
Aurel masih berdiri memegang testpack hasilnya, dia masih kaget atas semua ini karena dia sama sekali tidak mengalami gejala orang hamil.
"Couvade syndrome atau kehamilan simpatik dalam medis adalah gejala dimana sang suami yang merasakan tanda-tanda kehamilan, karena rasa simpatik kepada istrinya,"
Penjelasan Anjani selaku dokter kandungan tadi masih terngiang di kepala Aurel.
Anjani, Gevanya dan Bianca sendiri sudah bergegas ke rumah Dikta dan ingin memastikan apakah Dikta juga hamil sama seperti Aurel dan Aurel berharap Dikta juga sama sehingga mereka bisa berbarengan.
"Kalau beneran Kak Sean kena Couvade Syndromw berarti Kak Sean cinta banget sama aku," Aurel berjalan ke kamar dimana Sean sedang beristirahat. "Kasian kak Sean, pasti harus lemes gitu."
"Hmmph," Sean menggerakkan kepalanya dan membuka matanya perlahan. "Dek? Aurel?"
"Kak?" jawab Aurel berjalan ke arah Sean yang memanggilnya. "Kak Sean mau apa?"
"Gapapa, kakak cuma mau liat kamu," Mata Sean menangkap apa yang ditangan Aurel. "Itu apa?"
Aurel menatap Sean dan menyerahkan testpacknya kepada Sean, Sean yang mengambil itu terkejut melihat dua garis disana tetapi ia merasa ini efek mual sehingga dia bisa saja salah lihat.
Sean mengusap matanya dan tetap saja garis didalam Testpack itu ada dua.
"K-kamu hamil?" tanya Sean yang membuat Aurel duduk dan tersenyum kepada Sean.
"Doa di sepertiga malam kita terkabul," jawab Aurel berkaca-kaca.
__ADS_1
Hening.
Sean tidak bisa berkata-kata dia menatap Aurel dalam kemudian perlahan menangis yang membuat Aurel langsung menangkup wajah suaminya itu.
"Kok nangis?" Aurel menatap Sean yang sisi dewasanya sudah hilang karena tangisannya.
"Kamu lagi hamil, tapi kakak malah sakit, maafin kakak," Sean menarik Aurel ke pelukannya.
Aurel terdiam, sebegitu perhatiannya Sean kepadanya, Sean menengadahkan kepalanya membiarkan air matanya turun menatap langit-langit kamar itu.
"Kakak gak mimpi kan?" tanya Sean yang merasa dirinya tengah bermimpi.
Aurel melepas pelukannya kemudian kembali menangkup wajah Sean, ia mendekatkan wajahnya ke wajah suaminya sehingga kening mereka berdua saling bersentuhan.
"Udah lama kakak nungguin ini, kamu benar doa yang kita lambungkan disetiap sepertiga malam pasti ada balasannya," Sean menggesekkan hidungnya ke hidung Aurel.
Sean melirik perut Aurel, Aurel menatap Sean yang membuat Sean membungkukkan badannya dan mencium perut Aurel perlahan, anak yang sudah lama dia nanti-nantikan.
"Papa udah lama banget nungguin kamu nak, makasih yah udah jadi penjawab doa-doa Papa dan Mama kamu dalam sepertiga malam, Papa bakalan nungguin kamu lahir dan saat itu tiba, Papa bakalan jadi orang tua yang paling bahagia," Sean mengecup perut Aurel kemudian memperbaiki kembali posisinya.
Ia menatap Aurel dalam dan mencium puncak kepala istrinya. "Terimakasih."
Aurel menyandarkan kepalanya di bahu Sean yang membuat Sean mengelus kepala istrinya itu.
__ADS_1
Sementara itu ditempat Adam yang kini harus mengurusi Akta sendiri karena Dikta yang tiba-tiba lemas harus bangkit dari duduknya saat mendengar suara ketukan pintu seiring suara salam.
"Waalaikumsalam," Adam membuka pintu dan mendapati Gevanya, Bianca dan Anjani didepan rumahnya. "Kalian ngapain?"
Mereka tidak menjawab, mereka langsung masuk melewati Adam dan mencari Dikta. "Ta! Kami mau mastiin bakal nambah ponakan lagi atau gak?"
"Ponakan?" sungut Adam menatap Akta yang dia gendong. "Kamu mau punya adek?"
Srttt!
"Yah! Kok kencing, kan belum pake pampers," keluh Adam yang pasrah menerima air seni anaknya itu.
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like
__ADS_1