
...“Selamat pagi” ucap Rivandra lembut pada Areta yang baru terbangun, pria itu menopang kepalanya dengan sebelah tangannya, kadar ketampanannya meningkat ketika rambutnya acak - acakan khas bangun tidur, sedang dadanya yang yang polos mengekspos kegagahannya, belum lagi perutnya yang sixpack, pria ini tahu betul membuat wanita tak bisa berpaling darinya...
...“Selamat pagi” ucap Areta dengan suara serak, ia lalu merangsek masuk ke pelukan Rivandra, badan mereka yang masih polos membuat kulit bertemu kulit kembali, hangat....
...“Masih ngantuk?” tanya Rivandra sambil merapi - rapikan rambut Areta...
...“Heemm.. apa Kak Rivan lupa kalau semalaman aku cuma dikasih waktu satu jam buat tidur? Aku tepar Kak!” protes Areta...
...“Ahahaha.. siapa suruh kamu gemesin” sahut Rivandra sambil tergelak...
...“Iya iya aku tau Kakak gemes, saking gemesnya Kakak nyampe ngasih aku banyak tanda merah, ada yang Kakak gigit kecil juga, sadis!” Sewot Areta...
Tawa renyah Rivandra terdengar renyah merdu mendayu
...“Ahahaha… itu tanda kepemilikan saya Areta, pertanda kalau kamu milik saya” sahut Rivandra ...
...“Seandainya saja aku bisa ngasih Kakak tanda kepemilikan juga” rajuk Areta...
...“Boleh kok, tinggal pilih mau sebelah mana” sahut Rivandra, beberapa kecupan ia hadiahkan di pelipis Areta...
...“Sepertinya aku ga akan berani Kak, aku ga mau Kak Rivandra berantem sama Kak Mauren nanti” sahut Areta...
Rivandra mengelus punggung polos Areta, membuat wanita itu memejam merasakan desiran darahnya
...“Kamu mau memberikan saya tanda?” Tanya Rivandra, badannya beringsut mengunci badan Areta, di bawah kungkungan badannya Areta terlihat sangat cantik, wajah teduh dan senyum menawannya selalu berhasil membuat hasrat Rivandra bangkit...
Tangan Areta terangkat, membelai rahang tegas milik Rivandra, sentuhannya lembut menghanyutkan
...“Jodoh kita hanya sekedar lewat Kak, sementara Kakak sama Kak Mauren ditakdirkan untuk hidup bersama, jadi kalian jangan nyampe berantem gara - gara aku” tutur Areta lirih...
Rivandra menghela napasnya frustasi
...“Areta, sudah berapa kali saya bilang saya ga mau kamu pergi, kamu dan anak saya ga boleh kemana - mana, hapus niat kamu untuk bercerai dari saya” Tandas Rivandra...
...“Kalau aku tetep mau cerai terus pergi dari Kakak gimana?” Goda Areta...
...“Saya akan cari kalian kemana pun, saya ga peduli sejauh mana saya harus mencari atau berapa lama saya harus mencari, yang pasti saya akan membawa kalian pulang” tandas Rivandra...
...“Untuk apa Kak? Untuk disembunyikan?” Sinis Areta...
Areta benar - benar membuat Rivandra frustasi, pria itu melepas kungkungannya pada Areta, lalu beringsut duduk di tepi ranjang, kepalanya tertunduk dengan wajah yang memerah. Areta tak tinggal diam, ia ikut beringsut lalu memeluk punggung polos suaminya
...“Saya harus gimana agar kamu memaafkan saya Areta?” Tanya Rivandra lirih...
Areta tak menjawab, ia lebih memilih menciumi leher Rivandra, menghisap kulit ceruk lehernya dan meninggalkan bekas kemerahan disana, Rivandra menggigit bibir bawahnya merasakan hasratnya yang mulai menggelora lagi
...“Tanda kepemilikanku” goda Areta, laki - laki itu membalik badannya, wajah yang tadinya ia tekuk berganti senyum...
...“Kamu bikin saya gila, Areta” ucap Rivandra, ia beringsut naik lagi ke tempat tidurnya, badannya yang kekar kembali menghimpit Areta...
Pagi itu tempat tidur mereka kembali menjadi saksi pergumulan panas Areta dan Rivandra.
...****************...
Rivandra sedikit terkejut mendapati Mauren yang sudah berada di rumah orang tuanya, Mauren yang sedang berbicara dengan Anna itu langsung memburu suaminya dan memeluknya erat
...“Sayang, kamu kemana aja? Ponsel kamu mati, aku khawatir banget” tutur Mauren, pura - pura tak tahu bahwa semalaman Rivandra bersama Areta, Mauren ingin sekali marah dan meminta Rivandra untuk menceraikan Areta saat itu juga, tapi ia tak punya kekuatan untuk bernegosiasi sekarang, ia dalam posisi lemah karena salah telah menyembunyikan peristiwa yang menimpanya dulu, dan yang paling utama karena ia tak bisa memiliki keturunan...
Setali tiga uang dengan Mauren, Anna pun tahu dimana Rivandra menghabiskan malamnya, Anna lebih memilih untuk masuk ke kamarnya, menghindari konflik yang mungkin akan terjadi, kejadian kemarin saja masih membuatnya pusing.
...“Maaf, tadi malam perut Areta kram, saya kesana untuk mastiin kondisinya” sahut Rivandra...
Mauren menghela lega napasnya, ternyata tak ada yang terjadi antara Rivandra dan Areta tadi malam, suaminya hanya memastikan kondisi anaknya saja tidak lebih, batin Mauren.
...“Bayinya ga apa - apa, kan?” Tanya Mauren khawatir...
...“Areta dan bayinya ga apa - apa” sahut Rivandra retorik, “kamu kenapa udah pulang kesini?” Tanya Rivandra...
Mauren melepas pelukannya, tangannya bersedekap, ia lalu memajukan bibirnya tanda bahwa ia tengah merajuk
...“Emangnya aku ga boleh pulang kesini? Mentang - mentang aku ga bisa punya anak terus aku ga dibutuhin lagi ya disini?” Tanya Mauren...
Rivandra menghela napasnya
...“Bukannya gitu, tapi apa ga sebaiknya kamu istirahat dulu di rumah orang tua kamu sampai kamu tenang?” Tanya Rivandra...
...“Aku mana bisa tenang Rivan kalau jauh dari kamu?” Ucap Mauren, tangannya memeluk lagi Rivandra meskipun tangan laki - laki itu menggantung, tak merespon. Mauren mulai resah, Rivandra jelas berubah, apakah Rivandra masih marah karena ia menyembunyikan fakta masa lalunya? Atau kah karena masalah anak?...
...“Saya mau mandi dulu” ucap Rivandra sambil mengurai pelukan Mauren, Mauren sigap menggandeng tangan suaminya, menemaninya berjalan menuju kamar....
Selagi Rivandra di kamar mandi, Mauren sibuk menyiapkan semua kebutuhan Rivandra, dari mulai setelan jas, dasi, hingga kaus kaki, tak lupa pakaian dalam sang suami.
Mauren merekahkan senyum begitu Rivandra keluar dari kamar mandinya
...“Aku udah siapin semuanya Rivan” ucapnya bangga, sambil memperlihatkan hasil pekerjaannya menyiapkan keperluan Rivandra...
Rivandra tersenyum miris
__ADS_1
...“Hari ini saya pakai batik Mauren” ucap Rivandra, ia lalu beranjak ke walk in closetnya, menyambar salah satu batik yang tertata rapi disana...
...“Maaf, aku ga tau” tutur Mauren sendu...
...“Sudah sekitar lima bulan kita menikah, waktu yang cukup lama buat mengingat hal sekecil itu bukan, Mauren?” Sinis Rivandra...
Mauren terusik, ia tak suka dengan omongan Rivandra, ada apa dengan suaminya? tak biasanya ia mempermasalahkan hal sekecil itu, dari awal menikah memang Mauren tak pernah terlibat apa pun masalah kebutuhan Rivandra karena kesibukannya, Rivandra pun tak protes, tapi sekarang pria itu mempermasalahkannya
...“Kenapa jadi masalah sih Rivan?” Rengek Mauren ...
Rivandra yang sedang merapikan dirinya di depan cermin tersenyum
...“Ga jadi masalah, saya sudah biasa” tutur Rivandra ringan...
Mauren menghela napasnya, kakinya melangkah mendekati Rivandra, ia lalu memeluk punggung suaminya yang tampan dan gagah dalam baju batiknya, perlahan ia membalik badan suaminya, membantu merapi - rapikan baju yang Rivandra pakai, tapi gerakannya membeku tiba - tiba saat ekor matanya melihat jejak merah di ceruk leher Rivandra, jejak itu nyaris tak terlihat jika saja Mauren tak membenarkan kerah baju Rivandra
Hati Mauren mencelos, apa yang mungkin terjadi antara Areta dan Rivandra tadi malam? Rasanya sangat tak mungkin jika Rivandra sampai jatuh hati pada Areta, siapa Areta jika dibanding dirinya meskipun kini Areta mengandung anak Rivandra
...“Saya pergi dulu” ucap Rivandra, senyum singkat tersungging di bibirnya, setelah itu ia beranjak meninggalkan Mauren yang terpatri di tempatnya ...
Rivandra tergesa melangkah, ia hampir telat untuk menghadiri rapat di rumah sakitnya, penyebabnya siapa lagi kalau bukan Areta, wanita itu mampu membuatnya betah berlama - lama disisinya hingga lupa waktu, kalau boleh jujur bahkan Rivandra tak ingin pulang
Ponsel Rivandra berbunyi ketika ia baru saja masuk ke dalam mobilnya, senyumnya terbit ketika melihat nama Areta di layar ponselnya
...“Sudah kangen lagi?” Goda Rivandra begitu menjawab panggilan Areta...
...“Kakak pake baju batik warna apa hari ini?” Tanya Areta...
Rivandra mengernyitkan keningnya
...“Kamu tau kalau hari ini jadwal saya pakai baju batik?” Tanya Rivandra bingung...
...“Aku tau baju kerja apa aja yang akan Kak Rivan pakai, kecuali kalau hari Minggu, karena kalau di hari libur gitu selera baju Kak Rivan berubah - ubah, tapi lebih banyak pake kaos” sahut Areta...
Blush..
Hati laki - laki mana yang tak terbang melayang jika wanitanya begitu tahu tentang dirinya
...“Pulang dari rumah sakit nanti saya ke rumah ya, mau dibawain apa ntar?” Tanya Rivandra dengan wajah memerah dan hati yang berbunga, ingatan jadwal meetingnya menguap entah kemana, nada panggilan masuk yang Rivanda yakini dari asistennya juga beberapa kali terdengar, tapi Rivandra enggan memutus pembicaraannya dengan Areta, ia terbius perasaannya pada Areta, perasaan yang bahkan ia tak rasakan pada Mauren...
...“Entah lah, aku lebih menginginkan Kak Rivan dibanding apa pun” sahut Areta...
Deg..
Kalau saja ia tak terikat tanggung jawabnya pada rumah sakit, sudah dipastikan saat itu juga Rivandra akan langsung menemui Areta, menghabiskan waktu bersama istri yang ia cintai itu.
Areta terkekeh mendengar pertanyaan Rivandra
...“Heemmm, apa aku kurang bikin Kak Rivandra semangat kerja? Apa yang tadi malam terus lanjut tadi pagi masih kurang?” Cerocos Areta, perasaannya pun sama dengan Rivandra, tapi tak mungkin ia curahkan, ia sedang dalam misi penting sekarang...
...“Kamu sadar kalau kamu bikin saya ga konsentrasi kerja?” Tanya Rivandra, punggungnya ia daratkan di sandaran jok mobil, dadanya bergemuruh hebat, kerinduannya membuncah padahal baru beberapa jam yang lalu mereka bertemu...
...“Ya udah kalau gitu, kita ga usah ketemu lagi deh biar Kak Rivan konsentrasi kerjanya” rajuk Areta...
...“Astaga, bukan gitu Areta… maksud saya bisakah kalau kamu seharian sama saya, ikut saya kemana pun?” Tanya Rivandra, matanya menerawang jauh, berfantasi seandainya semua kondisi sesuai keinginannya...
Areta menghembuskan napasnya, sebisa mungkin menahan perasaannya agar tak ikut terbang melayang
...“Yang semangat kerjanya ya Kak, inget ada aku dan anak kita yang harus Kakak nafkahin selain Kak Mauren” ucap Areta...
...“Baiklah, saya kerja dulu, demi kamu dan anak kita” tutur Rivandra, Areta tak menyahut, ia memilih mengakhiri pembicaraannya dengan Rivandra....
Senyum Rivandra mengembang, semangatnya membara, ia seperti punya tujuan baru dalam hidupnya.
...****************...
Hari beranjak siang ketika Areta menginjakkan kaki di rumah mertuanya atas permintaan Anna, hatinya berdebar karena menurut Anna Mauren yang menghendaki pertemuan ini, entah apa tujuan Mauren kali ini
...“Areta, sini” titah Rossy pada Areta yang tergupuh mendekat, Areta mencium punggung tangan mertuanya, Oma, dan Rossy sebelum mendudukkan dirinya di sebelah Rossy...
...“Apa kabar Areta?” Tanya Mauren ramah dan bersahabat...
...“Baik Kak, terima kasih” sahut Areta sopan...
Tapi sebaik apa pun percakapan mereka, tetap saja menimbulkan kekakuan, Anna berdehem memecah suasana yang berubah kikuk
...“Areta, maksud Mama memanggil kamu tadi karena ada yang ingin Mauren sampaikan, Mama harap kita semua bisa bicarakan ini dengan kepala dingin” tutur Anna, yang lalu menjatuhkan pandangannya pada Oma, mengkode agar kali ini Oma tak meledak - ledak...
Bola mata Oma memutar malas, ia mana bisa sabar menghadapi Mauren
Mauren membenar - benarkan duduknya, ia lalu berdehem
...“Areta gini, kita kan udah sama - sama tau bahwa kita berdua adalah istri Rivandra, semuanya juga udah tau kalau kemungkinan besar aku ga akan bisa punya anak” tutur Mauren, ia lalu menjeda sejenak, wajahnya tertunduk sendu...
Anna mengusap punggung Mauren, memberikannya kekuatan, bagaimana pun status Mauren juga menantu Anna, selain itu sebagai perempuan Anna paham perasaan Mauren, tidak bisa memiliki anak adalah cobaan terbesar untuk seorang wanita, terlebih jika suaminya sudah memiliki anak dari wanita lain
Areta menatap Mauren dengan tenang, wajahnya mengembangkan senyum, mentalnya sudah ia persiapkan sedemiikian rupa untuk menghadapi apa pun
__ADS_1
Mauren mendongak, ia lalu menghela napasnya
...“Areta, bisakah kamu pindah ke rumah ini lagi?”...
Deg…
Semuanya terkesiap dengan permintaan Mauren, jelas tak akan mudah untuk menempatkan dua orang istri dalam satu rumah, apa sebenarnya yang Mauren pikirkan?
...“Apa kamu ga salah Mauren? Mama ga yakin kalau itu ide bagus, apa jadinya nanti kalau kalian serumah?” Sewot Anna, sungguh ia tak paham dengan pemikiran Mauren...
...“Apa yang kamu rencanakan Mauren?” Sengit Oma...
...“Mama, Oma, tolong mengerti.. kalian semua tau kan kalau aku kemungkinan besar ga punya anak, dan anak yang dikandung Areta adalah anak Rivandra, bagaimana pun setelah Areta dan Rivandra cerai nanti, suatu hari aku dan Rivandra yang akan mengasuh anak ini, aku hanya ingin meilhat tumbuh kembang anak ini selama ia dalam kandungan Areta, itu saja” ...
Deg..
Areta menggeram, sudah jelas apa tujuannya Mauren sekarang, benar kata Rivandra, Mauren memang menginginkan anaknya tanpa mempertimbangkan perasaan Areta. Tidak, bagaimana pun ia tidak akan membiarkan Mauren apalagi keluarga Mauren mengasuh bayinya
...“Apa kau benar - benar perempuan Mauren? Tega - teganya kau mau memisahkan Ibu dan anaknya untuk ambisimu yang tak bisa punya anak?” Sengit Oma...
Anna menghela napasnya, tak sanggup berkata - kata. Sementara Rossy sibuk menenangkan sang Oma yang sudah mulai meradang
...“Bukan begitu Oma, Areta tetap bisa bertemu dengan anaknya nanti, tapi kalau mereka sudah bercerai, akan lebih baik kalau anak itu tinggal di rumah ini bersama kita dibanding dengan Areta kan?” tutur Mauren...
...“Apa kamu sudah membicarakan ini pada Rivandra, Mauren?” Tanya Rossy...
...“Aku yakin Rivandra akan setuju Kak” tandas Mauren...
Mauren melayangkan pandangannya pada Areta
...“Kamu setuju kan Areta? Akan lebih mudah untuk seorang janda tanpa seorang anak, lagipula anak itu akan tumbuh lebih baik bersama Rivandra disini, karena semua keluarga yang menyayanginya ada disini” tambah Mauren lagi...
...“Ibunya yang akan paling menyayanginya Mauren, dan kau akan memisahkan Ibu dari anaknya?” Sengit Oma lagi...
...“Aku ga akan memisahkan mereka Oma, Areta boleh kok ketemu anaknya kapan saja yang ia mau nanti” tambah Mauren bersikukuh...
Areta diam seribu bahasa, ia menatap letak Mauren, terlihat jelas bagaimana rupa Mauren sekarang, Mauren ternyata sama jahatnya dengan Susan dan Dani. Areta pernah menganggap Mauren sebagai pelindungnya, bahkan ia sempat merasa bersalah karena merasa menjadi pelakor dalam rumah tangga Mauren, kini Mauren menjadi sosok yang juga Areta benci, sebesar kebenciannya pada Susan dan Dani, jelas ia tak akan menyerahkan anaknya pada Mauren, apa pun yang akan terjadi.
...“Bagaimana Areta, apa kamu setuju?” Tanya Mauren penuh harap...
Areta menyeringai, baik biarkan saja dulu wanita jahat ini merasa dirinya menang, batin Areta
...“Kita lihat saja nanti, Kak” ujar Areta tenang...
Oma dan Rossy mendelik pada Areta, sementara Anna memijit pelipisnya
...“Areta!” Sentak Oma, Areta menoleh pada Oma, senyum tak lepas dari wajah Areta, tak ada amarah atau kesedihan yang terlihat disana, wanita itu tetap tenang...
...“Ga apa - apa Oma, anak ini juga anak Kak Rivan kan? Dan Kak Mauren adalah istrinya, jadi otomatis anak ini akan jadi anaknya juga” ucap Areta...
Oma makin berang, ia hendak menghardik Areta lagi tapi Rossy mengelus tangan Oma mengkode agar Oma diam, Rossy paham kalau ada yang sedang Areta rencanakan, Rossy tahu betul bagaimana Areta menyayangi anak dalam kandungannya, ia tak akan dengan mudahnya menyerahkan anaknya pada siapa pun, terlebih Mauren.
...“Bagus kalau begitu, Kakak lega” tutur Mauren puas, “terus kamu mau kan pindah lagi kesini?” Tanya Mauren, ini memang rencana Mauren untuk mengawasi Areta dan Rivandra, jejak merah yang ia lihat di ceruk leher Rivandra membuat Mauren sangat khawatir, meskipun Areta dan Rivandra adalah suami istri tapi itu hanya sebatas status, tak boleh ada apa pun yang terjadi antara mereka. ...
...“Baik Kak, aku setuju” sahut Areta, tak lupa sambil menyunggingkan senyum...
...“Areta, jangan memaksa diri kamu kalau kamu ga mau, bagaimana pun kamu juga istri Rivandra, kamu berhak untuk menentukan dimana kamu ingin tinggal” tandas Oma...
...“Ga apa - apa Oma, Areta tinggal disini aja, biar bisa deket sama Oma juga” tutur Areta...
Oma menghela napasnya, bingung dengan jalan pikiran Areta
...Mauren senyum penuh kemenangan, “Baiklah, bagus kalau kamu setuju Areta” tuturnya dengan wajah berseri...
...“Oh ya satu lagi Areta, kamu harus ingat meskipun kalian suami istri, itu semua hanya karena status dan karena adanya anak Rivandra dalam kandungan kamu, tapi aku lah wanita yang dicintai Rivandra, kami sudah pacaran bertahun - tahun sampai akhirnya memutuskan untuk menikah, jadi Kak Mauren mohon agar kamu bisa jaga jarak sama Rivandra ya” tutur Mauren panjang lebar...
Areta ingin terbahak, andai saja Mauren tahu sudah berapa kali Rivandra mengungkapkan perasaan cinta padanya, dan bagaimana laki - laki itu mendamba sentuhan Areta, sudah pasti semua kesombongan dan kepongahan di wajah Mauren akan sirna. Tapi tidak, bukan sekarang waktunya ia membuka semua, masih ada misi yang harus ia jalankan.
...“Apa perlu kamu membahas soal ini, Mauren?” Sengit Rossy tak nyaman...
...“Wanita tak tau diri!” Sinis Oma menambahi...
...“Apa aku salah kalau mengingatkan Areta, Areta pastinya ga mau dong dicap sebagai pelakor!” Tandas Mauren penuh penekanan...
Anna menghela kasar napasnya
...“Mauren, sangat tidak bijak kalau kamu berkata seperti itu” tutur Anna...
...”Mama, Oma, Kak Rossy, apa yang Kak Mauren bilang memang benar, aku memang harus menjaga jarak sama Kak Rivandra” ucap Areta, pandangannya lalu beralih ke Mauren, “Kak Mauren juga tolong sampaikan hal yang sama pada Kak Rivandra ya” ucap Areta ...
Mata Mauren membelalak, apa maksud Areta? Apa dia mimpi kalau Rivandra yang mendekatinya?
...“Kamu tenang aja, Kakak yakin kalau Rivandra ga akan deketin kamu Areta, kalau pun selama ini dia sering mendatangi kamu, itu semata - mata karena ia khawatir pada anaknya” tandas Mauren ...
Areta tersenyum miris, harus kah ia menceritakan bahwa hampir setiap Rivandra kesana mereka bergumul hingga lupa waktu? bahkan badan Areta saja masih penuh dengan jejak kemerahan tanda kepemilikan Rivandra sekarang
...“Ya sudah lah, kalau Areta memang ga keberatan, Mama juga ga keberatan, yang penting tidak ada kekisruhan lagi nantinya” tandas Anna...
__ADS_1
...“Mama tenang aja, semua akan baik - baik saja” ucap Mauren, senyum puasnya mengembang, tapi senyum kemenangan terbit di wajah Areta, ia tahu betul akan ada kekisruhan yang terjadi nantinya, kekisruhan yang akan Areta sendiri buat. ...