Selepas Kata Talak

Selepas Kata Talak
BAB 28. Akhir Kisah Glenca


__ADS_3

Hal yang paling miris dalam strata kehidupan adalah ketika kau sudah dipanggil dan kau tidak sempat memohon untuk bertaubat.


Ibarat sholatlah sebelum disholatkan.



"Glenca!" teriak Sean keras berjalan menghampiri tubuh Glenca yang sudah bersimbah darah dari kepalanya.


Sean, Dikta, Aurel dan Mama Reni segera berlari ke arah Glenca, sementara itu Robby yang baru menyusul keluar dari ruang sidang terkejut dengan kerumunan orang tersebut.


"Astagfirullah, Ca!" teriak Robby berlari ke arah Glenca.


Kini semuanya dalam keadaan panik, Aurel dan Dikta menutup mulut mereka terkejut atas apa yang terjadi kepada Glenca.


Sepertinya Glenca menderita luka yang cukup parah sehingga kini dia dalam kondisi tidak sadarkan diri, sementara itu mobil yang menghantam Glenca sudah pergi entah kemana yang membuat kecelakaan ini menjadi kejadian tabrak lari tanpa adanya pertanggung jawaban.


"Dek bangun dek," ujar Sean meraih tubuh Glenca dan menggendongnya.


Sean panik mendapati Glenca sudah tidak merespon lagi, semua yang ada disana menjadi sedikit khawatir terlebih kerumunan orang yang melihat itu semakin banyak.


Sean kemudian segera membawa tubuh adiknya itu masuk ke mobil bersama Mama Reni, sedangkan Aurel dan Dikta segera masuk ke dalam mobil Aurel begitupun dengan Robby yang masuk ke dalam mobilnya.


Mereka semua mengendarai mobilnya menuju rumah sakit terdekat untuk memberikan Glenca pertolongan pertama.

__ADS_1


"Dikta? Kenapa kita harus ikut panik sih, lagipula Glenca udah jahat mungkin ini balasan untuk dia," ujar Aurel mengendarai mobilnya menyusul mobil Sean.


"Astagfirullah, Aurel, kamu gak boleh begitu, walaupun Glenca sudah jahat tetapi kita tidak harus mendoakan yang buruk-buruk kepadanya," tegur Dikta yang membuat Aurel terdiam. "Lagipula jika Kak Sean memang adalah keluarga kandungku, berarti Glenca adalah adikku."


Aurel terdiam, dia tidak ingin berdebat dengan Dikta, walaupun dengan setengah hati dan kesal juga merasa puas atas penderitaan Glenca, Aurel tetap mengendarai mobilnya menyusul Sean ke rumah sakit.





Sean berjalan mondar-mandir di koridor rumah sakit menanti kabar dari dokter yang menangani Glenca, sedangkan Mama Reni, Dikta dan Aurel memilih duduk di kursi tunggu.


Dikta yang melihat itu berdiri dan meraih tangan kakaknya, sebenarnya Dikta masih ragu kalau Sean adalah kakak kandungnya, tapi melihat bukti foto membuat Dikta menjadi sedikit percaya walaupun ingatan masa lalunya tidak pernah sekalipun terbersit di pikirannya.


"Kakak yang sabar yah," ujar Dikta yang membuat ekor mata Sean menatap adiknya itu.


Sean membalikkan badannya dan menatap Dikta dalam, ia kemudian meraih kepala Dikta dan memeluk Dikta di dadanya, entah kenapa Dikta merasa ada getaran berbeda seperti ikatan batin antara adik dan kakak yang sebenar nya ketika Sean memeluknya seperti ini.


"M-maaf, Kakak hanya sedikit frustrasi, mau bagaimanapun kakak sudah berjanji kepada almarhum Ayah dan Bunda untuk menjaga kalian berdua, dan disaat kakak menemukan kamu, kakak malah harus dibuat khawatir atas kondisi Glenca," jawab Sean mengusap kepala Dikta.


Kakak? Batin Robby yang mendengar ucapan Sean.

__ADS_1


Berarti Glenca adalah adik dari Dikta juga? Astaga batin Robby kembali.


"Berdoa pada Allah kak, insha Allah tidak akan ada apa-apa yang terjadi kepada Glenca," jawab Dikta menatap wajah Sean saat Sean melepas pelukannya.


Sean mengangguk, ia kemudian mengatur napasnya sejenak sampai tak lama kemudian dokter keluar dari ruangan rawat Glenca dengan raut wajah tidak bisa ditebak.


"Bagaimana adik saya dok?" tanya Sean pada dokter tersebut.


"Maaf, akibat pendarahan yang diderita dibagian pembuluh darah membuat nyawa Mbak Glenca sudah tidak tertolong," jawab dokter tersebut.


Sontak semuanya terkejut, Sean dan Dikta segera masuk kedalam ruangan itu dan mendapati sesosok tubuh manusia yang ditutup kain putih, Sean menangis melihat ini, hancurnya hati seorang kakak sudah dimulai.


Tangan Sean menjulur dan menyingkap kain tersebut yang memperlihatkan Glenca yang sudah tidak bernyawa.


Dikta memeluk Sean dan entah kenapa ikut merasakan kesedihan Sean, tapi inilah kenyataanya, sosok Glenca yang arogan sudah tidak ada.


Akhir kisah Glenca sudah terjadi dan kini dirinya hanya tinggal nama yang sudah menjadi pemanis dalam kisah hidup Dikta.




__ADS_1


TBC


__ADS_2