
Satu persatu iringan jenazah yang membawa Robby ke beristirahatan terakhirnya mulai meninggal area makam tersebut satu persatu.
Kini hanya tersisa, Mama Reni, Adam, Dikta, Sean dan Aurel disana.
Mama Reni tampak terduduk diantara dua makam orang yang paling berharga dalam hidupnya, yaitu Papa Reno dan Robby, kini hanya tinggal Mama Reni karena dua orang yang paling dia sayangi sudah mendahuluinya.
"Mama, kita pulang yah, kalau Mama nangis terus Robby gak akan bisa tenang disana," Sean mengangkat bahu Mama Reni untuk berdiri. "Kan masih ada Sean, Dikta, Aurel dan Adam."
"Benar Ma, Mama gak sendirian kok," Dikta menghampiri Mama Reni dan mengusap punggungnya.
Mama Reni tersenyum atas perhatian anak-anaknya yang notabene bukan anak kandungnya namun bagi seorang ibu ini jelas beda, karena Mama Reni baru saja kehilangan anak kandung yang dia kandung selama sembilan bulan dan dia pertaruhkan nyawanya saat akan melahirkannya.
"Semoga kamu tenang disisinya nak," Mama Reni menatap makam Robby sekali lagi sebelum ia melangkah pergi dari sana disusul Sean, Dikta, Adam dan Aurel.
"Adam? Dikta? Kalian nginap di rumah lama Mama Reni aja yah karena malam nanti ada acara pengajian untuk Robby, sekalian temenin Mama Reni," ujar Sean pada Adam dan Dikta sebelum naik ke mobil mereka.
"Iya kak, lagipula rumah Adam belum sempat di bersihkan," jawab Adam yang membuat Sean mengangguk.
"Aurel, kamu mau nginap juga kan? Kamu tidur bareng Mama Reni," tanya Sean pada Aurel yang hendak masuk ke mobil.
__ADS_1
"Gapapa kak?" tanya Aurel mendelik.
"Yah gapapa dong," jawab Sean yang membuat Aurel menganggukkan kepalanya setuju. "Yaudah ayok pulang, orang tua Adam udah nungguin kasian Akta juga udah cariin mamanya."
Mereka semua kemudian masih ke dalam mobil yang berbeda, Mama Reni dan Aurel yang ikut di mobil Sean sementara Adam dan Dikta di mobil Adam.
"Yah, malam pertama kita tertunda dong," Adam melirik Dikta dengan ekor matanya yang membuat Dikta menunduk.
"Kenapa mikirin itu sih?" tanya Dikta memerah. "Aku malu."
"Lah ngapain malu? Itu kan ibadah, ayo buka mukanya suaminya mau lihat," Adam meraih tangan Dikta dengan sebelah tangannya sementara tangan sebelahnya sibuk menyetir mobil. "Kamu tahu gak? Mas bahagia banget berhasil mengikat kamu dalam ikatan pernikahan setelah tertunda lima tahun."
"Aku juga bahagia, karena akhirnya aku bisa menemukan suami terbaik yang bisa mencintaiku dan ku harap yang terakhir bagiku," jawab Dikta menatap Adam.
Adam tersenyum kemudian kembali fokus menyetir dengan Dikta yang menyender di bahunya.
Adam benar-benar merasa menjadi pria paling beruntung di dunia ini karena ia berhasil menggaet seorang bidadari surga dalam hidupnya.
Penantian bertahun yang tidak pernah berujung sia-sia bagi Adam disaat dia ingin mengikhlaskan Dikta, Allah malah membawanya di jalan dimana ia bisa bersatu kembali dengan Dikta.
__ADS_1
"Mas gak akan biarin kamu meneteskan air.mata lagi, sayang," Adam mengecup kening Dikta sejenak.
Sementara itu di tempat lain tampak seorang pria dan wanita didalam satu ruangan dengan nuansa perkantoran tengah sibuk membicarakan sesuatu.
"Aku mendengar bahwa Adam sudah menikah dengan cinta pertamanya, lantas bagaimana nasib dirimu?" Seorang Pria bertanya kepada wanita lain di dalam ruangan itu.
"Aku kira aku bisa menjadi pengganti bagi cinta pertama Adam, namun rupanya aku hanya menjadi payung untuk Adam yang suka hujan," jawab wanita tersebut.
"Lantas, apa yang ingin kau lakukan?"
Wanita tersebut tidak menjawab, dia terdiam dan meraih foto Adam dengan tatapan mendelik penuh ketajaman.
•
•
•
TBC
__ADS_1