Selepas Kata Talak

Selepas Kata Talak
BAB 45. Delapan Kewajiban Ayah Tiri


__ADS_3

Adam dan Sean saling melempar tatapan sebenarnya Adam sudah tidak sabar untuk mengetahui delapan kewajiban seorang Ayah Sambung kepada Anak Tirinya.


"Ada delapan kewajiban seorang Ayah Tiri kepada Anak Tirinya kelak," Suara Ustad Zaky terdengar dengan berjalan keluar sembari membawa nampan berisi dua gelas teh untuk Sean dan Adam.


"Silakan diminum dulu," Ustad Zaky meletakkan minuman tersebut ke meja didepan Adam dan Sean yang menjadi pemisah jarak duduk mereka.


Sean dan Adam mengangguk kemudian meminum teh tersebut sedangkan Ustad Zaky yang hanya memakai pakaian casual biasa hari itu memandang mereka berdua dengan memijat pangkal hidungnya.


"Yang pertama, Berlaku baik pada anak, bukankah ini adalah hal dasar? Memperlakukan anak tersebut sama.seperti anak kandung kita sendiri, jadi inilah hal pertama yang harus kau dasari ketika kau menikahi Dikta kelak," Ustadz Zaky memberi jeda. "Yang kedua adalah, Ikut menafkahi, jika ayah kandungnya sudah tiada, ketiga, Mendidik kepada yang baik."


"Jangan menatap serius begitu, silakan diminum kembali tehnya," lanjut Ustadz Zaky memecah keseriusan Sean dan Adam.


Adam dan Sean yang sudah membungkukkan badan kedepan mendengar semua penjelasan Ustad Zaky langsung menegakkan badan mereka.


"Yang keempat ada, Memberikan perlindungan, sebagaimana tanggung jawab ayah tiri dalam islam kepada anak tirinya juga termasuk dalam hal memberikan perlindungan. Selayaknya melindungi ibunya, maka sang anak pun juga berhak mendapatkan perlindungan dari ayah tirinya. Setidaknya, seorang ayah tiri bisa memberikan perlindungan berupa rasa aman dan nyaman pada anak tirinya, kelima ada, Memberikan kasih sayang seorang ayah, keenam, Menjadi motivator bagi anak tirinya, ketujuh ada, Memberikan pendidikan agama pada anak tiri dan yang kedelapan jawabannya ada pada dirimu sendiri."


"Diri saya sendiri?" tanya Adam menunjuk dirinya dengan jari telunjuk.

__ADS_1


"Lebih tepatnya," Ustad Zaky meraih telapak tangan Adam dan menaruhnya di bagian dada Adam. "Ada pada hatimu, jika kau tulus, dan ikhlas, Insya Allah, Allah akan mempermudah jalanmu."


Mendengar penuturan Ustad Zaky yang berhasil menghantam telak sanubari Adam membuat Adam menunduk, bahwa sebenarnya jawaban terbaik dari segala kesiapan nya adalah ada pada dirinya sendiri selain refenrensi dan penjelasan lewat hukum agama.


"Ada yang ingin kau tanyakan?"


"Apakah saya diwajibkan menafkahi anak tiri saya kelak?" tanya Adam.


"Ada tiga hal yang menyebabkan seseorang wajib memberikan nafkah," Ustad Zaky memberi jeda. "Pertama, memiliki hubungan nasab dan kerabat. Misalnya, antara ayah kandung dan anak kandung. Kedua, memiliki ikatan pernikahan. Misalnya, antara suami dan istri. Ketiga, karena kepemilikan. Misalnya, seseorang memiliki budak, maka dia wajib menafkahinya."


"Jadi?" tanya Adam masih belum mengerti.


Ustad Zaky menghela napas.


"Jika ayah kandung dari anak tiri itu masih ada yang bertanggung jawab atas nafkah dan segala kebutuhan anak adalah ayah kandungnya sendiri. Namun jika ayah kandung si anak sudah tiada, maka yang mengambil alih tanggung jawab itu adalah saudara dari ayah kandung si anak tersebut, juga ibu kandungnya. Namun akan menjadi perbuatan yang sangat mulia jika seorang ayah tiri juga ikut serta dalam menafkahi dan mencukupi kebutuhan anak tirinya," jelas Ustad Zaky.


"Dalam Islam, anak tiri tidak berhak mendapatkan warisan dari ayah tirinya, begitu juga sebaliknya. Ini disebabkan karena di antara keduanya tidak ada hubungan nasab yang menyebabkan keduanya bisa saling mewarisi. Oleh karena itu, ayah tiri tidak wajib memberikan nafkah kepada anak tirinya, begitu juga sebaliknya, anak tiri tidak wajib memberikan nafkah kepada ayah tirinya," Ustad Zaky tersenyum menatap wajah puas Adam dan Sean atas jawaban dari segala pertanyaan mereka.

__ADS_1


Selanjutnya Ustad Zaky mempersilahkan kembali Adam dan Sean meminum teh-nya sebelum Adam dan Sean berpamitan dari sana.





TBC


Assalamualaikum, Author menyapa banyak yang nanya dikolom komentar umur Author berapa? Author kelahiran 2004 yah :) sekarang baru 18 Tahun.


Lulusan Ponpes? Bukan author sekolah di SMA Swasta biasa tapi kan syiar dan mngerti tentang Agama bukan darimana kta mengenyam pendidikan tapi bagaimana kita mempelajarinya.


Author juga ga paham banget sama agama kok, cuma referensi aja kadang baca buku biar novelnya tetap bermanfaat.


Makasihhhh

__ADS_1


__ADS_2