
"Islam mengajarkan kita untuk selalu berprasangka baik kepada Allah, hentikan prasangka buruk mu, Ge, Allah maha tahu apa keluh kesahmu, memang dosa Zina sangat besar tapi percayalah Allah itu maha pemaaf," lanjut Aurel yang menimpali perkataan Dikta.
Gevanya tersenyum, ia berdiri dan memeluk ke empat sahabatnya, mereka benar, untuk apa dia menangisi seseorang yang bahkan tidak pernah mau tahu bagaimana dia menjalani hidup.
"Bagaimana sekarang?" tanya Gevanya.
"Jawaban dari pertanyaanmu ada pada hatimu, ada pada dirimu, bukan dari hal yang lain, percayakan semua pada Allah," jawab Dikta yakin.
Setelah selesai melakukan obrolan dengan sahabat-sahabat mereka, Dikta dan Aurel memohon pamit karena hari ini adalah hari ketiga pengajian kematian dari Robby, dan mereka berdua harus mengambil pesanan makanan terlebih dahulu.
"Udah Rel?" tanya Dikta saat Aurel keluar dari restoran tempat mereka biasa membeli makanan untuk pengajian Robby.
"Udah, katanya bakal di antar sore ini, pulang yuk," jawab Aurel yang membuat Dikta mengangguk.
Mereka berdua kemudian masuk kedalam taksi dan memilih pulang ke rumah, sesampainya di rumah Aurel dan Dikta segera mengucap salam yang membuat Adam dan Sean yang kini berada di ruang tamu menjawab salam tersebut.
"Kalian udah pulang?" tanya Adam saat Dikta menyalaminya.
__ADS_1
"Udah Mas, Akta mana?" tanya Dikta balik yang membuat Adam melirik ke kamar Mama Reni.
"Ada tuh sama Mama Reni," jawab Adam yang membuat Dikta mengangguk.
Karena hijabnya sedikit berantakan Dikta memilih melepas hijabnya itu untuk.memperbaikinya terlebih dahulu, Adam yang melihat itu segera menutupi Dikta dengan badannya yang membuat Sean dan Aurel melongo.
"Mas kenapa sih?" tanya Dikta yang membuat Adam melirik Dikta. "Oh aku tahu, tenang aja yang ada di rumah ini berhak kok ngelihat aku gak pake hijab."
"Kok bisa?" tanya Adam yang membuat Sean dan Aurel saling menatap menahan tawa atas kepolosan Adam.
"Jadi perempuan itu boleh membuka jilbab dihadapan Ayah, Saudara Kandung, Suami, Ayah Mertua, Ayah Tiri yang sudah menggauli Ibunya, Paman dan Anak Kandungnya beserta sejenisnya." jelas Dikta kembali memasang hijabnya yang berantakan. "Kan dirumah ini cuma ada Kak Sean, Aurel, Mama Reni dan kamu, Mas, jadi gapapa."
Sean yang melihat itu langsung melempari Adam dengan sendal yang dia pakai. "Makanya dengerin tuh."
Adam mengangguk tengkuknya karena malu, mereka berempat kemudian kembali duduk di ruang tamu sebelum Sean mendapat sebuah telepon yang membuat dia masuk ke dalam kamarnya untuk menerima telepon tersebut.
"Halo? Riz ada apa?" tanya Sean yang membuat Ariz salah satu temannya di kepolisian menjawab pertanyaan Sean.
__ADS_1
"Obat p*erangsang yang aku suruh beli itu udah ada?" tanya Ariz yang membuat Sean menepuk jidat.
"Ada, tapi kenapa sih kamu nyuruh aku, aku malu belum nikah udah beli begituan " jawab Sean dengan malas.
"Mau gimana lagi, lagipula mengonsumsi itu kan juga disunnahkan dalam islam bagi mereka pasangan suami istri, aku gaada waktu buat beli sendiri, yaudah ntar shift malam bawain yah," ujar Ariz langsung mematikan sambungan telepon itu.
Setelah selesai menelepon Sean keluar dari kamar kemudian, kembali bergabung dalam obrolan Aurel, Adam dan Dikta sebelum suara ketukan pintu membuat Dikta berdiri dan membuka pintu tersebut.
"Bianca?"
•
•
•
TBC
__ADS_1
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like kakakku