
"Kak Sean? Ada apa?" tanya Adam yang membuat Sean semakin berantakan.
Sean terduduk dimeja makan dan memukul meja makan tersebut. "Aku hampir saja merusaknya tapi dia sudah marah padaku!"
"Hah?" Adam menaikkan alisnya.
Sean mengusap pelipisnya dia sadar betul bahkan Aurel juga sadar kalau mereka tidak sempat melakukan hal tersebut karena sepanjang malam itu hanya hening diantara mereka disaat Aurel memilih diam disaat Sean tidak sadarkan diri.
"Aku hampir saja merebut kehormatannya Dam! Tapi seingatku Aurel memukulku dengan hebat sehingga membuat aku tidak sadarkan diri, dan ketika aku sadar aku memang dalam keadaan tanpa busana."
"Tapi Demi Allah kakak tidak sempat melakukan itu," jelas Sean yang sudah mengingat tragedi malam itu. "Satu yang kakak sesalkan, karena kakak berhasil membuka jilbab Aurel, Argh! Kakak salah Adam!"
Adam terdiam. "Tenang kak, yang penting kakak tidak melakukan itu, mungkin Aurel hanya terkejut dan langsung mengambil keputusan sepihak."
Dikta yang keluar dari kamar melihat Sean yang sedang frustrasi sembari menangis menyesali apa yang terjadi, terkejut ada apa sebenarnya.
"Ada apa kak?"
__ADS_1
"Kakak hampir menodai Aurel, dek, maafin kakak!" jawab Sean menangis frustrasi menatap adiknya.
Dikta terdiam. "Tapi kakak tidak sempat menyentuhnya kan?"
"Kakak menyentuhnya Ta! Kakak bahkan melihat wajahnya tanpa hijab dan dia melihat kakak dalam keadaan aurat, dia.menberontak membuat kakak tidak sadarkan diri dan ketika terbangun Aurel sudah menangis di meja makan dan pergi setelah mengucapkan semuanya kepada kakak," jawab Sean emosional.
Air mata Sean jatuh, dia benar-benar takut kehilangan Aurel atas kesalahan ini, Sean menatap Adam dan Dikta bergantian. "Kalian percayakan? Kalian bosa tanya Aurel kami berdua tidak sempat melakukan itu, kakak cinta sama dia, kakak takut kehilangan dia."
Adam dan Dikta saling menatap. "Kakak tenang aja yah, mungkin Aurel pulang ke rumahnya menenangkan diri karena syok atas apa yang terjadi."
"Aku tahu kak Sean tidak sadar, dan kami tidak sempat melakukan hal yang terlarang itu, tapi aku perlu waktu untuk sendiri," gumam Aurel menetralkan pikirannya.
Entah apa alasan Sean, Aurel sendiri tidak sempat mendengar penjelasan Sean karena dia terlanjur syok dan tidak ingin mendengar penjelasan apapun.
Azan subuh terdengar, membuat Aurel mengambil mukena dan segera melakukan sholat subuh. Kini kedua pasangan Allah ini tengah dalam keadaan saling salah paham dan hampir saja terjatuh di lembah yang salah.
Disaat Aurel selesai sholat. Ia mendengar suara dering dari ponselnya yang membuat ia mengambil ponselnya dan mengangkatnya.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Aurel kamu dimana?" tanya Dikta yang membuat Aurel.
"Waalaikumsalam, Ta, aku dirumah maaf aku pergi tanpa pamit." jawab Aurel yang membuat Dikta mengangguk walaupun tidak bisa dilihat Aurel. "Percaya Dikta kau pasti sudah mengetahui hal ini, kami tidak melakukan apa-apa dimalam itu, tapi aku hanya sedikit syok dan butuh waktu sendiri."
"Memang salahku juga seharusnya aku ga nginap dirumah Mama Reni hanya untuk membantu acara pengajian kematian Robby, aku akan tetap membantu tapi mungkin aku tidak akan menginap di sana lagi, dan untuk kak Sean aku akan menemuinya lagi tapi aku butuh waktu.' lanjut Aurel.
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
jangan lupa like
__ADS_1