
"Dikta?" Anjani langsung duduk di tepi ranjang yang membuat Dikta mengambil posisi duduk.
"Kalian kok disini?" tanya Dikta bingung.
"Buruan pake ini," Anjani memberikan testpack yang dia bawa kepada Dikta.
Dikta mengerjapkan matanya kemudian menerima testpack tersebut dari tangan Anjani dengan wajah bingung.
"Buat apa?"
"Katanya kamu mual-mual, tadi kami dari rumah Aurel terus ternyata dia hamil, padahal yang kena gejala itu Kak Sean, siapa tahu kamu juga hamil," jawab Gevanya duduk disamping Dikta.
"Tapi aku belum mau buang air kecil," jawab Dikta menatap testpack tersebut.
"Gapapa, lebih bagus juga di coba pas pagi hari pas air seni pertama," Anjani menerangkan.
"Yaudah kalau gitu," Dikta menaruh testpack tersebut di atas nakas. "Kalian mau kumpul? Aurel ikut?"
"Gak, Aurel gak ikut," jawab Anjani. "Yaudah kami pamit dulu yah, takut ganggu kamu istirahat."
"Eh, kok cepet banget,"
"Gapapa, nanti kita me time lagi yah," Anjani berdiri. "Pamit yah, Assalamualaikum."
Anjani, Gevanya dan Bianca berjalan keluar dari kamar Dikta dan mendapati Adam tengah berada di ruang tamu.
"Mandi pak dokter?" tanya Bianca melihat baju Adam basah.
"Eh Bu Dokter, iya habis main waterpark sama anak saya," Adam tertawa garing.
__ADS_1
"Gapapa kali, belum najis itu masih suci gitu," ujar Anjani menahan tawanya. "Yaudah yah Adam, aku sama yang lainnya pamit."
"Assalamualaikum."
"Iya! Waalaikumsalam," jawab Adam masuk ke dalam kamar menemui Dikta.
Sesampainya di dalam kamar, Adam langsung meletakkan Akta ke ranjang kemudian melepas kaos-nya.
"Ngapain tadi mereka datang?" tanya Adam memakai kaos singletnya dan duduk di samping Dikta.
"Mereka?" Dikta mengambil Akta dan menggendongnya. "Ngebawain Testpack."
"Kamu hamil?" Mata Adam berbinar.
"Belum," jawab Dikta menyerahkan Akta kepada Adam. "Belum cek, besok pagi aku ngetest."
Adam mengangguk. "Mas berharap banget kamu hamil sayang, biar Akta ada temannya."
"Yaudah kita ngadon lagi, iya kan Akta?" Adam mengangkat tubuh Akta. "Ah!"
Dikta mencubit lengan suaminya karena ucapannya yang membuat Adam cengengesan. "Kenapa ganti baju?"
"Dikencingin Akta," jawab Adam mencium pipi Akta. "Padahal tadi cuma ditanya, mau punya adek atau gak."
"Mana mukanya gak berdosa gitu lagi," lanjut Adam berdiri dan berjalan mengambil pampers Akta.
Adam menidurkan Akta ke ranjang dan memakaikannya pampers. "Pake pampers yah nak, nanti kencing lagi."
Setelah memakaikan Akta pampers, Adam kembali duduk di samping Dikta. "Kamu masih gak enak badan? Tidur aja dulu."
__ADS_1
"Gamau, maunya tidur di dada Mas Adam," Dikta menyandarkan kepalanya di dada Adam.
"Manja," jawab Adam mencium puncak kepala Dikta.
Sementara itu dirumah Aurel, kini Aurel harus sibuk di dapur karena permintaan Sean.
"Ada tuh tadi yang nangis, katanya merasa bersalah nyuruh-nyuruh istrinya yang lagi hamil," Suara Aurel sedikit kesal tapi dia tetap mengerjakan permintaan suaminya.
Sean menatap Aurel dari posisinya yang duduk di meja makan. "Cuma sekali ini sayang, buatin kolak pisang yah."
"Kenapa sih Kak? Gamau beli," tanya Aurel memotong pisang.
"Aku maunya kamu yang buat,"
"Tapi aku gak yakin ini, enak,"
"Jadi kamu gamau buatin buat kakak. Yaudah kakak itu manja, gak bisa di harapin, kakak ngerepotin, padahal kamu hamil, kakak emang gak-"
Ucapan Sean belum selesai saat Aurel memasukkan pisang ke mulut Sean yang membuat Sean mengunyah nya perlahan. "Enggak kok Kak, apapun kemauan kakak bakal aku turuti."
Aurel tersenyum manis menghadapi suaminya yang sedang dalam mode Couvade Syndrome.
•
•
•
TBC
__ADS_1
Assalamualaikum
jangan lupa like