Selepas Kata Talak

Selepas Kata Talak
BAB 33. Keikhlasan Hati Seorang Ibu


__ADS_3

Hubungan antar kamu dan Allah biar Allah, berhenti menceritakan keluh kesahmu kepada sesama manusia karena terkadang mereka hanya menanti keterpurukanmu bukan kebahagiaanmu.


Berhenti menyalahkan keadaan atas segala masalahmu, karena terkadang sujudmu kurang turun kepada Allah.



Setelah kepergian Adam, Sean segera berjalan masuk ke dalam rumah Mama Reni yang kebetulan tidak terkunci.


"Assalamu'alaikum," ujar Sean yang membuat Mama Reni dan Dikta menatap ke arah Sean.


"Waalaikumsalam," jawab mereka berdua.


Sean berjalan masuk ke dalam rumah lebih tepatnya menuju sofa ruang tamu. "Dikta kita berangkat sekarang yah. Kan mulai hari ini kamu tinggal dengan kakak."


Dikta tampak ragu. "T-tapi Mama Reni?"


Mama Reni menatap Dikta sejenak kemudian mengelus kepalanya. "Mama gapapa sayang, ada baiknya kamu memang tinggal bersama kakakmu."


Dikta menatap Mama Reni sejenak, walaupun Mama Reni bukan mertuanya lagi mau bagaimanapun Mama Reni lah orang yang sudah membesarkan Dikta.


"Kalau Mama ada apa-apa hubungi Dikta yah," ujar Dikta memeluk Mama Reni.

__ADS_1


Mama Reni mengangguk kemudian membalas pelukan Dikta, Mama Reni sedikit bahagia dengan kehadiran Sean yang merupakan kakak kandung dari Dikta.


"Bu Reni, terima kasih sudah membesarkan adik saya dan mendidiknya seperti ini, kalau tidak ada Bu Reni saya gak tahu apa yang akan terjadi kepada Dikta, semenjak orang tua kami tidak ada semuanya jadi kacau," ujar Sean meratapi takdirnya.


Mama Reni berjalan ke arah Sean, ia mengusap wajah Sean seperti Robby anaknya. "Kamu tidak boleh begitu, anggap aja Mama ini Mama kamu, gapapa kok."


Sean tersenyum ia kemudian meraih tangan Mama Reni kemudian menciumnya. "Nanti Sean jemput yah. Kebetulan Sean mau buat acara buka bersama nanti."


Mama Reni mengangguk, Sean kemudian memeluk Mama Reni seolah ia memeluk bundanya yang sudah lama menghadap Allah.


"Kami pamit yah, Assalamualaikum," ujar Sean.


"Aku pamit yah Ma, Pokoknya kalau ada apa-apa cepat hubungin Dikta," Dikta memeluk Mama Reni kemudian menyusul kakaknya keluar dari rumah.


Pit!


Suara klakson mobil dari Sean menandakan bahwa Sean dan Dikta akan segera pergi, Mama Reni melambaikan tangannya seiring mobil Sean menjauh dari pandangannya.


Setelah itu Mama Reni segera berjalan dengan langkah gontai masuk kedalam rumahnya, dibalik senyumnya tadi kini air matanya jatuh, apakah ini rasanya seorang ibu yang harus melepaskan anaknya pergi?


Entah itu anak kandung atau bukan, baru kemarin rasanya Mama Reni menggendong Dikta dan Robby, memandikan mereka dan menyuapi mereka, dan kini mereka semua sudah tumbuh dewasa serta memilih jalan masing-masing.

__ADS_1


Mama Reni mengusap air matanya yang jatuh, rasa sepi menyerangnya, sudah menjadi kuadrat orang tua akan ditinggalkan ketika anak mereka sudah memilih jalan sendiri, jadi sebab itu selagi mereka masih bersama kita, tanamkanlah nilai kebaikan karena disaat mereka sudah tumbuh dewasa apa yang kita harapkan bisa sesuai ekspestasi.


Ya Allah, berat sekali rasanya ikhlas melepas anak-anakku, batin Mama Reni masuk ke kamarnya.


Mama Reni meraih foto Almarhum Papa Reno yang ada diatas nakas, ia mengusap kaca pelindung foto tersebut yang menampilkan wajah tampan dan gagah suaminya.


"Pa? Mama udah menunaikan janji Mama untuk mempertemukan Dikta dengan keluarga kandungnya, walaupun Mama gagal menunaikan wasiat Papa agar Dikta dan Robby tidak berpisah, mereka sudah dewasa dan mungkin ini jalan hidup mereka masing-masing," gumam Mama Reni.


Menetes air mata seorang ibu dan seorang istri yang masih setia menanti berkumpul dengan suaminya lagi di surga, air mata suci itu menggenang diatas bingkai foto, ratapan ikhlas dan janji yang sudah ditunaikan.


"Papa bisa tenang kan sekarang? Mama juga sudah lega, kalaupun Allah mengambil nyawa Mama sekarang, setidaknya Mama sudah tidak memiliki sangkutan janji lagi, Mama kangen sama Papa," lanjut Mama Reni. "Mama sekarang sendirian, anak-anak sudah dewasa dan meninggalkan Mama, Mama bisa apa?"


Mama Reni menghapus air matanya. "Semoga Papa tenang yah, Mama janji Mama bakal nyusul Papa ke surga."


Mama Reni kemudian membuka laci nakasnya kemudian mengambil surat ahli waris keluarga Dreantama, Robby dan Dikta tidak menginginkan surat tersebut sehingga Mama Reni memilih me wakaf kan semuanya untuk tabungan pahala untuk dirinya dan suaminya.




__ADS_1


TBC


__ADS_2