Selepas Kata Talak

Selepas Kata Talak
BAB 83. Kok Sama?


__ADS_3

Sudah dua bulan sejak kabar terakhir mengenai Sean yang setelahnya Sean semakin rajin melakukan terapi demi kesembuhan dan hal sudah memperlihatkan dampak membaik.


"Kita jadi kumpul sama Bianca, Anjani dan Gevanya kan?" tanya Dikta pada Aurel dibalik sambungan telepon.


"Jadi, aku ngurusin Kak Sean berangkat kerja dulu yah nanti aku jemput kamu, Bianca, Gevanya sama Anjani katanya nungguin disana kok," jawab Aurel mengapit ponsel diantara telinga dan bahu dikarenakan kedua tangannya sibuk menyetrikan seragam kepolisian Sean.


"Yaudah kalau gitu, aku juga mau nyiapin kemeja buat Mas Adam," Dikta menutup sambungan telepon mereka. "Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam,"


Setelah memutuskan sambungan telepon tersebut, Dikta nampak selesai menyetrika kemeja Adam namun dia merasa perutnya sedang sakit dan mual.


Dia berjalan keluar dari kamar, mereka sudah tinggal di rumah Adam, saat menuju kamar mandi, ia melewati Adam yang sedang bermain dengan Akta.


Kini usia Akta sudah enam bulan dimana Akta sudah bisa tengkurap, Akta yang sedang tengkurap di dada Adam tampak bermain dengan ayahnya itu sebelum Adam melihat Dikta berlari ke kamar mandi.


"Bunda kamu, kenapa nak?" tanya Adam yang jelas tidak bisa dijawab oleh Akta.


Adam menggendong Akta dengan posisi Akta menghadap depan dengan dipangku oleh tangan Adam, mereka berdua kemudian menyusul Dikta ke kamar mandi.


Sementara di tempat yang lain, Aurel yang sudah selesai menyetrika seragam Sean, segera berjalan keluar dari rumah dimana Sean sedang melakukan workup paginya.


"Kak? Ga mau sarapan? Udah jam berapa loh ini," Aurel mengingatkan Sean karena dia takut suaminya terlambat bekerja.


Sean menghentikan aktivitasnya kemudian berjalan mendekati Aurel, dia mencium puncak kepala Aurel. "Iya deh, kalau istri kakak yang nyuruh, kakak bisa apa."

__ADS_1


"Kakak sarapan, minum obat dan mandi yah, yuk aku temenin ke meja makan," Aurel sangat memperhatikan pola hidup sehat suaminya itu.


Sean tersenyum, ia kemudian mengangkat Aurel dan menggendongnya ala bridal membawanya masuk ke dalam rumah, dan menuju ruang makan Sean segera mendudukkan Aurel di meja makan.


"Suapin," pinta Sean manja.


"Dih, kok manja begini?" Aurel menolak tapi Sean memaksa.


Akhirnya Aurel dengan sukarela menyuapi suami nya itu, namun baru tiga suapin, Sean merasakan mual dan langsung berlari ke kamar mandi yang membuat Aurel mengernyit.


"Kok mual? Gak enak yah?" Aurel mencoba nasi gorengnya. "Enak kok, kurang bawang goreng aja ini."


Sean yang ada didalam kamar mandi segera mengeluarkan isi perutnya di wastafel yang membuat Aurel panik.


"Kak Sean? Kakak gapapa?"


"Masuk angin ini," jawab Aurel membawa Sean masuk ke kamar. "Gausah kerja dulu yah."


Aurel membantu melepas kaos tipis Sean sehingga kini Sean sudah tanpa atasan, setelahnya Aurel menyeka keringat Sean. "Gini kan kalau sering begadang kayak Morning sickness aja."


"Mau lanjut makan?"


Sean menggeleng.


"Tidur aja yah,"

__ADS_1


Sean mengangguk pelan, di saat Aurel sibuk mengurus Sean, suara ponselnya membuat Aurel segera mengangkat telepon yang merupakan dari Dikta.


"Assalamualaikum, Rel?"


"Waalaikumsalam, Adam?" Aurel bingung karena yang dia dengar adalah suara Adam. "Kenapa Dam?"


"Dikta katanya gak bisa ikut kalian kumpul dia mual sekarang malah lemes " jawab Adam.


"Kok sama?"


"Kamu mual?"


"Gak, bukan aku tapi kak Sean."


"Hah?"





TBC


Assalamualaikum

__ADS_1


jangan lupa like


__ADS_2