
Usia kandungan Dikta dan Aurel kini sudah menginjak sembilan bulan.
Mereka kerap melakukan pemeriksaan kehamilan bersama dan memang mereka hanya menunggu harinya karena sudah memasuki bulan terakhir dalam trimester terakhir kehamilan mereka.
Sudah banyak hal yang mereka lewati terlebih Sean yang harus menghadapi kehamilan simpati atas Aurel selama enam bulan pertama kehamilannya.
"Lucu yah," Sean menoel-noel perut Aurel yang sudah membuncit.
Tidak pernah ada dalam benak Sean pribadi kalau dirinya akan menjadi seorang Ayah diusianya yang akan menginjak kepala empat itu.
Berbeda jarak usia dengan istrinya bukan alasan untuk Sean meluruhkan cintanya, Sean ingat kisah Khadijah dan Rasulullah dimana percintaan beda usia terjadi dan usia bukanlah masalah di antara keduanya untuk saling menjaga sampai akhir hayat.
"Makasih yah," Sean bangkit dan mencium pipi Aurel yang tengah bersandar pada punggung ranjang. "Selama enam bulan pertama kamu udah mau di repotin sama ngidam kakak yang aneh-aneh."
"Gapapa kan demi Bapak Hamil," Aurel menoel perut Sean yang sudah sedikit buncit.
Sean yang memang tidak memakai baju menatap perutnya sendiri, roti sobek disana sudah hilang karena selama enam bulan dia tidak pernah work out dan hanya makan dan makan.
__ADS_1
"Kamu masih suka sama kakak, udah gak kotak-kotak loh perut kakak ini," Sean menatap perutnya sendiri yang memang sudah tidak kotak-kotak lagi.
"Gapapa walaupun sekarang perut kakak udah kotak satu, tetap yang paling tampan dimata aku itu kakak," Aurel mencubit perut Sean.
Sean tertawa kecuali dia beralih duduk di samping istrinya dengan bersandar pada punggung ranjang juga, dia memeluk Aurel dari samping dan beberapa kali menciumi keningnya.
Sementara itu Adam sendiri sudah memiliki kesibukan baru yah selain menjadi dokter dia sudah merangkap menjadi Daddysitter semenjak Dikta hamil.
Kini Adam tengah berjalan di koridor rumah sakit dengan menggendong Akta didepan menggunakan gendongan bayi, sudah hampir empat bulanan Adam bekerja sembari membawa Akta.
Disebabkan kehamilan Dikta yang kedua ini tidak sekuat kehamilan pertama membuat Adam harus mengambil posisi menjadi ayah dan suami yang baik.
"Pagi Babah Adam, bawa anak lagi?" Bianca dan Anjani menyapa Adam yang berjalan dengan membawa Akta.
"Pagi Ibu-ibu, iya nih, susah ditinggal maklumlah yah, Bapak Rumah Tangga," gurau Adam yang terkadang meladeni obrolan dan candaan teman sesama dokternya itu.
"Sumpah loh Dam, cuma kamu dokter yang kerja bawa anak, hahaha harus dapat rekor muri nih, kenapa sih Dam kamu sayang banget sama Akta, mohon maaf dia kan bukan anak kandung kamu," tanya Bianca sedikit berhati-hati.
__ADS_1
"Ketika aku menikahi Dikta berarti aku harus siap dengan apa yang bersama Dikta, statusnya, stratanya bahkan keluarganya, jadi apakah salah kalau aku memperlakukan Akta seperti anak kandung, lagipula Akta kan memang anak kandung Babah Adam, kan nak?" Adam tersenyum pada Bianca dan Anjani.
Anjani dan Bianca tersenyum salut. "Hebat kamu Dam, memuliakan seorang istri dan anak, pasti pahala udah ngalir deras ini, beruntung Dikta nikah sama kamu."
"Pada dasarnya semua wanita itu beruntung ketika mendapatkan pasangan, yang membedakannya saja hanyalah kita cari yang sholeh atau yang tampan? Kalau cari yang tampan, dia belum tentu sholeh tapi kalau cari yang sholeh insha Allah dia tampan, jangan takut ditinggalkan perbanyak doa kepada Allah, karena kalau kita tidak meninggalkan Allah Inshaallah kita yang akan dikejar, rumus jodoh itu aja sih," jelas Adam berlalu menuju ruangannya. "Duluan yah."
Anjani dan Bianca masih terdiam, selama ini mereka terlalu banyak kriteria apakah akan ada penyesalan jika dari sekian banyak opsi itu akan menjadi satu. "Yang penting mau."
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
__ADS_1
Jangan Lupa Like