Selepas Kata Talak

Selepas Kata Talak
BAB 40. Kedatangan Robby


__ADS_3

"Rencana kakak mau nikah sama Aurel serius?" tanya Dikta duduk disamping Sean yang tengah sibuk menggonta-ganti channel tv dihadapannya.


"Bismilah, soalnya ini sudah dua bulan lebih, semenjak Aurel menjadi mualaf jadi kakak mau serius sama dia," jawab Sean menarik kepala Dikta agar bersandar di lengannya.


"Kalau kamu mau serius, Mama dukung seratus persen," Mama Reni berjalan dengan membawa sepiring brownis untuk mereka makan bersama.


Semenjak acara tujuh bulanan itu Sean memilih membawa serta Mama Reni hidup bersamanya, karena dia tidak mau Mama Reni hidup sendirian.


Ditambah lagi kini Dikta memasuki bulan terakhir dalam trimester ketiga kehamilannya yang dimana Sean tidak bisa terus memantau keadaannya.


Disaat mereka semua sibuk, suara ketukan pintu terdengar disertai ucapan salam yang membuat Mama Reni berdiri dan hendak membuka pintu tersebut.


"Mama duduk aja, biar Dikta yang buka pintunya," Dikta berdiri dan berjalan pelan karena memang perutnya sudah membesar.


Dikta berjalan ke arah pintu yang membuat Sean dan Mama Reni saling melempar tatapan, mereka berdua kemudian menyusul Dikta membuka pintu.


Dikta meraih engsel pintu dan menariknya. "Waalaikumsalam, siapa ya?"


Deg!

__ADS_1


Seketika Dikta merasakan kaget beserta Mama Reni dan Sean mendapati sosok Robby dihadapan mereka dengan tatapan sendu dan masih menyimpan beragam penyesalan.


"Sudah hampir delapan bulan kita tidak bertemu, apa kabarmu?" tanya Robby.


Dikta tidak menjawab, Robby kemudian langsung mencium tangan Mama Reni dan melepas kerinduan dengan ibunya itu. "Bisakah aku bicara dengan Dikta?"


Sean menatap Dikta untuk menginformasikan permintaan Robby, dan Dikta mengangguk.


Sean dan Mama Reni berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan Dikta disana bersama Robby.


Robby menatap Dikta dalam setelah kepergian Sean dan Mama Reni, membuat Dikta membuang muka. "Kau tahu selama delapan bulan ini, aku berusaha menjadi pria yang baik dan tidak mengulang keburukan dalam masa laluku."


"Alhamdulillah dong, aku senang ngedengernya," Dikta berjalan ke kursi yang ada di teras dan duduk disana.


Dikta tersenyum kecut, nada ucapan Robby benar-benar dramatis penuh penekanan. "Tidak bisa."


Jawaban singkat, padat dan jelas bernada penolakan yang berarti tumpul membuat bahu Robby melorot seketika. "Kenapa? Bisakah kau memberikan aku kesempatan kedua?"


"Aku paling anti memberikan kesempatan kedua karena jika kau mengatakan Allah saja bisa memberikan kesempatan pada umatnya sedangkan aku tidak, maaf aku bukan Allah, aku hanya manusia biasa,"

__ADS_1


Robby mencebik, penolakan Dikta benar-benar disertai penjelasan gamblang nan mencolok yang membuat Robby benar-benar ditinggikan ekspestasi dan dihempaskan kenyataan.


"Memberikan seseorang kesempatan kedua itu ibarat memberi peluru kepada pistol orang tersebut disaat orang tersebut gagal menembak kita pada percobaan pertama," lanjut Dikta tersenyum kepada Robby.


"Aku kira selingkuh sekali seumur hidup itu tidak apa-apa bagi seorang manusia," Robby berjalan ke Dikta yang kali ini membelakanginya.


"Selalu ada pilihan bang, itulah gunanya Allah memberikan kita akal pikiran, kalau tahunya cuma hawa nafsu saja itu adalah binatang," Dikta bersuara.


Deg!


Robby mendelik mendapat sebuah tamparan keras dari Dikta berupa kalimat menusuk.


"Baiklah, aku rasa kita memang sudah tidak berjodoh, jika Ar-Rahman ku sudah tidak bisa mengikatmu sampai Yasin ku memisahkan kita, biar Ar-Araf ku yang melepasmu dengan ikhlas, semoga kau bahagia dengan pilihan terbaikmu," Robby berusaha tegar dalam segala penolakan itu.


Dikta tersenyum, namun senyum itu segera luntur saat ia merasakan mulas diperutnya yang membuat dia segera menekan kedua tangannya memegang perutnya karena rasa ingin buang air besar yang hebat.



__ADS_1



TBC


__ADS_2