
"Kamu berhasil!" Adam menyeka air matanya yang keluar karena momen emosional ini.
Dikta menatap Adam lega, mereka makin memperkuat genggamannya, Sean dan Mama Reni menangis diluar akhirnya Dikta melewati hal yang paling sakit dalam hidupnya.
Dokter beserta suster yang membantu persalinan Dikta segera membawa bayi Dikta untuk di bersihkan, meninggalkan Dikta dan Adam disana.
"Kau membuatku takut," Adam terduduk lemas dan melepas genggaman tangan mereka. "Aku sempat berpikir kau akan meninggalkanku."
"Setelah semua janji yang belum kutunaikan?" Dikta tersenyum kepada Adam.
Adam tersenyum balik kemudian berdiri dan mengambil tissue dan menyeka juga air mata Dikta, melihat kondisi stabil Sean dan Mama Reni masuk kedalam disusul oleh Robby yang masih berusaha biasa saja.
"Kamu buat kakak khawatir," jawab Sean mengusap puncak kepala Dikta yang tertutup hijab.
Dikta ikut tersenyum kepada kakaknya begitu dengan Mama Reni, tak lama kemudian Dokter dan Suster datang membawa anak Dikta setelah di bersihkan.
"Anaknya laki-laki, tampan, sama seperti ayahnya," Dokter tersebut melirik Adam yang membuat Adam menyilangkan tangannya.
"Saya bukan ayah biologisnya," jawab Adam menggaruk tengkuknya pelan.
__ADS_1
"Benarkah? Tapi wajah anak ini mirip denganmu," gurau dokter tersebut menyerahkan bayi itu kepada Dikta.
Mendengar itu membuat Adam malu sedangkan Robby walaupun itu cuma gurauan sebagai ayah biologis yang asli merasa panas mendengarnya.
"Akhirnya kamu lahir, sayang," Dikta mendekap erat bayinya dan mengecup keningnya.
"Lebih baik bayinya di azankan terlebih dahulu," ujar Mama Reni mengambil bayi tersebut dari tangan Dikta dan menyerahkannya ke Sean. "Lebih baik kamu saja yang mengazaninya, nak."
"Kenapa aku? Bukankah ayah biologisnya ada disini?" Sean menolak dan menunjuk Robby yang seketika sakit hati atas sikap Mama Reni.
"Bukankah Robby sudah tidak memegang nasab atas anak ini? Apakah pantas?" tanya Mama Reni.
"Siapa saja berhak mengazani anak yang baru lahir walaupun bukan nasab-nya, jadi jika ditanya sekarang hak Robby lebih disini," jelas Sean yang membuat Dikta dan Adam mengangguk.
Mendengar penuturan itu membuat Mama Reni menyerahkan bayi tersebut kepada Robby, Robby mendelik menatap wajah polos bayi yang tidak pernah dia akui dulu dan bahkan menuduhnys hasil perzinaan dengan pria lain.
Benar! Apakah pantas? batin Robby mengangkat kepalanya menatap sekeliling.
Robby seketika menangis dalam mendekap bayinya, benar-benar malu rasa nya mengumandangkan azan untuk anak Dikta yang bahkan nasabnya sudah hilang kepada Robby.
__ADS_1
Robby menahan setetes air matanya lagi kemudian berjalan ke arah Adam, dia menatap Adam retoris dengan nada mengajak. "Kau yang akan menjadi ayahnya, aku akan bahagia jika kau yang mengumandangkan azan di telinganya."
Adam terdiam atas permintaan Robby yang aktraktif dan mendadak membuat Adam kesulitan menjawab, sontak hening seketika.
Adam memecah keheningan dengan menatap Sean, Mama Reni dan Dikta bergantian dan mendapat lampu hijau dari mereka.
"Aku mau,"
Adam meraih bayi tersebut dan mendekapnya dalam gendongannya setelah sebelumnya berada dalam dekapan Robby.
Robby tersenyum, kini suara azan terdengar berkumandang mendayu pada seisi ruangan tersebut dari bibir Adam, disaat semuanya terdiam, Robby memilih pergi dari sana.
Dia sadar sudah tidak ada lagi tempat dihati Dikta bagi dirinya setelah semua kesalahannya sehingga sekarang keputusannya hanya dua, sadar diri dan sadar posisi.
•
•
•
__ADS_1
TBC