Satu Suami Dua Istri

Satu Suami Dua Istri
Ketika Takdir Bicara


__ADS_3

...“Oma udah makan, Areta?” Tanya Anna pada Areta saat mereka bertemu di dapur, Areta yang sedang mengambil air minum untuk Oma segera mengatur sikapnya lalu mengangguk penuh hormat pada Anna...


...“Sudah Tante, sekarang Oma lagi teleponan sama temennya” ucap Areta sangat sopan...


...“Ama Tante jangan kaku - kaku gitu dong Areta, anggap aja keluarga sendiri, Tante sendiri atau mungkin Ibu sendiri” tutur Anna sambil mengelus singkat bahu Areta...


Deg..


Ibu? Menganggap Tante Anna Ibunya? Bahkan untuk membayangkan Anna menerimanya sebagai menantu saja ia tak berani, apalagi menganggap wanita baik itu Ibunya sendiri


...“Maaf, saya ga berani Tante, saya ga pantas” ucap Areta sambil tersenyum sopan sementara matanya tertunduk tak berani menatap wanita berhati malaikat di depannya...


Anna menghela napasnya


...“Ya udah, senyamannya kamu aja, yang pasti kamu harus inget, Tante udah menganggap kamu sebagai keluarga sendiri, jadi jangan sungkan - sungkan ya! Kalau mau makan ga usah minta izin dulu sama Mbok Jum, terus yang Tante denger juga kamu bangun tidur paling pagi ngerjain tugas para pembantu bahkan saat mereka belum pada bangun ya? itu bukan kewajiban kamu Areta, kamu disini cuma diminta buat nemenin Oma doang, ngerti?” Cerocos Anna, prihatin betul ia pada Areta, Anna paham pasti Areta merasa sungkan karena harus tinggal dengan orang yang asing buatnya...


...“Ga apa - apa Tante, Areta udah biasa, lagian masa Areta cuma jadi beban aja buat Tante di rumah ini? Udah tidur gratis, makan gratis, masa Areta ga ngerjain apa - apa? hehehe” tutur Areta cengengesan...


Dada Anna bergemuruh, matanya berkaca - kaca, berbicara atau melihat Areta selalu saja bisa membuatnya menitikkan air mata


...“Astagfirullah Areta, ga boleh ngomong gitu! Tante seneng kok kamu tinggal disini, kamu bukan beban buat Tante!” Tandas Anna, tangannya meraih dan menggenggam tangan Areta...


Semakin merasa bersalah saja Areta, bagaimana ia bisa tega menghancurkan hati Anna dan Mauren yang sangat baik pasanya, tekadnya sudah sangat bulat sekarang, ia akan bercerai dengan Rivandra, meskipun resikonya ia harus mengasuh anaknya sendiri, tapi akan ia pastikan anaknya tak akan kekurangan kasih sayang sedikit pun. Jika Rivandra tak mau menceraikannya, maka ia akan meminta bantuan pada Oma Mieke hari ini juga.


...“Areta!!! Rivan!!!” Pekikan Rossy membahana ke seantero rumah, napasnya ngos - ngosan ketika sampai di dapur dengan mata yang basah, sementara kepalanya celingukan dengan wajah panik menyapu ke seluruh rumah mencari sosok yang dipanggilnya...


...“Rossy, ada apa? Kenapa kamu nangis?” Tanya Anna panik melihat Rossy yang masih terengah -engah mengatur napasnya...


...“Rivaaaaannn!” Pekik Rossy lagi tanpa mengindahkan pertanyaan Mamanya, tak lama yang dipanggil muncul setengah berlari...


...“Kenapa Kak?” Tanya Rivan ikut panik...


“Oma Rivan! Oma pingsan! “ ucap Rossy, tangannya menunjuk entah kemana, tapi bibirnya gemetaran dengan mata yang tak berhenti mengeluarkan air matanya, sedang Anna dan Areta sama - sama terhenyak kaget


...“Pingsan gimana?” Tanya Rivandra, sambil memacu langkah setengah berlari menuju kamar Oma yang disusul Rossy, dibelakangnya Anna dan Areta mengekor tak kalah panik...


...“Rivan, ada apa?” Pekik Mauren, Rivandra yang agak jauh di depannya menoleh sebentar...


...“Mauren, bawain tas perlengkapan saya dan bawa ke kamar Oma, sekarang!” Titah Rivandra, Mauren menggangguk patuh tanpa bertanya lagi ...


Sesampainya di kamar Oma, Rivandra langsung memburu Oma Mieke yang terkulai lemas di kursi rodanya, sebelah tangannya memegang dadanya, sementara sebelah tangannya lagi terkulai ke bawah menjatuhkan ponselnya tampaknya.


Tangan Rivandra cekatan mengangkat tubuh ringkih Oma dan meletakkannya ke atas tempat tidur, tak lama Mauren datang, segera memberikan tas perlengkapannya pada Rivandra, pria yang biasa dingin dan tenang pada saat menangani pasiennya kini gemetaran, tak tega melihat kondisi Omanya


...“Gimana kejadiannya sampai Oma bisa pingsan Rose?” Tanya Anna, kepanikannya jelas terlihat...

__ADS_1


Rossy mengusap air mata yang terus saja meleleh di pipinya


...“Tadi pas Rossy masuk Oma lagi teleponan Ma, ga lama mata Oma melotot gitu terus megang dadanya kayak yang kaget, habis itu pingsan” tutur Rossy gemetaran...


...“Apa yang dibicarain Oma sama temennya sampai bikin Oma drop, Rose?” Tanya Anna histeris...


...“Rossy juga ga tau Ma” sahut Rossy lemas ...


...”Gimana kondisi Oma Kak?” Tanya Areta memberanikan diri, suara lirih menahan tangis...


...“Oma syok” hanya itu yang disampaikan Rivandra, setelah itu tangannya cekatan memberikan pertolongan pertama pada Oma, keringat bercucuran di pelipis Rivandra...


...“Tolong panggilkan dokter Adi” titah Rivandra pada Rossy, dokter Adi adalah dokter ahli jantung yang bekerja di rumah sakit milik Rivandra, Rossy mengangguk lantas beranjak mendekati Mbok Jum dan para pembantu yang memenuhi ambang pintu kamar Oma, ingin mengetahui kondisi Oma Mieke...


...“Tolong telepon dokter Adi Mbok, suruh kesini sekarang juga!” Titah Rossy, Mbok Jum mengangguk patuh lantas tergesa menuju meja telepon...


Semua yang berada di ruangan itu panik, dari bibir mereka mengalir do’a - do’a untuk keselamatan dan kesehatan Oma Mieke, tak ada yang duduk tenang, semuanya berdiri tak jauh dari tempat Oma tergolek tak berdaya. Tak lama kemudian dokter Adi datang dan langsung masuk ke kamar Oma Mieke, diikuti beberapa orang perawat yang membawa banyak peralatan


Selain Rivandra, dokter Adi dan perawat - perawat yang menangani Oma, yang lain keluar dari kamar itu, membiarkan para profesional untuk menangani Oma, namun do’a tak lepas dari bibir mereka. Kepanikan juga tampak di wajah Julian saat baru saja sampai ke rumah atas informasi dari istrinya, ia lalu mendudukkan dirinya di kursi, melepas kaca matanya dan mengusap air mata di ujung matanya, Anna mengusap - usap punggung suaminya memberi kekuatan.


Lama mereka menanti dalam perasaan cemas, hingga Rivandra keluar dari ruangan, semua orang memburunya tak sabar ingin tahu kondisi Oma


...“Oma kena serangan jantung, sekarang sedang ditangani dokter Adi” tutur Rivandra lirih, Julian yang tadinya sudah berdiri terduduk lemas lagi, Anna memeluk suaminya mencoba menenangkan, sementara Rossy menangis terisak di pelukan Areta, tak ada yang tak kaget dan sedih mendengar berita buruk itu, semuanya meneteskan air mata ...


Areta mengerutkan keningnya, kini semua mata tertuju padanya, saling menerka kenapa Oma ingin bicara dengan Areta di tengah kondisinya yang sedang drop


...“A - aku Kak?” Tanya Areta terbata sambil menunjuk dirinya sendiri, mengkonfirmasi ulang takut salah dengar...


...“Iya, ayo masuk Areta, Oma udah nungguin” ucap Rivandra...


Areta menoleh pada Anna, meminta izinnya, Anna mengangguk menyetujui. Areta lalu memacu langkahnya masuk ke dalam kamar Oma, jantungnya berdebar antara takut melihat kondisi Oma Mieke dan menduga - duga apa yang ingin dibicarakan Oma padanya


...“Bisa tinggalin kami berdua?” Ucap Oma pelan dan terbata begitu melihat Areta masuk, sesuai instruksi Oma semuanya bergerak keluar...


...“Areta, jangan bikin Oma stress ya, dan jangan biarin Oma terlalu banyak bicara” bisik Rivandra pada Areta sesaat sebelum ia keluar dari kamar, Areta mengangguk patuh...


...“Oma” ucap Areta sendu, ia sebenarnya tak tahan ingin menangis melihat kondisi Oma sekarang, badannya dipasangi banyak selang dan kabel yang terhubung ke alat medis di sebelahnya ...


...“Sini nak” tutur Oma pada Areta, Areta mendekati Oma lalu duduk tepat di sebelah tempat tidurnya...


...“Maaf karena Areta ga jagain Oma dengan baik” ucap Areta, meskipun sekuat tenaga mempertahankan air matanya agar tak keluar, nyatanya air mata itu tetap jatuh juga...


Bibir Oma yang pucat menyunggingkan senyumnya


...“Bukan salah kamu nak” ucapnya, tangan Oma hendak meraih tangan Areta, wanita itu mendahului segera menggenggam tangan Oma...

__ADS_1


...“Oma mau minta tolong Areta” ucap Oma lirih...


...“Jangan banyak bicara dulu, dan ga usah banyak pikiran dulu ya Oma” tutur Areta sambil membelai lembut surai Oma yang memutih...


Oma menggelengkan pelan kepalanya


...“Dengerin Oma dulu Areta, Oma mau minta tolong sama kamu” ulang Oma Mieke bersikukuh, napasnya tersengal...


...“Iya Oma, Areta pasti bantu Oma, apa yang bisa Areta bantu?” Tanya Areta, ia khawatir membuat Oma Mieke stress...


...“Areta, denger Oma.. tolong pertahanin rumah tangga kamu dan Rivandra, nak”...


Deg…


Tubuh Areta melemas, begitu pun dengan genggaman tangannya, menyadari itu Oma mengeratkan genggamannya


...“Oma tau ini berat buat kamu, banyak yang harus kamu lalui nantinya, tapi tolonglah cucu Oma itu Areta, pertahanin rumah tangga kalian” tutur Oma lagi, air matanya merembes...


Areta dilema, bahkan ia baru saja berniat meminta tolong pada Oma agar bisa bercerai dari Rivandra, tapi lagi - lagi ia dihadapkan pada pilihan sulit, buntu.


...“Areta, janji nak, janji sama Oma” tutur Oma, napasnya makin tersengal, mulut Oma membuka dan menutup tampak sulit sekali untuk bernapas, Areta panik bingung harus bagaimana, ingin memanggil Rivandra tapi tangannya erat digenggam Oma...


...“Areta, janji!” Ucap Oma lagi dengan susah payah...


...“Iya Oma, Areta janji” sahut Areta, untuk saat ini kesehatan Oma yang utama, sesaat setelah itu Oma melepaskan genggamannya, membuat Areta melesat lari keluar kamar untuk memanggil Rivandra, ia seolah lupa kalau ia tengah hamil...


Melihat Areta yang berlari kencang Rivandra memijit pelipisnya


...“Kak, tolongin Oma!” Ucap Areta sambil terengah, mendengar itu seketika Rivandra, dokter Adi, dan para perawat bergegas masuk ke kamar Oma kembali, sementara keluarga yang masih menunggu Oma diluar kamarnya makin panik melihat reaksi Areta...


...“Ibu saya gimana Areta?” Tanya Julian, wajanhya sarat kekhawatiran...


...“Maaf Om, tadi pas ngobrol sama Areta tiba - tiba Oma seperti jadi sulit bernapas” sahut Areta lirih...


...“Emang Oma ngomong apa sama kamu Areta?” Tanya Mauren, penasaran yang sedari tadi menghinggapinya tak mampu ia tahan lagi...


Areta menggigit bibir bawahnya gugup, ia tak mungkin membicarakan permintaan Oma padanya


...“Oma cuma minta dimasakin bubur Kak” sahut Areta asal, pikirannya terpecah belah sekarang, keinginannya untuk bercerai, janjinya pada Oma, rasa bersalahnya pada Mauren dan Anna...


Suara pintu Oma yang dibuka membuat semua orang fokus pada Rivandra dan dokter Adi yang keluar bersamaan


...“Alhamdulillah Nyonya Mieke sudah bisa ditangani dengan baik, tapi untuk beberapa hari ke depan kondisinya harus di observasi, oleh karena itu mohon bantuannya agar tidak membuat Nyonya Mieke stress, ngobrol yang ringan - ringan dan menyenangkan saja ya” tutur dokter Adi...


Puji syukur di panjatkan oleh semua anggota keluarga, atas seizin Rivandra dan dokter Adi semua anggota keluarga masuk ke kamar Oma untuk melihat kondisinya. Hanya Areta yang tak ikut serta, ia memilih untuk kembali ke kamarnya, sejenak ingin mendinginkan kepala dan hatinya yang bergejolak, sungguh ia tak mengerti dengan jalan hidupnya, takdir seolah mengaturnya untuk tak lepas dari Rivandra, apa yang harus ia lakukan sekarang sementara janji pada Oma sudah terucap?

__ADS_1


__ADS_2