
Dikta keluar dari taksi saat taksi tersebut berhenti didepan sebuah cafe, Dikta menenteng tasnya setelah membayar argo dan masuk ke dalam cafe tersebut.
Dikta penasaran bagaimana wajah dari sosok Bianca yang mengaku memiliki masa lalu dengan suaminya itu.
Dikta mengambil ponsel dari dalam tas-nya dan membuka aplikasi chatting miliknya dan mendapati sebuah chat dari Bianca yang mengatakan dirinya berada di meja nomor 12.
Dikta menutup ponselnya dan berjalan mencari meja dua belas sampai dia menemukan meja tersebut dengan seorang wanita seusianya dengan rambut tergerai tampak duduk disana.
"Assalamualaikum, kau Bianca?" tanya Dikta menarik kursi dan duduk disana.
Bianca melirik sekilas Dikta dan menegakkan badannya. "Kau pasti Dikta."
Dikta mengangguk kemudian menaruh kedua tangannya diatas meja dalam posisi memangku dagunya seolah siap mendengarkan cerita. "Ayo ceritakan bagaimana rencanamu merebut suamiku."
Bianca mendelik, bagaimana bisa seorang istri sah dengan santai nya datang dan tampak beban sedikitpun mengatakan dirinya ingin mengetahui rencana calon bibit pelakor dalam rumah tangga nya.
"Kau sudah tidak waras? Kau tidak takut?" tanya Bianca pada Dikta.
Dikta tersenyum kecut. "Buat apa aku takut kalau aku memiliki suami yang menjunjung tinggi kesetiaan dalam syariat dan agama dan mengabaikan yang namanya hama rumah tangga."
Bianca merengut, ucapan Dikta dengan penekanan pada akhir kalimat benar-benar membuatnya serasa tertampar.
"Apa maksud ucapanmu? Kau mengatakan aku hama?"
__ADS_1
Dikta menjentikkan jarinya kemudian menunjuk Bianca. "Bukan aku yang mengatakannya tapi kau sendiri yang mengucapkannya, ingin taruhan denganku?"
"Taruhan tentang apa?" tanya Bianca pada Dikta.
"Tentang sebuah pertanyaan, jika kau benar aku akan memberikanmu peluang untuk menggoda suamiku,"
Bianca mengangguk kemudian melipat kedua tangan nya yang membuat Dikta menatapnya dalam.
"Waiters! Saya pesan dua jus alpukat dan satu jus jeruk," Dikta memesan tiga minuman sekaligus yang membuat Bianca sendiri bingung. "Apakah kau siap dengan pertanyaannya?"
"Kau terlalu menantang ku, Dikta," jawab Bianca angkuh.
"Oke, Minuman apa yang bisa nikah sirih?" tanya Dikta tersenyum dan kembali memangku dagunya kembali.
"Pertanyaan macam apa itu?" tanya Bianca yang merasa di permainkan.
"Menurutmu?"
Dikta ikut berdiri saat Bianca berdiri dan menggebrak meja, ia berjalan ke arah Bianca meraih bahunya dan mendudukkannya di kursi.
"Tenanglah dulu Bianca, biar aku ceritakan sebuah kisah tentang wanita yang paling baik menurut Rasullullah," ujar Dikta mendudukkan Bianca di kursi.
“Tahu gak? Rasulullah SAW ditanya; siapakah wanita yang paling baik? Beliau menjawab 'Yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, taat jika diperintah suaminya dan tidak menyelisihi suami dalam diri dan hartanya dengan apa yang dibenci suaminya' jadi sampai disini kau sudah paham kan? Tentang kedudukan seorang istri di dalam islam?"
__ADS_1
Bianca mendelik tajam yang membuat Dikta tersenyum puas. "Dalam hadis yang lain Rasulullah SAW juga ditanya soal siapa wanita yang baik dalam Islam dan, Beliau menjawab: “Jika dipandang (suami) ia menyenangkan, jika diperintah ia taat, dan ia tidak menyelisihi suaminya dalam perkara-perkara yang dibencinya, baik dalam diri maupu harta' jawabannya kembali mengarah kepada kedudukan seorang istri."
"Dan kau tahu hebatnya lagi? Dalam kesempatan yang lain Rasulullah juga ditanya soal siapa wanita yang baik menurutnya dan Beliau menjawab 'Wanita yang menyenangkan hati jika dilihat (suami), taat jika diperintah dan tidak menyelisihi pada sesuatu yang ia benci terjadi pada dirinya (istri) dan harta suaminya' jadi bagaimana menurutmu kedudukan seorang istri sah sekarang?" lanjut Dikta. "Ketahuilah Bianca, Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah isteri yang shalihah.”
Bianca memerah dengan wajah malu, Dikta benar-benar memberikannya tamparan tentang arti seorang istri sah.
Tak lama kemudian pelayan membawa dua jus Alpukat dan satu jus jeruk ke.meja Dikta dan Bianca.
"Kau masih belum paham? Anggap saja begini, Dua jus Alpukat ini adalah minuman manis ibarat hubungan pernikahanku, dan kau terlalu asam untuk potongan jus jeruk yang ingin masuk ke dalam hubungan kami," jelas Dikta mendorong gelas jeruk kehadapan Bianca.
Bianca berdiri ia mengambil tasnya dan hendak pergi sebelum Dikta memanggilnya.
"Bianca? Jawaban pertanyaan ku tadi adalah Nutri-sari," Dikta menyedot jus alpukat nya atas kekalahan Bianca kali ini.
•
•
•
TBC
Assalamualaikum, Jangan lupa LIKE yah agar Author semakin semangat Update
__ADS_1