
...“Nyonya Mauren, jangan lewat sini dulu.. licin banget lantainya, tadi si Mimi ga sengaja numpahin minyak, ini udah dipel dua kali masih juga licin, bahaya” Bi Jum mengingatkan Mauren yang baru saja hendak melangkah ke dapur, Mauren urung, lalu masuk lagi ke kamarnya....
Rumah besar itu tampak lengang, sebagian besar penghuninya sudah sibuk dengan aktivitas masing - masing, Rivandra pun yang baru saja sampai nyaris tengah malam, pagi buta tadi sudah berangkat ke kantornya. Hanya ada Rossy yang setia menemani Oma di kamarnya, serta ada Mauren dan Areta di kamar mereka masing - masing.
...****************...
Siang harinya keluarga Julian bak tersambar petir, kepanikan terjadi setelah mendengar Areta dilarikan ke rumah sakit, Areta mengalami pendaharan hebat karena jatuh tersungkur dengan posisi telungkup, perutnya membentur keras lantai marmer dapur
Kekhawatiran jelas terlihat di wajah Anna dan Julian, mereka tergesa berjalan masuk ke rumah sakit dokter Kartini tempat dimana Areta di rawat
...“Kenapa bisa terjadi seperti ini Pa? Ya Allah” Ucap Anna sambil mengelus dadanya...
...“Mama tenang, kita berdo’a semoga Areta dan cucu kita baik - baik saja” ...
Semua sudah berada disana, Rossy, Mauren, Bi Jum, bahkan Mimi pembantu Anna yang lain. Lalu Rivandra datang dengan berlari, wajahnya penuh kekhawatiran, tak ia pedulikan lagi tatapan tajam Mauren ketika ia menunjukkan kecemasannya disana
Meskipun seorang dokter, tapi Rivandra tak diperbolehkan untuk masuk, ia hanya bisa mengepalkan tangannya di tembok dimana di balik tembok itu ia tahu Areta sedang memperjuangkan bayi mereka
Rivandra murka saat Bi Jum menceritakan tentang Areta yang datang ke dapur dalam kondisi lantai yang sangat licin untuk membuat pisang goreng yang diminta Oma atas pesan dari Mimi
...“Maaf Tuan, Mimi cuma diperintah sama Nyonya Mauren, Mimi juga ga tau kalau ternyata lantai dapur masih licin” ujar Mimi dengan suara gemetaran...
...“Jadi ini atas perintah kamu Mauren?” Cecar Rossy...
...“Memang aku yang nyuruh Mimi, tapi aku ga tau kalau lantainya masih licin Rivan, aku pikir Bi Jum sudah selesai membersihkannya” sahut Mauren...
Rivandra menggeram, ia menahan amarah yang membuncah di dadanya, ia khawatir tak bisa mengendalikannya dan membuat keributan disana, baru saja Bi Jum berbisik padanya bahwa ia sudah memperingatkan Mauren kalau lantainya masih sangat licin untuk dilalui
...“Untuk apa kamu menyuruh Areta membuat pisang goreng Mauren? Aku yang sepanjang pagi bersama dengan Oma bahkan ga denger kalau Oma minta pisang goreng” cecar Rossy pada Mauren...
...“Loh Kak itu inisiatifku, apa aku salah jika memberikan perhatian pada Oma, aku salah?” Sanggah Mauren...
...“Masih ga mau disalahin Mauren? Kalau memang kamu ingin memberikan perhatian pada Oma, kenapa ga kamu saja yang membuat pisang gorengnya sendiri supaya kamu yang jatuh tersungkur disana!” Sengit Rivandra...
...“Kenapa kamu ngomong gitu Rivan? Semua ini musibah, kenapa aku yang dipojokin?” ...
...“Terus saja berbohong Mauren!” Sentak Rivandra, “kalau sampai terjadi sesuatu pada anak saya atau Areta, saya ga akan pernah maafin kamu, camkan itu!” Sengit Rivandra...
Dada Mauren bergemuruh, bibirnya gemetaran, suaminya sendiri membentak dan mengancamnya di depan semua orang
...“Bukannya aku udah bilang itu musibah? Itu kecelakaan? Ada apa sama otak kamu yang selalu berpikir logis? Apa Areta sudah berhasil mencuci otak kamu jadi kamu ga bisa berpikir waras, iya?” Sengit Mauren...
...“Mauren cukup! Apa sedikit pun kamu ga ada perasaan bersalah atau khawatir pada kondisi Areta dan anak yang dia kandung?” Sentak Anna...
...“Ma, aku cuma menegaskan kalau ini semua kecelakaan, musibah, bukan keinginanku” tutur Mauren, makin frustasi karena semua orang memojokkannya...
...Bi Jum dari tadi menahan diri, tapi penyangkalan Mauren membuatnya muak, “Ga akan sampai seperti ini kalau tadi Nyonya Mauren segera menolong Non Areta, Nyonya Mauren malah menyuruh Non Areta bangun sendiri dan ngelarang saya bantuin padahal Nona Areta sudah merintih kesakitan, baru setelah ada rembesan darah Nyonya Mauren kelihatan panik, saya lantas segera laporan pada Nona Rossy” ...
...“Bi Jum, jangan ngomong sembarangan!” Sentak Mauren...
...“Teganya kamu Mauren! Apa kamu benar - benar ga punya hati?” Anna sangat marah pada menantunya itu...
...“Kenapa kalian semua menekanku dan menyalahkanku atas kecelakaan? Kalau memang sudah takdirnya, apa yang bisa kita lakukan?” ...
__ADS_1
...“Saya benar - benar sudah muak, pergi kamu dari sini Mauren, pergi!” Sentak Rivandra...
Mauren melongo, “Kau mengusirku? Karena Areta?” Tanya Mauren tak percaya
...“Iya, lebih baik kamu ga ada disini Mauren” tandas Rivandra...
Mauren tergugu, ia bisa melihat kilat kemarahan di mata Rivandra, juga raut kekhawatiran, bukan karena anaknya saja kali ini, tapi mungkin karena Areta juga
Satu jam telah berlalu semenjak penanganan Areta, dokter Kartini kemudian keluar dari ruangan itu, ia membuka masker medisnya, lalu menghela napasnya
...“Dok, bagaimana?” Tanya Rivandra gemetaran, dokter Kartini tak menjawab, tangannya malah terulur mengusap bahu Rivandra...
...“Maaf, tapi kita bicarakan dengan dokter kandungan lainnya di kantor saya saja” tutur dokter Kartini, wajahnya menyiratkan keprihatinan...
...“Dok, apa maksudnya? Apa Areta baik - baik saja? Dan anak saya, bagaimana dengan anak saya?” Tanya Rivandra tak sabaran...
...“Bu Areta baik - baik saja, tapi janinnya…“ tutur dokter Kartini lesu...
...“Dok, kenapa janinnya dok? Kenapa?” Cecar Rivandra pada dokter Kartini...
...“Rivan, kendalikan diri kamu Nak” ucap Julian ...
...“Mari bicara di kantor saya, dok” ajak dokter Kartini, Rivandra dan Anna sigap mengikuti ...
Hanya lima belas menit Rivandra dan Anna berada di dalam sana, tapi keduanya keluar dengan lesu, kubangan bening sudah menggelayut di mata Anna, sementara wajah Rivandra memerah sama merahnya dengan matanya yang berkaca - kaca
...“Rivan, gimana Areta dan cucu Papa? Tanya Julian, tapi Rivan tak menjawab, lidahnya kelu, tenggorokannya seolah tercekat untuk mengucap apa pun...
...“Bayinya udah ga ada Rose, cucu Mama udah ga ada, ya Allah” tutur Anna, tangisnya pecah dalam pelukan Rossy, Rossy ikut terisak merasakan duka yang teramat, tak bisa ia bayangkan bagaimana perasaan Areta sekarang...
...Rivandra menyandarkan dirinya di dinding, menyalahkan dirinya atas musibah yang menimpa istri dan anaknya, betapa ia tak becus menjaga keduanya, ia lalu menjatuhkan pandangannya pada Mauren yang duduk tenang di kursi seolah tak terjadi apa pun, “puas kamu Mauren, puas?” Sentaknya ...
...“Apalagi salahku Rivan? Apa aku Tuhan yang bisa mengatur kematian dan kehidupan seseorang?” ...
...“Tapi paling tidak harusnya Nyonya Mauren segera membantu Nona Areta tadi, bukannya malah membiarkan dan mengatai Non Areta pelakor manja” ucap Bi Jum dengan berani...
...“Pergi kamu dari sini Mauren, pergi!” Sentak Rivandra berapi - api, sang Ayah memburu menenangkannya...
...“Sabar Rivan, kuat demi Areta” tutur Julian...
...“Pergi Mauren!” Tambah Rossy...
...“Oke kalau kalian semua mau mengusirku dari sini” ucap Mauren sambil beranjak dari situ...
Rivandra diperbolehkan masuk setelah Areta sadar dan semua tindakan pada Areta telah selesai dilaksanakan
Rivandra menatap sendu wajah Areta yang pucat, kubangan air itu pecah saat ia merengkuh tubuh Areta yang lemas
...“Maaf Kak, maaf aku ga bisa jagain dia dengan baik” tutur Areta lirih...
...“Bukan salahmu, saya yang ga becus menjaga kalian, maafin saya” hati Rivandra remuk redam, hancur berkeping - keping, buah hati yang selama ini menjadi perekat hubungannya dengan Areta telah tiada, Areta ikut menjatuhkan air matanya, ia merasakan bagaimana lelaki itu merasa kehilangan...
...Areta mengurai pelukannya, “Aku teledor Kak, aku tak menjaganya dengan baik” ...
__ADS_1
...“Mauren yang memintamu melakukan itu, dia tau kelemahanmu yang akan menuruti semua perintah Oma tanpa bertanya dulu, Areta saya akan menceraikan dia hari ini juga” tandas Rivandra...
...“Jangan menambah bebanku Kak, menjadi penyebab perceraian akan membuatku semakin merasa kalau aku memang pembawa sial, aku yang membawa masalah ke dalam rumahmu sehingga sering terjadi keributan, aku penyebab dasar kambuhnya penyakit jantung Oma kemarin, aku juga penyebab kamu kehilangan seperti sekarang” ...
...“Demi Tuhan Areta, kamu bukan penyebab apa pun dalam hidup saya dan keluarga saya” ...
...“Aku pamit pergi Kak”...
Deg..
...“Apa maksudmu Areta? Mau pergi kemana?” Tanya Rivandra yang shock dengan jantung berdebar kencang...
...“Milik kita bersama sudah tidak ada lagi, tanggung jawab Kakak sudah selesai, takdir ga berpihak pada kita untuk bersatu Kak, tak ada bedanya dengan rencana awal dimana aku akan meminta cerai setelah melahirkan, hanya saja waktunya yang lebih cepat, karena ia sudah tak ada”...
“Maafkan hamba - Mu ya Allah, maafkan aku Kak Rivan, aku terpaksa membohongi kalian dengan menyembunyikan anak ini” batin Areta, ingatannya masih jelas dimana dia tadi rasanya sedang meregang nyawa merasakan sakit yang teramat, ia sudah mengulurkan tangannya meminta bantuan pada Mauren, tapi malah makian yang keluar, entah apalagi yang mampu Mauren lakukan untuk melenyapkan anaknya ini
“Bertahanlah Nak, kuatlah di dalam sana, Mama janji akan membawamu jauh, pergi dari siapa pun yang ingin mencelakaimu” *itulah janji yang Areta ucapkan saat ia tak berdaya kesakitan merasakan perutnya yang melilit
...“Saya ga akan pernah menceraikan kamu Areta, apa pun yang terjadi dan sampai kapan pun” ucapan Rivandra membuyarkan ingatan Areta akan kejadian pahit yang menimpanya tadi...
...“Aku sudah tau jawaban Kakak akan seperti ini, tapi itu ga akan merubah keputusanku Kak, aku akan tetap pergi” ...
...“Kamu istri saya Areta, kamu ga akan kemana - mana, dan kamu butuh pemulihan, ga usah mikir macem - macem dulu” ...
...“Aku akan memulihkan diri Kak, tapi ga disini, aku akan pergi ke kota lain, ada temanku disana” ...
...“Kenapa harus ke tempat orang asing sementara ada saya disini Areta, ada saya” pria itu menggenggam tangan Areta dan menunduk menyembunyikan air matanya yang mulai jatuh, meski gagal karena air matanya membasahi tangan Areta...
...“Kak, aku udah terbiasa hidup berpindah - pindah dengan orang asing yang ga aku kenal sebelumnya, kali ini pun aku pasti bisa. Sudah Kak, ga apa - apa, dari kecil aku sudah terbiasa menderita, dibuang, dihina, dimaki, apalagi yang belum aku alami? Izinkan aku untuk menjalani kehidupanku yang baru Kak, siapa tau akan lebih baik, rumah Kakak juga akan damai tanpa keributan lagi”...
Rivandra hancur sehancur hancurnya, bagaimana ia kini bisa hidup tanpa Areta, wanita yang telah menguasai hatinya, ia sudah sangat bergantung pada wanita itu
...“Saya mohon Areta”...
...Areta menggeleng, “lepaskan saya Kak, kita sudahi”...
...“Saya yang ga bisa Areta, tolong” dada Rivandra terasa sesak, ia tahu Areta butuh waktu untuk menerima semuanya dulu, dan mungkin ia harus relakan sementara sebelum nanti ia akan menemui dan menjemputnya lagi ...
...“Saya tau kamu butuh waktu dulu, saya akan tunggu, nanti saya akan menemui kamu” ...
...“Iya Kak” sahut Areta, karena Areta tak akan pernah pergi ke tempat tujuan yang ia sebutkan pada Rivandra, tak ada teman atau siapa pun disana...
Tak lama dokter Kartini dan Anna serta Julian masuk, dokter Kartini sang penyelamat Areta. Areta memberanikan diri untuk menceritakan apa yang terjadi pada dirinya tadi, beruntung dokter Kartini dan dokter kandungan yang lain beserta perawat disitu mau mendengarkan kisah Areta, dokter Kartini yang bahkan melihat dengan kepalanya sendiri bagaimana keluarga Mauren memperlakukan Areta, berbaik hati mau menolongnya keluar dari lingkaran keluarga Mauren dan Rivandra. Dokter Kartini mau mempertaruhkan kredibilitasnya sebagai seorang dokter di mata keluarga Rivandra dengan memalsukan keguguran Areta, karena ia melihat betapa bahayanya apa yang dilakukan Mauren tadi, Areta dibawa padanya dalam kondisi sudah pucat pasi dan pendarahan hebat.
Areta mengingat obrolannya dengan dokter Kartini tadi
...“Apa Bu Areta ga kasian nantinya anak Ibu akan tumbuh tanpa seorang Ayah?” Tanya dokter Kartini sesaat setelah Areta meminta tolong tadi...
...“Saya hidup tanpa seorang Ayah dan Ibu dok, lalu hidup dengan Om dan Tante yang memperlakukan saya seperti budak, paling tidak anak ini akan tumbuh bersama seorang Ibu yang menyayangi dan rela berbuat apa aja untuknya, bagi saya sekarang keselamatan anak saya yang terpenting” dokter cantik dan baik hati itu lalu memeluk Areta untuk memberinya kekuatan...
__ADS_1