Selepas Kata Talak

Selepas Kata Talak
BAB 66. Kesetiaan Itu Ibarat Apa


__ADS_3

"Dokter Adam-nya ada?" tanya Dikta pada seorang suster saat dia berjalan di koridor rumah sakit tersebut.


"Istrinya Dokter Adam yah? Dokter Adam ada di ruang prakteknya, Mbak," jawab suster tersebut sembari tersenyum kepada Dikta.


Dikta mengangguk dan membalas senyuman tersebut kemudian berjalan menuju ruangan praktek Adam dengan menggendong Akta serta tangan satunya membawa makan siang untuk suaminya.


"Assalamualaikum, Mas Adam?" Dikta masuk ke dalam ruangan tersebut.


Adam yang memang sedang berada dalam jam istirahatnya tampak memainkan ponselnya sebelum dia mengangkat kepalanya atas kehadiran istri dan anaknya.


"Waalaikumsalam, sayang? Kamu datang?" Adam berdiri kemudian berjalan ke arah Dikta.


Dikta menaruh makanan yang dia bawah di meja kemudian mencium tangan Adam sebelum Adam mengecup puncak keningnya.


"Anak ayah juga datang, kamu mau ngapain kesini sayang? Mau ngelihatin ayah kerja yah?" Adam mengambil Akta dari gendongan Dikta dan menciumi pipinya. "Kamu sama siapa kesini sayang?"


Dikta menatap Adam. "Berdua aja sama Akta, naik taksi."


"Kok kamu mau repot kesini sih, kan ini lumayan jauh dari rumah, kasian pasti Akta capek," jawab Adam mengajak Dikta duduk.


"Sekalian aja, tadi aku ada seminar jadinya sekalian mampir kesini deket dari tempat seminar soalnya," Dikta membuka kotak makanannya.

__ADS_1


"Kamu jadi motivator lagi? Kan Mas udah bilang gausah kerja, kamu fokus aja rawat anak kita, Mas gak mau kalau kamu capek-capek," Adam menatap Dikta dengan tatapan berbeda.


"Aku jadi motivator bukan karena bayarannya Mas,"


"Terus?"


"Kalau mas tanya aku, aku bakal jawab aku sedang mencari kebahagiaan dan ketenangan dengan berbagi harta, pikiran, dan tenaga, juga berbagi maaf dari hatiku," jawaban Dikta tepat yang membuat Adam terdiam.


Dikta menyendokkan nasi dan hendak menyuapkannya kepada Adam, Adam membuka mulutnya sebelum Dikta menarik sendok dan memencet hidung Adam pelan.


"Baca Doa, dulu Mas,"


"Astagfirullah," Adam teringat kemudian membaca Doa dan lanjut di suapi makan oleh Dikta dalam keadaan Adam yang sedang menggendong Akta.


Adam berpikir sejenak sementara itu Dikta mengambil gelas dan menuang air yang tersedia di ruangan Adam.


"Kesetiaan itu ibarat angin, tidak dapat dilihat dan tapi dapat dirasakan, kalau menurut kamu apa?" tanya Adam balik setelah menjawab pertanyaan Dikta.


Dikta tidak menjawab dia mendekatkan kursinya ke samping kursi Adam kemudian memutar kursi Adam yang memiliki roda agar menghadap ke arahnya.


"Kesetiaan itu bersanding dengan kejujuran, dan mereka ibarat satu nyawa dan raga," jawab Dikta memberi jeda.

__ADS_1


"Jika kejujuran adalah mata," Dikta meminum kan air kepada Adam dan menyentuh dada Adam pelan. "Maka kesetiaan adalah hatinya."


Adam meminum habis air dari gelas itu sesaat setelah Dikta kembali merapihkan kotak makanannya dan mengambil Akta dari Adam.


"Kalau gitu aku pulang dulu yah Mas, ada acara pengajian Bang Robby nanti malam," jawab Dikta berdiri namun belum sempat dia melangkah Adam sudah menarik tangannya sehingga Dikta terjatuh di pangkuan Adam.


"Kenapa buru-buru, aku belum melepas rindu," jawab Adam menatap Dikta penuh cinta. "Aku pernah mendengar kalimat jika dua orang pasangan menatap penuh cinta maka Allah akan menatapnya dengan belas kasihan."


Dikta mendorong wajah Adam dan kembali. "Ketika dirumah Mas bisa melepas rindu sepuasnya."


Bahu Adam melorot lemas.


"Aku mencintaimu," Dikta mencium pipi Adam yang membuat Adam memerah sesaat setelah kepergiaan Dikta.





TBC

__ADS_1


assalamualaikum


Jangan lupa like yah kak


__ADS_2