
"Jadi main badminton nya?" tanya Dikta setelah berbicara kepada Mama Reni untuk menjaga Akta karena dirinya ingin menemani Adam bermain badminton.
"Jadi, Kak Sean katanya udah di GOR nungguin kita, kamu pasti mau ketemu Aurel kan? Semenjak Kak Sean dan Aurel nikah mereka jarang kesini, ngadon anak kali yah?" jawab Adam memakai baju olahraganya.
Adam tampak ingin memakai celana pendek diatas lutut untuk bermain badminton kali ini agar terlihat lebih nyaman namun Dikta segera melarangnya.
"Jangan pakai itu Mas, Aurat," Dikta mengambil celana tersebut. "Kalau dirumah mau pakai ini gapapa kalau di luar jangan, ini ngeliatin Aurat banget."
Dikta berjalan ke lemari dan mencari celana training panjang untuk Adam. "Nij pakai ini aja."
"Maksudnya Aurat apaan? Mas kan cowok," tanya Adam menerima celana tersebut.
"Jadi kalau cowok gak punya Aurat? Ada hadistnya dalam riwayat muslim, katanya tuh begini," jawab Dikta mengganti jilbabnya. “Janganlah seorang lelaki melihat aurat lelaki (lainnya), dan janganlah pula seorang wanita melihat aurat wanita (lainnya). Seorang pria tidak boleh bersama pria lain dalam satu kain, dan tidak boleh pula seorang wanita bersama wanita lainnya dalam satu kain."
"Dalam surah An Nur juga dijelasin kok," Dikta memberi jeda. "Laki-laki tidak diperbolehkan memandang kepada aurat laki-laki lain dan perempuan pun tidak diperbolehkan memandang kepada aurat perempuan lain. Laki-laki juga tidak diperbolehkan bersatu dan bersentuhan dengan laki-laki lain dalam satu pakaian dan perempuan tidak diperbolehkan bersatu dan bersentuhan dengan perempuan lain dalam satu pakaian."
Adam mengangguk. Ia kemudian berjalan ke arah Dikta dan memeluk istrinya itu dari belakang dan menciumi leher nya. "Makasih, Mas baru tahu, tapi Aurat cowok itu dimana aja?"
Dikta membalikkan badannya memegang area pusar Adam. "Disini."
Dikta kemudian menurunkan tangannya menuju lutut bawah Adam. "Sampai disini."
Adam mengangguk-ngangguk paham kemudian memakai celana yang diberikan Dikta tadi, setelahnya mereka berdua berangkat dengan mobil Adam menuju GOR tempat mereka menyewa tempat dengan Sean dan Aurel.
Sesampainya disana, Dikta dan Adam segera masuk dan benar saja Aurel dan Sean sudah ada disana sedang latihan sebentar menunggu Adam dan Dikta.
"Assalamualaikum,"
__ADS_1
"Waalaikumsalam,"
Melihat kedatangan Dikta, Aurel langsung membuang sembarang raket yang dia pegang karena saking senangnya bertemu Dikta.
"Huft! Mahal," Sean membatin menangkap raket tersebut.
Dikta dan Aurel saling melepas rindu dan memilih melipir ke pinggir lapangan, pasalnya sudah dua minggu mereka tidak bertemu karena kesibukan kuliah Aurel dan mengurus suami sedangkan Dikta semenjak kejadian bersama Bianca dia semakin banyak mendapatkan penawaran seminar.
"Pake celana panjang juga Kak?" tanya Adam mengambil raket dari tangan Sean.
Sean mengangguk kemudian berjalan ke sebrang net. "Iya, kata Aurel sih Aurora."
"Aurat!" teriak Adam memukul shuttlecok bulu tersebut dengan raket dan memulai permainan mereka.
"Yah maaf kan typo," kekeh Sean membalas dan akhirnya mereka mulai bermain raket sedangkan Aurel dan Dikta sibuk di pinggir lapangan.
"Capek yah?" tanya Aurel mengusap wajah Sean dengan handuk. "Nih minum."
"Minumin," rengek Sean manja.
Melihat itu Adam menatap geli. "Dih, bucin."
"Biarin sama istri sendiri juga," jawab Sean selepas meneguk air di botol.
Adam melirik Dikta dan tersenyum. "Sayang, Mas haus, minumin yah."
Plak!
__ADS_1
Sean melempar raket ke pada Adam yang sukses membuat Adam mengadu. "Ngatain orang bucin padahal dirinya sama."
Aurel dan Dikta melihat kelakuan suami mereka hanya tertawa kecil kemudian tersenyum hangat bisa mendapatkan spesies manusia berstatus suami seperti mereka.
"Dikta? Aurel? Kak Sean dan Adam mau nanya, apasih yang kalau harapin jadi istri kami?" tanya Sean disambut anggukan Adam.
Aurel dan Dikta saling melempar tatapan kemudian tersenyum.
"Kami memang tidak selembut Khadijah," jawab Aurel.
"Kami juga tidak secantik Aisyah," lanjut Dikta.
"Tapi kami cuma pengen suami kami ngejaga kami sama seperti rasulullah ke istrinya," Final mereka serempak.
Mendengar itu membuat Sean dan Adam memeluk istri mereka masing-masing dan mencium puncak kepalanya.
"Kalian adalah bagus dari hidup kami, dan kami percaya kami adalah suami yang dirindukan surga untuk kalian," jawab Sean tersenyum hangat begitupun dengan Adam.
•
•
•
TBC.
Assalamualaikum
__ADS_1
Jangan Lupa Like