
"Dikta? Sayang? Kamu dimana?" Adam memanggil nama Dikta saat masuk ke dalam kamar setelah mengambil air wudhu.
Namun Dikta sudah tidak ada didalam kamar melainkan hanya tinggal Akta diranjang yang tampak terbangun, disamping Akta juga ada baju koko dan sarung sholat milik Adam yang sudah di siapkan Dikta.
Adam berjalan ke arah ranjang dan tersenyum saat melihat wajah Akta yang tampak bermain sendiri. "Anak ayah kebangun yah?"
Adam mengambil Akta dan menggendongnya kemudian menciumi pipinya. "Kamu kenapa kebangun nak? Mau sholat juga? Nanti yah kalau udah gede."
Akta tersenyum dengan wajah bayinya kemudian menguap yang menandakan dirinya masih mengantuk. "Oh anak ayah ngantuk, yaudah kamu bobok lagi yah, bunda kamu juga gatau kemana."
Adam menaruh kembali Akta di ranjang dan beralih memakai baju koko dan sarungnya.
Setelah selesai memakai pakaian, Adam berjalan ke tengah ruangan dan menggelar sajadahnya, namun satu yang masih yang mengganjal Adam tidak tahu dimana arah kiblat di daerah tersebut.
Karena ini pertama kalinya bagi Adam menginap disini, sedangkan tadi sewaktu melaksanakan sholat maghrib Adam melakukannya di rumah sakit karena ada tugas mendadak sebelum pulang ke rumah Mama Reni.
Dengan bermodal nekat dan ikhtijad Adam menggunakan feelingnya untuk menentukan arah Kiblat yang menurutnya benar sebelum mengumandangkan Azan dan mulai menunaikan sholat isya.
Disaat Adam melaksanakan sholat isya, Dikta masuk kedalam kamar dan merasa bahwa Kiblat sholat suaminya salah, dengan pelan berjalan ke arah suaminya.
Dikta memegang pundak Adam dengan kedua tangannya dan memutar badan Adam ke kiblat yang benar. "Maaf yah Mas salah kiblat."
Setelahnya Dikta merapihkan kembali sajadah Adam sesuai dengan arah kiblat sehingga Adam bisa melanjutkan sholatnya.
Setelahnya Dikta berjalan ke arah ranjang dan duduk disana, dia menaruh ponsel Adam yang dia bawa tadi ke nakas, sebenarnya Dikta keluar tadi karena ada seorang wanita yang menelepon ke ponsel Adam yang membuat Dikta mengangkatnya.
__ADS_1
- Flashback On
"Halo siapa yah?" tanya Dikta mengangkat telepon dari ponsel Adam.
"Hm? Kamu pasti Dikta istri Adam, kenalkan aku Bianca, orang yang hampir saja menjadi istri Adam dulu," jawab wanita tersebut yang membuat Dikta diam.
Deg!
"Apa yang kau inginkan?"
"Tidak ada, hanya ingin memperingatkanmu, jaga baik-baik suamimu," jawab Bianca.
Dikta tersenyum walaupun tidak bisa dilihat oleh Bianca. "Lakukan saja,"
"Kau menantang ku? Pasti setelah ini kau akan memutus akses nomor ku kepada suamimu,"
"Apa maksudmu?"
"Tidak ada, aku hanya akan mengajarimu bagaimana kuadrat seorang istri sah di mata suami dan orang lain didalam islam," Dikta mematikan sambungan telepon tersebut kemudian kembali masuk ke dalam rumah.
Dikta tidak akan tinggal dia untuk sekarang, dia tidak akan membiarkan rumah tangganya hancur untuk alasan yang sama, dan jika mereka berpikir Dikta yang sekarang adalah Dikta yang dulu rupanya mereka akan menerima lawan yang salah.
Rumah tangga tanpa bibit orang ketiga itu adalah hal yang sederhana batin Dikta.
- Flashback Off
__ADS_1
Setelah melakukan sholat Adam segera membaca doa terakhir kemudian berjalan ke arah Dikta dan duduk disampingnya sembari melepas bajunya.
"Mas tadi salah kiblat yah? Emang sholatnya gak batal?" tanya Adam duduk disamping Dikta.
Dikta tersenyum. "Gak kok, Mas."
"Kok bisa?"
"Ulama fiqih mengatakan boleh orang yang datang mengetahui seseorang sedang salah solatnya dia meluruskan menggoyangkan badannya, pegang pundaknya mengarahkan dengan catatan sesama jenis atau mahromnya," jelas Dikta yang membuat Adam mengangguk. "Emang tadi mas gak ngecek hp atau keluar dulu gitu nanya."
Adam terkekeh. "Mas lupa."
"Kebiasaan,"
Adam langsung menarik istrinya kemudian menciumi pipinya dan memeluknya erat. "Kalau ini Mas gak lupa."
"Apa?"
"Meluk kamu sepanjang tidur Mas," jawab Adam menidurkan dirinya dalam posisi memeluk Dikta.
•
•
•
__ADS_1
TBC