
"Beberapa orang berhak menilai, tapi tidak yang berhak untuk memutuskan tentang apa dan bagaimana orang tersebut, kalau sudah begini, apakah itu bagian dari sebuah penilaian?" Dikta menuangkan air ke gelas kosong milik Tante suaminya.
Tante Adam kemudian mulai meminum air tersebut dan membuang muka, ia sudah sangat malu dengan sikap Dikta kepadanya.
"Kak Adam! Istri kakak ini tidak tahu sopan santun, masa dia berkata begitu kepada Mama aku," Sepupu Adam mulai angkat suara.
Suasana tegang, Mams Nazwa dan suaminya sendiri hanya menyaksikan karena mereka berdua tahu Adam dan Dikta bisa menyelesaikan ini sendiri.
Adam dan Dikta saling menatap kemudian masih bersikap tenang, Dikta meraih satu potong kue di meja kemudian memakannya. "Kau ingin tahu arti sopan santun?"
"Pertama dudukmu tidak benar, anak gadis mana yang duduk dengan mengangkang di atas kursi didepan orang tua, kedua sepertinya yang harus diajari sopan santun disini adalah dirimu cantik, nada bicaramu terlalu tinggi, aku tidak masalah, aku takutnya kau kehabisan suara untuk mencari pembenaran," Dikta menarik tangan Sepupu Adam agar mendekat dengannya. "Sebelum kau bicara pikirkan dulu itu baik-baik."
Sepupu Adam menatap tajam Dikta karena dirinya berhasil dipermalukan oleh Dikta, Dikta kembali duduk di kursi disamping Adam dan tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka tadi.
"Mau bagaimanapun tetap saja Janda itu hanya mempermalukan image keluarga besar kita," Tante Adam yang tadinya diam kembali berbicara.
"Bukannya yang mempermalukan dirinya sendiri Tante yah? Hahaha, Ting?" Adam berkata dengan nada meledek.
__ADS_1
"Adam, kau adalah anak tunggal dan kau mendapatkan janda tidak seperti anak Tante dia mendapatkan anak gadis," Tante Adam membalas.
"Dan dia sudah kawin cerai tiga kali," Adam memotong.
Deg!
"Dan berbicara soal Janda bukannya Tante juga Janda yah?" lanjut Adam mengangguk-anggukan kepalanya.
"Lagipula dia hanya ibu rumah tangga biasa tidak seperti anak Tante ini, seorang pegawai kantoran,"
Adam dan Dikta kembali saling, menatap sedangkan Mama Nazwa diujung sana datang menghampiri. "Aku rasa aku lupa menjelaskan kalau Dikta ini adalah seorang Motivator terkenal."
"Ibu Riana Adelia, anda konsultasi ke saya kan waktu itu, ah selain banyak berbicara Anda juga sudah gampang lupa ingatan," Dikta tersenyum manis kemudian menarik tangan suaminya berdiri.
"Kalau anda ingin menilai diriku, silakan, namun tidak dengan suami dan anakku, anda sudah merasa hebat? Anda lupa gelas kosong saja anda kira berisi," Dikta berjalan ke arah Mama Nazwa. "Mama, Dikta pamit yah."
Mama Nazwa mengangguk, Adam juga segera berpamitan kepada orang tuanya dengan menggendong Akta, ia lalu menggandeng tangan Dikta. "Assalamualaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam,"
Dikta dan Adam segera masuk ke dalam mobil mereka, Adam menyerahkan Akta ke Dikta kemudian duduk di kursi pengemudi.
"Kamu hebat, sayang," puji Adam mencium pipi Dikta. "Kali ini kita menang."
"Mas, juga hebat, Mas bisa bersikap tegas," jawab Dikta menciumi pipi Akta.
Akta yang melihat kedua orang tuanya tertawa polos ala bayi, yang membuat Adam dan Dikta gemas sendiri.
"Eh anak Babah ketawa, kenapa? Nanti kamu kalau udah gede harus kayak Bunda yah, kalau ditindas harus ditindas balik, tapi dengan cara yang elegan, karena orang pinter akan kalah dengan satu Fakta dan orang bodoh tidak aan cukup dengan satu Fakta."
•
•
•
__ADS_1
TBC