
"Nih gaji Mas, kamu simpan semua aja yah dek," Adam mengusap keningnya.
Dia sengaja pulang cepat hari ini, dia pulang jam tiga sore dan hari ini dia seharian bersama Akta, dia meras bahwa hari ini dia tidak ingin berpisah dari putranya itu sehingga saat jam makan siang Adam tidak membawa Akta pulang.
Dikta yang sedang duduk bersandar pada punggung ranjang menatap amplop coklat yang cukup tebal, pasti Adam sudah menarik semuanya dari rekening miliknya, karena biasanya gaji Adam selalu berubah virtual money.
"Kok kasih ke aku sih, kan bulan lalu udah," jawab Dikta memberikan kembali amplop tersebut kepada Adam. "Lagian uang dari bulan kemarin sama tabungan aku masih ada, uang ini Mas pake aja buat keperluan Mas, masa menuhin keperluan aku terus, keperluan sendiri gak."
Adam tersenyum dia menaruh Akta di ranjang dan duduk di tepi ranjang tepat disamping istrinya. "Apapun untuk kamu Mas gapapa, pertama kamu istri Mas, kedua kamu tanggung jawab Mas, berarti gaji Mas yah milik kamu semua, Mas gaada keperluan kok, kalau kamu belum mau pakai, kamu tabung aja."
"Masa gaada keperluan?" Dikta menerawang masuk ke wajah Adam, Adam tersenyum dan mendelik.
"Seperti awal kita menikah, lima puluh persen dari gaji Mas itu tetap Mas sisakan untuk orang tua Mas dan sisanya itu untuk kamu, sama seperti kamu kan, lima puluh persen gaji sebagai motivator kamu berikan kepada Mama Reni, nah itu cara kita untuk berbakti," Adam beranjak merangkak naik ke atas ranjang duduk disamping Dikta dan menyandarkan dirinya di punggung ranjang.
Adam meraih Dikta dan merangkulnya menaruh kepala istrinya itu tepat di dadanya. "Mas ga masalah kalau kebutuhan Mas tidak terpenuhi, Mas mau makan juga kan yang masak kamu, paling uang bensin aja. Jadi kamu aja yah yang nyimpan."
__ADS_1
Dikta menyerah. "Kalau Mas ada keperluan janji harus bilang yah?"
Adam mengangguk, selama dia menjadi bujang seluruh gajinya memang dialihkan kepada kedua orang tuanya dan tidak munafik dulu kebutuhan sehari-hari Adam juga perlu sehingga dia hanya mengambil dua puluh persen dari gajinya, setelah menikahi Dikta ini sudah menjadi kesepakatan Adam dan orang tuanya bahwa gaji Adam akan di bagi dua lima puluh persen tuk orang tuanya dan sisanya untuk Dikta.
Adam seolah tidak membutuhkan apa-apa lagi sekarang, dia sudah memiliki istri yang baik, anak yang lucu dan calon anak didalam kandungan Dikta.
"Kamu tahu gak? Dulu Mas tujuannya kerja gaada gajian tinggal gajian, tapi sekarang Mas semakin semangat kerja, ada tujuan Mas, Mas ingin membahagiakan kamu," Adam mengambil Akta dan menggendongnya. "Dan membahagiakan Akta serta calon anak kita."
Adam mencium perut Dikta yang membuncit, benar sekarang tujuan Adam bekerja untuk membahagiakan keluarga kecilnya tanpa menghilangkan esensi berbakti kepada kedua orang tuanya.
Dikta sendiri selalu menyimpan gaji Adam dan Gaji sebagai motivator miliknya untuk kebutuhan kedepan dan kebutuhan sehari-hari mereka memilih hidup sederhana dengan mengandalkan uang yang memang diperuntukkan untuk kebutuhan sehari-hari.
"Kamu kenapa sayang? Mau lahiran?" Adam langsung panik.
Disaat Adam panik suara dering ponsel membuat Adam melirik ponselnya dan mengangkatnya.
__ADS_1
"Halo? Kak Sean?"
"Kalian dimana? Aurel ada di rumah sakit dia akan melahirkan,"
"Hah? Dikta juga, aku mau bawa ke rumah sakit,"
"Hah? Beneran barengan?"
•
•
•
TBC
__ADS_1
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like