Selepas Kata Talak

Selepas Kata Talak
BAB 38. Ajari Aku Islam


__ADS_3

Setelah kepergian Sean, Aurel berjalan masuk kedalam rumahnya, entah kenapa perasaan ini semakin besar.


"Aku boleh mencintainya tapi aku tidak bisa merebutnya dari Tuhannya, lantas? Haruskah aku yang meninggalkan Tuhanku?" gumam Aurel duduk di sofa rumahnya.


Aurel yang seperti ini merasa bahwa dunia tidak adil padanya bahkan dia tidak punya keluarga lain di tengah semua harta peninggalan orang tua-nya.


"Aku butuh berbicara dari hati ke hati kepada Tuhan," Aurel bangkit dan masuk ke dalam kamar.


Aurel mengambil langkah bimbang, saat ia melirik nakas ia mendapati Al Quran milik Dikta yang lupa Dikta bawa sebelumnya dan ketinggalan sekian lamanya di rumah Aurel.


Entah kenapa getaran sesuatu terjadi pada Aurel saat menggenggam Al Quran tersebut, ia seperti mendapat sesuatu yang berbeda.


"Aku tidak akan merebutnya dari Tuhannya dan dia tidak akan merebutku dari Tuhanku, tapi demi Tuhan aku ingin berpindah keyakinan karena sesuatu yang membuatku nyaman," Aurel meraih tas-nya dan berjalan keluar dari rumah.


Aurel sebenarnya sudah memikirkan semua ini dengan yakin, disaat dia sepi, ia merasa bahwa dirinya mendapat sesuatu yang menuntunnya melakukan ini.


Aurel kini berdiri dipinggir jalan mencari taksi, dia akan menemui Sean di rumahnya dan mengutarakan perasaan dan keinginannya.


Sementara itu Mama Reni dan Dikta tengah sibuk menyiapkan acara tujuh bulanan Dikta, tidak ada tradisi besar apalagi Dikta bukan penganut tradisi seperti itu, disini hanya ada pengajian.


"Mama udah pesan kuenya?" tanya Dikta pada Mama Reni yang sibuk menyapu ruang tamu rumah Sean.

__ADS_1


"Udah nak, mulainya jam berapa emang?" tanya Mama Reni membuka pintu untuk mengeluarkan sampah yang dia sapu.


Dikta berjalan mengambil karpet dan menggelarnya di ruang tamu yang sudah Mama Reni sapu tadi. "Jam dua Ma, sekarang baru jam dua belas kan?"


"Ini langsung aku gelar aja atau Mama mau pel dulu lantainya?" tanya Dikta yang membuat Mama Reni meliriknya.


"Mama Pel dulu yah sayang," jawab Mama Reni menaruh sapu di samping pintu.


Mama Reni kemudian berjalan mengambil alat pel yang ada di dapur, selepas kepergian Mama Reni, terdengar suara mobil yang Dikta tahu bahwa itu adalah mobil Sean.


"Assalamualaikum," ujar Sean melepas sepatunya dan masuk kedalam rumah.


"Waalaikumsalam, Kakak," Dikta berjalan ke arah Sean dan mencium tangannya.


Dikta ikut duduk di samping Sean dan menyandarkan kepalanya di dada kakaknya itu. "Gausah, aku udah pesan pake uang aku, itu di bantuin Mama Reni."


Sean menatap sekilas Dikta. "Kan Kakak udah bilang pake uang kakak aja."


"Gamau ah, kan aku yang hamil," jawab Dikta mendorong wajah kakaknya yang menatapnya serius.


"Eh Mama Reni ada disini?" tanya Sean yang membuat Dikta mengangguk. "Dimana?"

__ADS_1


"Kenapa Nak?" tanya Mama Reni yang datang bersama alat pel.


Sean langsung berdiri kemudian mendatangi Mama Reni ia mencium tangan Mama Reni. "Makasih yah Ma sudah mau bantuin Dikta, mending Mama istirahat aja biar Sean yang ngepel."


"Eh, yang harusnya istirahat kamu, kan kamu baru pulang kerja, sana biar Mama yang pel," jawab Mama Reni.


"Mana bisa aku istirahat kalau Mama aku ngepel sendiri," Sean merebut alat pel tersebut. "Mama kan udah Mama aku dan Dikta sekarang, jadi sebagai anak aku gak mau Mama capek-capek."


Sean menuntun Mama Reni untuk duduk di sofa di samping Dikta. "Oke kali kamu menang, susah memang ngelawan anak bujank Mama."


Sean tersenyum kemudian berjalan kembali mengambil alat pel tersebut sebelum suara ketukan pintu terdengar yang membuat Sean berjalan ke pintu membuka pintu.


"Sia-" Ucapan Sean terpotong. "Aurel?"


"Kak Sean? Ajari aku islam," ujar Aurel tegas.




__ADS_1


TBC


__ADS_2