
Setelah hari dimana Dikta menerima lamaran Adam, hari ini Dikta dan Adam berencana menemui orang tua Adam untuk meminta restu.
"Kau siap?" tanya Adam.sebelum mereka turun dari mobil. "Bismilah."
Dikta menghembuskan napas panjang mencoba mentralisirkan perasaannya ketika akan bertemu calon mertuanya.
"Insha Allah siap," Dikta mengangguk yakin kemudian keluar dari mobil bersamaan dengan Adam.
Mereka berdua kemudian saling melempar pandangan saat tiba di pintu rumah orang tua Adam, setelahnya mengangguk bersamaan sebelum Adam mengetuk pintunya.
"Assalamualaikum," ujar Adam dan Dikta bersamaan.
Beberapa ketukan tak terjawab membuat bahu Dikta merasa lemas, namun tak lama kemudian terdengar jawaban salam dari seorang pria yang sudah dipastikan adalah ayah dari Adam.
"Adam?" Suara tersebut berasal dari belakang mereka dan dapat Adam serta Dikta lihat bahwa Ayah dan Mama Adam baru saja keluar dari mobil mereka dan tidak ada di dalam rumah.
"Ayah," Adam berjalan ke arah Ayahnya dan mencium telapak tangannya sedangkan Dikta juga melakukan hal yang sama pada calon Ayah mertuanya.
"Om," Dikta tersenyum dan membuat Ayah Adam tersenyum balik.
"Jadi ini calon istri kamu Adam?" tanya Ayah Adam yang membuat Adam mengangguk. "Jangan panggil Om, panggil saja Ayah, nama saya Haris."
Seketika Dikta merasa gugup dengan sikap ramah Ayah Haris, namun sesuatu berbeda ditunjukkan Mama Adam yang tampak sinis menatap Dikta. "Ini istri saya, namanya Nazwa."
__ADS_1
Adam mencium telapak tangan Mama Asti, Dikta hendak melakukan hal itu juga tapi tidak digubris oleh Mama Nazwa, selanjutnya Ayah Haris membawa Adam dan Dikta masuk kedalam rumah.
Perasaan Dikta sudah tidak enak akan sikap Mama Nazwa kepadanya, bukannya bagaimana tapi tampaknya kehadiran Dikta tidak dikenan oleh Mama Nazwa
"Jadi? Kau benar ingin menikahi dia?" Suara bernada arogan saat Mama Nazwa ..duduk dihadapan Dikta dan Adam yang duduk berdampingan. "Dia seorang Janda yang ditalak ditengah hamil, benar-benar aib keluarga nantinya."
Jleb.
Mendengar penuturan sarkas bernada benci dan menyakitkan itu membuat Dikta menunduk sedih, sedangkan Adam berusaha menenangkan Dikta.
Ayah Haris menegur istrinya namun tidak digubris oleh Mama Nazwa
"Ma? Tidak ada sebuah pernikahanmu yang menjadi aib, karena semua pernikahan bernilai pahala dihadapan Allah, lantas apa yang salah dengan dirinya?"
pada Adam.
"Kenapa kita harus memikirkan ucapan orang lain yang tidak bisa memberikan kebahagiaan kepada kita? Lantas haruskan kita mengorbankan kebahagiaan demi terlihat baik dimata orang lain? Buruk dimata orang lain belum tentu buruk dimata Allah, lantas sudah dapatkah mereka tempat disurga karena menilai orang lain? Tidak Ma, bahkan seorang paling kotorpun didunia bisa jadi sudah disiapkan surga untuknya dibandingkan kita yang jelas terlihat bersih,"
Dikta tertegun sekaligus terharu bangga atas pembelaan dari sisi kedewasaan Adam padanya.
"Mama ingin yang terbaik untukmu Adam, kamu anak satu-satunya Mama," Mama Nazwa menatap Adam.
"Walaupun begitu, Jangan pernah manjakan anakmu yang mengawali hidup dengan penuh keterbata–bataan," jawab Adam retoris.
__ADS_1
"Lantas apa yang bisa mendasari pernikahanmu dengan status dirinya?" tanya Mama Nazwal. menunjuk Dikta.
Adam hendak menjawab namun Dikta menahan tangannya kemudian bersiap menjawab sendiri pertanyaan itu.
"Beberapa orang berkata, jadikan status diri sebagai koridor yang tepat dalam berumah tangga. Awalnya aku berpikir bahwa status seorang Janda sangat buruk untukku, tapi aku sadar, status diri bukanlah landasan yang tepat dalam memulai hidup baru tapi bagaimana kita menjalaninya dan niatnya, lantas, apakah seorang Janda tidak berhak bahagia?" jelas Dikta.
Mama Nazwa dan Ayah Haris tertegun, selanjutnya mereka berdua saling melempar tatapan kemudian tersenyum dan bertepuk tangan membuat Adam dan Dikta bingung sendiri.
"Kalian berdua adalah pasangan yang pas, maafkan kalimat Mama tadi yah, Mama hanya mengujimu saja," Mama Nazwa memeluk Dikta.
Sedangkan Ayah Haris menepuk pundak Adam. "Anak ayah sudah dewasa."
"Jadi kapan kalian melangsungkan pernikahan?" tanya Mama Nazwa.
Mendengar pertanyaan seperti itu membuat Dikta dan Adam saling melempar pandangan sebelum menjawab pertanyaan tersebut.
•
•
•
TBC
__ADS_1