Selepas Kata Talak

Selepas Kata Talak
BAB 41. Kekuatan Cinta Adam


__ADS_3

"Dikta? Kamu kenapa?"


Robby hendak memegang Dikta dan membantunya saat Dikta merasakan sakit di perutnya sebelum Dikta mengangkat tangannya memberi isyarat kepada Robby untuk tidak menyentuhnya.


"Kak Sean!" Dikta berteriak pelan yang membuat Sean dan Mama Reni keluar dari rumah.


"Dikta?" Sean berlari ke arah Dikta dan segera memapahnya. "Kamu mau melahirkan yah? Kita ke rumah sakit."


Sean segera membawa Dikta masuk ke dalam mobil disusul oleh Mama Reni, sedangkan Robby masuk ke dalam mobilnya sendiri kemudian menyusul Sean menuju rumah sakit.


"Sabar yah," Mama Reni mengusap pelan kepala Dikta yang menahan sakit akibat kontraksi.


"S-sakit,"


Keluhan Dikta membuat Sean melirik adiknya itu dan semakin menambah kecepatan mobilnya sampai akhirnya mobil tersebut sampai ke rumah sakit.


"Dikta, kita sudah sampai," Sean membuka pintu mobil dan segera menggendong tubuh adiknya itu.


Dikta masih meringis menahan sakitnya, dengan ******* retoris menandakan dia merasakan sakit yang hebat saat air ketubannya sudah pecah dan membuat bayinya memaksa keluar.


"Bapak bisa tunggu disini, biar kami yang menangani Bu Dikta," Dokter tersebut memberikan pemahaman kepada Sean, Robby dan Mama Reni agar menunggu di koridor.


Sean mengangguk, dia tidak bisa tenang begini melihat kondisi adiknya, karena ini baru pertama kalinya dia melihat kondisi orang yang ingin melahirkan.

__ADS_1


"Kak Sean? Dikta mana?" Adam datang dengan napas tersengal.


Adam tampaknya baru saja memeriksa pasien karena masih memakai jas putih serta stetoskop yang masih menggantung di lehernya.


"Masih di ruang persalinan," jawab Sean yang membuat Adam seketika panik.


Mendengar kabar bahwa Dikta melahirkan, membuat Adam deg-degan sendiri walaupun yang di lahirkan itu bukan anaknya tapi ikatan hati mereka sudah cukup kuat.


Robby sendiri yang merupakan ayah biologis anak itu ikut khawatir dengan berjalan mondar-mandir di koridor tersebut.


"Bu Dikta meminta seorang pendamping," Dokter yang menangani Dikta keluar.


Robby yang merasa bahwa dirinya yang berhak ingin segera masuk sebelum lanjutan kalimat dokter tersebut membuat hatinya remuk. "Dia meminta Dokter Adam."


"Saya," Adam berjalan masuk setelah berpamitan dengan Sean dan Mama Reni.


Sebenarnya tidak etis dan beretika bagi Adam masuk ke dalam ruang bersalin, namun untung saja Dikta masih tertutup Auratnya dan Adam hanya berdiri disamping Dikta yang sedang berjuang sehingga itu bukanlah masalah besar.


"Mas Adam?" Dikta menatap Adam dengan napas tersengal yang membuat air mata Adam jatuh melihat perjuangan calon istrinya.


"Kamu bisa, aku yakin kamu bisa, ingat setelah ini kita akan menikah dan membangun keluarga kecil, aku, kamu dan anak dalam kandunganmu atau bisa kusebut anak kita,"


Dikta tidak menjawab, ia sudah kehabisan napas, tanpa sengaja tangan Dikta menarik tangan Adam dan menggenggamnya erat membuat Adam terkejut, sebenarnya mereka belum bisa bersentuhan karena bukan mahram.

__ADS_1


"Maaf ya Allah," Adam memilih balik mengenggam tangan Dikta dan memberinya kekuatan secara biologis dan hati.


"Aku gak kuat," Dikta berbisik kepada Adam dengan air mata yang jatuh.


Adam menggelengkan kepalanya. "Kamu kuat sayang."


Kalimat cinta kesekian dari segala kosakata romantis yang Adam siapkan untuk pernikahannya nanti baru saja keluar.


Adam mengusap kedua pelupuk mata Dikta dan menghapus air matanya, dan mengangguk memberinya kekuatan, Adam mendekatkan kepalanya kemudian sehingga membuat kening mereka saling bersentuhan.


"Aku mencintaimu,"


Entah sebuah ikatan apa atau memang ini sudah takdir, tiba-tiba saja Dikta berhasil yang membuat Dikta berhasil melahirkan anaknya dengan selamat.


Suara tangisan bayi memenuhi ruangan itu seiring ucapan alhamdulillah dari mereka kecuali wajah hancur Robby dibalik jendela kaca transparan yang melihat ikatan cinta Dikta dan Adam.





TBC

__ADS_1


__ADS_2