
"Kita mau kumpul sama keluarga Mas kan hari ini?" Dikta sudah memakai setelah terbaiknya yaitu gamis couple begitupun dengan Adam yang serasi kemejanya dengan baju Akta.
"Jadi, Mama ngajak kita kumpul, nanti bakal ada keluarga Mama datang, sekalian aja biar makin dekat," jawab Adam mengancing kemejanya. "Tapi kamu udah sehat kan? Kalau kamu masih agak mual, kita gak usah pergi yah."
Dikta tersenyum kemudian menatap wajah suaminya. "Aku kuat kok, Mas percaya deh."
Adam mengangguk kemudian mencium pipi istri nya itu, setelah selesai mengancing kemejanya, Adam menyemprotkan parfum miliknya dan colonge gel ke tangannya.
"Keluarga Mama agak begitulah, nanti kamu gausah ambil dihati yah, biar Mas aja yang jawab," Adam meraih tangan Dikta kemudian menyapukan colonge ke tangan Dikta.
Dikta mengangguk, kemudian berjalan ke ranjang menggendong Akta yang juga sudah rapi. "Anak Bunda juga sudah tampan."
"Anaknya Babah Adam juga dong," Adam mencium pipi putranya. "Yaudah yuk jalan, nanti kita telat."
Hari ini adalah acara kumpul keluarga bersama keluarga Adam, dimana Dikta sebenarnya sangat kaku, karena dia takut dengan pandangan keluarga Adam kepada dirinya.
Dikta adalah seorang Janda dan juga yatim piatu, malahan ini bisa menjadi bahan keluarga Adam menilai dirinya, walaupun mertuanya sangat baik, tapi siapa yang tahu sifat keluarga yang lain.
"Kamu jangan takut, walaupun mereka bakal menilai kamu, kan ada Mas," Adam meyakinkan Dikta sebelum masuk ke mobil.
Mereka kemudian masuk ke mobil, dan bergegas menuju kediaman orang tua Adam, tak butuh waktu lama untuk Ada dan Dikta sampai disana.
Adam mengambil Akta kemudian menggendongnya saat keluar dari mobil, tangan satunya kemudian menggenggam tangan Dikta masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Assalamualaikum," Adam dan Dikta memberi salam yang membuat semuanya menjawab salam.
Nampak rame disana ada saudara dari Mama Nazwa beserta sepupu-sepupu Adam.
"Eh menantu sama cucu Mama datang," Mama Nazwa berjalan ke arah Dikta kemudian memeluknya dan mencium pipi Akta.
Tampak tatapan sinis dari sepupu-sepupu dan Tante dari Adam yang membuat perasaan Dikta tidak enak.
"Jadi ini istri kamu Dam? Janda tapi gak cantik-cantik banget," Tante Adam membuka suara.
Adam tersenyum kemudian duduk di kursi. "Jadi ini anak Tante, cantik tapi kok gak nikah-nikah."
Deg!
"Dia kan nyarinya bener-bener jodoh yang terbaik Dam,"
"Berarti jodohnya belum lahir, soalnya sekarang aja belum ada yang terbaik menurut dia kan?" jawab Adam.
Mama Nazwa dibelakang sana tersenyum puas karena Adam berhasil bersikap tegas.
"Ini anak tiri kamu Adam? Ngapain sih kamu manjain segala, pake baju couple, dia kan bukan anak kandung kamu,"
"Akta bukan Anak tiri aku, dia anak kandung aku, apapun itu bagiku dia anak kandung aku," Adam mengangkat tubuh Akta. "Anak Babah bukan Anak Tiri kan nak?"
__ADS_1
"Terus kenapa kamu mau manjain dia?"
"Harusnya sebagai orang tua Tante sudah tahu apa alasannya, ketika aku meminang ibunya aku harus menerima anaknya jadi jika ada yang mengatakan anakku Anak tiriku, aku tidak bisa menerima karena bagiku dia adalah anak kandungku," Adam bersikap tegas.
Tante Adam kembali ingin berbicara namun kini Dikta yang melawan. "Tante sepertinya terlalu banyak berbicara."
Dikta mendorong gelas berisi air ke hadapan Tante Adam. "Yang berhak menilai dari dalamnya seseorang adalah Allah dan orang itu sendiri, lantas apakah Tante merasa baik dalam menilai orang lain?"
Tante Adam merasa malu, ia meraih gelas yang didorong Dikta tadi dan henda meminumnya namun ternyata gelasnya kosong.
"Ting! Gelas kosong denting suaranya," Dikta tersenyum penuh kemenangan.
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like
__ADS_1