
Adam membuka matanya, jam dinding masih menunjukkan pukul dua malam disaat Dikta tengah mengigau dan membuat Adam terbangun.
Sebenarnya mereka sudah keluar dari rumah sakit pasca Dikta melahirkan, entah terkena baby blues atau apa akhir-akhir Dikta sering mengigau.
Adam mengelus puncak kepala istrinya yang menyamping, ia kemudian merubah posisi dengan menidurkan Dikta dengan posisi terlentang dikasur sebelum kembali untuk tidur, walaupun sebenarnya Adam ingin melakukan sepertiga malam, tapi rasanya matanya susah diajak untuk bekerja sama.
Namun baru lima menit dia memejamkan Mata, Dikta sudah menggoyangkan bahunya dan membangunkannya yang membuat Adam membuka matanya.
"Kenapa dek?" tanya Adam dengan wajah bantalnya yang sudah sangat lelah.
Bagaimana tidak seharian ini, dia mengurus Akta dan anak kedua mereka yang belum diberi nama karena Dikta tiba-tiba saja terkena Baby Blues dadakan.
"Haus," jawab Dikta dengan mata setengah tertutup.
Adam menghela napas, kemudian berdiri dengan malas dan berjalan menuju dapur untuk mengambilkan air minum untuk Dikta, ia mengantuk tapi ia tidak ingin membebankan istrinya apalagi kini Dikta baru melahirkan bayinya.
Setelah selesai menuangkan air minum kedalam gelas, Adam kembali berjalan menuju kamarnya dan memberikan air minum tersebut kepada Dikta.
Setelahnya Adam kembali merebahkan badannya di ranjang, tapi belum lama dia tertidur suara tangisan Akta yang tidur di ranjang bersama mereka membuat Adam bangkit.
__ADS_1
Adam melirik Dikta yang tengah terlelap, ia tidak tega membangunkan Dikta, Adam meraih Akta ke dalam gendongannya dan menina bobokannya.
"Anak Babah kenapa? Lapar?" Adam.meraih botol susu Akta yang sudah di siapkan di atas nakas.
Adam memberikan susu kepada Akta yang membuat Adam perlahan merasakan kantuk, setelah Akta tertidur, Adam kembali meletakkannya di ranjang.
Adam memejamkan matanya tapi tangisan kembali terdengar bukan dari Akta tapi dari anak kedua mereka.
Adam berjalan ke box bayi dan meraih botol bayi anak kedua mereka yang sudah kosong.
Adam harus kembali lagi kedapur untuk membuatkan susu formula untuk anak keduanya, karena memang Akta maupun anak kedua ini tidak ada yang meminum susu langsung dari Dikta. Setelahnya Adam harus memegang botol susu tersebut sembari menggendong anak keduanya.
Adam menguap tanda mengantuk apalagi dia besok harus kembali ke rumah sakit, dan dini kian larut, jam sudah menunjukkan jam tiga pagi dimana beberapa jam lagi akan terbit fajar.
Adam melawan rasa kantuknya, suara dengkuran dari Dikta yang kelelahan mengurus anak, menjadi penyemangat sekaligus backsound suara tangis anak keduanya.
"Bobo yuk nak, kasian Bunda sama Kakak Akta udah bobo, nanti bangun, kamu gamau bobo juga?" tanya Adam.
Suara taqrim subuh yang tak lama kemudian berubah azan, sudah berkumandang disaat anak keduanya tertidur, Adam memilih untuk mengambil air wudhu dan menjalankan sholat subuh sebelum dia kembali tidur.
__ADS_1
Setelah selesai Adam kembali ke kamar dan melihat kedua anaknya yang sedang tertidur pulas bersama dengan Dikta yang tampak damai.
Adam kembali melirik jam dinding yang menunjukkan angka setengah lima subuh, Adam sudah kesulitan untuk kembali tertidur, ia memilih membaca buku sembari menunggu pagi.
Disela waktunya dan lelahnya dia merasa bahagia karena bisa menjadi Babah dan Suami yang baik bagi Dikt dan kedua anaknya.
Kurang lengkap apa kebahagiaan Adam sekarang, dia sudah memiliki keluarga kecil yang akan dia jaga selamanya.
Satu janji Adam pada keluarga kecilnya, dia tidak akan pernah meninggalkannya dalam kondisi apapun.
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
__ADS_1
Jangan Lupa Like
Author kembali!!! Udah pada kangen yah?