
Penyesalan yang buruk adalah disaat kau sudah tidak bisa mendapat maaf nya sedangkan engkau sudah benar-benar menyesal.
•
"Dikta! Tunggu!"
Dikta dan Aurel menghentikan langkah mereka saat suara Robby memanggil nama Dikta.
Dikta dan Aurel saling melemplar pandangan kemudian membalikkan badannya mereka melihat Robby yang berlari ke arah mereka.
"Bang Robby? Ada apa?" tanya Dikta yang membuat Robby mengatur napasnya sejenak.
Robby menatap Dikta sejenak dan hendak mengambil tangan Dikta untuk dia genggam sebelum Dikta menarik tangan nya yang membuat Dikta terdiam.
"M-maafin aku Ta, aku benar-benar minta maaf, aku benar-benar dibutakan oleh Glenca," ujar Robby menyorot penuh penyesalan kepada Dikta.
Dikta memandang Robby memandang wajah pria yang kini memandangnya lesu dan penuh permohonan maaf.
__ADS_1
"Aku udah maafin Bang Robby, kok, jauh sebelum Bang Robby minta maaf," jawab Dikta yang membuat Robby menghela napas panjang.
"Aku menyesal Dikta, benar-benar menyesal, aku harap kita bisa kembali dan memulai semuanya dari awal, aku janji, aku bakal berubah lebih baik," pinta Robby yang membuat Dikta segera mengangkat tangannya kepada Robby.
"Aku emang udah maafin Abang, tapi untuk kembali, aku rasa itu bukan pilihan yang tepat, aku sudah terlanjur hancur dengan semua ini," jawab Dikta tegas.
Robby memandang Dikta dengan tatapan mata sendu dan penuh harapan, sedangkan Dikta hanya membuang muka menahan tangisnya.
"Abang mohon, demi anak kita," Robby memelas dan bersimpuh di tanah berharap Dikta ingin memberikannya kesempatan. "Berikan Abang kesempatan dek, sekali lagi."
Dikta menahan air matanya yang akan jatuh, didalam hatinya dia mencintai Robby tapi luka yang terlanjur tergores sangat membuat Dikta kecewa.
Aurel yang melihat itu hanya diam menyaksikan kejadian tersebut, sedangkan Dikta mencoba tersenyum disaat air matanya ingin merembes keluar, tapi Dikta tahan karena tidak ingin terlihat lemah dengan keputusannya.
"Lima tahun aku memberikan Abang kesempatan, kemana saja Abang? Lima tahun aku berusaha tersenyum disaat aku sadar bahwa buku nikah ku sudah ternoda, aku diam saja, mungkin perpisahan adalah jalan yang terbaik, dan semoga Abang bisa menemukan pengganti yang lebih baik," Dikta berjalan ke arah Robby.
Kini mata mereka saling bertemu pandang, Dikta melirik jemarinya yang masih memakai cincin pernikahan mereka, Dikta melepas cincin tersebut kemudian mengambil tangan Robby.
__ADS_1
"Maafkan aku Bang, aku udah mati rasa tentang pernikahan kita, aku sudah terbiasa tersakiti bahkan air mataku sudah terbiasa terjatuh dan Abang pasti tahu apa alasannya terjatuh," Dikta menjejalkan cincin itu ke telapak tangan Robby.
Ia mengusap sudut matanya yang berhasil lolos sebening tetes tangis, selanjutnya Dikta mengode Aurel untuk pergi dari sana.
Robby terdiam, dia tidak bisa berkata-kata lagi, dia sudah tidak punya kesempatan, sebelum Dikta pergi ia sempat membalikkan badannya menatap Robby sejenak.
"Bang? Besok adalah sidang perceraian kita, aku harap Abang tidak terlambat, Assalamualaikum," ujar Dikta berjalan bersama Aurel meninggalkan Robby disana.
Kini Robby hanya bisa menatap penuh penyesalan, dia sudah menyia-nyiakan harta berharga dalam hidupnya dan kali ini perkataan Adam benar terjadi padanya.
Kesepian ada bukan karena kita merasa sendiri tapi bisa jadi karena kita sudah tidak diinginkan.
•
•
•
__ADS_1
TBC