukan apa pun agar kamu ga bernasib kayak Mama, kali ini kita yang akan jadi pemenangnya Nak, sudah cukup batas kesabaran Mama” tambahnya...
Ketukan di pintu membuyarkan obrolan Ibu dan anak tersebut
...“Masuk Bi Parni” pekik Areta, yakin yang datang adalah Bi Parni. Pintu itu dibuka lebar perlahan, menampilkan sosok tampan dengan badan kekar dan tinggi tegap Rivandra...
Areta menampilkan senyum terbaiknya menyambut Rivandra, ia langsung bangkit dari duduknya, langkahnya ia percepat mendekati Rivandra dan tanpa basa basi memeluk suaminya yang masih di ambang pintu
...“Kak, kangen” rengek Areta manja...
Bohong jika Rivandra tak berdebar sekarang, malah mungkin jantungnya berdetak terlalu kencang, darahnya pun berdesir cepat, Rivandra menelan saliva untuk menguasai hatinya yang nyaris tak terkendali, tangannya ia bawa membalas pelukan Areta erat.
Merasakan tangan kekar Rivandra sudah menempel di punggungnya, Areta makin merangsek nyaman di dada Rivandra
__ADS_1
...“Selalu wangi” ucap Areta...
Rivandra tak menyahut, hanya kecupan demi kecupan yang ia daratkan di pucuk kepala Areta, ia lalu bergerak maju tanpa melepaskan pelukan Areta yang menempel bak koala padanya, pintu di belakangnya pun ia tutup dengan kakinya, sungguh tak ingin melepas apa pun yang saat ini tengah dalam kuasa Areta.
...“Udah makan?” Tanya Rivandra...
...“Bisa ganti yang lain ga pertanyaannya, bosen tiap ketemu cuma ditanya udah makan atau belum, kayak pacaran anak SMP” protes Areta...
...“Ahahaha.. ya udah kamu mau ditanyain apa?” Rivandra tergelak, tawa pertamanya hari ini setelah rentetan kejadian panjang sepanjang hari, dan lagi - lagi karena Areta, wanita itu ajaib memang...
Areta mengurai pelukannya, tapi tangannya meraih tangan Rivandra, menariknya pelan menuju tempat tidur
...“Duduk disini Kak” titah Areta sambil membenar - benarkan bantal untuk jadi sandaran punggung Rivandra, suaminya itu manut lalu duduk bersandar ke kepala tempat tidur dan bantal, kakinya yang selonjoran ia renggangkan, memberikan tempat untuk Areta yang kini beringsut duduk dan bersandar di dada suaminya...
Kedua tangan kekar Rivandra terulur melingkar di perut Areta, mengelusnya lembut
...“Halo anak Papa” ucap Rivandra lembut, senyumnya merekah bahagia, senada dengan senyum berseri Areta...
...“Kamu ga apa - apa kan?” Tanya Rivandra, kepalanya menunduk sedikit lalu menciumi bahu Areta...
...“Bohong kalau aku bilang ga apa - apa Kak” sahut Areta...
...“Ceritain apa yang kamu rasain” titah Rivandra...
...“Rasa untuk kejadian yang mana nih Kak? Saat aku dipermalukan di klinik dokter Kartini? Saat aku diseret paksa sama Tante Susan? Atau saat kepalaku beberapa kali ditoyor di mobilnya?” Tanya Areta, ia dengan sengaja membeberkan kelakuan Tantenya...
Rivandra syok, ia memang tahu bagaimana perlakuan Susan dan Dani pada Areta, tapi ia tak menyangka kalau mereka akan bisa setega itu, ternyata mertuanya sangat jahat
...“Mereka berbuat gitu sama kamu Areta?” Tanya Rivandra mulai tersulut...
Areta mengangguk, satu tangannya ia angkat untuk diperlihatkan pada Rivandra, beberapa bekas cakaran Susan memerah di tangannya, bahkan ada yang cukup dalam sehingga mengeluarkan darah yang sudah mengering
Rivandra meraih tangan Areta itu, menciuminya pelan
...“Maaf ya Areta, saya ga ada pada saat mereka melakukan ini sama kamu” tutur Rivandra lirih...
...“Heuumm, kalau pun Kakak ada emang apa yang Kakak akan lakukan, itu kan mertua Kakak” tanya Areta mulai memancing reaksi Rivandra...
...“Oh ya? Tapi Kakak sendiri loh yang nyakitin aku, Kak Rivandra datang dan pergi semau Kakak tanpa peduli sama perasaanku, Kakak juga nyuruh aku rahasiain status kita, Kakak juga… “...
...“Sudah Areta, sudah.. maaf, saya benar benar minta maaf” ucap Rivandra lirih penuh penyesalan, bibirnya tak henti menciumi pucuk kepala Areta, reaksi Rivandra membuat Areta tersenyum puas...
Areta semakin menyandarkan kepalanya di dada Rivandra, seolah ingin menumpukan bebannya, Rivandra membenarkan duduknya, memberikan akses pada Areta agar leluasa menjadikan dirinya tumpuan, ia paling suka kalau Areta bergantung padanya, menjadikan dirinya sandaran
...“Kak Mauren baik - baik aja kan Kak?” Tanya Areta...
...“Pikirkan dirimu sendiri Areta” sahut Rivandra...
...“Kasian Kak Mauren, dia pasti trauma, ditambah lagi kenyataan ada perempuan lain yang sedang hamil dalam rumah tangganya” tutur Areta...
...“Kamu bukan perempuan lain Areta, kamu istri saya juga” ucap Rivandra sambil menumpukan dagunya di bahu Areta, menghirup wangi sampo dari rambutnya istrinya itu...
...“Cuma untuk lima bulan lagi Kak, setelah itu Kakak dan Kak Mauren bersama lagi, tanpa ada istri yang harus disembunyikan” tutur Areta...
Rivandra mendengus kesal
...“Kamu membuang saya Areta? Saya ga mau!” Tandas Rivandra...
...“Jangan serakah Kak, kamu ga bisa punya dua ratu dalam kerajaan kamu” ucap Areta ambigu...
...“Maksud kamu?” Tanya Rivandra tak mengerti...
...“Sudah lah, Kak.. yang pasti lima bulan lagi ga ada istri yang harus Kakak suruh ngumpet.. ahahaha” tandas Areta sambil tergelak, tapi hati Rivandra mencelos, sumpah demi apa pun dia tidak ingin kehilangan Areta, entah sejak kapan perasaan itu tumbuh, sempat berpikir mungkin karena ia marah pada kesalahan dan kekurangan Mauren, atau karena ada benihnya di dalam kandungan Areta, tapi semakin dirasa bukan itu penyebabnya, Areta benar - benar membuatnya jatuh cinta dengan semua kesabarannya, kepolosannya, ketulusannya dalam melayani Rivandra...
...“Areta, saya benar - benar minta maaf, saya menyesal” ucap Rivandra tulus...
Areta menumpuk tangannya di atas tangan Rivandra
...“Maafmu sudah kebanyakan Kak, tapi nanti kamu berbuat lagi” tandas Areta...
...“Pendendam” rajuk Rivandra sambil membenamkan kepalanya di ceruk leher Areta...
__ADS_1
...“Tirani!” Sahut Areta tak mau kalah, matanya memejam merasakan kecupan demi kecupan di leher Areta...
...“Tadi Mauren bilang ingin mengasuh anak kita kalau kita cerai, apa kamu mau biarin anak kita diasuh Mauren kalau kita cerai nanti?” Tanya Rivandra, sengaja mengompori Areta...
Deg…
Jika tadi mata Areta memejam karena hasrat yang dipancing Rivandra, maka sekarang matanya membulat sempurna, seketika amarah, benci, dendam, sakit hati semuanya berkumpul menjadi satu, tega - teganya Mauren akan mengambil anaknya setelah ia terbuang dari keluarga Rivandra, Mauren yang sejatinya selalu melindungi dan menyayanginya dulu kini berubah menjadi wanita bengis yang tak berperikemanusiaan, tak akan ia biarkan siapa pun mengambil anaknya dari dirinya, tak akan pernah.
...“Ironis, mengambil anak dari ibunya, wanita seperti apa itu?” Sinis Areta, menyangkut masalah anak, ia pun bisa berubah menjadi wanita sadis...
...“Wanita jahat seperti kamu, yang tega ninggalin suami” sahut Rivandra, sambil menggigit pelan bahu Areta, gemas...
...“Kan udah aku bilang tadi Kak, ga ada dua ratu dalam satu kerajaan” tutur Areta lagi, Rivandra menghentikan jelajahannya di bahu dan leher Areta, matanya memicing mencerna omongan Areta...
...“Kakak mau makan?” Tanya Areta, membuyarkan pikiran Rivandra...
...“Saya lagi ga selera makan” sahut Rivandra...
...“Kenapa Kak? mau aku masakin?” Tanya Areta ...
...“Saya maunya makan kamu” tandas Rivandra sambil, satu gigitan pelan ia hadiahkan lagi di bahu Areta...
...“Kenapa ga ngomong dari tadi Kak?” Tanya Areta sambil beringsut berdiri dengan lututnya lalu membalik badannya menghadap Rivandra, tangannya ia kalungkan di leher pria tampan yang sedang mendongak dan menatapnya bingung itu...
...“Maksudnya?” Tanya Rivandra sambil menelan salivanya melihat ekspresi sensual di wajah Areta ...
Areta menyunggingkan senyum penuh goda, punggung tangannya membelai pipi Rivandra, rahang tegas itu ia buai dengan sapuan hangat tangannya, perlahan wajahnya turun, menyongsong bibir Rivandra
...“Cup” satu kecupan mendarat di bibir Rivandra...
Blush..
Pipi laki - laki itu memerah dan memanas, tap tak sampai disitu ia dibuat tak berkutik oleh Areta, kini bibir Areta ******* bibirnya penuh hasrat dan mendominasi, entah hilang kemana polos dan lugunya wanita itu
Rivandra balas memagut istrinya itu penuh hasrat, tangannya memegang pinggang Areta. Suara decapan terdengar memenuhi kamar, Areta tanpa malu membuka kancing bajunya, hanya dua saja
...“Bisa tolong bukain, Kak?” godanya agresif...
Deg..
Sudah terbayang oleh Rivandra apa yang akan terjadi selanjutnya, Rivandra gugup membuka kancing baju wanitanya itu satu per satu, tangannya sampai gemetaran
...“Bantu tarik bajunya ke atas Kak” rengek Areta...
Glek..
Rivandra menelan salivanya, kedua tangannya sibuk melepas baju Areta sementara Areta melepas sisanya
Blush..
Pipi Rivandra kembali bersemu merah saat melihat tubuh polos istrinya
...“Kakak ga mau buka baju?” Goda Areta lagi, tak perlu ditanya dua kali lelaki itu membuka apa pun yang melekat padanya...
Areta beringsut mundur, perlahan membaringkan badannya, kakinya ia renggangkan, memberikan ruang untuk Rivandra. Areta menerima setiap kecupan dan ciuman suaminya di sekujur tubuhnya, ia hanyutkan perasaannya ketika lelaki itu berhasil membuat Areta melayang dengan tangan dan bibirnya, hingga lelaki itu menegak dengan napas memburu di depan Areta yang sudah gelisah tak karuan
Areta totalitas melayani suaminya saat perlahan keduanya menyatu dengan lembut, selalu seperti pertama kali, terasa menggigit dan sullit dimasuki. Rivandra melampiaskan semua perasaannya, kali ini ia lakukan dengan cinta, ia mengambil jari Areta untuk disatukan, sesal ia tumpahkan juga disitu, kenapa ia baru menyadari perasaannya sekarang sehingga sempat membuat Areta beberapa kali terluka, dalam hati ia terus mengucap maaf.
Pinggul Rivandra tak berhenti menubruk, badannya yang atletis sukses membuat Areta mabuk kepayang. Areta masih saja berteriak tatkala terasa sangat dalam, membuat Rivandra mengurangi impulsnya, berusaha agar Areta menikmati ini. Beberapa kali Rivandra menyatukan dahinya dan dahi Areta ketika merasakan sesuatu yang nyaris meledak tapi ia tahan - tahan, menunggu wanitanya hingga beberapa kali terpuaskan. Nyaris satu jam mereka melakukan penyatuan, peluh sudah membasahi keduanya, napas mereka pun sudah tersengal - sengal hingga Rivandra sudah tak mampu lagi menahan, ia meledak menumpahkan semua, ia terpuaskan bukan hanya karena berhasil melepaskan sesuatu yang selama ini ia tahan - tahan, tapi juga perasaannya yang membuncah.
Rivandra menarik bed cover untuk menutupi tubuh polos mereka berdua, satu tangannya ia jadikan bantal untuk Areta, sementara tangannya yang lain memeluk tubuh polos Areta
...“I love you Areta” bisiknya di telinga Areta, pernyataan cinta keduanya setelah yang pertama kemarin gagal ...
Deg…
Jantung Areta berirama cepat sekarang mendengar ungkapan cinta yang ia rasakan tulus dari Rivandra, tapi ia tak berani membalas, lebih memilih untuk memejamkan matanya, meninggalkan Rivandra yang gamang karena merasa tak mendapat jawaban Areta.
...“Mama kamu bikin penasaran aja, Nak” gumam Rivandra sambil mengelus perut Areta...
Tak lama ia pun ikut memejamkan mata, larut dalam rasa cinta dan damai bersama Areta.
__ADS_1