
"Alhamdulillah acara pengajiannya berjalan lancar yah malam ini," Aurel membasuh kedua tangannya pada wastafel saat baru saja selesai membersihkan piring bersama Dikta.
"Alhamdulillah lancar, capek banget sih hari ini Mas Adam aja sampai tepar loh," jawab Dikta tersenyum kecil.
Aurel tertawa pelan kemudian menyenggol bahu sahabatnya. "Cie yang udah punya suami, Kak Sean juga tepar tuh di ruang tamu, kasian mereka."
"Makanya kamu juga nyusul, betewe Mama Reni udah tidur yah? Kasian Mama pasti syok banget," Dikta menatap Aurel sejenak.
"Insha Allah aku nyusul, iya tadi sebelum cuci piring aku kasih obatnya, kayaknya Mama Reni udah tidur, yaudah kerjaan kita udah selesai kan? Aku ke kamar Mama Reni dulu yah mau sholat isya udah ngantuk soalnya," jawab Aurel yang membuat Dikta mengangguk.
Aurel membalikkan badannya dan hendak menuju kamar Mama Reni sebelum dia melihat Sean yang baru bangun.
"Kak Sean? Kebangun?" tanya Aurel pada Sean.
"Iya dek, ada shift malam jaga, ini mau ke kamar mandi ambil air wudhu belum sempat sholat isya tadi terus mau ke kantor," jawab Sean tersenyum menatap Aurel.
"Kak Sean udah masuk kerja?" tanya Aurel yang membuat Sean tersenyum.
"Kan selama persiapan pernikahan Adam dan Dikta udah ngambil banyak libur jadi harus balik lagi, kamu tidur di kamar Mama Reni aja nanti," jawab Sean.
"Iya Kak, aku buatin kopi yah biar kak Sean semangat, yaudah sana ambil wudhu aku juga mau ngecek Mama Reni dulu,"
Sean mengangguk. "Terimakasih yah."
__ADS_1
Sean berjalan masuk ke kamar mandi meninggalkan Aurel dan Dikta disana, Dikta awalnya terdiam sebelum dia mengingat Adam juga belum melakukan sholat isya.
"Astagfirullah, Mas Adam belum sholat isya, aku ke kamar dulu yah Rel," Dikta berjalan masuk ke dalam kamar.
Di rumah Mama Reni, Adam dan Dikta tidur di kamar sewaktu Dikta kecil dahulu sebelum menikah dengan Robby dan pindah ke rumah pribadi Robby.
Dikta membuka pintu kamar dan mendapati Adam tengah tertidur di ranjang tanpa mengenakan baju dan hanya celana jeans selutut miliknya sembari memeluk Akta yang juga tertidur.
Dikta tersenyum, sebuah pemandangan yang hangat menurutnya, yang membuat Dikta merasa sangat bahagia saat itu.
Wajah Adam terlihat lelah namun ia tampak damai memeluk Akta dalam tidurnya.
"Mas? Mas Adam bangun, sholat isya yuk," Dikta menggoyangkan bahu Adam dan memaksanya bangun.
"Kenapa sayang?" tanya Adam yang membuat Dikta menatapnya.
"Udah jam sepuluh, Mas belum sholat isya, sana sholat isya dulu," jawab Dikta berdiri dan hendak mengambil baju koko untuk Adam.
Adam menarik tangan Dikta yang membuat Dikta kembali terjatuh tepat di ranjang dalam dekapan Adam. "Nanti aja sholatnya deh, Mas mau nagih malam pertama kita dulu."
Dikta tersenyum kemudian menjauhkan wajah Adam darinya. "Aku mau tapi kayaknya Allah belum menakdirkan."
"Lah kenapa?" tanya Adam yang membuat Dikta memiringkan senyumnya. "Ini malam pertama kita udah tertunda dua kali loh."
__ADS_1
"Aku lagi dapet, Mas, baru aja jadi Mas harus puasa dulu," jawab Dikta yang membuat bahu Adam melorot. "Yaudah sana sholat."
Adam mendengus, ia berjalan dengan langkah gontai menyambar kaosnya dan memakainya sebelum keluar untuk mengambil air wudhu.
"Jangan cemberut begitu, coba senyum,"
Adam membalikkan badannya menatap Dikta dengan senyum terpaksa yang membuat Dikta sontak tertawa, Adam yang melihat itu segera menyambar Dikta dan menindihnya sejenak.
"Jangan banyak ketawa nanti kamu makin cantik, kalau makin cantik nanti bidadari di surga pada insecure soalnya bidadari yang kabur dan jatuh ke pelukan Mas Adam, makin cantik," Adam mendekatkan hidungnya ke hidung Dikta dan menggeseknya.
Dikta tersenyum kemudian mengambil bantal untuk menutup wajahnya yang memerah malu.
•
•
•
TBC
Adam dan Dikta
__ADS_1