
Sean mengambil jaket kulit miliknya kemudian berjalan keluar dari rumah memanaskan motor gede miliknya yang berada di halaman rumah Mama Reni.
"Kak? Mau kemana?" tanya Dikta yang tengah menimang Akta.
Sean memakai helmnya kemudian menatap Dikta. "Mau ngehalalin Aurel!"
"Hah?" kaget Dikta sampai-sampai Adam yang tengah menggosok giginya langsung keluar karena mendengar teriakan Dikta.
"Ta? Kenapa Ta?" tanya Adam panik karena takut terjadi apa-apa dengan Dikta.
Dikta menggeleng mengatakan dirinya tidak apa-apa dan memilih menunjuk Sean. "Kak Sean."
"Ada apa kak?" tanya Adam tertuju pada Sean.
"Kalian tunggu aja, kakak mau bawa Aurel ke KUA aja," jawab Sean kembali yang sukses membuat Adam ikut terkejut.
Sean naik ke motornya kemudian membalikkan motornya dan langsung tancap gas karena motornya memang dalam kondisi menyala.
Adam dan Dikta saling menatap atas penuturan Sean yang mendadak setelah kejadian tadi malam yang membuat hubungan mereka renggang.
Sean yang berada diatas motornya langsung saja menancap gas tanpa memperdulikan kecepatan dan keselamatan berkendara walaupun notabenenya dia juga adalah seorang polisi.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama bagi Sean untuk sampai di depan rumah Aurel, Sean segera memarkirkan motornya dan tanpa melepas helm nya dia berjalan menuju pintu rumah Aurel.
"Assalamualaikum! Rel!" ujar Sean mengetok pintu yang semakin lama seperti menggedor.
Aurel yang baru saja menyelesaikan kewajiban sholat dhuhurnya segera melepas mukena miliknya dan memperbaiki posisi hijabnya sebelum keluar membuka pintu.
"Waalaikumsalam, siapa? Ka Sean?" jawab Aurel membuka pintu.
Sean yang kini melihat Aurel berusaha untuk mengajak Aurel berbicara, namun Aurel dengan cepat menutup pintu rumah yang membuat Sean segera menahan pintu tersebut dan akhirnya Aurel kembali kalah tenaga dengan Sean.
"Kak Sean mau apalagi sih?" tanya Aurel yang membuat Sean melepas helm-nya dan menatap Aurel dalam.
Entah kenapa Sean merasa bodoh sekarang dari sekian banyak untaian kalimat bernada penyesalan hanya kata maaf yang keluar dan kata tersebut sukses membuat Aurel seolah tidak peduli pada Sean.
"Aku udah maafin kak Sean, mending kak Sean pergi dari sini aku gamau liat kak Sean lagi," jawab Aurel yang membuat hati Sean patah.
Aurel membalikkan badannya dan hendak menutup pintu sebelum Sean kembali menahannya. "Bagaimana dengan hubungan kita?"
"Hahaha," Aurel tertawa kecut. "Hubungan apa? Dari awal kita tidak memiliki hubungan apa-apa, dan kakak tahu?"
"Mencintai tanpa kepastian itu adalah patah hati paling disengaja bahkan saat kakak hampir saja merebut sesuatu paling berharga dari diriku," lanjut Aurel. "Ingat kak Orang tulus memang akan mencoba berkali-kali tapi kalau dia sudah tersakiti dia gak bakal ada pikiran untuk kembali."
__ADS_1
"Yasudah kalau begitu ayo kita menikah, kamu mau hubungan kita jelas kan? Kita menikah sekarang!" sentak Sean yang membuat Aurel tidak peduli.
Aurel menutup pintu rumahnya keras membuat Sean yang berada di luar rumah langsung membanting helm-nya ke tanah sehingga hancur sebagian.
"Rel! Kakak gak bakal pergi sebelum kamu mau kembali ke kakak dan kamu mau nikah sama kakak! Kakak cinta sama kau Rel!" teriak Sean.
Tidak ada jawaban dari Aurel membuat Sean merasa sangat hancur, Sean berjalan ke arah tembok rumah Aurel dan memukulnya sehingga membuat tangannya terluka dan mengeluarkan darah.
Aurel yang melihat itu dari jendela berusaha tidak peduli walaupun dirinya Khawatir dengan apa yang dilakukan Sean.
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like
__ADS_1