Satu Suami Dua Istri

Satu Suami Dua Istri
Jangan Ganggu Suamiku!


__ADS_3

Mauren menatapi jejeran foto yang ia susun dengan rapinya, foto laki - laki yang begitu ia cintai dalam berbagai pose, banyak juga foto saat pria itu sedang memperlihatkan kemesraannya pada Maurenketika mereka sedang liburan di beberapa negara, terlihat sekali rasa cinta pria itu padanya.


Ia semakin menyadari kebodohannya, lalu merutuki ketololannya, seandainya perempuan lain dalam posisinya tentu tak akan pernah menukar Rivandra dengan apa pun, termasuk untuk setumpuk uang dan popularitas yang memuncak.


Apa yang kurang dari pria itu? tak ada cela dalam fisiknya, wajahnya selalu mendapat puja dan puji dimana pun pria menampakkannya, jangan tanya soal nampilannya, baju yang melekat pada Rivandra selalu elegan, rapi, dan pas di tubuh atletisnya. Untuk urusan harta pun pria itu bergelimang, kapasitas otaknya juga di atas rata - rata, dalam usia yang baru menginjak awal 30 tahunan pria itu sudah berhasil menjadi dokter bedah terbaik. Lantas sepadan kah menukar Rivandra dengan apa yang ia dapat sekarang? Jelas tidak!


Awalnya Mauren menyusun foto - foto itu dengan tenang, namun kini tangisnya pecah meratapi pria yang bergelar mantan suaminya itu sekarang


...“Rivan, hiks… maafin aku, aku ga kuat hidup tanpa kamu Rivan, aku ga bisa” isaknya ...


Tak lama Ibunya datang menghampiri, membawa lagi senampan penuh berisi makanan dan minuman, setelah tadi pagi ia membawa keluar makanan dan minuman yang masih utuh tak disentuh Mauren, sudah tiga hari selalu begitu. Badan Mauren kian kurus kering, tak nampak lagi body goals yang menjadi salah satu daya tariknya dulu


Ibunya itu melirik sebentar jejeran foto Rivandra di atas kasur Mauren “Makan dulu Mauren, lihat tubuhmu itu udah kurus kering, kamu ga ada bedanya dengan mayat hidup” ucapnya sambil meletakkan nampan yang ia bawa di atas meja, wanita itu lalu mendekati Mauren, duduk di tepi ranjangnya


...“Untuk apa kamu menatapi foto mantan suami kamu terus, Mauren?” ...


Mauren bergeming, ia mengusap air matanya lalu merapikan foto - foto Rivandra


“Mama keluar aja, aku pusing, mau tidur!”


...“Dan membiarkan kamu bunuh diri pelan - pelan gitu? Apa dia akan peduli pada kamu bahkan kalau kamu mati, Mauren? Untuk apa kamu menyiksa diri kamu sendiri?”...


...“Kalau menyiksaku bisa membuat dia kembali aku rela Ma!”...


Susan mulai tersulut


...”Dia sudah menceraikan kamu Mauren, artinya dia ga menginginkan kamu lagi, untuk apa kamu meratapi dia? Pikirkan hidup kamu sendiri Mauren, masih ada bos Dave, kamu pepet saja dia! bukannya sebenarnya dia yang harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi dalam kehidupan kamu?”...


Mauren menatap benci Ibunya


...”Aku ga mau Ma! Aku ga mau! Aku maunya Rivandra, bukannya Dave atau siapa pun!” Sengit Mauren...


...“Haduh, kamu benar - benar keras kepala ya Mauren! Kamu pikir Rivandra masih akan melirikmu? Mungkin dia sekarang malah udah nikah lagi, sangat gampang untuknya mendapatkan wanita manapun yang dia mau, atau bahkan mungkin dia sama si Areta sekarang”...


...Mauren bangkit berdiri dengan mata yang menyalang, “Cukup Ma! Cukup! Aku ga mau denger kabar Rivandra dengan wanita manapun, terutama wanita murahan itu, cukup!” Sentaknya...


...“Sadar Mauren, kamu sendiri yang membuang berlian di tangan kamu, apa itu salah Mama, atau salah Papa?”...


Darah Mauren mendidih, seperti yang sudah - sudah ia mulai membanting semua barang - barangnya ke lantai


Praaaanggg..


Susan berjengit, ia lalu bangkit dan berlindung di balik kursi, tak ingin sampai kena pecahan beling atau barang apa pun termasuk nasi dan lauk pauk yang dihempas Mauren


...“Rivandra! Tolong kembali sama aku Rivan, tolong!” Pekiknya dengan tangan yang sibuk menghempas apa pun...


...“Mauren cukup Mauren!” Sentak Susan...


Mauren tak mendengar apa pun omongan Susan, seolah sedang kesetanan, ia terus saja memporak porandakan kamarnya sendiri, merasa amukan anaknya tak mereda, Susan memilih untuk keluar dari kamar Mauren dengan tergesa, tak ingin menyaksikan adegan kesurupan anaknya.


Susan memburu ke kamar suaminya, disana Dani tampak sedang bergelut dengan setumpuk kertas, wajahnya kusut dan tegang


...“Pa, si Mauren ngamuk lagi tuh! Habis sudah barang - barang di kamar dia Pa! Astaga, dia kenapa jadi begini sih Pa?” Susan histeris mendekati suaminya...


Dani mendelik tajam pada istrinya


...”Sudah lah Ma, Papa lagi pusing! Urus anakmu sendiri, apa semuanya Papa yang harus urusin?” ...


Susan mendengus kesal


...”Dia kayak orang kesetanan gitu Pa, Mama ga berani ah deketin dia kalau lagi gitu”...


...“Ya sudah biarin aja Ma! Ada hal yang lebih penting yang harus kita urus, semenjak Fabian buka perusahaannya sendiri, kondisi keuangan perusahaan morat marit Ma, sialan memang si Areta! Gara - gara dia Fabian nekad minggat, belum lagi Julian yang menarik semua uang investasinya, punya anak ga ada satu pun yang berbakti sama orang tua!” Sewot Dani...


...“Papa sudah ngomong belum sih sama bos Dave mengenai masalah ini? Bukannya dia janji mau investasi di Papa kalau kita bantuin dia?” ...


...“Justru itu karena sampai sekarang belum ada hasil, duitnya juga belum cair Ma! Dari kemarin orangnya bos Dave udah nyari mantan besan kita dan Rivandra, tapi udah lebih dari seminggu mereka ga ada di Jakarta, ga ada yang tau juga mereka kemana, satu - satunya yang bisa membuat kita mendapatkan uang bos Dave itu cuma bukti yang ada di tangan Julian dan Rivandra” ...


Susan memijit kepalanya, pusing dengan masalah yang mendera mereka, apalagi ketika ia mendengar teriakan dan pekikan Mauren yang semakin menjadi, anak laki - lakinya pun entah kemana sekarang, semenjak skandal Mauren terbongkar, Fabian memilih untuk angkat kaki dari rumah dan perusahaan Papanya


...****************...

__ADS_1


Areta sedang mengemas barangnya dan Lily ketika April datang, hari ini keluarga Rivandra akan mulai menempati rumah baru yang akan ditempati mereka sementara waktu


...“Ta, masih banyak yang harus diberesin?” Tanya April, tangannya sigap membantu Areta melipat baju - baju kecil Lily...


...“Tinggal dikit kok Pril, sebagian udah dibawa Kak Rivan tadi, kamu kemana aja? Kios rame banget ya?”...


...“Iya Ta, kasian si Bagas kalau ditinggalin sendiri, si cantik sehat kan Ta?” Tanya April sambil mendekati Lily di box bayi, “makin lama makin mirip Papanya ya, kamu pas hamil benci banget ya sama Kak Rivan?” Ucap April sambil tergelak ...


...“Bukan benci lagi Pril, ngeliat mukanya aja males banget, makanya cetakan Papanya banget tuh Lily”...


April lalu mendekati Areta


...”Ta, aku kesini ga sendiri, ada Kak Fabian di depan! Maaf banget Ta, aku ngasih tau Kak Fabian kalau kamu disini, aku ga tega Ta, berbulan - bulan dia nanyain kabar kamu lewat email yang ga pernah aku bales setelah nomernya aku blokir” ...


Areta merenung sebentar


...”Ya udah Pril, ga apa - apa, lama - lama Kak Fabian juga bakalan tau, mudah - mudahan dengan ini dia ga berharap lagi sama aku”...


April mengangguk, ia lalu melangkah ke depan pintu masuk, membukakannya untuk Fabian, pria itu masuk dengan ragu, mungkin gugup, apalagi ketika ekor matanya melihat bayi mungil dalam box bayi, tapi senyumnya mengembang melihat wanita yang nyaris membuatnya gila


...“Susah sekali nyari kamu Areta, hampir aja saya frustasi nyariin kamu” ucapnya, pria yang kelihatan menawan itu gugup mendudukkan dirinya di kursi depan Areta, sedang April duduk di samping box bayi Lily...


...“Kamu udah sehat? Gimana dengan bayi kamu?”...


Areta tersenyum pada pria yang sempat lama bercokol di hatinya itu


...”aku dan Lily sehat Kak, terima kasih udah nyariin aku”...


...“Jadi namanya Lily? Sama dengan nama Almarhumah Ibu kamu, bayi kamu cantik, mirip sama kamu Areta” pria itu lalu menyodorkan sebuket bunga mawar yang tadi memenuhi tangannya, tak sampai disitu ia juga menyodorkan sebuah box yang dibungkus kertas kado bermotif bayi...


...“Harusnya Kak Fabian ga usah repot - repot gini, Kakak dateng aja aku udah seneng kok” Areta halus menolak pemberian Fabian, ia tak ingin Rivandra menjadi salah paham...


...“Heemm.. bukalah, saya ga pernah membeli barang untuk bayi, saya ga tau apa ini akan terpakai atau tidak nantinya” ucapnya...


Areta menerima bunga dan box itu dengan sopan, tak apalah anggap saja hadiah yang biasa diberikan orang ketika menjenguk orang yang lahiran. Tak lamaLily kecil bergeming lalu mulai menangis, April dengan sigap mengembannya, pria itu menoleh pada bayi mungil itu, entah kenapa hatinya tak karuan mendengar tangisan Lily, agak nekat memang ketika ia bangkit dan meminta izin Areta untuk mengemban Lily


Pria itu kaku menerima Lily dari April, mungkin berlebihan ketika kini matanya berkaca - kaca, hati pria mana yang tak sakit melihat buah hati wanita yang dicintainya dengan pria lain


...“Astaga Kak, ngapain Kakak beliin baju puluhan juta gini buat Lily? Mana untuk umur tiga tahun lagi!” cerocos Areta, ia terkaget - kaget melihat hadiah yang dibawa Fabian yang ia tahu harganya tak murah, pun bajunya masih terlalu besar untuk bayi yang baru lahir...


...April menggaruk rambutnya frustasi melihat Fabian yang kaku “ih gendongnya jangan kaku gitu Kak, nanti Lily bisa jatuh, kalau Lily nyampe kenapa - kenapa bisa - bisa Kakak dikirimin nuklir sama Papanya Lily” cerocos April...


...“Makanya ajarin dong!” Sewot Fabian yang mulai panik...


...“Udah jangan sambil berdiri gendongnya Kak, sambil duduk aja” titah April, pria itu patuh lalu duduk kembali di depan Areta...


...“Heemm.. begini mungkin rasanya ya kalau gendong anak dari kamu” ucap Fabian...


...Areta enggan membahas, ia lebih tertarik pada hal lain ...


...“Kak Mauren gimana kabarnya Kak?”...


...“Makin kacau sepertinya, dari yang saya dengar dia bahkan sering ga mau makan dan keluar kamar semenjak cerai dari Rivandra, tapi entahlah, saya sudah lama ga pulang ke rumah” sahut Fabian, matanya fokus memandangi lamat - lamat wajah Lily, semakin lama ia semakin jatuh cinta pada bayi cantik dengan kulit putih kemerahaan itu...


Areta mengerutkan keningnya


...”Kak Fabian udah ga tinggal di rumah itu lagi?”...


Fabian menggeleng


...”Saya bisa ikutan ga waras kalau berada di rumah itu Areta” ...


Areta terdiam, ia tak berani berkomentar apa pun karena sejatinya omongan Fabian benar adanya


...****************...


Fabian cukup lama di rumah sakit tadi, ia lalu pergi beberapa menit sebelum Rivandra menjemput Areta, Lily, dan April untuk pulang ke rumah baru mereka. Areta menceritakan kedatangan Fabian, juga memperlihatkan hadiah yang Fabian bawa dengan takut - takut pada Rivandra, pria itu jelas kesal tapi ia mencoba memahami bahwa bagaimana pun Fabian masih kerabat Areta, bahkan satu - satunya kerabat yang peduli pada istrinya itu, terlepas dari apa pun motif Fabian.


April dan keluarga Rivandra sedang bercengkrama di ruang tamu, keluarga Rivandra tak henti - hentinya berterima kasih atas kebaikan April yang bersedia menemani dan menjaga Areta, sebagai salah satu bentuk balas budi, Julian menawarkan April untuk bekerja di perusahaannya dengan jabatan yang lumayan penting, mengingat April yang juga cukup berprestasi di kampunsnya dulu. April awalnya menolak, merasa bahwa bantuannya pada Areta itu tulus, tapi melihat niat Julian yang juga tulus, April menerima tawaran Julian dengan senang hati.


Jika keluarganya tengah berkumpul, maka Rivandra dan Areta sedang berada di kamar baru mereka yang sudah tertata, sang Papa baru saja selesai merakit box bayi untuk putrinya tercinta

__ADS_1


...“Selesai” ucapnya puas dengan dahi berpeluh...


...“Heemm.. Papa keren” puji Areta sambil mengusap pelan peluh suaminya, Rivandra tersenyum bangga lalu menambatkan tangannya di pinggang Areta...


...“Mama sexy” sahut Rivandra sambil mendaratkan kecupannya di bibir Areta yang menggoda, “Saya mandi dulu ya, badannya lengket banget”...


Areta mengangguk, berjinjit sebentar untuk mengecup bibir suaminya


...Rivandra tertawa, “Heemm, jadi malas mandi” ...


...“Hei mandilah, sebentar lagi Lily bangun, apa Kak Rivan ga mau menggendongnya?”...


...“Ah iya, bener juga” pria itu setengah berlari menuju kamar mandi membuat Areta terkekeh, wanita itu lalu merapi - rapikan barang bekas Rivandra merakit box bayinya. Tak lama ponsel Rivandra berbunyi nyaring, Areta mengintip sebentar melihat siapa yang menghubungi suaminya, melihat nomer yang tak dikenal di ponsel Rivandra, Areta pun melanjutkan aktifitasnya. namun yang menghubungi jelas tak mau berhenti, sangat penting sepertinya karena ia menghubungi kembali. Arete memindai layar ponsel Rivandra, menimang sebentar sebelum kemudian ia memberanikan diri menjawab panggilannya...


...“Halo Rivan, halo? Hiks.. Rivan, kenapa kamu memblokir nomerku Rivan? Aku tau aku salah, aku sangat menyesal Rivan! Tolong Rivan, maafin aku, aku ga tau gimana ngelanjutin hidupku tanpa kamu” cerocos Mauren lewat ponselnya...


Deg..


Areta mengeraskan rahangnya, benar - benar tak tahu diri memang wanita ini


...“Halo Kak Mauren, ada keperluan apa Kak Mauren nelepon Kak Rivan?”...


Deg..


Jantung Mauren nyaris copot, ponselnya pun hampir saja jatuh, ia terduduk lemas mendengar suara Areta


...“Areta? Kenapa kamu yang menjawab? Dimana Rivan hah? Dimana?!” Sentak Mauren...


Areta terkekeh, menertawakan kepanikan Mauren


...”Apa salah kalau seorang istri menjawab panggilan di HP suaminya? Kak Rivan memang ga pengen ada rahasia apa pun antara kami Kak, termasuk masalah HP” ...


Mauren menggeram marah, hatinya terbakar amarah


...”Bukannya kamu udah pergi jauh Areta, hah? Ngapain kamu balik lagi sama Rivan? Dasar perempuan murahan, pelakor! Perebut suami orang!” Sentak Mauren lagi...


...“Ya ampun lihat lah siapa yang mengataiku pelakor? Ironis sekali saat kata - kata itu keluar dari mulut seseorang yang pernah mengkhianati pasangannya” sahut Areta tak mau kalah, untuk saat ini dan seterusnya tidak akan dia biarkan siapa pun mengusik keluarga kecilnya...


Mauren benar - benar murka


...”Berengsek kamu Areta! Wanita ga tau diri, dasar anak haram! Kamu sama haramnya dengan anak yang dulu kamu kandung!” Sentak Mauren lagi...


Areta meradang, tinjunya terkepal


...”Maksud kamu anak yang dulu coba kamu bunuh Mauren, hah? Syukurlah dia selamat, bahkan sekarang dia sangat sehat dan cantik, dan coba tebak wajahnya mirip siapa? Wajahnya tak sedikit pun berbeda dari Papanya” Areta sengaja membuat Mauren murka, wanita itu jelas harus diberi pelajaran, terlepas dari mereka masih punya ikatan kekerabatan, untuk Areta semenjak Mauren berniat untuk membunuh anaknya, maka saat itu Mauren dan keluarganya sudah menjadi orang asing...


Mauren meluruh ke lantai dengan air mata yang berlomba keluar dari matanya, anak Areta masih hidup? Tapi bagaimana bisa? Bukannya dokter Kartini sendiri yang bilang kalau Areta keguguran?


...“Kamu gila Areta! Anakmu itu sudah mati!” Sentak Mauren tak terima...


...“Ahahaha.. kenapa? Kamu kaget karena semua rencana kamu berantakan Mauren? Kamu pikir saya akan membiarkan kamu membunuh anak saya? Bodoh sekali kamu Mauren!” ...


...“Dasar gila kamu Areta, harusnya dulu kamu dibuang aja sama Mama ke tempat pelacuran! Dasar pelacur kamu, kamu diam - diam menggoda dan merebut suami orang!” ...


...“Saya tidak merebut Mauren, Kak Rivandra sendiri yang mencari dan memohon - mohon pada saya, bahkan setelah saya menjauhinya”...


Amarah Mauren sudah di ubun - ubunnya


...”Bohong kamu Areta, bohong!” ...


...“Terserah lah kamu percaya atau tidak, itu bukan urusan saya, yang pasti tolong jangan menghubungi suami saya lagi, jangan ganggu dia, dia sedang sibuk menemani anaknya” sahut Areta sambil mengakhiri panggilannya...


Mauren di seberang sana melempar ponselnya sambil berteriak frustasi, hidupnya tak pernah sekacau ini, tangisnya meraung - raung memanggil Rivandra lalu mengutuk Areta.


Rivandra yang baru saja keluar dari kamar mandi heran melihat wajah merah padam Areta dengan napas yang memburu, di tangannya terkepal ponsel milik Rivandra


...“Areta, kamu kenapa?”...


Areta mendekati suaminya dengan napas yang tersengal


...”Kalau mantan istri kamu menghubungi kamu lagi, bilang sama dia jangan berani - berani ganggu kamu lagi atau dia berhadapan sama aku” Tandas Areta sambil menyodorkan ponsel Rivandra di dada prianya itu...

__ADS_1


Rivandra mencerna sebentar ia lalu tertawa dengan kerasnya melihat reaksi Areta, entah kenapa ia begitu senang di posesifi oleh Areta


...“Heeemm, I love you Areta” ucap Rivandra sambil memeluk erat istrinya itu....


__ADS_2