
"ROBBY!"
Teriakan Mama Reni terdengar menyayat hati semua orang yang ada disana, Dikta segera berlari ke arah Mama Reni dan memeluknya sementara Sean dan Adam segera berdiri mengangkat jenazah Robby.
"Bangun Rob!" Mama Reni seperti sudah tidak kuat lagi menatap Robby yang sudah terbujur kaku.
Setelah membawa jenazah Robby, Sean segera mendatangi Mama Reni yang sedang di kuatkan oleh Dikta dan memeluknya.
"Mama yang kuat yah, Mama ga boleh gini, nanti Mama kenapa-napa, ada Sean dan Dikta kok buat Mama," Sean menangis memeluk Mama Reni.
Semua orang masih terdiam kaget, karena kejadian tersebut, Robby benar-benar sudah pergi dengan tenang setelah melakukan pertaubatan dan permintaan maaf setelah melepas semuanya dengan ikhlas.
"Mama Reni, jangan sedih, ada Aurel juga kok," Aurel ikut menangis dan duduk bersimpuh dilantai bersama Sean, Dikta dan Mama Reni.
Walaupun Robby pernah jahat namun dia sudah berubah, tetapi mungkin Allah sayang kepadanya bahkan sebelum dia pergi Allah sudah menggetarkan hatinya untuk berubah.
Karena ketahuilah orang-orang yang di sayang Allah adalah orang yang dimana ia mendapat hidayah dan keinginan untuk berubah, dan Robby salah satunya.
Pandangan Mama Reni melemah, pendengarannya memudar sampai akhirnya Mama Reni jatuh tak sadarkan diri didalam rengkuhan Sean.
"Mama? Mama?" Sean menggoyangkan pundak Mama Reni.
__ADS_1
Mama Reni tampaknya sudah pingsan entah karena syok atau apapun itu, melihat itu Sean segera menggendong Mama Reni dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Adam dan Ayah Haris yang melihat situasi dan kondisi sedang tidak baik-baik saja segera mengambil alih kondisi.
"Assalamualaikum, kepada tamu undangan akad nikah, terima kasih sudah hadir dalam akad nikah anak saya, Alhamdulillah semua berjalan lancar namun ada beberapa hal yang membuat acara ini harus berakhir lebih awal, mohon dimaklumi," Ayah Haris bersuara dengan menelungkup kedua tangannya memohon maaf.
Semua tamu undangan tersebut mengangguk dan perlahan pergi dari sana setelah menyalami Dikta dan Adam, setelah selesai Adam segera menemui penghulu tersebut dan akhirnya rumah Sean kini hanya tersisa Adam, Sean, Mama Nazwa, Ayah Haris, Dikta dan Aurel.
"Adam, orang yang kamu suruh bawa jenazah Robby ke rumah Mama Reni udah jalan?" tanya Sean keluar dari kamar setelah membawa Mama Reni masuk.
"Udah kak, kalau gitu aku nyusul dulu yah, biar bisa bantu nyiapin penyemayaman jenazah Robby," jawab Adam pada Sean.
"Kakak ikut,"
Adam dan Sean mengangguk. "Mama Nazwa, Dikta dan Aurel kalian disini nungguin Mama Reni, kalau udah agak siuman kalian nyusul aja ke rumah Mama Reni."
Mereka bertiga mengangguk, Adam kemudian mendatangi Dikta dan menjulurkan tangannya, Dikta meraih tangan Adam dan menciumnya. "Mas pamit yah, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam,"
•
__ADS_1
•
•
"Jenazah sudah selesai di kafani, sebelum kain kafan terakhir dibagian wajah ditutup, mungkin pihak keluarga ada yang mau melihat?" ujar seorang pengurus jenazah.
Mama Reni yang masih lemas diruangan itu, berjalan pelan ke samping jenazah Robby ia menatap wajah putranya itu, ia sudah tidak sanggup lagi berkata-kata.
"Robby? Nak? Kamu udah gak sakit lagi yah nak? Tapi kenapa kamu malah nyusul Papa kamu, kamu tega ninggalin Mama sendirian? Mama gak punya siapa-siapa lagi," ujar Mama Reni yang menangis tak tertahankan.
Momen mengharu biru tersebut membuat semuanya tak sanggup menahan tetesan air mata mereka, Sean dan Adam mendatangi Mama Reni dan memeluknya dari kiri dan kanan berusaha memenangkannya.
"Mama masih punya aku dan Adam, kami anak Mama," Sean menatap Mama Reni. "Mama gak boleh nangis yah,"
"Seorang anak gak akan membiarkan air mata ibunya jatuh, karena Robby sudah tidak ada, biarkan Adam yang kini menyeka air mata Mama,"
Sementara itu Dikta hanya berdiri tanpa tahu harus melakukan apa, ia menggendong Akta dan menatap Robby. "Aku berjanji Bang, aku akan membesarkan Akta tanpa harus menutupi siapa ayah kandungnya."
•
•
__ADS_1
•
TBC