
Adam dan Dikta kini terduduk saling berhadapan dengan Ayah Haris dan Mama Nazwa dikiri kanan Adam sedangkan Sean dan Mama Reni dikiri kanan Dikta.
Kedua pihak keluarga sudah sepakat dan mufakad akan pernikahan Dikta dan Adam sehingga hari ini mereka berencana membahas tentang tanggal pernikahan mereka.
Karena baik keluarga Adam maupun Dikta tidak terlalu berfokus pada tradisi tentang upacara dan rangkaian sebelum akad nikah, sehingga mereka hanya langsung mempersiapkan tanggal akad dan.resepsi kedepannya.
Mahar sudah mereka persiapkan dan sudah melalui persetujuan bersama sehingga kini keputusan tanggal ada ditangan Dikta dan Adam.
"Tanggal berapa kalian rencanakan?" tanya Ayah Haris pada Adam.
Adam menatap Dikta yang membuat Dikta mengangguk pada Adam untuk mengungkapkan tanggal akad yang mereka berdua sudah rencanakan.
"Bismillah, Insha Allah kami ingin melangsungkan akad nikah tanggal tiga belas mei tepat hari jumat," jawab Adam. "Sebenarnya ini agak kepepet, karena sudah H-1 dari tanggal tersebut, tapi Insha Allah kami yakin, dan undangan sudah kami cetak pada hari lamaran sebelum hari penentuan tanggal ini, jadi nanti siang tinggal disebar,"
"Sebenarnya agak terburu-buru, bagaimana kalau hari sabtu saja? Kita butuh persiapan," sela Sean yang membuat Adam menatap calon kakak iparnya.
"Benar kata Nak Sean, hari jumat memang adalah hari yang baik, tapi ini terlalu terburu-buru," Ayah Haris sepakat dengan pendapat Sean.
Adam dan Dikta kembali saling menukar pandangan, jika mereka pikir-pikir pendapat Sean juga ada benarnya.
Mama Reni dan Mama Nazwa juga ikut setuju dengan cetusan dari Sean.
Ayah Haris menghela napas panjang. "Bagaimana Adam? Hari sabtu saja yah,"
"Kalau menurut kalian semua itu baik, Adam pribadi ikut saja, coba tanya Dikta," Adam tersenyum.
"Dikta juga ikut saja," timpal Dikta setuju. "Tapi Mas Adam sudah mencetak undangannya untuk tanggal tiga belas."
"Tenang itu biar kakak yang ngurus," jawab Sean mengusap kepala adiknya.
Mereka semua mengangguk karena mendapatkan kesepakatan baru, Ayah Haris berdiri kemudian menggulung lengan kemejanya. "Jadi sudah pasti yah, Bismilah, Akad Nikah kalian akan dilaksanakan, hari sabtu pada siang harinya dan malam harinya acara resepsi."
__ADS_1
"Semoga rencana baik ini dilancarkan oleh Allah SWT," lanjut Ayah Haris.
"Aamiin," ujar mereka serempak.
•
Setelah acara pertemuan kedua belah keluarga membicarakan tanggal akad mereka, kini keluarga Adam dan Dikta tampak mengakrabkan diri dengan berbincang di ruang tamu.
Dikta sendiri memilih berada di teras rumah dan duduk di kursi yang ada disana sembari menggendong Akta.
"Selamat siang Calon Istri," Adam duduk di kursi yang ada didepan Dikta kemudian mencubit pipi Akta. "Selamat siang anak Ayah."
Dikta tersenyum. "Tumben."
"Gapapa, itu panggilan sayang aku sebelum aku manggil kamu Istriku," jawab Adam meminta agar dirinya yang menggendong Akta.
Dikta menyerahkan Akta kepada Adam. "Kebiasaan, suka ngegombal."
"Kenapa Mas?"
"Kayaknya kita gak perlu nyetok gula nanti pas kita udah nikah," jawab Adam.
"Lah, kok?"
"Iya, soalnya nanti aku diabetes, kamu dan Akta kan udah manis banget," Adam menaik turunkan alisnya.
Dikta tertawa kecil dengan pipi memerah.
"Ta, aku ada tebak-tebakan,"
"Apa?"
__ADS_1
Adam tersenyum dan menatap Dikta. "Apa perbedaan Nun Mati ketemu Jim, sama aku ketemu kamu?"
Dikta berpikir sejenak. "Apa?"
"Kalau Nun Mati ketemu Jim disebut Ikhfa. Kalau aku ketemu kamu disebut cinta," jawab Adam yang sukses membuat Dikta tersipu.
"Tau gak sih Ta? Cinta Mas Adam untuk kamu itu ibarat Idzhar,"
"Idzhar?"
"Iya Idzhar, jelas dan terang,"
Dikta tertawa kecil. "Makin jago aja,"
Adam menghangat melihat tawa Dikta, dia sudah bertekad untuk tidak membiarkan air mata jatuh lagi di pelupuk mata calon istrinya itu. "Semua untuk kamu, karena Mas berharap, semoga Mas bisa menjadi Man Arid Lissukun untukmu."
Dikta mengangkat alis.
"Iya, semoga yang terakhir untukmu," jelas Adam.
•
•
•
TBC
Mampir Yuk!
__ADS_1