
"Beneran, yaudah ayok main," Adam langsung menarik Dikta ke pangkuannya yang membuat Dikta mendorong wajah Adam menjauh darinya.
"Aku mau pergi Mas, nanti malam aja yah, katanya udah janji mau ngejagain Akta, tuh Akta ketawa liat ayahnya ga sabaran," jawab Dikta berdiri dan berjalan menggendong Akta. "Nih ambil."
Dikta menyerahkan Akta kepada Adam, Adam yang melihat itu langsung menggendong Akta. "Bunda kamu jahat banget sama ayah nak."
Dikta tertawa kecil ia kemudian mengambil tasnya dan mencium pipi Akta dan Adam bergantian.
"Aku pergi dulu yah Mas," Dikta menyalami tangan Adam kemudian berjalan keluar dari kamar. "Assalamualaikum."
Diluar kamar sudah ada Aurel dan Sean, Aurel yang sedang menunggu Dikta sedangkan Sean yang baru pulang dari shift malam-nya.
"Mau kemana dek?" tanya Sean saat Aurel menyerahkan secangkir kopi kepada Sean.
"Mau ke rumah sahabat lama kak bareng Dikta," jawab Aurel mengambil tasnya setelah melihat kedatangan Dikta. "Aku pergi dulu ya, Assalamualaikum."
Sean menjawab salam tersebut sesaat setelah Aurel dan Dikta berjalan keluar dari rumah, sementara itu Adam tampak keluar dari kamar dengan menggendong Akta. "Bujang lapuk lagi ngopi tuh nak."
Mendengar itu Sean langsung memberikan tatapan tajam kepada Adam.
"Adik ipar laknat," jawab Sean yang membuat Adam terkekeh dan duduk di kursi pada meja itu.
Disaat mereka sibuk mengobrol, Mama Reni tampak baru keluar dari dalam kamar dan menghampiri Adam beserta Sean.
__ADS_1
"Kalian ga kerja?" tanya Mama Reni.
Adam dan Sean sontak memggeleng, Mama Reni mengulum senyum kemudian ia meminta Akta dari Adam untuk dia saja yang menjaganya sampai Dikta kembali.
•
Dikta dan Aurel kini berada didepan rumah sahabat mereka Anjani, semalam Anjani menelepon Dikta karena ada masalah pada Gevanya yang merupakan sahabat mereka juga.
Setelah mengucap salam dan mengetuk pintu, Anjani tampak membuka pintu rumah mempersilakan Dikta dan Aurel masuk.
Setelah sampai didalam tujuan Dikta dan Aurel adalah Gevanya, mereka melihat Gevanya terduduk frustrasi dengan jilbab terbuka yang biasa menutupi kepalanya.
"Ge? Kamu kenapa?" tanya Dikta dengan tatapan iba duduk disamping Gevanya.
Melihat itu Gevanya langsung memeluk Aurel dan Dikta bergantian karena dia kini benar-benar butuh sahabat sahabatnya.
"Gevanya kemarin menikah namun dia ditinggalkan oleh calon suami nya yang memilih pergi bersama selingkuhannya, setelahnya kakak calonnya menjadi pengganti bagi calon suami Gevanya, tapi ternyata Gevanya tengah hamil yang membuat dirinya menjadi istri yang haram disentuh, setelah mengetahui itu suami Gevanya mengusir Gevanya."
Mendengar cerita itu membuat Dikta dan Aurel mengucap istigfar mereka merasa kasian pada nasib sahabatnya ini yang merupakan seorang dokter muda.
"Terus kenapa ini jilbabnya dilepas?" tanya Dikta yang membuat Gevanya menggeleng.
"Aku tidak pantas,"
__ADS_1
"Kau pantas, kau pikir kenapa semua wanita dalam islam harus menutup auratnya?" jawab Dikta yang membuat Gevanya menunduk.
Aurel mengambil permen dari dalam tasnya kemudian membuka salah satunya. "Sekarang kamu pilih, kamu mau yang terbuka atau yang tertutup?"
Gevanya menatap Aurel. "Tertutup?"
"Kenapa?"
"Karena itu jauh lebih bersih dan masih terjaga," jawab Gevanya yang membuat Aurel mengangguk.
"Itu dia jawabannya Ge," Dikta menimpali. "Semua wanita terlahir dengan kehormatan dan hal itu harus di jaga tapi apakah pantas dia divonis neraka karena hanya berpangku tangan?"
"Pakai Ge," Aurel mengambil jilbab Gevanya kemudian memakaikannya. "Apapun yang terjadi kau berhak untuk bahagia kau berhak untuk menjadi dirimu terlepas dari kesalahanmu bertaubat lah kepada Allah."
"Ingat, Barang siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari tempat terbenamnya, maka Allah akan menerima taubatnya," timpal Anjani.
"Percayalah Allah, lebih menyukai tasbihnya seorang pendosa daripada sholehahnya orang tidak pernah merasa salah," final Dikta.
•
•
•
__ADS_1
TBC
Gevanya adalah tokoh dari Novelku yang judulnya ISTRIKU HARAM DISENTUH buat kalian yang mau kepoin dia boleh banget lohhh!