Selepas Kata Talak

Selepas Kata Talak
BAB 64. Bilangan Takdir


__ADS_3

Dikta kini berada di sebuah ruangan tempat dimana dia menjadi bintang tamu dalam sebuah seminar pernikahan.


Kini dia terduduk di sofa panjang bersama moderator sedangkan Aurel yang sedang menggendong Akta bersama Sean tampak berada di bangku penonton.


"Mbak Dikta, ini ada pertanyaan dari para peserta seminar kita, bagaimana sih menurut Mbak Dikta hukum menuntut pasangan kita untuk sempurna?" tanya Moderator tersebut kepada Dikta.


Dikta tersenyum atas pertanyaan tersebut ia meletakkan kedua tangannya di atas paha dan menatap lekat tamu undangan yang ada.


"Sudah hukum alam sebenarnya, seorang pria memimpikan wanita yang sempurna dan wanita memimpikan pria yang sempurna," Dikta memberi jeda. "Tapi mereka gak tahu kalau Allah menciptakan mereka untuk menyempurnakan satu sama lain."


Semua terdiam, Dikta berdiri dari duduknya dan memperluas pandangannya. "Ketika kita sudaj berbicara tentang pernikahan dan kesempurnaan didalamnya, ketahuilah pernah Allah berfirman bahwa pasanganmu adalah pakaian untukmu. Sebuah pakaian mungkin tidak pas dan sempurna tapi bagaimanapun juga, itu menutupi ketidaksempurnaan darimu, melindungi tubuhmu dan mempercantik bentukmu."


"Dan, Janganlah engkau menuntut pasanganmu untuk sempurna, tapi sempurnakanlah dirimu agar engkau mampu menutupi kekurangannya," lanjut Dikta.


Hening, Moderator tersebut ikut terdiam, bagai sebuah tamparan bagi mereka yang masih menuntut kesempurnaan didalam diri pasangan masing-masing.


Dikta kembali berjalan ke kursinya dan duduk, sampai Moderator kembali bersuara namun kali ini Moderator tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya.


"Mbak Dikta? Apakah pantas seorang wanita menuntut pasangannya untuk berkecukupan?"


Dikta kembali tersenyum dan lagi-lagi hanya tersenyum. Dikta menatap si penanya tersebut dengan dalam. "Itu adalah bagian dari realistis kehidupan, tapi wanita shalihah tidak pernah takut menikah dengan lelaki yang miskin harta. Melainkan yang ditakutkan adalah menikah dengan lelaki yang miskin ilmu dan miskin tanggung jawab."


Moderator kembali mengajukan pertanyaan lain dari peserta kepada Dikta. "Sekarang kan kebanyakan pasangan suami istri sama-sama bekerja, seperti Mbak Dikta dan suami sendiri, bagaimana Mbak Dikta menanggapi hal tersebut?"

__ADS_1


"Sekuat-kuatnya seorang suami, ia akan tetap membutuhkan seorang istri di belakangnya. Dan sepintar-pintarnya istri, ia akan tetap membutuhkan bimbingan suaminya, dan itulah jawaban yang tepat dari segala kekeliruan yang ada," jawab Dikta yang langsung mendapat applause. "Karena sebenarnya, tujuan dalam pernikahan bukan untuk berpikir sama, tapi untuk berpikir bersama."


Dikta mengakhiri sesi seminar itu dengan sempurna dan benar-benar mengukuhkan dirinya sebagai seorang konsultan pernikahan.


Dikta berdiri dari posisinya hendak pergi sebelum sosok Bianca datang dan naik ke panggung merebut mic moderator dan membuat semua mata menatap kepadanya.


"Kalian tahu? Konsultan pernikahan yang kalian banggakan ini pernah gagal dalam pernikahannya, kalau pernikahan dirinya sendiri saja berantakan bagaimana kalian bisa berpikir dia bisa memberikan solusi untuk pernikahan kalian?" cecar Bianca menodong Dikta.


Semua terdiam, Dikta tetap tenang, tampak beberapa peserta yang tidak mengetahui hubungan pernikahan Dikta saling berbisik.


"Benar Mbak?" tanya Moderator tersebut kepada Dikta.


Dikta tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Saya pernah gagal dalam pernikahan pertama saya karena saya gagal menjaga rumah tangga saya selama lima tahun."


Semua membulatkan mata sempurna bahkan salah satu dari mereka langsung berdiri dan menodong Dikta. "Kok bisa sih dia jadi Konsultan kita? Dia aja gagal dalam pernikahannya."


"Sikap kalian seperti angka yang cacat dalam bilang perhitungan," ujar Dikta berjalan mengambil miniboard dan spidol.


"Apa maksudmu?" tanya Bianca geram.


Dikta tidak memperdulikannya, dia mulai menghitung bilangan perkalian dari satu sampai sepuluh beserta jawabannya namun sengaja menjawab salah pada bilangan ke lima.


1×1 \= 1

__ADS_1


1×2 \= 2


1×3 \= 3


1×4 \= 4


1×5 \= 6


"Bilangan kelima salah Mbak! Harusnya jawabannya lima!" teriak salah satu peserta disambut anggukan peserta lain.


"Nah tepat sekali!" Dikta menunjuk mereka semua dengan spidol. "Kalian hanya melihat satu kesalahan tanpa memikirkan bahwa yang lainnya benar."


Deg!


Semua tertampar kenyataan.





TBC

__ADS_1


Assalamualaikum


Jangan Lupa Like kak :)


__ADS_2