Selepas Kata Talak

Selepas Kata Talak
BAB 56. Akad Yang Terucap


__ADS_3

Hari ini adalah hari akad nikah dari Adam dan Dikta kini mereka sudah berada di Aula rumah dari Sean dimana tempat akad nikah tersebut berlangsung.


Dikta menatap dirinya dibalik cermin kini ia sudah memakai gaun pengantin miliknya akhirnya dia akan melabuhkan hatinya untuk kedua kalinya.


"Itu Bunda kamu," Aurel datang sembari menggendong Akta.


Dikta membalikkan badannya kepada Aurel dan mencium pipi Akta pelan, Dikta kemudian berdiri dan menatap Aurel


"Aku bahagia kalau kamu bahagia," Aurel memeluk Dikta.


Kedua sahabat itu saling melebur sampai akhirnya meneteskan air mata yang membuat Aurel melepas pelukannya.


"Make up-mu nanti luntur kalau nangis, udah ah sedih mulu deh," Aurel tersenyum menatap sahabatnya.


Dikta tertawa kecil kemudian berjalan keluar dari kamar tempat dia di rias bersama Aurel yang mendampinginya.


Diruang tengah sudah banyak tamu undangan beserta Adam yang sudah berada didepan penghulu dan tinggal menunggu kehadiran Dikta.


Semua orang menatap kehadiran Dikta saat dia berjalan dengan anggunnya beserta balutan hijabnya menuju tempat akad nikahnya.


"Kamu cantik," ujar Adam saat Dikta duduk di kursi yang ada disamping Adam.


Sean dan Penghulu berada di depan mereka dengan meja sebagai pembatas jarak antara mereka, Sean kini menjadi wali nikah dari Dikta karena Sean lah satu-satunya keluarga yang Dikta punya.


Dikta tersenyum karena di puji oleh Adam yang membuat dia menunduk, Mama Nazwa berdiri dengan membawa sebuah kain sebagai penutup kepala diantara keduanya.


"Bagaimana nak Adam? Sudah siap?" tanya penghulu tersebut kepada Adam.

__ADS_1


Adam menganggukkan kepalanya yang membuat penghulu tersebut memberikan khotbah singkat sebelum memulai acara akad nikah mereka.


"Jadikanlah dia Imam dalam setiap sujudmu dan cintai dia karena iman dan takwanya kepada Allah, dan peganglah prinsip Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, maka hilanglah cintaku padamu," jelas penghulu tersebut mengakhiri khotbah singkatnya. "Baiklah mari kita mulai ijab kabul nya,"


"Tunggu!"


Penghulu yang hendak memberikan mic kepada Sean yang akan menikahkan adiknya, tiba-tiba saja sebuah suara menghentikan mereka.


"Bang Robby?"


Robby yang berada diatas kursi roda bersama dengan Mama Reni yang mendorongnya kini berada di ambang pintu rumah Sean, semua mata menatap mereka.


Wajahnya yang pucat pasi menatap Dikta dalam senyuman. "Kalian sudah mengundangku, jadi aku memenuhi undangan kalian."


Sebenarnya Robby benar-benar hancur, namun dia memaksakan untuk hadir padahal kondisi kesehatannya semakin memburuk, Dikta dan Adam menganggukkan kepalanya.


Mama Reni mendorong kursi roda Robby masuk kedalam ruangan akad nikah tersebut dan duduk di bagian tamu yang tidak jauh dari meja ijab kabul Adam dan Dikta.


"Bisa pak," jawab Adam.


Robby diujung sana hanya menatap penuh keikhlasan dia sadar bahwa apa yang sudah ia lepas tidak bisa dia dapatkan kembali.


"Silakan nak Sean, bismilah," Penghulu tersebut membacakan doa yang membuat Sean segera menjabat tangan Adam.


"Saudara Denial Adam Dirgantara bin Haris Dirgantara, saya nikahkan dan kawinkan engkau, dengan adik saya Dikta Adinata binti Alm. Andra Adinata dengan mahar uang berupa 140.522 USD dan emas kawin 150 dirham beserta seperangkat alat sholat dibayar tunai," Suara Sean menggema membuat Robby tertegun dan semakin patah.


Robby merasakan sesak dan perasaan pusing berat karena kondisi kesehatannya yang sangat lemah namun dia tetap mencoba bertahan.

__ADS_1


Adam menghembuskan napas pelan. "Saya terima nikahnya, Dikta Adinata binti Alm. Andra Adinata dengan mahar uang berupa 140.522 USD, Emas kawin 150 dirham dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!"


Hening!


Robby terjatuh dengan keadaan tidak sadarkan diri.


"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya Penghulu tersebut.


"Sah!" teriak mereka semua serentak.


"Alhamdulillah," Penghulu tersebut membaca doa. "Sekarang kalian sudah sah sebagai pasangan suami istri."


Adam menghembuskan napas lega dan mencium kening Dikta serta saling memasang cincin pernikahan mereka.


Bruk!


Seketika semua mata tertuju kepada Robby ambruk dilantai dari kursi rodanya, sontak Sean berlari ke arah Robby dan Mama Reni sudah panik.


Sean memeriksa detak nadi dan napas Robby sebelum membulatkan mata sempurna. "Innalillahi wainnailaihi raji'un."


"Kenapa Sean?" tanya Mama Reni.


Sean memandang Mama Reni kemudian memeluknya. "Robby sudah berpulang Ma."



__ADS_1



TBC


__ADS_2