
"Kita ke dokter yah," Aurel memijat pundak Sean yang tengah lemas di ranjang.
Sean menggelengkan kepalanya kemudian menelusukkan wajahnya di dada Aurel dan tertidur disana. "Mau tidur."
"Dibilang sakit tapi gak demam, tapi kok mual sih?" Aurel menyentuh kening Sean yang masih seperti biasa.
Sean perlahan tertidur didalam rengkuhan Aurel, Aurel yang melihat itu segera menidurkan Sean di ranjang.
Wajah Sean tanpa pucat karena mual-mual ini, tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu diiringi salam yang membuat Aurel segera membuka pintu.
"Waalaikumsalam, eh Bianca, Ge, Anjani, kalian kok kesini? Maaf yah gak bisa ikutan kumpul, suami aku sakit, Dikta juga lagi sakit," Aurel tersenyum kepada ketiga sahabatnya.
"Gapapa kali, ini kami mau nengokin Dikta juga tapi kesini dulu deh, lepas kangen sama kamu, kita ngobrol di teras aja yuk," jawab Anjani mengajak Gevanya, Bianca dan Aurel ke teras.
Mereka berdua duduk di teras itu sembari bercerita, Bianca, Gevanya dan Anjani merupakan seorang dokter sehingga jarang mereka bisa mengambil waktu begini berbeda dengan Dikta dan Aurel yang sudah menjadi tanggungan suami.
"Cucurnya enak, cobain deh," Bianca memberikan kue cucur tersebut kepada Aurel.
"Enak, beli dimana nih?" Aurel memakan kue tersebut.
"Nyolong punya kak Ridwan," jawab Bianca menggaruk tengkuknya. "Halal kok, Kak Ridwannya baik."
Ketiga lainnya hanya geleng-geleng. "Betewe Rel, aku mau nanya tapi jangan tersinggung yah."
__ADS_1
Suara Anjani mengalihkan pandangan mereka semua ke arah Anjani. Sehingga membuat Aurel menjawab. "Tanya apa An?"
"Kalau misal ada yang nanya sama kamu, kapan hamil, kamu bakal jawab apa?" tanya Anjani yang membuat Aurel tersenyum perlahan.
"Aku bakal nanya balik, kapan kamu meninggal? Kira-kira kalian bakal jawab apa?" jawab Aurel mengajukan pertanyaan.
Gevanya, Anjani dan Bianca saling menatap. "Gatau, itu kan urusan Allah."
"Itu jawabannya, Anak, Jodoh dan Maut adalah urusan Allah, kita sebagai manusia hanya bisa berdoa untuk mendapatkan yang terbaik kita tidak bisa tahu kapan kita akan mendapatkan nya tapi itu pasti, Janji Allah selalu ditepati, tidak ada yang paling indah selain doa hamba beriman memohon kepada Allah," jawab Aurel yang membuat ketiganya terdiam.
"Rezeki, maut, anak dan jodoh datang dari Allah dan dikelola oleh manusia, kalau hanya terus berpangku tangan buat apa? Usaha dilakukan tapi terkadang ada beberapa diantara kita lupa bahwa doa di sepertiga malam, dalam sujud itu yang penting," lanjut Aurel yang membuat ketiga sahabatnya salut dengan pemikiran Aurel.
"Salut aku, semoga kamu cepet dapat momongan," ujar Anjani.
"Kak Sean sakit apa?" tanya Gevanya pada Aurel.
"Gak kenapa-napa tadi dia mual, aku takut," jawab Aurel yang membuat ketiganya mendelik.
Jiwa dokter ketiganya merasakan ada yang aneh terlebih Anjani yang merupakan dokter kandungan disini.
"Kamu terakhir datang bulan kapan?" tanya Anjani yang membuat Aurel mengingat dan benar terakhir itu dua bulan yang lalu.
Mendengar itu membuat Anjani merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah testpack yang memang dia tidak sengaja bawah dari rumah sakit.
__ADS_1
"Cobain deh," Anjani memberikan testpack itu kepada Aurel.
Aurel ingin menolak karena dirinya tidak merasa mendapat gejala orang hamil, namun dirinya tetap mencoba dan setelah dicoba betapa terkejutnya dia mendapati dua garis disana.
"Rel? Kamu hamil?" Mereka semua terkejut.
"Berarti kak Sean? Kena-"
"COUVADE SYNDROME!" potong Anjani, Gevanya dan Bianca serentak.
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like yah
Kira kira anaknya ganda putra, ganda campuran atau tunggal aja nih? Wkwkw
__ADS_1