
"Dikta? Mas pamit dulu yah," Adam berjalan keluar dari dalam kamar dengan mengancing lengan kemejanya.
Dikta yang berada di dapur tampak mengaduk gelas kopi milik Adam dan membawanya kepada Adam saat dia mendengar teriakan suaminya itu.
Dengan menggendong Akta, Dikta berjalan pelan dan memberikan kopi tersebut kepada Adam. "Mas udah mau ke rumah sakit? Ga sarapan dulu?"
Adam menerima kopi tersebut dan berjalan ke sofa dan duduk disana sembari menyesap kopi miliknya. "Alhamdulillah."
"Iya sayang," Adam meraih sepatunya dan memakainya. "Mas harus ke rumah sakit nanti pulang sore kan masih ada pengajian kematian Robby kan? Jadi kita bakal nginap tujuh hari disini."
Dikta mengangguk kemudian berjalan ke arah Adam dan duduk di sampingnya. "Yaudah hati-hati yah."
Setelah memakai sepatunya Adam beralih menghadap ke Dikta dan mencium pipinya dan puncak kepalanya. "Kamu yang baik yah di rumah jangan capek-capek, pas pulang kamu mau Mas bawain apa?"
Dikta menggeleng. "Gausah, asal Mas sehat dan pulang aja ke rumah udah cukup buat aku."
"Mas bakal semangat kerja buat pulang dan ketemu kamu sama anak kita ini," Adam mencium pipi Akta dan membuat Akta menguap kecil. "Aduh anak ayah masih pagi udah ngantuk aja."
"Mas berangkat yah sayang," Adam berdiri kemudian menjulurkan tangannya untuk disalami oleh Dikta.
Dikta meraih tangan Adam dan menyalaminya, Adam kembali mencium puncak kepala Dikta dan berjalan keluar dari rumah, disaat Adam hendak keluar dari pintu, Adam berpapasan dengan Sean yang baru pulang mengambil shift malam-nya.
"Baru pulang Kakak ipar? Capek yah? Suruh pijetin sana sama istri, eh lupa belum ada istri," tanya Adam.yang membuat Sean kesal.
Plak!
Sean menggeplak kepala adik iparnya itu dan membuat Adam mengadu pelan. "Baru sehari jadi adik ipar udah ngelunjak anda, mau saya somasi?"
__ADS_1
"Jangan om, jangan om, saya masih polos om," gurau Adam berlari menjauhi Sean yang membuat Sean hanya berdiri dengan wajah ditekuk di pintu rumah.
Sean berjalan masuk ke dalam rumah dengan wajah kesal membuat Dikta yang berada di ruang tamu menanyakan apa yang menimpa kakaknya itu. "Kenapa kak?"
"Suami kamu tuh," jawab Sean berjalan masuk ke dalam kamar mandi membawa tas-nya untuk segera membersihkan diri.
Dikta hanya mengangkat bahunya kemudian berdiri dan berjalan menuju dapur untuk menemui Aurel.
"Rel? Kamu ada kerjaan gak?" tanya Dikta pada Aurel yang sedang duduk di meja makan sembari zikir pagi menghentikan zikirnya.
Aurel membalikkan badannya pada Dikta. "Gaada, nih baru aja ngasih sarapan ke Mama Reni, emang ada apa?
"Aku mau nitip Akta, aku ada urusan soalnya," jawab Dikta yang membuat Aurel mengerutkan kening.
"Urusan apa?"
"Aku gak bisa cerita sekarang, aku titip Akta yah,"
"Yaudah sini," Aurel berdiri kemudian dan mengendong Akta.
"Makasih yah Rel, kalau gitu aku duluan yah, Assalamualaikum," Dikta berjalan meninggalkan Aurel disana bersama Akta.
Tak lama setelah kepergian Dikta, Sean keluar dari kamar mandi dengan memakai kaos singlet dan celana selutut dengan handuk yang mengalung di lehernya.
"Dikta kemana?"
Aurel yang melanjutkan zikir paginya kembali menghentikannya dan menatap Sean yang sudah duduk di depannya. "Ada urusan tadi kak? Kak Sean mau sarapan?"
__ADS_1
"Eh gak usah, kamu lanjutin aja zikirnya, suara kamu bagus banget hati kakak jadi adem," jawab Sean yang membuat Aurel tersipu malu. "Kenapa sih dek kakak perhatiin kamu suka banget zikir, kakak yang pada dasarnya islam jadi malu sama kamu yang seorang mualaf."
"Contohnya tuh gini," Aurel menyerahkan Akta untuk Sean gendong kemudian berjalan mengambil dua buah gelas dan menaruhnya di meja. "Anggap aja gelas yang satunya bocor dan gelas yang satunya masih bagus dan kakak mau nuang air, kakak bakal pilih gelas yang mana?"
Sean menatap Aurel. "Yang bagus?"
"Kenapa?"
"Karena gelas yang bagus akan membuat air itu tertampung dan tidak terbuang," jawab Sean yang membuat Aurel tersenyum.
"Nah itu jawabannya, gelas itu ibarat kits yang sedang memperkuat agama dengan beribadah dan mendapat siraman pahala bukankah akan terbuang sia-sia jika tidak diselingi dengan pelengkapnya? Memang lubang lain tertutup namun jika saja lubang terbuka maka terbuang lah pahala itu, islam tidak pernah memaksa kita masuk surga, tapi islam tidak pernah menjanjikan kedamaian di neraka," jelas Aurel duduk kembali.
Sean menunduk. "Pengetahuan agama kamu lebih tinggi dari kakak, kakak jadi malu jika memang kakak calon suami kamu."
"Aku tidak butuh seorang suami yang yang pengetahuan agamanya luas, tapi aku butuh suami yang dapat membimbing ku ke surga, karena kalaus seorang suami bisa membimbing istrinya ke surga maka sudah pasti agamanya tinggi," jawab Aurel menyodorkan gelas kopi yang sudah ia buat kepada Sean.
•
•
•
TBC
Assalamualaikum kakak
jangan lupa likenya yah agar author semangat
__ADS_1